/
Text
LIMA SEKAWAN Julian, Dick, George, Anne, dan Timmy
dalam petualangan mereka yang kedelapan.
Dick dtculik' Para penculiknya mengira ia Richard, anak
Thurlow Kent, salah seorang hartawan terkaya di tnggns.
Anne yang waktu itu bei'sembunyi di atas pohon, mendengar
bahwa Dick akan dibawa ke Owl s Dene LIMA SEKAWAN,
bersama Richard segera menyusul ke sana Pintu gerbang
terbuka secara mistertus Juga ada sebuah jendela yang
terbuka. Tanpa inenyadari bahaya. LIMA SEKAWAN masuk
dan . terjebak1
JuduFjudul LIMA SEKAWAN:
1 LIMA SEKAWAN: DI PULAU HARTA
2 . LIMA SEKAWAN: BERAKSi KEMBAL1
3 . LIMA SEKAWAN: MINGGAT
4 LIMA SEKAWAN: KE SARANG PENYELUNDUP
5 LIMA SEKAWAN BERKELANA
6 LIMA SEKAWAN RAHASIA DI PULAU KIRRIN
7 LIMA SEKAWAN MEMBURU KERETA API HANTU
8 LIMA SEKAWAN NYARIS TERJEBAK
9 LIMA SEKAWAN- JO ANAK GELANDANGAN
10 LIMA SEKAWAN RAHASIA HARTA KARUN
11 LIMA SEKAWAN: SARJANA MISTERIUS
12 LIMA SEKAWAN: DALAM LORONG PENCOLENG
13 . LIMA SEKAWAN RAWA RAHASIA
14 LIMA SEKAWAN: MENYAMARKAN TEMAN
15 LIMA SEKAWAN MELACAK JEJAK RAHASIA
16 . LIMA SEKAWAN. KE BUKIT BILLYCOCK
17 DMA SEKAWAN RAHASIA LOGAM AJAIB
18 LIMA SEKAWAN: MEMPERJUANGKAN
HARTA FINNISTON
19 LIMA SEKAWAN’ KARANG SETAN
20 . LIMA SEKAWAN DI PULA U SERAM
21 LIMA SEKAWAN SIRKUS MISTERIUS
Penertjit PT Gramedia
JI Palmerah Selatan 22 Lt IV
Jakarta Pusat
LIMA SEKAWAN
N TARIS TERJEBAK
Scanned book (shook) ini hanya untuk pelestarian buku
dari kemusnahan dan membiasakan anak-anakfcita
membaca buku melalui komputer.
DILARANG MENGKOMERSILKAN atau
hidup anda mengalami ketidakbahagiaan.
BBSC
LIMA SEKAWAN
NYARIS TERJEBAK
Penerbit PT Gramedia
Jakarta 1985
Scanned ebook ini hanya untuk pelestarian buku
dari kemusnahan dan membiasakan anak-anak
kita membaca buku melalui komputer.
DILARANG MENGKOMERSILKAN atau
hidup anda mengalami ketidakbahagiaan.
FIVE GET INTO TROUBLE
by Enid Blyton
All rights reserved
Illustrations copyright © 1968 Hodder & Stoughton Lt
First published in 1949 by Hodder & Stoughton Ltd.
LIMA SEKAWAN NYARIS TER J EBAK
alihbahasa Agus Setiadi
GM. 80.023 *
Hak cipta terjemahan Indonesia
PT Gramedia Jakarta
Hak cipta dilindungi oleh Undang-undang
Diterbitkan oleh Penerbit PT Gramedia, Jakarta 1979
Anggota IKAPI
Cetakan pertama
Cetakan kedua
Cetakan ketiga
Cetakan keempat
Cetakan kelima
Cetakan keenam
Cetakan ketujuh
; Februari 1980
Nopember 1980
September 1981
Maret 1982
Oktober 1982
Nopember 1983
Februari 1985
Dicetak oleh
Percetakan PT Gramedia Jakarta
BAB 1
Menyusun Rencona Libur
"Kau memang selalu merepotkan, Quentin!"
d kata Bibi Fanny pada suaminya.
Keempat remaja yang sedang sarapan. lang-
I sung memasang kuping. Apa lagi yang diper-
i buat oleh Paman Quentin sekarang? Julian
* mengedipkan mata ke arah Dick. Anne menen-
dang kaki George di bawah meja. Apa yang akan
menyusul sekarang? Mungkinkah Paman Quen-
3
tin akan meledak ma^ahnya, seperti kadang-
kadang terjadi?
Paman Quentin memegang sepucuk surat.
Surat itu dikembalikan Bibi Fanny padanya, se-
telah selesai membacanya. Rupanya surat itulah
penyebab pertengkaran mungkin akan terjadi
sekarang. Kening Paman Quentin mulai ber-
kerut. Nah, ini dial Tapi ternyata ia tidak jadi
marah. Ketika berbicara, suaranya tetap tenang.
"Kau tak bisa mengharapkan aku bisa ingat
dengan tepat kapan anak-anak mulai libur, Fan-
ny! Begitu pula apakah mereka akan ke mari
bersama kita, atau pergi ke kakakmu. Kau tahu
aku sibuk dengan pekerjaan ilmiahku — dan
pada saat ini pekerjaanku itu sampai pada bagian
yang sangat penting. Aku tak mungkin bisa ingat,
kapan sekolah anak-anak mulai libur dan kapan
mereka datang ke mariI"
'Tapi kau kan bisa bertanya padaku " kata Bibi
Fanny dengan kesal. "Masya Allah, Quentin,
rupanya kau lupa lagi bahwa kita sudah berun-
ding mengenai kedatangan ketiga keponakanku
ke mari selama liburan Paskah? Kau kan juga ta-
hu, Julian, Dick dan Anne sangat menyukai kea-
daan di Kirrin serta laut pada saat-saat sekarang
ini! Kau sendiri mengatakan akan mengatur agar
kau baru pergi ke konperensi setelah masa libur
lewat — dan bukan persis di tengah-te-
ngahnyal"
"Tapi mereka begitu lambat baru datang!"
kata Paman Quentin membela diri. "Itu kan tak
bisa kuduga dari dulu-dulu."
"Tapi kau kan juga tahu, perayaan Paskah ta-
hun ini agak lambat, dan karena itu mereka juga
terlambat datang," kata Bibi Fanny, la menarik
napas panjang.
"Ayah kan tak mungkin ingat pada hal-hal se-
perti itu," kata George. "Ada apa sebetulnya, Bu?
Apakah Ayah hendak bepergian di tengah saat li-
buran kami? Atau ada soal lain?"
"Ya, Ayah harus pergi," kata Bibi Fanny, la
meraih lagi surat yang dipegang suaminya. "Go-
ba kulihat sebentar — ia harus berangkat dua
hari lagi — dan aku pasti harus ikut. Kalian tak
mungkin kutinggal sendiri di sini. Kalau ada
Joanna, sebetulnya bisa saja. Tapi ia sakit, dan
baru satu atau dua minggu lagi bisa bekerja kem-
bali."
Joanna juru masak keluarga Quentin. Anak-
anak suka pada wanita itu. Mereka kecewa ke-
ttka datang dan ternyata Joanna tidak ada.
Kami bisa mengurus diri sendiri," kata Dick.
Ane pintar memasak."
Aku juga bisa membantu sedikit-sedikit,"
sambung George. Namanya yang betul Georgina,
tapi setiap orang memanggilnya George. Ibunya
M^senyum.
Ah, George— kali terakhir kau merebus telur,
kaubiarkan panci terjerang di atas api sampai air-
ya kering sama sekalil Kurasa saudara-saudara
VMxipumu takkan sangat menikmati hasil ma-
lekanmu."
Waktu itu aku lupa sedang merebus telur,"
»ta George "Sebetulnya aku baru saja hendak
4
5
mengambil jam dapur untuk mengetahui saat te-
pat untuk mengangkat panci dari api Tapi di
tengah jalan tenngat olehku bahwa Timmy be-
lum makan! Lalu
Ya ya' Kami mas h ingat ' kata ibunya sam
bil tertawa 'Timmy terurus makannya tap
ayahmu tidak minum teh sebagai ak batnya
Dari bawah meja terdengar suara anjing
menggonggong. Timmy mendengar namanya
disebut-sebut
Kita kembali pada persoalan yang tadi kata
Paman Quentin agak kurang sabar Yang pasti
aku harus menghadiri konperensi. Aku harus
memaparkan hasil-hasil pekerjaanku yang pen-1
ting di sana Kau tak perlu ikut. Fanny! Bisa saja
kau tmggal di sini mengurus anak anak
Ibu tak perlu tinggal.' kata George. Kami
bisa melakukan suatu rencana yang sebetulnya
baru akan dilaksanakan pada liburan musim pa
nas nanti Tapi sekarang pun bisa saja — karena
kam benar-benar sudah menginginkannya
0 ya sambut Anne dengan segera. Betul!
Kita laksanakan saja rencana itu sekarang!
Ya aku juga setuju," kata Dick
"Rencana apa itu? tanya Bibi Fanny curiga
Aku sama sekali tak tahu-menahu. Jika ber-
bahaya aku tak setuju. Asal kalian tahu saja
Mana pernah kami melakukan ha hal yang
berbahaya?" seru George
Sudah serng, kata bunya Nah, apa ren-
cana kalian itu?"
"Sebetulnya biasa saja," kata Julian. "Kebe-
tulan sekali sepeda kami semua dalam keadaan
beres Bibi Fanny Lagipula Natal yang lalu Bibi
menghadiahkan dua buah tenda kecill Karena itu
kami berencana h end a к mengadakan pelan-
congan naik sepeda sambil berkemah."
Cuaca saat mi sangat baik — pasti pelan-
congan itu akan sangat asyik,” sambung Dick.
Bib menghadiahkan tenda, maksudnya kart un-
tuk dipakai? Nah sekarang ada kesempatan
baik!" »
Maksudku menghad ahkan tenda tenda itu
untuk dipakai berkemah di kebun, atau di pan-
tai kata Bibi Fanny. 'Dulu waktu kalian ber-
kemah Pak Luffy ikut untuk mengawas kalian
Aku tak begitu senang membayangkan kalian
berkemah tanpa pengawasan
Ah Fanny!1 kata suaminya. Suaranya ke-
dengaran tak sabar lagi. 'Jika Julian tak mampu
menjaga adik-adiknya percuma saja ia menjadi
pemuda Itu kan pemuda cengeng namanya! Ijin-
kanlah mereka pergi Aku percaya Julian pasti
I akan selalu mampu menjaga ketertiban adik-
•лклуа — serta menjaga keselamatan me-
n*a"
Tenma kasih, Paman!" kata Julian la bang-
ge karena tak sering mendengar pujian dari mu
* Paman Quentin Dihnknya saudara-sau-
0eranya sambil menngis 'Memang mengurus
«nereka ini gampang — cuma Anne yang
k*cang-kadang sangat merepotkan!"
6
7
Anne sudah siap hendak berontak Anak itu
yang paling kecil di antara keempat remaja yang
sedang sarapan itu Sebetulnya justru dia sendiri
yang benar-benar mudah diatur. Anne melihat
Julian meringis — ah, rupanya abangnya itu
cuma hendak menggoda saja Anne membalas
meringis.
"Aku berjanji akan mudah d atur, Paman.' ka-
tanya dengan suara seperti anak kecil. Paman
Quentin tercengang.
"Lho. kukira justru George satu-satunya yang
sukar di.." Pak Quentin tertegun, karena meli-
hat isterinya mengerutkan dahi. Seakan-akan
hendak mempenngatkan. George memang sukar
diatur. Tapi ia pasti takkan menjadi lebih me-
nurut, apabila fakta itu ditonjol-tonjolkanl
"Quentin, kau ini rupanya selalu gampang ter-
kecoh oleh Julian,” kata Bibi Fanny. "Yah — jika
kau sungguh-sungguh beranggapan bahwa
Julian bisa diserahi tugas mengawasi adik-
adiknya. kita bisa mengijinkan mereka melan-
cong naik sepeda — dan berkemah ..
Horee1 Jadi beresl" seru George, sambil
memukul-mukul punggung Dick karena gem-
bira ' Besok kita langsung berangkat Kita ..."
"George! Biarpun senang, kau tak perlu ber- |
teriak dan menandak-nandak seperti itu," kata
ibunya "Kau tahu ayahmu tak menyukai keia-
kuan seperti itu. Dan Timmy juga sudah ke-
jangkitan sekarang! Ayo diam Tim! — Nah, se-
karang anjing itu lari-lari keliling ruangan!"
Paman Quentin meninggalkan kamar makan.
la paling tidak senang jika anak-anak ribut pada
saat makan. Ketika ia melangkah ke luar nyaris
saja jatuh karena ditubruk Timmy yang berlari-
lan. Dengan cepat Paman Quentin keluar. Wah
— jika keempat anak-anak itu ada di rumah dan
ditambah lagi dengan Timmy — payah!
'Betulkah kami sudah boleh berangkat besok.
Bibi Fanny?" tanya Anne dengan mata berkilat-
kilat. "Cuaca bulan April ini sungguh cerah Biar
masih musim semi, tap panasnya sudah seperti
Juli. Rasanya tak perlu membawa pakaian
hangat."
Kalau begitu kalian tak boleh pergi," kata Bibi
Fanny tegas "Hari ini memang panas dan cerah!
Tapi April bulan aneh. Han ini panas — tapi bisa
saja besok hujan, dan lusa turun salju! Kuse-
rahkan saja uang padamu. Julian I Jadi kalau cua-
ca kebetulan buruk, kalian akan bisa menginap di
hotel."
Dalam hati keempat remaja itu langsung tim-
bul keyakinan, cuaca takkan mungkin sebegitu
buruk sehingga mereka terpaksa menginap di ho-
tel)
Wah. asyikl" kata Dick. "Kita akan bisa mem-
beli makanan sendiri, dan makan kapan kita mau
Пар malam memilih tempat menginap, lalu
memasang tenda. Kalau kebetulan sedang
t rang bulan, kita pun bisa bersepeda terus —
kalau kita maul"
8
9
"Waah — naik sepeda pada saat terang bu-
lan," kata Anne girang. "Aku belum pernah! Ke-
dengarannya menyenangkanf"
"Untunglah kalian ada rencana tertentu se-
mentara kami pergi." kata Bibi Fanny "Ah — su-
dah bertahun-tahun aku ini menjadi isteri Quen-
tin — tapi masih saja aku dikejutkan oleh tindak-
tanduknya yang serba linglungl Yah — se-
baiknya kita bersiap-siap saja sekarang. Tentu-
kan apa-apa saja yang perlu kalian bawa."
Tiba-tiba saja semua serba sibuk. Keempat re-
maja itu bergegas melakukan tugas setiap pagi.
Membenahi tempat tidur serta ruangan masing-
masing. Sambil bekerja. mereka berbicara
dengan suara keras.
"Siapa menyangka kita akan bepergian sendiri
besokl" kata Dick sambil menumpukkan seperai
dan selimut di atas tempat tidurnya.
’ Biar aku saja yang membereskan tempat ti-
durmu." kata Anne. Anak itu kaget melihat cara
abangnya membereskan pembaringannya 'Ma-
sakan begitu caranyal"
' Kaukira aku tak bisa ya!" balas Dick. "Lihat
saja nantil Bukan itu saja — tempat tidur Julian
pun akan kubereskan pula. Kauurus saja tempat-
mu sendiri, Anne — keempat sudut seperai
dimasukkan baik-baik, bantal dielus sampai licin,
selimut ditepuk-tepukl Bereskan tempat tidurmu
seperti kemauanmu. tapi tempat tidur ini serah-
kan saja padakul Tunggu saja sampai kita sudah
melancong nanti. Kau pa§ti takkan mau repot-
10
repot lagi berbenah. Kantong-tidur digulung, dan
habis perkara!"
Sambil berbicara. Dick selesai mengatur tem-
pat tidurnya. Seperai mencong-mencong, dan
piyama diselipkan ke bawah bantai. Anne ter-
tawa saja melihat abangnya. lalu pergi mem-
benahi kamar tidurnya. Hari-hari libur yang
panjang sudah menunggu. tempat-tempat asing,
hutan-hutan yang belum pernah didatangi, bukit
besar kecil serta anak-anak sungai dengan airnya
yang gemercik. Berpiknik di tepi jalan, naik sepe-
da malam-malam diterangi sinar rembulan —
betul-betulkah Dick hendak melakukannya?
Asyiiikl
Keempatnya sibuk hari itu Semua barang
yang mungkin diperlukan di tengah jalan dima-
sukkan ke dalam ransel. Tenda-tenda dilipat
sekecil mungkin. supaya mudah ditaruh ke bon-
cengan sepeda. Merampok' tempat penyim-
panan makanan, dan meneliti peta untuk memilih
yang perlu dibawa
Timmy juga tahu bahwa mereka akan beper-
O»an la juga yakin akan diajak! Karena itu anjing
•tu pun ikut-ikutan sibuk. Bukan berbenah, tapi
-nenggonggong-gonggong sambil mengibas-ngi-
iskan ekor Bisanya merepotkan anak-anak
»ang sudah sibuk! Tapi tak ada yang marah
;«danya Timmy sudah dianggap anggota Lima
Sekawan' Apa saja bisa dilakukan olehnya ke-
. ah bicara. Ke mana keempat remain itu pergi,
'«nmy harus selalu ikut!
11
"Akan bisakah Timmy mengikuti kalian, jika
harus lari lari terus sementara kalian ber
sepeda?" tanya Bibi Fanny pada Julian.
"Tentu saja," kata Julian, "la tak berke-
beratan jika kami bersepeda jauh-jauh Bibi tak
perlu mengkhawatirkan kami. Bibi Fanny. Timmy
sangat baik dijadikan penjaga.'
"Ya — aku tahu," kata bibinya Aku takkan
begini mudah mengijinkan kalian pergi sendiri,
apabila aku tidak tahu bahwa Timmy akan ikutl
Dengan Timmy, sama saja artinya seperti ada
orang dewasa yang mengawasi."
Timmy menggonggong la sependapat dengan
Bibi Fanny. George tertawa.
"Katanya, ia sama dengan dua orang dewasa
Bu!’ katanya. Timmy memukul-mukulkan ekor
ke lantai la menggonggong lagi.
Apa — dua orang dewasa?" begitu katanya
dalam bahasa anjing "Hah — aku sama dengan
TIGA orang dewasa!"
Scanned book (shook) ini hanya untuk pelestarian buku
dari kemusnahan dan membiasakan anak-anak kita
membaca buku melalui komputer.
DILARANG MENGKOMERSILKAN atau
hidup anda mengalami ketidakbahagiaan.
„ BBSC
BAB 2
Berangkat
Keesokan harinya sejak pagi mereka sudah siap.
Semua terkemas dengan rapi dan diikatkan ke
sepeda kecuali ransel. Ransel mereka harus di-
panggul oleh pemiliknya masing-masing. Mereka
ga membawa keranjang berisi makanan untuk
heri itu. Jika isinya sudah habis, Julian ditu-
.askan untuk membeli keperluan makanan se-
-njutnya
Bagaimana — rem sepeda kalian beres?" ta-
nya Paman Quentin, la merasa perlu menun-
ukkan perhatian pada hal itu. Soalnya, ketika ia
- *sih muda dan memiliki sepeda, remnya belum
pemah sekali pun berada dalam keadaan beresI
Aduh, Paman ini — tentu saja rem kami
a»res,” kata Dick. "Kami takkan berani melan-
гопд dengan sepeda, kalau ada sesuatu bagian
>g tidak beres. Peraturan Lalu Lintas Jalan
•* igat keras mengenainya — dan kami me-
•uatinyal"
Kalau melihat tampang Paman Quentin saat
*• rupa-rupanya seperti belum pernah men-
13
dengar tentang Peraturan Lalu Lintas Jalan Dan
mungkin juga memang belum pernahi Paman
Quentin hidup dalam dunianya sendiri, yang pe-
nuh dengan bermacarn-macam teori ilmiah,
angka-angka serta beraneka ragam diagram Dan
ia mgin cepat-cepat kembali lagi ke dunianya itu!
Tapi Paman bersikap sopan Ditunggunya selama
anak-anak sibuk dengan urusan-urusan per-
siapan terakhir. Akhirnya mereka siap berang-
kat1
"Seiamat tinggal, Bibi Fannyl Kurasa kami
takkan bisa menulis surat, karena Bibi tak bisa
menghubungi kami untuk mengatakan di mana
Bibi dan Paman akan menginap selama kon-
perensi Tapi biarlah, pokoknya Bibi bisa ber
senang-senang,” kata Julian
"Seiamat tinggal, Bui Jangan cemas — kami
pasti akan bersenang-senang selama melan-
cong!" seru George.
'Seiamat tinggal. Bibi Fanny! Seiamat tinggal
Paman!”
"Seiamat tinggal — kami berangkat seka-
rang!”
Keempat remaja itu pun berangkat naik sepe-
da, menyusur jalan di depan Pondok Kirrin. Pa-
man dan Bibi berdiri di pmtu pagar sambil me-
lambai-lambai, sampai anak anak lenyap di bahk
tikungan Timmy berlan-lan di sisi sepeda yang
dinaiki George Keempat kakmya yang tegap dan
panjang-panjang bergerak seirama. Timmy ber-
gembira, karena memperoleh kesempatan ber-
lari sepuas-puasnya.
14
"Nah, akhirnya kita melancong sekarang,"
kata Julian ketika mereka sudah melewati ti-
kungan "Benar-benar mujur, bisa bepergian lagi
sendiri. Hah, Paman Quentin! Aku merasa ber-
syukur kali ini. bahwa ia begitu linglungl"
Sebaiknya kita jangan bersepeda terlalu jauh
dulu pada han pertama — karena urat-urat kita
bisa pegal besokl"
Kita memang takkan jauh-jauh hah ini," kata
Dick. "Bilang saja jika sudah merasa capekl Kan
tak menjadi persoalan, dt mana kita berhenti."
Pagi itu panas sekali. Так lama kemudian
jnak-anak sudah mulai berkeringat. Sweater
.ang dipakai mereka copot, lalu dimasukkan ke
ialam keranjang sepeda masing-masing. George
semakin mirip anak laki-laki saat itu. Rambutnya
rang ikal dan dipotong pendek melambai-lambai
•«rtiup angm. George Dick dan Anne memakai
«lana pendek serta baju kaos tipis. Hanya Julian
»ang memakai celana panjang jeans. Lengan
n^ju kaosnya digulung sampai ke siku. Ketiga
Mudaranya mengikutinya.
Mereka bersepeda terus, menikmati keha-
ny^tan sinar matahari sambil terhembus angin
ar. Timmy berlari-lari di samping mereka.
A 'ling itu seperti tak mengenal kata capek. Li-
za' ya yang panjang terjulur ke luar. Jika dilihat-
• ч di tepi jalan tumbuh rumput, dengan segera
It memilih lari di situ Timmy memang anjing
.4 tidak bodoh!
Mereka mampir di sebuah desa kecil. Nama-
• » Manlington-Tovey. Di desa itu cuma ada se-
15
buah waning. Tapi segala-galanya lengkap1 Se
tidak-tidaknya begitulah kesan yang diperoleh
anak-anak.
"Mudah-mudahan saja mereka juga mefijual
limun jahe.'* kata Julian, "Lidahku sudah terjulur
ke luar kepanasan — seperti Timmy1
Di warung kecil itu dijual berbagai macam
minuman segar. Anak-anak bingung memilih,
minuman mana yang lebih enak! Di situ juga di-
jual eskrim. Так lama kemudian mereka sudah
duduk-duduk sambil minum limun jahe dicam-
pur air jeruk. Mereka juga mal$an eskrim yang
enak dan dingin
"Berikan juga eskrim pada Timmy," kata Ge-
orge. "la gemar sekali makan eskrim. Betul kan.
Tim?"
Eskrim yang diberikan pada Timmy, habis da-
lam dua jilatan saja.
"Sayang jika eskrim diberikan pada Timmy,”
kata Anne, "la rakus sekali, dua kali menjilat saja
sudah habis Kan tidak sempat menikmati rasa-
nya. Tidak, Tim I Percuma saja kau mengemis —
aku sendiri juga ingin eskrim."
Karena itu Timmy lantas menghampiri mang-
kok berisi air dingin yang disediakan wanita pe
milik toko untuknya. Timmy minum banyak-
banyak. Setelah itu merebahkan diri ke lantai,
sambil terengah-engah.
Setelah puas minum anak-anak pergi lagr
Masing-masing berbekal satu botol limun jahe.
untuk makan siang nanti Belum apa-apa, mere-
ka sudah keasyikan sendiri membayangkan nik-
16
matnya makan roti yang disiapkan tadi di rumah.
Anne mehhat beberapa ekor sapi yang sedang
merumput di sebuah lapangan yang mereka
lewati.
Hidup sebagai sapi tidak enak,' katanya pada
George. Bayangkan, makannya cuma rumput
saja! Tidak pernah merasakan enaknya roti sela-
da tidak mengenal krem coklat, tidak pernah
mencicipi rasa telur rebus — dan tak pernah mi-
num limun jahe! Kasihan sapi-sapi ituI"
"Kau ini' ada-ada saja, Anne," kata George
sambil tertawa 'Sekarang aku merasa ber-
tambah lapar karena omonganmu itu — bicara
tentang roti, telur dan limun jahe. Aku tahu, tadi
pagi Ibu menyiapkan roti berisi telur untuk kita.
Dan juga ada yang diisi dengan sardencis!"
* Ah, percuma." kata Dick, sambil membelok-
kan sepedanya ke arah sebuah hutan kecil. Sepe-
danya tergoncang-goncang, karena tempat itu ti-
dak rata. К ta tak b sa terus bersepeda dengan
tenang dan lancar, jika Anne dan George terus-
terusan membicarakan soal makan. Bagaimana
jika kita makan saja di sini. Julian?"
Persinggahan dalam hutan kecil itu menye-
nangkan. Untuk pertama kalinya mereka makan
siang dalam pelancongan. Di mana-mana nam-
pak mawar hutan berwarna kunmg Bau wangi
bunga semerbak, berasal dart sejenis bunga
jdrum. Seekor burung murai berkicau di atas po-
hon, ditimpali oleh celoteh dua ekor burung yang
sejenis dengan kutilang
17
18—
"Asyik makan-makan begin». Seperti sedang
pesta dikehhngi dekorasi dan dihibur dengan
musik." kata Julian sambil melambai ke arah
burung-burung yang berkicau serta bunga-
bunga "Sekarang tinggal pelayan yang masih
harus datang mengantarkan daftar makananl"
Seekor kelinci melompat-lompat meng-
hampin mereka. Telinganya yang besar ber-
gerak-gerak, penuh rasa ingin tahu.
Nah — itu dia pelayan kita, kata Julian. Hi-
dangan apa yang enak hari ini, Pak Kelinci?
Bagaimana dengan perkedel kelinci.”
Kelinci itu lari secepat-cepatnya. Rupanya
mencium bau Timmy. Anak-anak terbahak-bahak
Imelihatnya. Semuanya begitu kebetulan. Se-
kan akan kelinci itu lari, karena mendengar
Julian mengatakan 'perkedel kelinci. Timmy me-
mandang kelinci yang lari itu Tapi ia sama sekah
Й beranjak dari tempatnya.
Wah. Tim! Baru sekah ini kaubiarkan kelinci
) *at tanpa kaukejar” kata Dick. "Rupanya ca-
.-k ya! Kau membawa makanan untuknya,
Seorge?”
Tentu saja! Anak itu membeli daging susis di
• -ng daging, dan membuatkan roti khusus un-
• Timmy Dua belas rangkap dibuatnya seka
•фи6<
Saudara-saudara sepupunya tertawa. George
• • pemah segan, jika harus mengurus anjing
.yangannya. Timmy melahap rotinya semen-
>•*» ekornya sibuk memukul-mukul tanah
19
"Aduh, cepatnya Timmy makan," kata Julian.
"Dia takkan tahu, apakah dua puluh atau lima
puluh rangkap yang sudah habis ditelannyal
Awas, jangan sampai bagian kita juga ikut di-
sikatl"
Sementara mereka makan, burung-burung
berkicau terus. Riang sekali kedengarannya
"He, jangan terlalu ribut," kata Dick pada
burung-burung itu. "Boleh saja main musik, tapi
agak pelan sedikit — kami mgin tidur-tiduran se-
bentar
"Betul juga — kita istirahat sebentar di sini,"
kata Julian sambil menguap. "Sudah cukup jauh
jarak yang kita tempuh Jangan sampai terlalu
capek pada hari pertama. Ayo, Tim, jangan se-
enaknya saja menduduki kakiku. Kau berat seka-
li! Apalagi perutmu sudah gendut, terisi roti se-
banyak tadi."
Kau harus menjaga, Tim — kau kan anjing
yang baik," kata George. 'Jangan sampai ada
orang datang dan mencuri sepeda kami."
"Timmy tahu arti kata 'menjaga' Begitu men-
dengar kata itu, ia langsung meluruskan sikap
duduknya. Timmy celingukan sambil mencium-
cium. Ada orang di sekitar tempat itu? Tidak! la
tak mencium bau dan juga tak melihat orang lain
dalam hutan kecil itu. Karenanya 1a merebahkan
diri lagi Tapi satu matanya tetap terbuka, dan se
belah telinganya tetap terangkat ke atas. Me-
nurut perasaan George, hebat sekali anjing itu —
bisa setengah tidur dan setengah berjaga la hen-
dak mengatakannya pada ketiga saudara sepu-
punya. Tapi ternyata mereka sudah terleiap.
George pun ikut tertidur. Так ada orang datang
mengganggu Seekor burung kecil yang mgin ta-
hu mendekat sambil melompat-lompat. Burung
•tu mendekati Timmy. Rupanya berpikir-pikir,
ingin mencabut bulu ekor anjing itu untuk dija-
dikan pelapis sarangnya. Kelopak mata Timmy
yang tadinya tinggal secelah, terbuka agak lebar.
Awas, jika burung kecil itu berani iseng dengan
-kornya!
Tapi burung itu terbang lagi. Burung-burung
yang di atas pohon masih berkicau terus. Semen-
tara itu kelinci yang tadi datang kembali dari
hangnya. Seketika itu juga mata Timmy terbuka
•?bar. Kelinci itu Ian lagi. Timmy pura-pura men-
dengkur. Tidurkah dia? Kelinci itu tidak berani
nengambil risiko.
Pukul setengah empat sore anak-anak bangun
satu per satu. Julian memandang arlojinya.
Sudah hampir waktu minum teh " katanya.
*rwe menjerit kaget.
Kita kan baru saja makan siang," katanya.
°erutku masih kenyang!"
Julian nyengir.
Kau tak perlu kaget, Anne. Kita makan menu-
Mi perut kita dan bukan ditentukan oleh waktu.
I •* bangun! Kalau tidak kami tinggal nantil"
Mereka menuntun sepeda ke jalan raya. lalu
I ► -:-<anjutkan perjalanan. Angin segar bertiup,
I * - gelus muka. Anne mengerang pelan.
Aduh — kakiku sudah terasa pegal. Masih
I*Ji lagi kita bersepeda hari ini, Ju?"
20
21
"Ah, tidak," kata Julian. "Maksudku akan ber-
henti di salah satu tempat nanti, apabila kita su-
dah ingin minum teh Setelah itu berbelanja se-
bentar, membeli hidangan makan malam dan sa-
rapan besok. Lalu mencari tempat yang benar-
benar сосок untuk bermalam. Aku melihat se-
buah danau kecil dalam peta. Jika kita bisa
rnenemukan danau itu. kita bisa mandi-mandi di
dalamnya
Gagasan itu kedengarannya menyenangkan
George merasa pasti mampu bersepeda bebera-
pa kilometer lagi, apabila pada akhir perjalanan
telah menunggu air danau yang sejuk.
Bagus idemu itu, Ju," katanya. "Benar-benar
ide yang bagus Aku setuju saja jika pelan-
congan kita ini diatur mendatangi danau-danau
Jadi kita bisa selalu berenang-renang!"
Timmy yang berlari-lari di sisi sepeda tuannya
menggonggong-gonggong.
"Timmy juga setuju," kata George sambil ter-
tawa. "Tapi — aku lupa membawakan handuk
untuknya!"
22
eAB 3
Perkemohon Pertama
SORE itu menyenangkan sekali. Pukul setengah
кат mereka berhenti sebentar untuk minum
•«h dan makan-makan. Setelah itu berbelanja,
•nembeli bekal untuk makan. malam serta sara-
{яп keesokan paginya. Banyak juga belanja
-mereka
Mudah-mudahan tidak sampai habis kita ma-
<an malam ini," kata George sambil mengemas-
кап bahan makanan itu ke keranjang sepedanya.
Nanti ta^ ada lagi yang tersisa untuk sarapan
->sok Jangan, Tim I Rott ini bukan untukmul
Kau sudah kubelikan sepotong tulang yang besar
— itu kan sudah cukup."
"Tapi jangan langsung kaubenkan padanya
malam ini." kata Anne. "Nanti kita tidak bisa ti-
dpr. karena bising mendengar bunyi keretak-
• -retuk gigi Timmy mengunyah tulang."
Kalau aku, bunyi apa pun takkan bisa mem-
-•ingunkan malam ini," kata Dick. "Kurasa biar
.-mpa sekalipun takkan bisa membangunkan
23
Sekarang pun aku sudah terbayang bayang
betapa nikmatnya tidur dalam kantong
"Kurasa malam ini kita tak perlu memasang
tenda " kata Julian, sambil memandang ke atas
Langit cerah sekali! "Kutanyakan sebentar ra-
malan cuaca pukul enam di radio. Kalau tetap
cerah, kita tidur saja di bawah langit. Tanpa ten-
da — cukup dengan kantong-tidurl"
' Asyik!" kata Anne gembira. "Enak, bisa me-
mandang bintang-bintang sambil baring."
Ketika Julian menanyakannya pada seseorang
ternyata ramalan cuaca malam itu bagus
"Cuaca cerah dan tenang."
"Bagus," kata Julian. "Jadi kita tak usah
repot repot memasang kemah Nah — semua
sudah ada? Masih ada lagi makanan yang perlu
dibeli?"
Keranjang mereka sudah penuh. Kalau di-
tambah lagi isinya. mungkin akan terjatuh nanti.
"Sebetulnya masih banyak lagi yang masih
bisa ditaruh, jika Timmy mau membawa sendiri
tulangnya kata Anne "Keranjangku setengah-
nya terisi tulang-tulang untuknya. George, kena-
pa tidak kaubuatkan saja tempat bagi Timmy un-
tuk membawa makanannya sendiri? Dia kan cu-
kup pintar I"
"Memang, Timmy memang cukup pintar,"
kata George. "Tapi susahnya, dia juga terlalu ra-
kus, Anne Kau kan tahu sendiri! Kalau diper-
bolehkan membawa makanannya sendiri pasti
akan disikat habis dalam sekejap mata! Anjing
rupanya sanggup makan setiap waktul"
24
"Enak, hidup menjadi anjing," kata Dick "Aku
juga kepingin begitu. Tidak seperti sekarang, per-
lu istirahat antara saat makan yang satu dengan
yang berikutnya!"
"Sekarang kita berangkat ke danau," kata
Julian. Dilipatnya kembali peta yang selama itu
ditehti. Jaraknya cuma sekitar tujuh sampai de-
lapan kilometer dari sini Namanya Kolam Hijau.
Tapi ukurannya jauh lebih besar dari kolam biasa.
Aku kepingin mandi, karena tubuhku lengket
karena berkeringat."
Sekitar pukul setengah delapan malam mere-
ka sampai di danau itu. Tempatnya nyaman Di
tepinya terdapat sebuah pondok kecil. Rupanya
pondok itu di musim panes dipakai sebagai tem-
pat berganti pakaian oleh orang-orang yang
berenang renang di situ. Tapi saat itu pintu pon-
dok dikunci. Jendela tertutup tirai.
"Tempat ini kan tidak terlarang untuk orang
kiar?" Tanya Dick pada Julian, la agak sangsi "A-
pakah kita boleh mandi-mandi dengan begitu
saja?"
"Boleh saja," jawab Julian. "Tidak ada tanda
yang menyatakan bahwa tempat ini milik pribadi.
Tapi airnya pasti masih dingin. Sekarang kan
baru pertengahan bulan April Jadi sisa sisa mu-
: m salju masih akan terasa dalam air Tapi kita
•an sudah terbiasa mandi dengan air dingin se-
p pagi. Dan air sebelah permukaan pasti sudah
;ak hangat, kena sinar matahari. Yuk, kita
• makai pakaian berenang dulu."
25
Mereka berganti pakaian di balik semak-
semak. Setelah itu berlomba-lomba masuk ke
danau. Airnya ternyata dingin sekali. Anne hanya
berani masuk sebentar, lalu keluar lagi. Begitu
berulang-ulang.
Tapi George mengikuti kedua saudara sepupu-
nya yang laki-laki berenang. Ketika keluar dari
air, segar rasa tubuh. Mereka tertawa-tawa.
"Aduh dinginnya," kata Dick dengan bibir
gemetar "Yuk, kita lari-lari sebentar. Eh, Anne
sudah berpakaian lagi. Mana Timmy? Dia rupa-
nya tahan dingin!’'
Ketiga remaja itu berlari-lan mengelilingi Ko-
lam Hijau, merintis jalan kecil yang ada di situ.
Sementara itu Anne menyiapkan makan malam.
Matahari sudah terbenam Udara mulai terasa
sejuk walau belum dingin. Anne mengenakan
baju kaos yang tebal.
"Anne memang hebat," kata Dick kemudian
ketika kembali ke dekat pondok dan berpakaian
lagi dengan sweater tebal. "Lihatlah, makan ma-
lam sudah selesai disiapkannya Kau seorang ibu
rumah tangga yang cekatan, Annel Kurasa jika
kita menginap lebih dan semalam di sini, pasti
kau akan mengatur tempat menyimpan ma-
kanan. membuat tempat cuci — dan sibuk men-
cari tempat untuk menyimpan sapul"
"Kau benar-benar yang konyol, Dick!” kata
Anne. "Mestinya senang karena sudah kusiap-
kan makanan, dan bukan mengejekl Aduh, Tim-
my! Ayo pergi! Lihatlah, ia menggoncang-gon-
cangkan tubuhnya yang basah Jangan sampai
26
makanan kena cipratan air. Kenapa kau sampai
lupa bawa handuk untuknya. George? Timmy
juga perlu mengeringkan tubuh sehabis mandi."
Maaf," kata George, "Ayo, minta maaf pada
Anne, Tim! Mengeringkan badan saja, kan tak
perlu sampai air berhamburan ke mana-manal"
Enak rasanya makan malam itu, sambil me-
mandang bintang-bintang yang mulai ber-
munculan di langit. Mereka semua capek. Tapi
juga merasa berbahagia. Inilah aw a I pelan-
congan mereka. Dan awal saat libur selalu me-
nyenangkan. Hari-hari tanpa sekolah masih lama
sekali. Dan mereka merasa yakin, matahari akan
bersinar cerah setiap hari!
Sehabis makan, mereka segera menyusup ke
dalam kantong-tidur masing-masing Keempat
kantong itu diatur berjajar-jajar, sehingga kalau
mau mereka bisa mengobrol beramai-ramai.
Timmy ikut merasa senang. Dengan sikap senus
a berjalan melintasi keempat kantong yang ber-
lejer-jejer. Tentu saja disambut teriakan dan an-
caman-ancaman.
Aduh. Tim! Jangan kauinjak perutku! Aku
tadi kebanyakan makan!"
"George, jangan boleh dia berjalan-jalan see-
naknya saja, menginjak-injak kantong-tidur kita!
Awas kalau dia melakukannya sepanjang malam.
Bisa memar tubuh kita besok!"
Timmy tercengang melihat anak-anak ribut,
'antas merebahkan diri di samping George. Sebe-
tulnya ia ingin tidur sekantong dengan tuannya
tu — tapi tentu saja langsung diusir
27
"Aku sayang padamu, Tim — tapi kau harus
tidur dekat kakiku! Dan di luar, bukan dalam
kantong-tidurl He, Ju — lihatlah bintang yang
besar ituI Kelihatannya seperti bola lampu. Apa
namanya?"
"Itu bukan bintang, Georgel Namanya Venus,
dan merupakan planet seperti bumi kita ini," kata
Julian yang sudah mengantuk. "Tapi orang juga
biasa menyebutnya Bintang Kejora. Masa itu
saja kau tidak tahu, Georgel Belajar apa saja kau
di sekolah?"
George hendak menendang Julian, tapi tak
berhasil karena kakinya sudah terbungkus dalam
kantong-tidur. George menguap lebar sekali, se-
hingga saudara-saudaranya ketularan. Mereka
menguap, silih berganti.
Anne paling cepat tidur. la yang paling muda,
dan paling lekas capek jika diajak berjalan-jalan
oleh saudara-saudaranya. Tapi ia selalu berusaha
keras agar tak pernah ketinggalan George mena-
tap bintang yang kata Julian sebetulnya bukan
bintang itu I la menatapnya tanpa berkejap. Tapi
hanya tahan tak sampai semenit. Tahu-tahu ia
sudah tertidur. Julian masih mengobrol dengan
suara pelan dengan Dick. Tapi juga hanya se-
bentar saja, setelah itu mereka pun pulas. Timmy
tak kedengaran bunyinya. Anjing itu juga capek,
berlari-lari terus sehari itu
Malam itu tak ada yang terbangun. Timmy
juga tidak. Так dipedulikannya sekawanan kelinci
yang bermain-main tak jauh dari tempatnya ber-
baring. Telinganya cuma bergerak-gerak sedikit
28
•etika seekor burung hantu memperdengarkan
suaranya di dekat situ. Malah ketika ada seekor
•umbang yang nekat berjalan di atas kepalanya,
anpng itu sama sekali tak bergerak-gerak.
Tapi coba kalau George terbangun dan me-
•nanggilnya. Pasti dengan seketika Timmy akan
t»rbangun! Bagi Timmy, siang dan malam ia
Mrus bersiap menjaga tuannya itu
Keesokan harinya cerah lagi. Enak rasanya
mgun dan merasakan kehangatan sinar mata-
•ari memanasi pipi Seekor burung berkicau
^embira.
"Mungkin burung yang kemarin juga," pikir
Otck yang masih setengah tidur. ' Bunyinya per-
samal"
Anne terbangun. la berpikir-pikir Apakah se-
a knya bangun dan mehyiapkan sarapan untuk
h*udara-saudaranya — atau mungkinkah mereka
-igin mandi-mandi dulu di danau?
Setelah itu Julian bangun. la keluar sedikit da-
kantong-tidurnya, sambil memftndang Anne
:engan meringis.
Hai," katanya menyapa adiknya» "Enak tidur
Bdi malam? Segar rasanya tubuhku pagi ini I"
"Aku agak pegal,” kata Anne. "Tapi pasti se-
c*ntar saja. He, George — banguni"
George mendengus, lalu semakin mendekam
dBiam kantong-tidurnya. Timmy menggapai-ga-
.-M sambil mendengking pelan. la ingin mem-
Mngunkan tuannya, hendak diajaknya berlari-la-
29
"Jangan, Tim!" Kata George dari dalam kan-
tong. "Aku masih tidur!"
"Aku ingin berenang sekarang ' kata Julian
"Ada yang ikut?"
"Tidak," jawab Anne Pasti sepagi ini masih
terlalu dingin. George kelihatannya juga malasl
Kalian berdua saja pergi sendiri Kalau kalian pu-
lang nanti, sarapan akan sudah kusiapkan.
Sayang aku tidak bisa menyediakan minuman
panas — tapi kita kan tak membawa cerek."
Dalam keadaan setengah mengantuk, Dick
dan Julian berjalan menuju Kolam Hijau Anne
bergegas keluar dari kantong-tidurnya, lalu lang-
sung mengenakan pakaian la hendak mencuci
badan di danau. George masih tetap berbaring
dalam kantong-tidurnya
30
Sementara itu Julian dan Dick sudah hampir
sampai di danau. Mereka sudah bisa melihat air-
nya yang hijau segar. Seolah-olah menyuruh me-
reka buru-buru datangl Begitu segar kelihatan-
nya.
Tapi tiba-tiba mereka melihat sebuah sepeda.
Kendaraan itu disandarkan dekat sebatang po-
hon. Keduanya memandang dengan heran, ka-
rena sepeda itu bukan mereka punya. Jadi kepu-
nyaan siapa?
Saat itu dari arah danau terdengar bunyi air
tercebur-cebur. Mereka bergegas ke sana. Rupa-
nya ada orang lain yang juga berenang pagi itu.
Seorang anak laki-laki nampak dalam danau.
Rambutnya yang pirang basah dan berkilat kena
sinar matahari. la berenang dengan tangkas. Air
berombak di belakangnya. Kemudian dilihatnya
Julian dan Dick berdiri di tepi. Dengan segera ia
berenang menghampiri.
"Hallo." katanya. la keluar dari air. "Kalian
uga hendak berenang? Bagus ya — danauku
mi?"
"Apa maksudmu? Ini benar-benar danau
fcepunyaanmu?" tanya Julian.
"Yah — sebetulnya kepunyaan ayahku. Nama-
^ya Thurlow Kent," kata anak itu. Julian dan Dick
sudah pemah mendengar nama itu. Salah
•eorang hart a wan terkaya di negeri itu. Julian
**mandang anak laki-laki itu dengan agak sang-
"Jika danau ini milik pribadi, kami tak berani
*enang di sini." katanya.
31
"Ayo, masuk sajaI" kata anak itu sambil me-
nyembur-nyemburkan air ke arah mereka. "Kita
berlomba — siapa dulu sampai di seberang."
Saat berikutnya ketiga anak itu sudah be-
renang berdampingan. Membelah air hijau
dengan gerakan lengan mereka yang kuat. Asyik
rasanya berenang pada pagi hari secerah ini!
32
едв 4
Richard
mnne tercengang. Dilihatnya ada tiga orang be-
»wnang dalam danau — dan bukan hanya dual la
terdiri di tepi air, sambil memandang. Siapakah
•n«k yang satu lagi?
Sementara itu mereka sudah berenang kem-
bah ke tempat Anne sedang berdiri. la meman-
->ng anak laki-laki yang tak dikenalnya itu
>'-gan agak malu-malu. Anak itu tidak jauh le-
% tua umurnya dari Anne. Badannya tak se-
k gi Julian atau Dick, tapi potongannya tegap.
M -tanya biru, bersinar-sinar kocak Anne lang-
menyukai anak itu, yang keluar dari air sam-
H melicinkan rambutnya yang basah ke bela-
Ini adik kalian?" tanya anak itu pada Dick dan
•«an "Halo!"
Halo," jawab Anne sambil tersenyum. "Siapa
I'namu?"
Richard," kata anak itu. "Richard Kent. Dan
RMJ?"
33
"Namaku Anne," jawab Anne. "Kami sedang
melancong — naik sepeda."
Dick dan Julian tadi belum sempat memper-
kenalkan diri, karena sibuk berlomba.
"Dan aku Julian," kata Julian, sementara na-
pasnya masih terengah-engah. Dan dia ini adik-
ku pula Namanya Dick! Eh — mudah-mudahan
kami tidak melanggar larangan memasuki tanah-
mu pula!"
Richard nyengir.
"Kalian memang memasuki tanah milik priba-
di kami,” katanya. "Tapi kuijinkan! Kalian boleh
memakai danau dan tanahku dengan bebasl"
"Wah, terima kasih," kata Anne*- "Tentunya
ayahmu pemilik tempat ini, ya? Tapi tak ada tu-
lisan 'Milik Pribadi’, atau 'Dilarang Masuk* — ka-
rena itu kami juga tak mengetahuinya. Kau mau
sarapan bersama kami? Ikut saja bersama
abang-abangku ke tempat kami tidur tadi ma-
lam "
Anne kemudian mencuci tubuh dengan sepon
di danau. Didengarnya ketiga anak laki-laki itu ra-
mai mengobrol sambil berganti pakaian dalam
semak Anne bergegas kembali ke tempat me-
reka bermalam. Niatnya hendak membenahi kan-
tong-kantong-tidur dan menyediakan sarapan
dengan rapi. Tapi George masih tetap mering-
kuk dalam kantong-tidurnya. Hanya rambut ikal-
nya saja yang tampak.
"Ayo bangun, George! Ada anak yang akan
ikut sarapan dengan kita," kata Anne sambil
34
menggoncang-goncang bahu saudara sepupu-
nya.
George menyentakkan bahunya dengan ke-
sal. la tak percaya pada kata-kata Anne. Dikira-
nya hanya siasat agar ia mau bangun dan mem-
bantu menyiapkan sarapan I Karena itu Anne
membiarkannya. Masa bodoh! Kalau mau ke-
tahuan masih tidur pada saat tamu datang, sa-
lahnya sendiril
Anne mengeluarkan makanan dari keranjang,
lalu mulai mengatur sarapan Untung saja me-
reka membeli dua botol sari jeruk sebagai ca-
dangan. Jadi bisa disuguhkan pada Richard.
Sementara itu ketiga anak laki-laki datang
Rambut mereka masih basah sehabis mandi. Ric-
-ard melihat George yang masih tidur dalam
• antongnya, sementara Timmy datang meng-
ampiri. Dari pakaian Richard, Timmy tahu bah-
*a di rumah anak itu ada anjing-anjing. Karena
ia mengendus-endus penuh minat Richard
-engusap-usap kepala Timmy.
"Siapa yang masih tidur itu?" tanyanya.
"Saudara sepupu kami," kata Anne "Nama-
>a George la malas bangun. Yuk — sarapan
ah siap! Kalau mau, kami juga punya sari je-
George mendengar suara Richard yang se-
e-,ng mengobrol dengan saudara-saudaranya la
rcengang Siapa itu? George terduduk dengan
Mta terkejap-kejap. Rambutnya yang dipotong
lendek acak-acakan. Melihat keadaannya seper-
I rtu Richard sungguh-sungguh mengira George
35
laki-laki. Tampangnya mirip anak laki-laki — dan
namanya juga George!
"Selamat pagi, George," kata Richard.
"Mudah-mudahan kau tak berkeberatan jika aku
ikut sarapan dengan kalian."
"Kau siapa?" tanya George Julian dan Dick
memperkenalkan teman baru mereka itu pada-
nya.
"Rumahku sekitar lima kilometer dari sini," ka-
ta Richard. "Aku tadi bersepeda ke mari, karena
ingin berenang. He — aku lantas teringat! Se-
baiknya kubawa saja sepedaku ke mari, supaya
bisa kuawasi. Sudah dua sepedaku yang hilang
karena tak kujaga baik-baik."
Richard pergi mengambil sepedanya. Ke
sempatan itu dipakai oleh George uotuk cepat-
cepat keluar dari kantong-tidurnya dan berganti
pakaian. la sudah kembali lagi sebelum Richard
datang, dan langsung sarapan. Richard kembali
sambil mendorong sepedanya.
"Untung masih ada," katanya sambil mere-
bahkan sepeda itu ke rumput di sisinya. "Kalau
yang ini hilang lagi, aku pasti takkan berani mela-
porkannya pada ayahku. Dia galakl"
"Ayahku juga galak,” kata George
"Kau pernah dipukulnye?" tanya Richard Iryeramken. la masih bekerja deng°an"aiahm'u?-
sambil memberikan sisa rotinya pada Timmy. I ".............................. 9 Vahmu?
"Tentu saja tidak." jawab George, "la cuma ^lakukan sesuatu entah apar kata’ R^haM
suka marah-marah sajal' | ’.'ereka ribut bertenokar , cna °
"Wah, kalau ayahku bukan marah-marah la - -mecatnya. Untung saja — ^ebab акиХ^
gi," kata Richard. "Mengamukl Dan wataknyi- a oranq itu Aniina-aniir.„ benci
seperti gajah. Kalau ada yang berbuat salah ter . hnya, tanpa alasan!" 9 senng ttendang
hadapnya, la takkan melupakannya. Penden-
dam! Sudah banyak sekali orang yang menjadi
musuhnya. Kadang-kadang bahkan ada yang
mengancam hendak membunuhnya. Karena itu
ke mana-mana ia selalu diiringi pengawal."
Wah, kedengarannya ramai! Dick agak iri —
ingin juga punya ayah seperti ituI Bukan yang
galak maksudnya, tapi rasanya gagah bila bisa
menceritakan tentang pengawal ayah pada
teman-teman di sekolah.
’’Seperti apa pengawal ayahmu itu?” tanya
Anne penuh ingin tahu.
"Wah, macam-macam. Bukan cuma seorang
saja! Tapi semuanya bertubuh besar dan kekar
Potongan mereka seperti orang jahat semua-
nya! Dan mungkin pula mereka memang penja-
hat," kata Richard, la senang, karena teman-te-
man barunya itu tertarik pada ceritanya. ’'Penga-
wal yang bekerja padanya tahun lalu benar-be-
nar seram. Berbibir tebal, sedang hidungnya be-
saaar sekali. Kalau dilihat dari samping, kelihat-
<inya seperti hidung palsu. Padahal memang hi-
jungnya begitu!"
Astagal” kata Anne. "Kedengarannya me-
Tidak! Ayahku marah padanya karena ia
’•’ereka ribut bertengkar, dan setelah itu ayahku
36
37
'Aduh, jahatnya!' seru George ngeri Dengan
segera Timmy dipeluknya, seolah-olah takut
kalau ada yang dengan tiba-tiba saja menen-
dang anjing kesayangannya itu.
Julian dan Dick agak sangsi mendengar cerita
Richard. Mereka merasa bahwa Richard terlalu
membesar-besarkan segalanya Tapi mereka
mendengarkan terus kisahnya, walau dengan pe-
rasaan geli. Dan bukan dengan ngeri, seperti
George dan Anne. Kedua anak itu mengikuti ki-
sah teman baru mereka dengan asyik.
"Di manakah ayahmu sekarang?" tanya Anne.
"Adakah pengawal istimewa saat ini?"
"Dengan sendinnyal Minggu ini la di Ame-
rika. tapi tak lama lagi akan kembali naife pesa-
wat terbang — dengan pengawal," kata Richard,
sambil menghabiskan sari jeruk yang masih ter-
sisa dalam botol. 'Hmm, sedap! Kalian mujur,
boleh melancong sendiri naik sepeda — dan ti-
dur semau kalian! Ibuku pasti takkan mengijin-
kan aku pergi sendiri —ia selalu khawatir aku
akan ditimpa bencana!"
''Mungkin ada baiknya jika kau juga dikawal
seorang penjaga." kata Julian menyindir
"Ah — aku pasti akan bisa lari dari peng-
awasannya," kata Richard "Saat ini pun se
benarnya aku punya semacam pengawal.
"Siapa? Mana dia?" kata Anne sambil ce
lingukan memandang berkeliling. Seakan-akan
menyangka akan muncul seorang yang kasar dan
berbadan besar tinggi.
"Dia sebetulnya bertugas mengajarku selama
bur," kata Richard sambil menggelitik telinga
*immy. "Namanya Lomax. Orangnya jahat seka-
I Aku sebenarnya harus lapor padanya setiap
tali hendak pergi. Huhhl Aku diperlakukan seper-
anak kecil — seperti Anne ini I"
Anne langsung tersinggung mendengarnya.
Tapi aku tak perlu lapor pada siapa-siapa jika
ndak pergi sendiri," katanya
Sebetulnya kami juga takkan diijinkan melan-
ng sendiri, apabila tak ditemani Timmy," kata
к berterus terang. "la lebih baik daripada
ngawal yang kasar, atau guru masa libur. Aku
38
heran, apa sebabnya kau tak memelihara an-
jing "
"Aku bahkan punya lima ekor,” kata Richard
dengan tenang.
"Siapa nama mereka7" tanya George, la mulai
tidak percaya
"Eh — nanti dulu — Bunter, Biskuit, Brownie,
Bones — dan — eh — Bonzo," kata Richard
sambil nyengir.
"Nama-nama konyol," kata George meren-
dahkan "Masakan anjmg diberi nama Biskuit
Kan bukan makanan? Kau sudah sinting rupa-
nya ya!
"Diam!" bentak Richard dengan sekonyong-
konyong. Mukanya masam. "Aku paling tidak se-
nang, jika dikatakan sintingI"
"Yah tapi sekarang kau harus menenmanya,'
kata George menantang. "Menurut pendapatku
orang yang memberi nama Biskuit pada anjing
manis dan baik — pasti sintingl"
"Ayo, kita berkelahi kalau beram kata
Richard sambil berdiri Ayo1"
Seketika itu juga George melompat bangkit.
Dengan cepat Julian menariknya, sehingga ter-
duduk kembali
"Jangan berkelahi katanya pada Richard
'Kau, mesti malul"
"Kenapa malu?" kata Richard marah. Muka-
nya merah padam. Rupanya ia menurun ayah-
nya, cepat marah I
40
"Masakan berkelahi dengan anak pe-
rempuan." kata Julian mencemooh. "Atau kau
memang biasa begitu. Kalau ya — bilang saja!"
Richard melongo memandangnya.
"Apa maksudmu?" tanyanya heran. "Anak pe-
-mpuan? Tentu saja aku takkan berkelahi
jMngan anak perempuan. Так pantas anak laki-
k»k< memukul anak perempuan. Tapi yang kutan-
•- g berkelahi kan anak laki-lakil Aku mau berke-
Mri dengan — siapa nama anak itu? Ah ya
Richard semakin bingung ketika tiba-tiba
tan serta kedua adiknya tertawa terpingkal-
r.,kal. Timmy menggonggong-gonggong. la
in merasa lega, karena pertengkaran sudah
irakhir. Cuma George saja yang nampak cem-
rut
Ada apa lagi sekarang?” tanya Richard curi-
i "Apa yang kocak?"
'Aduh, Richard! George bukan anak laki-laki
ia anak perempuan," kata Dick menjelaskan,
telah tertawanya agak reda. "Astaga — dan
>ak itu bahkan sudah siap melayani tantangan-
u — seperti dua anjing kecil berebut tulang!"
Sekarang Richard kelihatan seperti orang tolol.
utnya ternganga lebar karena heran dan ka-
rt Mukanya semakin merah, tapi sekarang ка-
па malu. la memandang ke arah George 6am-
i tersipu-sipu.
Kau betul-betul anak perempuan?" tanyanya.
rmgkah-lakumu seperti laki-laki — dan tam-
41
pangmu pun mirip anak laki-laki. Maaf, George.
Tapi namamu memang betul-betul George?"
"Bukan — Georgina," kata George. Kemarah-
annya agak reda, karena Richard telah meminta
maaf dengan caranya yang kikuk itu. la pun me-
rasa senang, karena sungguh-sungguh disangka
anak laki-laki Sedang George memang ingin
sekali menjadi anak laki-lakiI
"Untung saja kita tidak berkelahi tadi," kata
Richard bersungguh-sungguh. 'Pasti kau akan
terpelanting kena pukulankul”
"Eh — coba saja!" tukas George. Marahnya
timbul lagi. Julian mendorongnya mundur
"Sudah, jangan bertengkar lagiI" katanya.
"Mana peta kita? Kita harus menentukan hendak
ke mana han ini — sampai seberapa jauh kita
bersepeda, dan di mana menginap nanti malam."
Untung saja George dan Richard sama-sama
mau mengaiah. Так lama kemudian mereka su-
dah sibuk menekuni peta Bahkan Timmy pun
ikut-ikut melihat, pura-pura mengertil Julian me-
nentukan pilihan.
"Kita akan ke Hutan Middlecombe — itu tem-
patnya di peta! Jadi beres — kita akan melan-
jutkan pelancongan "
Tapi sebetulnya bukan cuma pelancongan saja
yang akan mereka alami hari itu.
42
BAB 5
Lima — Tambah Satu
Anak-anak sibuk membenahi tempat mereka
menginap. Sampah dikuburkan ke dalam tanah,
supaya tempat itu tidak kelihatan jorok. Kan-
tong-kantong tidur digulung. lalu ditaruhkan
kembali ke tempatnya. Sepeda-sepeda diperik-
sa, kalau-kalau ada ban yang bocor. Temyata ti-
dak ada!
"Hel" kata Richard tiba-tiba, ketika mereka
sudah selesai berkemas. "Aku punya seorang bi-
bi tinggalnya di arah perjalanan kalian menuju
hutan itu. Jika aku diijinkan ibuku, bolehkah aku
ikut dengan kalian? Sekaligus aku bisa berkun-
jung ke bibiku itu."
Julian memandang Richard, la agak sangsi,
karena betulkah Richard akan meminta ijin? Ja-
ngan-jangan cuma mengada-ada sajal
"Yah — asal jangan terlalu lama saja kau min-
ts ijin," katanya kemudian. "Tentu saja kami tak-
kan berkeberatan jika kau ikut. Kau bisa ber-
sama-sama naik sepeda dengan kami, sampai ke
>mpat bibimu."
43
"Kutanyakan saja sekarang pada ibuku," kata
Richard bersemangat, laiu pergi mengambil
sepedanya. "Kita bertemu nanti di Pojok Croker
Kalian kan melihat di mana tempat itu, ketika se-
dang meneiiti peta tadi. Dengan beg tu kita
menghemat waktu. Aku tak perlu ke mari lagi —
dan tempat itu dari rumahku hampir sama jauh-
nya seperti ke mari."
' Baiklah," kata Julian. "Aku masih harus me-
nyetel rem sepedaku dulu. Pekerjaan itu akan
memakan waktu sekitar sepuiuh menit. Jadi kau
ada waktu untuk minta ijin duiu ke rumah. Kami
akan menunggumu di sana. Begitulah, kira-kira
selama sepuiuh menit kami akan menunggu di
Pojok Croker Jika kau masih belum muncul juga,
berarti tak diijinkan ikut. Katakan pada ibumu.
kau akan kami antarkan dengan selamat sampai
ke tempat bibimu."
Richard ngebut pergi dengan sepedanya Se-
mentara itu Anne melanjutkan berbenah. dibantu
oleh George Julian menyetel remnya yang agak
kendor, ditolong Dick. Setelah kira-kira lima be-
las menit, mereka sudah siap berangkat lagi. Me-
reka sudah mtfrencanakan di mana akan mampir
nanti ynfuk membeli bekal makan siang Walau
perjalanan menuju Hutan Middlecombe lebih
jauh dibandingkan dengan perjalanan pada han
pertama, tapi mereka merasa sudah lebih mam-
pu bersepeda lebih jauh sedikit danpada kema-
rin. Timmy juga sudah ingin cepat-cepat berang-
kat. Tubuhnya besar, dan ia senang jika banyak
berkesempatan untuk bisa lari-lan
44
Biar kau agak langsing," kata Dick padanya
Kami tak suka anjing gemuk. Anjing gemuk ja-
annya seperti bebek, dan napasnya selalu ter-
engah-engah."
"Dickl" tukas George tersinggung. "Timmy tak
ernah gemuk*" Saat itu barulah ia melihat bah-
wa Dick menatapnya sambil meringis. Anak itu
menggodanya — seperti biasa George merasa
<esal terhadap dirinya sendiri, karena selalu ma-
•ah jika Dick mengganggunya lewat Timmy.
Sambil main-main George memukul bahu Dick.
Mereka melompat ke sadel sepeda masing-
Tiasmg. Timmy sudah lari lebih dulu Mereka
memasuki sebuah jalan tanah. Di situ mereka
rsepeda dengan hati-hati, karena takut masuk
jalur bekas roda kendaraan dan terjatuh Так
a kemudian mereka sampai di sebuah jalan
ing lebih lebar Tapi bukan jalan raya. Julian
ta ketiga saudaranya tak menyukai jalan raya,
ba ena terlalu ramai dengan kendaraan serta
alu berdebu. Mereka lebih senang melewati
4 an-jalan yang rindang serta jalan-jalan kam-
,.ng Di jalan seperti itu, mobil hanya sekali-se-
saja lewat.
He jangan sampai terlewat Pojok Croker I"
»ta Julian memperingatkan. "Letaknya menurut
•»*a di jalan ini. Terjatuh kau nanti, George, jika
sepeda di jalur bekas roda mobil."
Ya — aku juga tahu,' jawab George. "Aku
- suk ke mari, karena Timmy tiba-tiba lari di de-
rm sepedaku Pasti sedang mengejar kelinci la-
45
gi! Awas, Timmy — jangan sampai kau keting-
galanl"
Timmy lari dengan segan-segan di belakang
rombongan sepeda. Memang senang jika bisa
berlari-lari terus. tapi hSI itu juga berarti ia tak
sempat mencium-cium ke sana dan ke man
Sayang bau yang bermacam-macam itu disia-
siakan dengan begitu saja, pikir Timmy.
Mereka lebih cepat tiba di Pojok Croker, da-
ripada perkiraan semula. Nama tempat itu terte-
ra pada sebuah papan penunjuk jalan. Dan
Richard ternyata sudah lebih dulu ada di situ, du-
duk di atas sepedanya sambil bersandar ke tiang
papan penunjuk jalan itu. la memandang ke arah
mereka dengan wajah berseri-seri
Cepat sekali kau pulang ke rumah, lalu da-
tang ke mari," kata Julian. "Apa kata ibumu?"
la sama sekali tak keberatan, asal pergi ber-
sama kalian " kata Richard. "Aku tfoleh mengi
nap semalam di rumah bibi, katanya."
"Tapi kau tak membawa perlengkapan untuk
menginap? tanya Dick
"Di rumah bibiku sudah ada," kata Richard
menjelaskan. "Horee! Asyik, bisa bepergian sen-
diri dengan kalian — tanpa diganggu Pak Lomax,
disuruh ini dan itu. Yuk, kita berangkatl"
Mereka pun berangkat bersama-sama. Beru-
lang kali Richard mencoba bersepeda tiga seja
jar. Dan tiap kali pula Julian melarang. Katanya.
peraturan lalu lintas tak mengijinkan orang naik
sepeda tiga-tiga.
46
Masa bodoh'" seru Richard, yang kelihatan-
nya gembira sekali. "Lagipula siapa yang mau
melarang kita di sini?"
Aku yang melarang," tukas Julian. Seketika
tu juga Richard tidak nyengir iagi. Kalau perlu,
Julian bisa bersikap garang Dick mengedipkan
mata ke arah George, yang membalas dengan
kedipan mata pula. Mereka menarik kesimpulan
Richard anak yang manja — dan mau menang
sendiri. Tapi takkan mungkin, jika harus berha-
>apan dengan Julian!
Sekitar pukul sebelas mereka berhenti seben-
tar di suatu desa, untuk membeli esknm dan mi-
-uman. Richard kelihatannya banyak membawa
.ang la berkeras membelikan eskrim untuk se-
muanya. Bahkan Timmy pun ikut kebagianl
Mereka juga membeli bekal untuk makan
v?ng Roti segar, mentega produksi pertanian
-tempat, keju segar, daun selada, lobak merah
:?n bawang Ketika Richard melihat kue tar co-
• at di sebuah toko kue yang mahal, dengan se-
-ra dibelinya sebuah
Astaga — itu kan mahal sekali harganya,"
* :a Anne. "Lebih baik kita potong menjadi dua
tegian, supaya bisa dibawa oleh dua orang
• >au dibawa satu orang, terlalu besar kuenya."
Timmy menggonggong untuk menyatakan
:*hwa ia pun bersedia membawakan.
Ah — kalau kau yang membawanya, pasti
s dalam sekejap mata," kata Anne.
Kemudian mereka meneruskgn perjalanan.
V*arang memasuki daerah pedalaman yang se
benarnyg. Hanya sekali-sekali saja mereka mele-
wati sebuah desa. Di sana sini nampak tempat-
tempat pertanian di lereng bukit, dengan ternak
sapi, biri-biri dan ayam. Suasana di daerah itu te-
nang dan damai. Matahari bersinar cerah di
langit yang biru. Awan-awan kecil bergumpal-
gumpal seperti kapas
"Wah, asyik!" kata Richard senang "Timmy
rupanya tidak kenal capek, ya? Padahal napas-
nya sudah terengah-engah.'
"Betul!" kata Julian. "Kita harus mencari tem-
pat mampir. untuk makan siang. Sepagi ini sudah
jauh juga kita bersepeda. Tentu saja, karena kita
sering menurun terus. Siang ini mungkin kita
akan lebih lambat, karena mulai memasuki dae-
rah berbukit-bukit."
Mereka menemukan tempat yang enak untuk
berpiknik. Tempat itu di tepi semak yang me-
rupakan pagar alam. Di depan mereka terben-
tang sebuah iembah kecil. yang letaknya agak di
bawah lereng. Mereka duduk di tempat yang
disinari matahari.
Di sekitar mereka, sekawan biri-biri sedang
merumput. Binatang itu yang muda-muda rupa-
nya sangat ingin tahu. Seeker di antaranya
menghampiri Anne, lalu mengembik.
"Mau roti?" tanya Anne, sambil menyodorkan
sepotong. Timmy memandang dengan jengkel.
Bayangkan — memberi makan pada binatang-
bmatang konyol itu! Timmy menggeram tapi ce-
pat-cepat disuruh diam oleh George.
48
Так lama kemudian banyak anak biri-biri
mengelilingi mereka. Mereka sama sekali tidak
takut. Seekor di antaranya bahkan mencoba me-
naikkan kaki depannya ke bahu George! Per
buatannya itu dianggap Timmy sudah keterlalu-
an! Tiba-tiba ia menggeram dengan galak, se-
hingga semua anak biri-biri itu Ian ke segala pen
juru.
"Kau tak boleh cemburu, Tim!" kata George.
"Nih, kuberi sepotong roti Tenanglah! Kalau bi-
ri-biri itu takut, mereka takkan mau datang lagi."
Anak-anak makan dan minum sepuas me-
reka. Matahari panas sekali. Так lama lagi kulit
mereka pasti akan sudah coklat terbakar ma-
tahari — padahal sekarang baru bulan April.
Benar-benar hebat! Sambil melamun, Julian
membayangkan betapa mujur nasib mereka.
Cuaca begitu cerah! Bayangkan, jika harus naik
sepeda di tengah hujan lebat.
Anak-anak tidur-tiduran lagi setelah makan
siang. Richard juga ikut terlelap Anak-anak dom-
ba datang mendekat, sambil meloncat-loncat.
Seekor meloncat ke atas tubuh Julian yang se-
dang tidur. Tentu saja Julian kaget dan bangun
"Timmy!" serunya marah. "Jika sekali lagi kau
meloncati diriku seperti tadi, akan ku."
Tapi ternyata yang bersalah bukan Timmy, tapi
seekor anak domba! Julian tertawa sendiri. Sela-
ma beberapa menit berikutnya ia duduk sambil
memperhatikan anak-anak domba itu bermain-
main di lapangan. Setelah itu ia tidur lagi.
49
"Masih jauhkah rumah bibimu?” tanya Julian
pada Richard, ketika mereka sudah duduk lagi di
atas sadel sepeda masing-masing untuk melan-
jutkan perjalanan.
"Jika kita sudah dekat dengan Great Gid-
dings, berarti sudah hampir sampai," kata
Richard, la bersepeda lepas tangan. Sebagai aki-
batnya, nyaris saja terjerumus ke dalam parit.
"Tapi tadi tak kulihat di peta."
Julian berusaha mengingat-ingat.
"Ya — sekitar saat minum teh, kita akan sam-
pai di tempat itu. Katakanlah, sekitar pukuFlima
sore. Kalau kau mau, kami bisa meninggalkan-
mu di tempat bibimu. untuk minum teh di sana "
"Wah, lebih baik tidak," kata Richard cepat-
cepat. "Aku lebih senang jika terus melancong
dengan kalian. Mungkin saja aku boleh! Ba-
gaimana jika kau saja yang menelepon ibuku."
"Konyol" kata Julian "Kau bisa saja minum
teh bersama kami — tapi setelah itu akan kami
tinggal di rumah bibimu. Seperti yang sudah kita
sepakatkan! Itu sudah pastil"
Mereka sampai di Great Giddings, pukul lima
lewat sepuiuh menit. Great Giddings merupakan
sebuah desa. Walau awal namanya 'Great' —
yang berarti besar, tapi desa itu kecil. Di tempat
itu ada sebuah restoran kecil, yang menghidang-
kan kue-kue dan selai bikinan sendiri. Mereka
mampir di situ untuk minum teh. Orang Inggris
paling suka minum teh. Minum teh pukul lima
sore sudah merupakan tradisi bagi mereka. Bah
kan restoran-restoran di tempat-tempat keci
50
pun, umumnya disebut Tea-House' atau Tea
Place' Jadi 'Tempat Minum Teh' — walau sebe
tulnya di samping minum teh banyak sekali me-
reka makan roti dan kue-kue. Namun teh tetap
diutamakan!
Wanita yang mengurus restoran kecil itu ber-
badan gemuk dan ramah sekali la suka pada
anak anak la sudah memperkirakan bahwa tak
banyak untungnya menyajikan teh pada lima
anak remaja yang keiihatannya sehat-sehat. Tapi
hal itu tak menjadi soal baginyal Wanita itu
mulai sibuk memotong-motong roti yang kemu-
dian dilapisinya tebal-tebal dengan mentega.
Lalu diben selai aprikot dan macam-macam selai
buah-buahan
Wanita itu kenal baik dengan Richard. Sudah
beberapa kali Richard ke situ, bersama bibinya.
[ "Kau rupanya akan menginap malam ini di ru-
mah bibimu?" tanya wanita itu pada Richard
-nak itu hanya bisa menganggukkan kepala, ka-
na mulutnya penuh roti Benar-benar sedap hi-
ingan yang disajikan bersama teh sore itu
Menurut perasaan Anne, 1a takkan mampu lagi
-akan malam itul Bahkan Timmy pun keiihat-
annya betul-betul kenyang.
Kurasa kami harus membayar hpat dua, un-
k hidangan yang begini enak." kata Julian Tapi
•anita pemilik restoran kecil itu tak mau meneri-
- a pembayaran yang berlebihan. la sudah se-
-ng jika bisa melihat anak-anak menikmati kue-
• uenya. Так perlu dibayar dobel pula!
51
"Orang-orang ada juga yang sangat baik dan
pemurah," kata Anne, ketika mereka sudah me-
lanjutkan perjalanan lagi. "Aku selalu senang jika
berjumpa dengan orang seperti itu. Mudah-mu-
dahan jika sudah besar nanti, aku juga akan se-
perti itu!"
"Jika kau benar begitu nanti. aku dan Julian
akan terus tinggal di rumahmu. Так mau ka-
win!" kata Dick dengan segera. Anak-anak ter-
tawa
"Sekarang kita ke rumah bibi Richard," kata
Julian. "Di mana letaknya?"
"Itu — yang di sana,” kata Richard, lalu me-
nuju pintu pekarangan rumah yang ditunjuknya.
"Nah, terima kasih — karena sudah meftemani
aku sampai di sinil Moga-moga kita lekas
berjumpa lagi. Dan kurasa hal itu akan terjadi.
Selamat jalanl"
Richard masuk ke dalam pekarangan, dan
menghilang dari penglihatan Julian serta ketiga
saudaranya.
"Eh — dengan begitu saja ia berpisah dari ki-
ta!" kata George tercengang. "Anak itu anehl"
52
BAB 6
Kejodian-kejadian An eh
Semuanya merasa agak aneh meiihat Richard
dengan tiba-tiba saja menghilang, setelah
mengucapkan selamat jalan secara sambil lalu.
Julian bertanya-tanya, apakah dia tidak perlu
mengantarkan anak itu sampai ke depan pintu
rumah bibinya.
"Ah, jangan konyol," kata Dick mengejek
abangnya itu 'Menurut perasaanmu, apa sih
. ang bisa terjadi padanya antara pintu peka-
angan sampai ke pintu rumah?!"
"Tentu saja takkan terjadi apa-apa. Tapi soal-
nya aku agak cunga pada anak itu," kata Julian.
Aku tak begitu yakin ia telah minta ijm pada ibu-
ya agar boleh ikut dengan kita."
Perasaanku juga begitu," kata Anne. "Tadi
D*gi — begitu cepat ia sudah sampai di Pojok
roker Padahal jalan pulang ke rumahnya tak
-gitu dekat! Lagipula, ia masih harus mencari
»nya, lalu minta ijin dan sebagainya."
Betul. Aku kepingin rasanya datang seka-
•ang ke rumah bibinya itu, untuk melihat apakah
53
kedatangan Richard sudah ditunggu olehnya,"
kata Julian. Tapi ia tak jadi ke sana. Konyol rasa
nya jika ternyata semuanya beres Nanti dikira ia
ingin diundangl
Setelah berunding selama beberapa menit,
akhirnya mereka memutuskan untuk melanjut-
kan perjalanan saja Mereka ingin cepat-cepat
sampai di Hutan Middlecombe. karena dari Great
Giddings ke situ tak ada desa lagi. Jadi mereka
harus segera sampai ke Sana, lalu mencari tem-
pat pertanian di dekat-dekat hutan, di mana me-
reka bisa membeli makanan untuk malam itu dan
besok paginya. Mereka tak bisa berbelanja lagi di
Great Giddings, karena toko-toko hari itu kebe-
tulan siang-siang sudah tutup. Dan mereka juga
merasa tidak enak, jika meminta pada wanita
pemilik restoran agar mau menjual makanan pa-
da mereka. Waktu makan sore saja, mereka
merasa telah terlalu banyak dibenl
Mereka sampai di Hutan Middlecombe, dan
menemukan tempat yang сосок untuk ber-
malam. Letak tempat itu dalam sebuah lembah
kecil yang penuh dengan bunga-bungaan.
Tempat itu tersembunyi, tak mudah dilihat orang.
Dan orang-orang gelandangan pun rasanya
takkan kenal pada tempat yang begitu terpencil.
"Di sini enak," kata Anne "Letaknya jauh dan
mana-mana. Sekarang moga-moga saja kita bi-
sa menemukan pertanian yang mau menjual
makanan pada kita. Saat ini aku tak merasa
lapar, tapi nanti pastil"
54
"Hel Ku rasa ban belakangku bocor," kata Dick
sambil menoleh ke bawah. "Tapi rupanya lu-
bangnya kecil, jadi takkan kempis dengan sege-
ra. Tapi walau begitu lebih baik aku tidak ikut
saja mencari tempat pertanian. Kutambal saja
banku dulul"
"Baiklah," kata Julian. "Dan Anne juga tak
perlu ikut. la kelihatannya agak capek. Aku saja
yang pergi mencari, bersama George. Kami akan
jalan kaki, karena lebih mudah merintis hutan.
Kami akan pergi selama sekitar satu jam. Tapi
jangan khawatir, karerta Timmy pasti akan tahu
alan pulang ke mari. Kami takkan tersesat nan-
til"
Kemudian Julian dan George berangkat berja-
lan kaki, diikuti oleh Timmy. Anjing itu juga su-
dah capek sebenarnya Tapi biar bagaimana, ia
pasti tak mau ditinggal bersama Anne dan Dick.
Tuannya George — dan ke mana George pergi,
ia harus ikutl Kecuali jika George melarang.
Anne selalu berhati-hati. Disembunyikannya
sepedanya ke dalam semak-semak. Siapa tahu
ada gelandangan yang mengintip, siap untuk
mengambil barang-barang yang ditinggal secara
sembarangan! Kalau Timmy ada di situ takkan
menjadi soal, karena anjing itu pasti akan meng-
geram-geram jika ada orang lain berani men-
dekat. Dick mengatakan bahwa ia akan menam-
bal bannya yang bocor, karena lubangnya sudah
ditemukan Rupanya tertusuk paku kecil.
Anne duduk di sebelahnya sambil memperha-
tikan abangnya itu bekerja. Senang rasanya, bisa
55
istirahat sebentar. la ingin tahu. apakah Julian
dan George saat itu sudah berhasil menemukan
pertanian atau belum.
Dick sibuk menambal ban. Setelah kira-kira
setengah jam, mereka mendengar sesuatu
Dick mendongak, lalu mendengarkan dengan
lebih seksama.
"Kau mendengarnya juga?" tanyanya pada
Anne Adiknya itu mengangguk.
"Ya — ada orang berseru-seru! Ada apa ya?"
Mereka pun mendengarkan lagi. Sekarang ter-
dengar jelas seseorang bertenak-teriak,
"Tolongi Julian! Di manakah kalian? Tolong!"
Dick dan Anne cepat-cepat bangkit. Siapakah
itu, yang memanggil-manggil nama Julian dan
meminta tolong? Mereka merasa pasti, itu bu-
kan suara George. Sementara itu teriakan-te-
nakan itu semakin nyaring. berubah menjadi je-
ritan seseorang yang sangat ketakutan
"JULIAN! DICKI"
"He! Kedengarannya seperti Richard," kata
Dick, la tercengang mendengarnya. "Kenapa ia
berteriak-teriak? Apakah yang terjadi dengan-
nya?"
Anne pucat pasi. la paling tidak suka, jika ti-
ba-tiba terjadi hal-hal serupa itu.
"Apakah sebaiknya kita mencarinya saja?" ta-
nyanya.
Так jauh dari mereka terdengar bunyi meng-
geresek. Seperti ada orang lari merintis semak
belukar. Tempat di sela-sela pohon agak gelap.
56
sehingga pada mulanya Dick dan Anne tak bisa
melihat apa-apa. Dick berseru kuat-kuat.
"He — kaukah yang di situ, Richard? Kami
ada di sini!"
Bunyi menggeresek menjadi semakin nyaring.
"Aku datang!" jerit Richard. "Tunggu, aku da-
tang!"
Dick dan Anne menunggu. Так lama kemudian
nampak Richard datang menghampiri. Anak itu
sempoyongan, bergegas secepat mungkin di sela
pepohonan.
"Kami ada di sini," seru Dick. "Ada apa?"
Richard berjalan terhuyung-huyung. Kelihat-
annya seperti sangat ketakutan.
Aku dikejar mereka," katanya terengah-
«ngah. "Kalian harus menyelamatkan diriku.
Mana Timmy? Suruh dia menggigit merekaI"
Kau. dikejar siapa?" tanya Dick heran.
"Mana Timmy? Mana Julian?" tanya Richard
«etengah menangis, sementara ia celingukan
temandang berkeliling
"Mereka mencari pertaman, untuk membeli
makanan," kata Dick. "Sebentar lagi pasti da-
»ang. Ada apa sebetulnya7 Kau sinting ya?I"
'ampangmu acak-acakan."
Richard tak mempedulikan pertanyaan Dick
•ang datang bertubi-tubi itu.
Ke mana Julian? Aku perlu bantuan Timmy!
• jtakan ke arah mana mereka pergi. Aku tak
• -sa diam saja di sini Nanti akan tertangkap me-
•ka!"
57
"Ke arah sana mereka pergi," kata Dick sam-
bil menunjuk ke jalan kecil yang tadi dilewati
Julian bersama George "Masih nampak bekas
tapak kaki mereka, Richard. Sebetulnya ada....?”
Tapi Richard sudah pergi lagi. Anak itu lari
tunggang-langgang di jalan yang baru saja ditun-
jukkan oleh Dick, la lari sambil berteriak sekuat
tenaga.
"JuliaaanI Timmyyy!"
Anne dan Dick berpandang-pandangan. Me-
reka benar-benar bingung Ada apa dengan
Richard? Kenapa tidak berada di rumah bibinya?
Jangan-jangan anak itu tidak waras otaknya!
"Так ada gunanya menyusul dia," kata Dick.
"Nanti cuma akan tersesat saja, d^n tidak bisa
kembali lagi ke mari — lalu mereka mencari kita
sehingga ikut pula tersesatl Kenapa sebetulnya
Richard?"
"Так henti-hentinya ia mengatakan dikejar
orang — la dikejar mereka," kata Anne. "Rupa-
nya anak itu sintingl"
Dick menyebut kata-kata lain, tapi artinya se-
mua sama: ia menganggap Richard tidak beres
otaknya!
"Pasti Julian dan George akan sangat kaget,
jika tiba-tiba bertemu dengan Richard — itu pun
kalau bertemul Kurasa ia takkan bisa berjumpa
dengan mereka!"
"Aku naik saja ke atas pohon ini," kata Anne
"Dari atas akan kulihat, apakah bisa nampak Ri-
chard atau Julian dan George. Pohon ini tinggi.
dan mudah dipanjat. Kauselesaikan saja peker-
58
jaanmu dulu. Aku ingin tahu, apa yang terjadi
dengan Richard sekarang."
Dick kembali sibuk menambal. Tapi ia masih
tetap bingung Sementara itu Anne melaksana-
kan niatnya, memanjat pohon la pandai meman-
jat, dan tak lama kemudian sudah sampai di pun-
cak. Di situ ia lantas memandang berkeliling. Di
satu sisi ada ladang yang luas sekah sedang di
sisi yang satu lagi terbentang hutan. Anne me-
mandang ke arah ladang yang sudah mulai gelap
la mencari-cari, kalau-kalau melihat ada pertani-
an di dekat-dekat situ. Tapi ia tak melihat apa-
apa.
59
Dick baru saja selesai menambal bannya yang
bocor ketika terdengar olehnya bunyi yang ganjil
lagi dari arah hutan. Mungkinkah Richard yang
sinting itu datang kembali? Didengarkannya bu-
nyi tak dikenal itu. yang makin lama makin dekat.
Bukan bunyi bergeresek. seperti ketika Richard
merintis semak. Kedengarannya seperti ada
orang-orang mendekat sambil menyelinap
Dick mulai waswas Siapakah yang itiendekat
itu? Atau apakah yang sedang menghampiri tem-
patnya? Mungkin binatang buas atau mungkin
pula cuma sepasang luak? Dick semakin me-
najamkan telinga
Setelah itu sunyi tak terdengar apa-apa lagi.
Так ada lagi bunyi daun tergeser pelan Mungkin-
kah yang didengarnya tadi cuma khayalan bela-
ka? Dick mulai merasa seram. la ingin sekali
Anne dan yang lain-lainnya ada di dekatnya saat
itu Так enak rasanya seorang diri dalam hutan
yang mulai gelap Menunggu — tapi tak tahu
apa yang ditunggu.
Akhirnya Dick berpendapat bahwa yang di-
dengarnya tadi cuma khayalannya belaka. la
mengutik-ngutik lampu sepeda yang terpasang
pada batang kemudi Menurut perasaannya, jika
lampu itu dinyalakan, maka pasti pikirannya yanc
bukan-bukan akan lenyap dengan sendirinyal Se
saat kemudian lampu sepedanya sudah menyala
cahayanya yang redup agak menerangi lembah
yang kecil di situ.
Baru saja Dick hendak memanggil Anne dan
menyuruhnya turun. ketika terdengar kembali bu
60
nyi yang tadiI Sekali ini ia merasa pasti tidak sa-
lah dengar.
Tiba-tiba cahaya te rang-bend era ng menyorot
dari arah pepohonan, dan menerangi Dick. Anak
itu terkejap-kejap karena silau.
"Ah! Di situ kau rupanya, Setan kecill" Terde-
ngar suara kasar seorang laki-laki, disusul lang-
kah orang memasuki lembah. Orang itu tidak da-
tang sendiri. Ada orang lain menyertainya.
"Apa maksud Anda?" tanya Dick tercengang
la tak bisa melihat orang-orang yang datang, ka-
rena matanya masih tetap silau kena cahaya
lampu yang disordtkan ke arahnya.
"Jauh sekali kami mengejarmu, dan kami su-
dah mengira kau pasti tak berhasil lagi kami
tangkap. Tapi akhirnya kena jugal" kata orang
yang pertama tadi.
"Aku masih tetap tak mengerti," kata Dick. Di-
beranikannya diri bertanya. "Siapa kalian?"
"Kau tahu siapa kami," kata suara dalam gelap
u "Bukankah kau tadi langsung lari sambil
menjerit-jerit, begitu melihat' Rooky? la
-engejarmu ke arah lain, sedang kami ke man
— dan ternyata kami yang berhasil menangkap-
-4J Ayo, sekarang ikut dengan kamiI"
Kata-kata orang itu menjelaskan sesuatu pa-
i Dick. Rupanya Richard yang mereka kejar, ka-
a alasan yang tak diketahui. Dan kini — ia di-
• Richard!
Bukan aku anak yang kalian cari " katanya la-
b "Kalau berani menjamahku, kalian akan
!• - gala mi kesulitan nanti I"
ei
'Kalau begitu, siapa namamu?" tanya laki-la-
ki yang pertama
Dick menyebutkan namanya
’Oh, jadi namamu Dick! Bukankah Dick sing-
katan dari Richard? Kami takkan bisa kautipu
dengan siasat seperti itu,' kata orang itu lagi.
"Kau memang Richard yang kami cari! Namamu
kan Richard Kent?!"
"Aku bukan Richard Kent!" seru Dick, ketika
dirasanya tangan laki-laki itu sekonyong-ko-
nyong mencengkeram lengannya "Lepaskan
aku. Awas — tunggu saja sampai kulaporkan pa-
da polisi!"
'Mereka takkan mengetahui peristiwa ini," ka-
ta laki-laki itu. Sekarang ikut dengan kami — dan
jangan berani memberontak atau berteriak. Nanti
kau menyesal. Kalau kita sudah sampai di Owl's
Dene nanti, baru kau tahui"
Sementara itu Anne masih tetap berada di
atas pohon. la tak berani bersuara atau berge-
rak, karena sangat ketakutan la berusaha me-
manggil Dick, tapi lidahnya seperti kaku rasa-
nya la hanya bisa melihat saja betapa abangnya
diseret oleh kedua laki-laki kasar. Nyaris saja ia
terjatuh dari pohon karena ketakutan Didengar-
nya Dick berteriak dan menjerit-jerit ketika dise-
ret pergi. Masih lama terdengar olehnya bunyi
semak-semak diterobos.
Anne menangis. la tak berani turun, karena tu-
buhnya gemetar ketakutan. la takut terjatuh.
la terpaksa menunggu sampai George dan
Julian datang kembali. Tapi bagaimana jika me-
62
reka tidak muncul-muncul? Bagaimana jika me-
reka pun tertangkap? It akan sendirian di atas
pohon, sepanjang malam. Anne menangis terse-
du-sedu, sementara kedua belah tangannya ber-
pegangan kuat-kuat ke batang pohon Bintang-
bintang mulai bermunculan di langit. Dilihatnya
lagi bintang yang bukan bintang, seperti kata
Julian pada George.
Kemudian didengarnya suara orang berjalan
sambil bercakap-cakap Anne terpaku di atas po-
hon. Siapakah yang datang sekarang? Mudah-
mudahan saja Julian, George dan Timmyl Mu-
dah-mudahan saja mereka yang datang I
63
BAB 7
Cerite Richard Yang Aneh
Julian dan George berhasil menemukan suatu
tempat pertanian. Tempat itu letaknya tersem-
bunyi dalam sebuah lembah Ketika mereka
mendekat, dengan segera tiga ekor anjing penja-
ga ribut menggonggong. Timmy mulai mengge-
ram. sedang bulu tengkuknya berdin tegak.
George buru-buru memegang kalung iehernya.
"Aku tak mau lebih dekat lagi, karena ada Tim-
my," katanya. "Aku tak mau jika Timmy dise-
rang tiga ekor anjing sekaligus
Karena itu Julian sendirian menuju ke rumah
petani. Anjing-anjing yang tiga ekor itu begitu ri-
but menggonggong, dan kelihatannya galak-ga-
lak. Julian berhenti di pekarangan la sebetulnya
tidak takut anjrng. Tapi ketiga ekor anjing itu
tampangnya galak sekali Apalagi seekor anjing
campuran yang bertubuh besar. Anjing itu meng-
geram sambil menunjukkan taring dengan sikap
mengancam.
Kemudian terdengar suara seorang laki-laki
berseru padanya.
64
"Ayo pergi! Kami tak mau orang asing datang
ke mari. Kalau ada yang datang, selalu kami
kemudian kehilangan telur dan ayaml"
"Selamat sore," sapa Julian dengan sopan.
"Kami empat anak remaja yang menginap ma-
lam ini dalam hutan yang sebelah sana. Bolehkah
kami membeli makanan? Aku bersedia mem-
bayar dengan harga tinggi."
Orang yang berseru tadi menarik kepalanya
yang terjulur ke luar di jendela. Nampaknya ia
berbicara sebentar dengan seseorang yang ada
di dalam. Setelah itu kepalanya terjulur ke luar la-
gi-
"Kan sudah kukatakan tadi, kami di sini tak
suka pada orang asing! Kami hanya punya roti
dan mentega biasa. Kami juga bisa memberi
telur rebus keras. susu serta sedikit daging asap.
Cuma itu saja yang ada di sini!"
"Itu juga sudah cukup," kata Julian dengan
riang. "Justru itu yang kami sukai. Bolehkah aku
masuk untuk mengambilnya?"
"Silakan, kalau ingin disambar anjing-anjing
itu," kata orang itu lagi. "Tunggu saja di situ.
Kalau telur sudah matang, akan kuantar ke situ!"
"Sialan," kata Julian sambil berjalan kembali
ke tempat George menunggu. "Artinya kita ha-
rus nganggur dulu di sini. Orang itu tidak enak
sekali sikapnya! Tempat ini tidak menyenang-
kan, ya?"
George sependapat dengan saudara sepupu-
nya. Memang pertanian itu nampak tak terurus.
Lumbungnya sudah reyot, di sana sini nampak
65
mesin-mesin yang sudah berkarat di tengah rum-
put yang tumbuh menyemak. Ketiga ekor anjing
penjaga masih terus ribut menggonggong-gong-
gong. Tapi ketiga-tiganya tidak mau mendekat.
George memegang kalung leher Timmy erat-erat.
Bulu tengkuknya berdiri semual
"Sept benar tempat ini," kata Julian. "Так ada
rumah lain di dekat sini kelihatannyal Telepon
juga tidak ada. Aku ingin tahu apa yang dilaku-
kan apabila ada orang di sini tiba-tiba jatuh sakit
atau mengalami kecelakaan, dan memerlukan
pertolongan dengan segera."
"Mudah-mudahan mereka cepat selesai me-
nyiapkan pesanan kita,” kata George, la sudah ti-
dak sabar lagi. "Sebentar lagi sudah gelap. Aku
juga sudah sangat lapar."
Akhirnya keluar juga seseorang dari rumah pe-
tani yang nampak jorok itu. Orangnya sudah tua.
bungkuk dan berjanggut. Rambutnya acak-acak-
an. Nampak jelas bahwa jalannya pincang. Tam-
pangnya jelek dan menyeramkan. Julian lang-
sung tak suka pada orang itu. begitu pula Geor
ge
"Ini bekal makanan yang kalian pesan," kata-
nya, sambil menyuruh pergi ketiga anjing yang
ikut di belakangnya. "Ayo pergiI" bentaknya
sambil menendang anjing yang paling dekat
Anjing itu terkaing-kaing kesakitan.
"Jangan ditendang," kata George. "Kan sa
kit?"
"Dia anjingku. tahu!" kata orang itu marah
"Jangan ikut campur!" Ditendangnya seekor
66
anjing lagi, sambil memandang George dengan
cemberut.
"Bagaimana dengan makanan kami?'' kata
Julian. Tangannya diulurkan ke depan. la sudah
ingin cepat-cepat pergi, sebelum terjadi perkela*
hian antara Timmy melawan ketiga anjing itu.
Ajak Timmy mundur sedikit, Georgel Anjing-an-
jing itu gelisah karenanya."
"Justru anjing-anjing itu yang menyebabkan
Timmy gelisah," tukas George.
Ditariknya Timmy mundur sedikit. Timmy ber-
din tegak sambil menggeram-geram dengan ga-
lak.
Julian mengambil makanan yang dibungkus
asal jadi dalam kertas yang nampak sudah bekas
dipakai.
"Terima kasih," katanya ' Berapa yang harus
kubayar?"
"Lima pound," kata orang itu. Julian kaget.
"Ah — yang benar,” tukas Julian. Diliriknya
makanan yang ada di tangannya Aku mau
membayar dua puluh lima pence untuk ini — dan
ru pun sudah terlalu mahal. Daging asapnya se-
1 kit sekali!"
Kukatakan tadi lima pound," ulang orang itu
> ngan masam. Julian menatapnya. "Orang gila
.panya," pikir Julian. Disodorkannya bungkus-
Mr kumal itu kembali
' Ini, ambil saja lagi," katanya "Aku tak mau
mbayar lima pound untuk membell makan-
x* Paling banyak dua puluh lima pence yang
67
bisa kuberikan Nah, kalau begitu lebih baik tidak
jadi saja! Selamat malam!"
Orang itu menolak bungkusan yang disodor-
kan oleh Julian, sementara tangannya yang satu
lagi tetap terulur ke depan Julian merogoh kan-
tongnya, mengambil uang dua puluh lima pence
Diletakkannya ke tangan orang itu. la merasa he-
ran, apa sebabnya orang itu tadi meminta pem-
bayaran yang gila-gilaan. Orang itu mengan-
tongi uang yang diberikan.
"Sekarang enyahlah dari sini," katanya tiba-ti-
ba dengan suara menggeram. "Kami tidak suka
jika ada orang asing ke mari, mencuri makanan.
Kalau berani datang lagi, akan kusuruh anjing-
anjingku mengejarmu!"
Julian berpaling. la hendak cepat-cepat pergi,
karena khawatir pak tua yang aneh itu benar-be-
nar akan menyuruh anjing-anjingnya menye-
rang Orang itu berdiri dalam remang-remang. la
berteriak-teriak, mengata-ngatai Julian dan
George yang pergi meninggalkan pekarangan
tempat pertanian.
"Kita jangan ke situ lagi!" kata George ma-
rah. "Orang itu benar-benar sudah gilal"
"Betul! Dan aku juga tak suka makanan ini,"
kata Julian. "Tapi cuma ini saja yang ada malam
ini!"
Mereka berjalan di belakang Timmy, merintis
hutan. Lega rasanya ditemani anjing itu. Sebab
kalau tidak. bisa saja mereka tersesat Tapi Tim-
my tahu jalan. Jika sudah sekali melewati jalan
tertentu, Timmy pasti bisa mengenalinya kem-
68
ball, la berlari-lari sambil sekali-sekali mencium-
cium. Kadang-kadang ia menunggu anak-anak
menyusul
Tiba-tiba anjing itu terpaku lalu menggeram
pelan. Dengan segera George memegang kalung
lehernya Rupanya ada orang datang.
Ternyata memang ada — yaitu Richard! Anak
itu masih terus mencari mereka sambil menjerit
dan berteriak-teriak. Dan suaranya itulah yang
tertangkap kuping Timmy yang tajam. Так lama
kemudian terdengar juga oleh Julian dan Geor-
ge, yang masih berdiri sambil menunggu apa
yang datang.
"Julian I Di manakah kamu? Mana Timmy?
‘immy — aku dikejar mereka! Aku dikejar
ang!"
'He! Itu kan suara Richard," kata Julian ka-
t Apa yang diperbuatnya di sini? — dan ber-
bnak-teriak lagi! Yuk — kita harus memeriksa-
69
nya. Pasti ada sesuatu yang terjadi. Mudah-mu-
dahan saja Dick dan Anne tidak apa-apa.”
Keduanya lari secepat mungkin. Так lama
kemudian berjumpa dengan Richard. Anak itu
sudah tidak berteriak-teriak lagi. la terhuyung-
huyung. setengah menangis.
"Ada apa. Richard?" seru Julian. Richard lari
menghampiri lalu memeluknya. Timmy tidak
mendekat. Anjing itu hanya bisa tertegun karena
kaget. George juga memandang dengan bingung.
Apa sebetulnya yang terjadi?
"Julian! Aduh, aku takut setengah mati," kata
Richard terengah-engah, sambil memegang le-
ngan Julian erat-erat.
"Jangan panik." kata Julian. Suarapya tenang,
sehingga berpengaruh terhadap Richard. "Pasti
kau cuma ribut tanpa alasan. Ada kejadian apa?
Mungkinl^ah bibimu ternyata tak ada di rumah —
dan karenanya lantas terbirit-birit mencari ka-
mi?"
"Bibiku pergi," kata Richard. Suaranya sudah
lebih tenang. "Dia...."
"Pergi?” Julian kaget. "Tidakkah ibumu
mengetahui hal itu ketika mengatakan bahwa
kau boleh ..."
"Aku sama sekali tak minta ijin pada ibuku,"
kata Richard. "Aku tak pulang ke rumah, seperti
sangkaan kalian Aku langsung saja naik sepeda
ke Pojok Croker, dan menunggu kalian di situ.
Soalnya aku ingin ikut kalian — dan aku tahu
ibuku pasti takkan mengijinkan."
70
Dengan seenaknya saja Richard mengatakan
hal itu. Julian kesal sekali!
"Так tahu malu," katanya. "Seenaknya saja
membohongi kami!”
"Tapi aku tidak tahu bibiku pergi," kata
Richard. Sikap semberononya lenyap dengan
seketika, sewaktu mendengar Julian jengkel.
"Kukira ia ada di rumah — maksudku hendak
meminta agar ia menelepon ibuku, untuk menga-
takan bahwa aku ikut melancong dengan kalian.
Aku berniat menyusul — lalu ..."
"Lalu mengatakan pada kami bahwa bibimu
terpaksa pergi, dan karenanya bolehkah kau ikut
dengan kami?" kata Julian menebak kata-kata
yang hendak diucapkan Richard. Suaranya masih
tetap jengkel. "Niatmu itu licik dan konyol! Aku
pasti akan menyuruhmu kembali dengan segera.
Seharusnya kau juga sudah mengetahuinya."
"Ya, aku tahu! Tapi mungkin saja aku boleh
berkemah semalam bersama kalian," kata
Richard dengan suara lirih. "Aku -belum pemah
berkemah. Aku...."
"Sekarang yang ingin kuketahui, kau sebetul-
nya takut apa sehingga lari terbirit-birit sambil te-
ak-teriak dan menangis," tanya Julian tak sa-
bar.
"Aduh, seram — Julian," kata Richard. Dipe-
;«ngnya lagi lengan Julian erat-erat. "Aku —
Mu tadi keluar lagi dari pekarangan rumah bibi-
• _ — dan baru saja masuk ke jalan besar menuju
Hutan Middlecombe, ketika berpapasan
71
dengan sebuah mobil Dan kulihat orang yang
duduk dalam mobill"
Siapa dia?" tanya Julian, la sudah jengkel
sekali, ingin rasanya menggoncang-goncang
anak itu.
"Dia — dia Rooky!" kata Richard dengan sua-
ra gemetar.
Siapa itu?" tanya Julian lagi George mende-
cakkan lidah, karena tak sabar. Tidak bisakah
Richard bercerita dengan baik?
"Kalian tak ingst lagi pada orang itu? Kan su-
dah pernah kuceritakan mengenainya. Dialah
orang berbibir tebal dan berhidung gede, yang
menjadi pengawal ayahku tahun lalu, tapi kemu-
dian dipecat," kata Richard. "Sejak itu ia bersum-
pah akan membalas dendam terhadap ayahku —
dan juga terhadap diriku, karena aku sering
mengadukannya pada Ayah sehingga ia dipecat.
Karena itulah aku ketakutan, ketika melihatnya
dalam mobil!"
"0 begitu," kata Julian. Sekarang ia mulai
mengerti. "Apa yang terjadi sesudah itu?"
"Aku dikenali oleh Rooky. Dengan cepat mo-
bil diputarnya, lalu aku dikejar," kata Richard, la
mulai gemetar lagi. ketika teringat pada saat-sa-
at seram itu. "Kukayuh sepedaku sekuat tenaga
Begitu sampai di Hutan Middlecombe, aku lang-
sung merintis jalan hutan, dengan harapan mobil
itu tak bisa ikut masuk. Dan memang tidak bisa I
Tapi orang-orang yang ada dalam mobil berlom-
patan ke luar. Mereka bertiga — dua di antara-
nya tak kukenal. Mereka lari mengejarku. Aku
72
bersepeda selaju-lajunya. Tapi tiba-tiba menu-
briik pohon atau entah apa — pokoknya aku ja-
tuh tersungkur. Sepedaku kusembunyikan ke da-
lam semak. Setelah itu aku bersembunyi dalam
semak belukar."
"Lalu?" tanya Julian, karena Richard berhenti
sebentar.
"Lalu ketiga orang itu memencar. Rooky men-
cari sendiri. sedang yang dua lagi berjalan ber-
sama-sama mencariku. Kutunggu sampai kura-
sa mereka sudah pergi dari situ. Lalu aku me-
rangkak ke luar dan lari lagi, sambil berdoa
semoga berjumpa dengan kalian. Soalnya aku
memerlukan bantuan Timmy. Pasti ketiga orang
itu akan diserangnyal"
Timmy menggeram Sudah tentu orang-orang
itu akan diserang olehnyal
"Tapi rupanya yang dua orang hanya bersem-
bunyi saja, menunggu aku muncul lagi," kata
Richard melanjutkan cerita. "Begitu aku lari,
dengan segera dikejar oleh mereka Tapi aku ber-
hasil menghindar dari cengkeraman — bersem-
bunyi dan lari lagi — begitu terus, sampai
berjumpa dengan Dicki la tadi sedang menam-
bal ban. Tapi kalian tak ada di sana, padahal kali-
an serta Timmy yang kucari! Aku tahu orang-
orang itu pasti akan segera muncul — jadi aku
lari lagi, sampai akhirnya bertemu juga dengan
kalian. Seumur hidupku, belum pernah aku sele-
ga sekarang!"
Kisah Richard benar-benar luar biasa Tapi
Julian tak sempat menyangsikannya. karena ia
langsung cemas Bagaimana dengan Dick dan
Anne? Apa yang akan terjadi dengan mereka, jika
orang-orang yang mengejar Richard berjumpa
dengan kedua adiknya itu?
"Cepatl" serunya pada George. ''Kita harus
kembali ke perkemahanl"
74
BAB 8
Sekarang Bagaimana?
Julian dan George bergegasgegas merintis
hutan yang sudah gelap. sambil tersandung-san-
dung. Timmy juga ikut bergegas, karena merasa
bahwa ada sesuatu yang dikhawatirkarr. Richard
menyusul di belakang mereka. la sudah mulai
menangis lagi Anak itu ternyata benar-benar ke-
takutan!
Akhirnya mereka sampai di lembah kecil, tem-
pat mereka hendak berkemah malam itu. Di situ
gelap sekali. Julian berseru keras-keras,
' Dick! Anne! Di mana kalian?"
Sementara itu George pergi ke tempat sepe-
danya disembunyikan. la mencari-cari lampu,
lalu menyalakannya. Dicopotnya lampu itu dari
batang kemudi, lalu disorotkannya ke sekitar
lembah. Dilihatnya sepeda Dick masih ada di si-
tu. Di samping sepeda terserak peralatan me-
nambal ban. Tapi Dick tak kelihatan, begitu pula
Anne? Apakah yang telah terjadi di situ tadi?
"Anne!" seru Julian la mulai takut. "Dick! Ke
marilah! Kami sudah datang!"
75
Dan pucuk pohon terdengar jawaban
"Aduh, Julian! Julian! Aku ada di sini!" Anne
memanggil-manggil dengan suara pelan dan
gemetar.
Itu suara Anne!" seru Julian la merasa
sangat lega, mendengar suara adiknya itu. "Kau
di mana. Anne?"
Di sini — di atas pohon," kata Anne lagi,
dengan suara yang sedikit lebih nyaring daripa-
da tadi. "Aduh, Ju — aku sangat ketakutan, se-
hingga tak berani lagi turun. Aku takut jatuh
Dick...."
"Mana Dick?" tanya Julian. Didengarnya sua-
ra isakan dari atas
"Tadi dua orang jahat tiba-tiba muncul di sini
— lalu Dick dibawa pergi oleh mereka. Dikira dia
RichardI"
Anne mulai menangis sekarang Julian mera-
sa adiknya itu perlu dibantu turun dari pohon, su-
paya bisa dibujuk kalau sudah ada bersama me-
reka di bawah.
"Tolong sorotkan lampu ke atas," katanya pa-
da George. "Aku hendak memanjat, untuk me-
nolong Anne turun."
Tanpa berkata apa-apa. George menyorotkan
lampunya ke atas pohon Julian memanjat ke
atas dengan cekatan, mendatangi Anne yang
masih berpegang kuat-kuat pada sebuah dahan.
"Kutolong kau turun, Anne. Ayolah — kau tak-
kan jatuh. Aku ada di bawahmu Akan kukata-
kan ke mana kau harus berpijak."
76
Anne merasa bersyukur, karena Julian datang
membantunya. la kedinginan dan merasa seng-
sara la kepingin sekali bergabung lagi dengan
saudara-saudaranya. Dibantu oleh Julian, Anne
turun dengan hati-hati. Akhirnya sampai juga ke
tanah.
Anne memeluk abangnya, sedang Julian me-
rangkulkan lengannya.
"Sudahlah, Anne — aku ada di sini sekarang!
Dan George juga ada — serta Timmy!"
"Siapa itu?" tanya Anne tiba-tiba, ketika meli-
hat Richard yang berdtri di tempat gelap.
"Ah, itu kan Richard," kata Julian geram. "Ha-
nya karena tingkahnya yang konyol saja, semua
mi terjadi. Sekarang — ceritakanlah ddngan te-
nang, apa yang terjadi dengan Dick serta kedua
laki-laki itu, Anne!"
Anne menceritakan segala-galanya, sementa-
ra Timmy berdiri di dekatnya. Anne merasa aman
sekarang Timmy selalu tahu, apabila ada yang
sedang susah Dan Julian juga masih merangkul
Anne.
"Sekarang jelas kejadiannya." kata Julian ke-
tika Anne selesai menceritakan pengalamannya
yang seram. "Orang yang bernama Rooky itu
mengenali Richard, lalu mengejarnya dengan di-
bantu dua laki-laki lagi. Rooky mengejar karena
melihat ada kesempatan menculik Richard dan
dengan begitu bisa membalas dendam terhadap
ayah Richard Tapi Rooky satu-satunya yang
mengenal Richard. Dan bukan dia yang me-
nangkap Dick, melainkan kedua temannyal Me-
77
reka tak tahu Dick bukan Richard — tentu saja
ketika mendengar bahwa namanya Dick dengan
segera mereka menarik kesimpulan bahwa Dick
adalah Richard. Dick memang singkatan dari
Richard!”
"Tapi Dick tadi sudah mengatakan, dia bukan
Richard Kent,” kata Anne.
Tentu saja mereka tak mau percaya,” kata
Julian. "Dan sekarang Dick mereka culik. Apa ka-
tamu tadi — nama tempat yang hendak mereka
datangi?"
"Kedengarannya seperti Owl's Dene," kata
Anne. "Bagaimana jika kita sekarang ke sana,
Julian? Jika kaukatakan pada orang-orang itu
bahwa Dick memang Dick — dan bukan Richard,
mereka tentu akan melepaskannya lagi. Ya kan?"
"Tentu," kata Julian. "Pokoknya, begitu orang
yang bernama Rooky melihat Dick, pasti ia akan
sadar bahwa telah terjadi kekeliruanl Kurasa kita
akan bisa menyelamatkan Dick."
Tiba-tiba terdengar suara Richard bertanya,
"Lalu bagaimana dengan aku? Kalian mau
mengantarkan aku pulang dulu? Aku tak mau
berjumpa lagi dengan Rooky I”
Dan aku tak mau membuang-buang waktu,
mengantarkan kamu ke rumah," kata Julian
dengan tajam "Kalau bukan karena perbuat-
anmu yang konyol, kami takkan mengaiami my-
sibah ini sekarang! Kami harus mencari Dick du-
lu. Kau harus ikut dengan kamiI"
"Tapi — aku takut pada Rooky I ” kata Richard
sambil menangis.
78
"Kalau begitu tinggal saja di sini," kata Julian,
la sudah bertekad memberi pelajaran pahit pada
Richard.
Sekarang Richard menangis keras-keras.
"Aku tak mau ditinggal sendiri di sini I Aku ja-
ngan ditinggal!"
"He — jika kau ikut kami, nanti bisa kami titip-
kan pada salah satu rumah yang kita lewati. Atau
kalau tidak, kami antarkan ke kantor polisi, su-
paya bisa dikawal pulang ke rumah," kata Julian
dengan kesal. "Kau sudah besar, bisa menjaga
din sendiri. Aku sudah bosan melihat kekonyol-
anmu!"
Anne merasa kasihan terhadap Richard, walau
anak itu yang merupakan penyebab segala ke-
l sulitan yang sekarang terjadi. Anne tahu, tak
enak rasanya apabila sedang benar-benar ke-
takutan. Karena itu dijamahnya Richard dengan
sikap ramah.
"Jangan seperti anak kecil, Richard! Julian
akan mengurus agar kau selamat. Saat ini ia se-
dang jengkel terhadapmu, tapi sebentar lagi pas-
ti ia akan baik lagi."
"Jangan merasa terlalu yakin!" kata Julian pa-
da Anne, la berpura-pura lebih galak dari sifat-
nya yang sejati. "Richard perlu diberi pelajaran
pahit Anak ini suka berbohong, dan kelakuan-
nya seperti anak bayi!"
"Berilah kesempatan lagi padaku" keluh
Richard Selama hidupnya, baru sekali itu ia
mengalami perlakuan yang begitu galakl Dicoba-
nya membenci Julian karena ia dikata-katai —
79
tapi aneh ia tak bisa merasa benci pada remaja
itu. ia malah semakin menghargai dan menga-
gumi Julian
Julian tak mengatakan apa apa lagi pada
Richard. Menurut perasaannya anak itu memang
benar benar seperti anak kecil saja Cuma me-
repotkan saja!
Apa yang akan kita lakukan sekarang Ju?
tanya George yang selama itu diam saja Geor-
ge sayang pada Dick la mengkhawatirkan ke-
selamatan saudara sepupunya itu Di manakah
tempat yang disebut Owl's Dene itu? Owl's Dene
artinya Bukit Burung Hantu. Tapi bisa pula ber-
arti Lembah Burung Hantu Akan bisakah me-
reka menemukan tempat itu pada malam hari?
Dan bagaimana dengan orang-orang yang se-
ram itu7 Bagaimanakah si кар mereka terhadap
Julian nanti. jika ia menuntut agar Dick dibebas-
kan dengan segera7 Julian tak mengenal rasa ta-
kut, dan selalu terang-terangan Tapi justru si-
kapnya itu yang menyebabkan George cemas
"Yah — bagaimana sekarang?'' kata Julian
mengulangi pertanyaan George. Sudah itu ia ter-
diam
Kurasa takkan ada gunanya jika kita kembali
ke pertanian yang tadi sore untuk minta per-
tolongan di sana kata George seteiah bebe-
rapa saat
Sama sekali tak ada gunanya " kata Julian
dengan segera. Pak tua itu takkan mau me
nolong siapa pun! Dan kita juga sudah melihat, di
80
sana tidak ada teiepon. Jadi tak ada gunanya
pergi ke sana. Sayang!"
Mana peta kita? kata George. Tiba-tiba ia
merasa mendapat akal "Mungkin saja nama
Owl's Dene tertera di situ.”
"Kalau itu nama rumah kurasa tidak/' jawab
Julian "Yang tertera dalam peta cuma nama-na-
ma tempat saja. Kalau semua rumah yang ada
hendak dimasukkan, diperlukan peta yang besar
sekali!"
"Yah — pokoknya tak ada salahnya melihat
dalam peta.' kata George lagi. "Mungkin saja di
situ tertera tempat-tempat pertanian lain, atau
bahkan desa desa di sekitar sini." la merasa
bahwa harus berbuat sesuatu juga apabila tin-
dakan itu cuma berupa meneliti peta. Julian
mengambil peta lalu langsung membeberkan-
nya la menelitinya bersama George dan Anne
diterang sinar lampu sepeda Richard ikut me-
mandang dan belakang mereka Timmy pun mgin
melihat. Diteroboskannya kepalanya di bawah
ketiak anak anak
Pergi, Timl" kata Julian karena merasa ter-
ganggu. "Lihat — kita sekarang ada di sini. Nih.
tertulis Hutan Middlecombe' Astaga ternyata
tempat mi sangat terpencil Так ada desa di
dekat-dekat sini!"
Memang di sekitar Hutan Middlecombe tak
nampak ada desa di peta Daerah situ digambar-
kan berhutan dan berbukit-bukit. Di sana sini
nampak gambar anak sungai. serta jalan-jalan
kelas tiga — tapi tak nampak tanda-tanda yang
81
menunjukkan desa, gereja. Bahkan gambar jem-
batan saja tak ada di situ!
Tiba-tiba Anne berseru kaget, lalu menunjuk
ke sebuah bukit yang tergambar pada peta.
"Eh — lihatlah, apa nama bukit itu?”
"Owl's Hill," kata Julian sambil membaca. Bu-
kit Burung Hantu! "Ya — aku mengerti maksud-
mu, Anne. Kalau di bukit itu ada rumah, mungkin
saja nama yang dibenkan pada rumah itu Owl's
Dene, mengikuti nama bukit. Sama-sama Burung
Hantu I Eh — di situ bahkan digambarkan se-
buah rumah. Tentu saja tanpa nama I Mungkin
82
rumah petani reruntuhan rumah tua — atau sa-
lah satu bangunan besar lainnya."
"Kalau aku kurasa mungkin sekali itulah Owl's
Dene," kata George "Yuk kita bersepeda ke sa-
na I"
Mereka berpaiing ketika tiba-tiba terdengar
suara mengeluh. Keras sekali! Ternyata Richard
yang berbuat begitu
"Sekarang ada apa lagi?" bentak Julian.
"Tidak ada apa-apal Aku cuma merasa lapar,"
kata Richard
Tiba-tiba semuanya menyadart bahwa me-
reka pun sudah sangat iapar. Sudah lama waktu
berlalu sejak saat minum teh tadi sore
Julian teringat pada makanan yang dibelinya
di pertanian bersama George. Apakah sebaiknya
mereka memakannya sekarang — atau sambil
bersepeda ke Owl's Hill?
' Kita makan saja sambil bersepeda," kata
Julian memutuskan "Setiap waktu terbuang,
berarti semakin lama kita harus mencemaskan
keadaan Dick."
"Aku ingin tahu apa yang terjadi padanya, jika
;ooky datang dan melihat bahwa Dick bukan
aku — maksudku, bukan anak yang mereka
cari," kata Richard tiba-tiba
"Kurasa akan langsung dibebaskan lagi." kata
George. "Penjahat-penjahat seperti mereka,
mungkin akan melepaskannya di suatu tempat
terpencil — tak peduli apakah ia akan bisa mene-
83
mukan jalan pulang atau tidak! Kita harus me-
nyelidiki apa yang terjadi — apakah ia ada di
Owl's Dene, atau dibebaskan, atau ba-
gaimana?"
' Aku tak bisa ikut dengan kalian," kata
Richard dengan tiba-tiba, sambil menangis.
"Apa sebabnya?" tanya Julian.
"Sepedaku hilang," kata Richard. "Tadi kan
kusembunyikan — tapi aku lupa lagi tempatnya.
Pasti tak mungkin kutemukan lagi!"
"la bisa meminjam sepeda Dick," kata Anne.
"Itu dia sepedanya — dan ban yang bocor juga
sudah selesai ditambal"
"0 ya," kata Richard dengan lega. "Sesaat aku
sudah khawatir, bahwa aku akan ditinggal sendiri
di sini."
Dalam hati, Julian sebenarnya ingin sekali me-
ninggalkan anak itu. Richard lebih banyak mere-
potkan, daripada ada manfaatnyal
"Ya — kaupakai saja sepeda Dick," kata
Julian. "Tapi ingat — jangan gila-gilaan! Jangan
lepas tangan atau aksi konyol lain-lainnya. Itu se-
peda Dick, bukan kepunyaanmul"
Richard diam saja. Julian terus-terusan
mengomelinya ia merasa mungkin sudah se
layaknya jika ia selalu dimarahi. Tapi biar bagai-
mana, perasaannya tetap tak enakl Diambilnya
sepeda Dick. Ternyata lampunya tidak ada, kare-
na dilepaskan oleh Dick. Richard mencari-can
lampu itu di tanah. Ternyata tergeletak di situ
Rupanya dijatuhkan oleh Dick, dan sakelarnya
84
mati dengan sendiri. Tapi ketika dihidupkan kem-
bali oleh Richard, langsung menyala. Syukurlahl
"Yuk, kita berangkat," kata Julian, yang juga
sudah mengambil sepedanya. "Sambil ber-
sepeda, nanti akan kubagi-bagikan makanan. Kita
harus secepat mungkin mencari jalan yang me-
iju ke Owl's Hill!"
85
BAB 9
Pengalaman di bawah Sinar Bulan
Mereka berempat naik sepeda dengan hati-hati
sekali, merintis jalan yang tak rata dalam hutan.
Lega rasanya ketika akhirnya sampa di jalan bia-
sa. Julian berhenti sebentar, untuk menentukan
arah selanjutnya
"Menurut peta tadi — di sini kita harus ke ka-
nan — lalu jika tiba di persimpangan membelok
ke kiri. Kemudian mengitari kaki sebuah bukit,
lalu menyusur sebuah lembah kecil sejauh dua
sampai tiga kilometer sampai di kaki Owl s Hill
"Jika berjumpa dengan' orang, bisa kita ta-
nyakan di mana letak Owl’s Dene,” kata Anne
"Malam-malam di tempat terpencil seperti di
sini, mana mungkin kita akan berjumpa dengan
orang lain,” kata Julian
Bulan sudah muncul di langit Jadi mereka ti-
dak lagi bersepeda dalam gelap. Sekeliling mere-
ka terang. hampir seperti di siang hariI
Kita padamkan saja lampu sepeda untuk
menghemat baterai," kata Julian. "Di sini toh su
86
dah cukup terang. Tapi rasanya agak seram ya?'
"Menurut perasaanku cahaya bulan memang
agak aneh Semuanya nampak jelas. tapi tanpa
warna yang seperti siang," kata Anne la pun
memadamkan lampu sepedanya, sambil melirik
Timmy yang berlari-lari di samping mereka
"Padamkan lampumu, Tim!" katanya. Lelucon
itu menyebabkan Richard tiba-tiba cekikikan
Julian tersenyum. Senang rasanya mendengar
Anne sudah bisa r ang lagi.
'Mata Timmy memang seperti lampu besar
mobil," kata Richard He — bagaimana dengan
makanannya, Julian?"
"O ya, betul juga," kata Julian, lalu merogoh-
rogoh ke dalam keranjang sepedanya. Tapi tidak
mudah mengambil makanan di situ dengan satu
tangan lalu menyodorkannya pada teman-
teman.
'Lebih baik kita berhenti saja sebentar," ka-
tanya kemudian. "Tadi sudah satu telur rebus
yang terjatuh dari tanganku. Yuk — kita berhenti
dulu selama beberapa menit di pinggir jalan."
Richard tentu saja setuju. George dan Anne
juga sudah merasa sangat lapar, sehingga me-
reka pun mau berhenti sejenak. Mereka turun
dan sepeda lalu pergi ke sebuah hutan kecil
yang ada di pinggir jalan. Hutan itu hutan ce-
mara. Di tanah berhamburan daun-daunnya,
berupa jarum-jarum berwarna coklat karena su-
dah kering.
"Kita berjongkok saja sebentar di sini sambil
makan," kata Julian. "He — apa itu?"
87
Anak-anak memandang ke arah yang ditunjuk
Julian.
"Kurasa pondok tua, atau sebangsa itu," kata
George, la pergi melihat sebentar "Ya — cuma
sebuah pondok yang sudah reyot. Tinggal din-
dingnya saja. Seram kelihatannyal"
Mereka makan sambil berjongkok di bawah
pohon-pohon cemara. Timmy juga mendapat
bagian, walau tak sebanyak yang diingininyal
"He — kalian juga mendengarnya?" kata
Julian tiba-tiba, sambil mengangkat kepala. "Ke-
dengarannya seperti suara mobil berjalanl"
Mereka semua ikut mendengarkan. Benar juga
kata Julian Terdengar suara mobil. Wah, mujurl
"Mudah-mudahan saja ke mari arahnyal" kata
Julian. "Kalau betul, kita bisa menghentikannya
dan minta tolong. Kita bisa ikut dengannya. pergi
ke kantor polisi terdekatl"
Dengan segera mereka pergi dari hutan ce-
mara. menuju ke tepi jalan. Так nampak sinar
lampu walau bunyi mesin mobil masih tetap ter-
dengar.
Bunyi mesinnya halus sekali," kata Julian
"Rupanya mobil besar. Dan lampu besarnya tak
dinyalakan, karena di sini toh sudah terang kare-
na sinar bulanl"
"Kedengarannya semakin mendekat," kata
George "Arahny; ke maril Ya — betull'
Bunyi mesin semakin terdengar jelas. Anak-
anak sudah siap hendak meloncat ke tengah ja-
lan, untuk menyetop mobil itu.
88
Tapi secara tiba-tiba saja bunyi mesin itu hi-
ang Cahaya bulan menyinari sebuah mobil be-
sar dan bagus Mobil itu berhenti di jalan, agak
jauh dari tempat mereka menunggu. Lampu-
lampunya tak ada yang menyala bahkan lampu
parkir pun tidak! Anak-anak sudah hendak lari
menghampin sambil memanggil-manggil tapi di-
tahan oleh Julian.
'Jangan," katanya. "Tunggu dulu Rasanya
agak — anehl"
Mereka menunggu di tempat yang agak gelap
karena ada bayangan Mobil besar itu berhenti
tak jauh dari pondok tua yang reyot. Satu pintu-
nya terbuka dan seseorang keluar lalu ber-
gegas-gegas menyeberangi jalan. la menuju ke
tempat yang agak gelap, karena dibayangi semak
yang berupa pagar di situ. Orang itu kelihatan-
nya membawa semacam bungkusan
Terdengar bunyi siulan pelan, disusul oleh bu-
nyi seperti suara burung hantu.
' Isyarat balasan," pikir Julian. Rasa ingin ta-
hunya semakin bertambah besar. ’’Apa sebetul-
nya yang sedang terjadi saat ini?
"Kalian harus diam semua," bisiknya. "Ge-
orge, jaga Timmy — jangan sampai ia mengge-
ram."
Tapi Timmy sendiri sudah tahu, kapan ia harus
diam. la tegak seperti patung, dengan telinga
meruncing ke atas. Matanya menatap ke arah
mobil
89
Sesaat tak terjadi apa-apa. Dengan hati-hati
Julian menyelinap ke balik sebatang pohon lain.
Dari situ ia bisa melihat lebih jelas.
Nampak olehnya bayangan seseorang ber-
jalan dari arah pohon-pohon di depannya, me-
nuju pondok di mana sudah ada orang lain me-
nunggu. Mungkin orang itu tadi, yang keluardari
mobil. Siapakah mereka? Apakah yang mereka
lakukan di tempat yang sebegitu terpencil — dan
malam-malam pula?
Orang yang datang dari arah pepohonan,
menghampiri orang yang rupanya dari mobil. Ke-
duanya berbicara dengan buru-buru. Julian tak
bisa menangkap kata-kata mereka. la merasa ya-
kin, kedua orang itu tak sadar bahwa mereka se-
dang diintip. Julian menyelinap ke balik se-
batang pohon yang lebih dekat, lalu mengintip la-
gi
"Jangan terlalu lama," didengarnya satu dari
kedua orang itu berkata. "Jangan bawa barang-
barangmu ke mobil, tapi masukkan saja ke dalam
sumur."
Julian tak bisa melihat dengan jelas apa yang
sedang dilakukan orang yang satu lagi. Tapi nam-
paknya seperti sedang berganti pakaian. Ya, be-
tul — sekarang dipakainya setelan yang lain —
rupanya itulah bungkusan yang tadi dibawp
orang yang datang dari mobil. Julian semakin
bertambah ingin tahu. Aneh benar kejadian ituI
Siapakah orang yang satu lagi? Mungkinkah
pelarian? Atau mata-mata?!
90
Orang yang sudah berganti pakaian me-
mungut setelan yang dilepaskannya, lalu pergi ke
belakang pondok. Ketika datang lagi, setelan
yang tadi dibawanya sudah tidak ada lagi. Di-
ikutinya orang yang pertama menyeberangi jalan,
menuju ke mobil.
Sebelum pintu tertutup. mesin mobil sudah
menderu dan mobil itu melesat pergiI Lewat di
depan hutan cemara tempat anak-anak ber-
sembunyi sambil mengintip. Mobil itu ngebutl
Julian kembali ke tempat teman-temannya
bersembunyi.
"Nah. bagaimana pendapat kalian?” katanya.
Urusan aneh, ya? Aku tadi melihat seorang laki-
laki berganti pakaian — entah apa sebabnyal Pa-
kaian yang dilepaskan, ditinggalkannya di bela-
kang pondok. Dalam sebuah sumur, kalau me-
nurut pembicaraan mereka yang kudengar tadi.
Bagaimana jika kita periksa sebentar ke sana?"
"Ayo," kata George, yang juga merasa heran.
Kalian tadi melihat nomor mobil itu? Aku cuma
sempat melihat huruf-hurufnya saja — KMF."
"Kalau aku, kulihat angka-angkanya " kata An-
ne. "102! Dan mobilnya merek Bentley."
"Ya. Bentley hitam, nomornya KMF 102," kata
Richard. "Urusan ini benar-benar anehl"
’ Mereka berjalan menuju pondok yang sudah
reyot. memasuki pekarangan belakang yang pe-
nuh dengan semak belukar Di situ ada sebuah
sumur yang sudah rusak Tembok sebelah atas-
nya sudah banyak yang hilang batu batanya.
91
Sumur itu ada tutupnya, terbuat dan kayu dan
sudah lapuk. Julian menyingkirkan tutup itu.
Agak berat juga! Kemudian ia memandang ke
dalam sumur Tapi ia tak melihat apa-apa Lu-
bangnya terlalu dalam, sehingga dengan bantuan
sinar lampu sepeda pun tak bisa nampak dasar-
nya.
"Так banyak yang bisa dihhat di sini," kata
Julian sambil mengembalikan tutup sumur ke
tempatnya semula. "Kurasa memang pakai-
annya yang tadi dilemparkan ke sini. Aku ingin
tahu. apa sebabnya orang itu berganti pakaian."
Mungkinkah dia' seorang narapidana yang
melarikan diri?" tanya Anne tiba-tiba. "Jika be-
tul, tentu ia perlu menukar pakaian narapidana-
nya! Itu yang paling penting, dan yang pertama-
tama harus dilakukan olehnya. Adakah penjara di
dekat-dekat sini?"
Так ada yang mengetahuinya.
Ketika meneliti peta tadi, tak kuperhatikan,"
kata Julian. "Tapi tidak — kurasa ia bukan pela-
rian dari penjara I Lebih mungkin mata-mata
yang diturunkan di tempat terpencil ini, lalu
dijemput oleh orang yang membawakan setelan
untuk berganti pakaianI Atau mungkin pula sese-
orang yang melarikan diri dari tentara Itu lebih
mungkin lagi!"
"Yah pokoknya aku tak suka pada urusan ini,"
kata Anne. "Untung saja mobil itu sudah pergi,
membawa narapidana atau mata-mata atau
pelarian dari tentara atau apa pun juga orang
tadi itu sebenarnya! Aneh. kenapa kita harus
92
kebetulan mehhat hal itu terjadil Mereka pasti
takkan menyangka ada empat orang anak serta
seekor anjing melihat mereka dari dekatl"
Untung saja mereka tak tahu kata Julian
Kalau tahu, pasti mereka akan marahl Nah —
sudah terlalu lama kita membuang-buang waktu
di sini. Kita lanjutkan saja makan. Mudah-
mudahan belum dihabiskan oleh Timmy, karena
tadi kita tinggalkan tergeletak di tanah.'
Tapi ternyata Timmy tak menyentuh makanan
itu. la menunggu dengan sabar.
Anjing mams'' kata George memuji Kau
sungguh-sungguh bisa dipercaya, Tim I"
Mereka pun makan lagi Setelah beberapa me-
nit, mereka kembali menaiki sepeda masing-
masing.
Kita melanjutkan perjalanan ke Owl's Hill,"
Kata Julian. "Mudah-mudahan saja tak terjadi
agi hal-hal aneh malam ini, karena yang lalu saja
sudah cukup membingungkan!"
93
BAB 10
Owl's Dene Di Atas Owl's Hill
M EREKA bersepeda dengan laju, disinari cahaya
bulan yang terang. Pada saat bulan lenyap di ba-
lik awan pun keadaan masih cukup terang
sehingga mereka sama sekali tak perlu menyala-
kan lampu. Rasanya jauh sekali mereka bersepe-
da Akhirnya sampai di kaki sebuah bukit yang
curam.
"Inikah yang bernama Owl’s Hill?” tanya An-
ne. Mereka mendaki bukit dengan berjalan kaki
sementara sepeda mereka tuntun. Jalan di situ
terlalu terjal.
"Betul," jawab Julian. "Setidak-tidaknya, begi-
tulah menurut perasaanku — kecuali jika kit*
tadi salah jalan. Tapi kurasa tidakl Yang menjad1
seal sekarang — bisakah kita nanti menemukan
Owl's Dene di puncak bukit ini? Dan bagaiman*
kita bisa mengetahui bahwa itulah Owl's Dene? '
"Kita tekan saja bel, lalu bertanya " kata Anne
Julian tertawa. Memang begitulah adiknya itu —
selalu polos wataknya
94
"Ya — mungkin nanti kita akan terpaksa mela-
kukannya," kata Julian. "Tapi sebelumnya kita
periksa dulu sebentar keadaan sekelilingnya."
Mereka mendaki jalan yang terjal itu, sambil
mendorong sepeda masing-masing. Di kiri kanan
jalan terdapat pagar tanaman, dan di sebaliknya
:erbentang lapangan luas. Di lapangan itu tidak
nampak ternak. Так ada sapi, domba atau kuda
seekor pun!
"Lihatlah!" kata Anne dengan tiba-tiba. "Kuli-
hat sebuah bangunan — setidak-tidaknya, aku
yakin bahwa aku melihat cerobong asapnyal"
Anak-anak memandang ke arah yang di-
tunjukkan oleh Anne. Betul — itu pasti cero-
tong asap rumah, tinggi menjulang dan nampak
sudah kuno.
"Kalau melihat bentuk cerobongnya, rumah itu
sebuah gedung besar yang dibangun berabad-
*bad yang lalu, pada jaman Ratu Elizabeth I,"
ata Julian mengira-ngira. la berhenti. dan me-
Tiandang dengan lebih seksama. "Kelihatannya
empat itu besar. Sebentar lagi kita pasti akan
•ampai ke tempat masuk ke pekarangan rumah
itu."
Mereka mendaki terus, sambil mendorong se-
c«eda. Kemudian mulai nampak rumah yang di-
Suju. Bukan rumah biasa, tapi merupakan se-
buah gedung besar yang sudah tua. Kelihatan-
nya anggun dan sangat indah.
"Itu pintu gerbangnya," kata Julian lega. la su-
aah capek mendorong sepeda mendaki bukit.
95
'Tertutupl Mudah-mudahan saja tidak dikuncil"
Ketika mereka sudah dekat. tiba-tiba pintu
gerbang itu yang berukuran besar dan terbuat
dari batang-batang besi berukir-ukir terbuka
dengan pelan-pelan. Anak-anak tertegun. Apa
sebabnya pintu besar itu terbuka dengan tiba-
tiba? Так mungkin karena mereka datang I
Kemudian terdengar deru mesin mobil di
kejauhan Ah — sekarang mereka mengertil Pin-
tu gerbang terbuka karena ada mobil datang.
Tapi bukan dari kaki bukit seperti sangkaan
mereka, melainkan dari jalan di balik pagar.
Cepat — kita harus bersembunyi" kata
Julian. "Jangan sampai terlihat!"
Mereka menyeret sepeda masing-masing,
masuk ke dalam pant yang ada di pinggir jalan.
lalu bersembunyi di situ Sebuah mobil keluar
dengan pelan. melewati gerbang yang terbuka
pintunya. Julian berseru pelan lalu menyenggol
George.
"Kau lihat mobil itu? Mobil Bentley hitam yang
tadi — itu. nomornya KMF 1021"
Aneh!" kata George heran. "Untuk apa ke-
luyuran malam-malam, menjemput orang lain di
tepi jalan dan membawanya ke mari. Betulkah
gedung ini yang namanya Owl s Dene? '
Mobil itu lewat di depan mereka, lalu meng-
hilang di balik tikungan. Setelah itu anak-anak
keluar dari pant, bersama sepeda mereka serta
Timmy.
"Sekarang kita menyelinap ke pintu gerbang
kata Julian. "Pintu itu masih tetap terbuka Aneh
96
tahu tahu terbuka dengan sendiri ketika mobil
tadi datang. Так kulihat ada orang yang mem-
bukanya."
Dengan berani mereka menghampiri gerbang
yang terbuka.
"Lihatlah!" kata Julian, sambil menunjuk ke
tonggak gerbang yang besar terbuat dari batu
bata Semua memandang ke situ dan berseru
Kaget ketika melihat tulisan yang tertera pada
sekeping logam berkilat yang terpasang di situ.
"Ah! Rupanya gedung ini ternyata memang
Owl's Dene!"
"Ya — tertera jelas pada pelat tembaga itu —
Owl's Dene!"
"Yuk, kita masuk saja dan mengintai di da-
im," kata Julian sambil mendorong sepedanya
Tiemasuki pekarangan. "Siapa tahu kita mujur,
эап berjumpa dengan Dick di sekitar sini.”
Beramai-ramai mereka memasuki gerbang.
Tapi tiba-tiba Anne mencengkeram lengan
Julian. Anak itu ketakutan. Tanpa mengatakan
apa-apa, ia menunjuk ke belakang.
Pintu gerbang tertutup kembaliI Tapi tak ada
orang yang menutupnya. Anak-anak merasa
seram.
"Siapa yang menutup?" tanya Anne berbisik
ketakutan.
"Kurasa dilakukan dengan mesin," bisik
Julian. "Mungkin digerakkan dari dalam rumah.
Kita kembali saja ke situ! Kita periksa, mungkin
bisa menemukan mesin yang menggerakkan.
Sepeda mereka ditinggalkan di tepi jalan, lalu
mereka berjalan kembali ke gerbang itu. Julian
mencari-cari kalau ada tuas atau gerendel yang
bisa ditarik untuk membuka pintu. Tapi ternyata
tidak ada I
Ditarik-tariknya pintu itu, tapi sedikit pun tak
bergerak. Pintu itu tak bisa dibuka dengan paksa
Rupanya bekerja secara otomatisl
"Sialan,” kata Julian. Suaranya marah sekali,
sehingga anak-anak memandangnya dengan
heran.
"Ada apa?" tanya George.
"Lho, kau tak sadar rupanya — kita terkurung
di sini. Kita ikut tertawan seperti Dick, jika ia ada
di sini! Kita tidak bisa keluar lewat gerbang —
dan jika kauperhatikan, sekeliling pekarangan ini
ada tembok tinggi. Kita tak mungkin bisa keluar
lagi, walaupun kita mau!"
Mereka kembali ke tempat sepeda mereka,
sambil berpikir-pikir.
"Sebaiknya kita sembunyikan saja di bawah
pepohonan itu," kata Julian. "Kalau dibawa
cuma mengganggu saja. Kita tinggalkan sepeda-
sepeda di tempat itu, dan setelah itu kita
mengintai ke sekeliling rumah. Mudah-mudahan
$aja di sini tidak ada anjingI"
Sepeda mereka ditinggalkan di antara pohon-
pohon, yang terdapat di tepi jalan masuk yang le-
bar. Jalan itu nampak kurang terawat. Penuh lu-
mut dan rumput liar! Hanya di mana roda-roda
.mobil biasa lewat, nampak gundul.
"Kita lewat di jalan ini, atau lebih baik di
pinggirnya?" kata George.
"Di pinggir " jawab Julian. "Kalau di jalan, mu-
4ah kelihatan karena sinar bulan menerangi tern-
pet ini."
Karena itu mereka lantas menyelinap di balik
beyangan pepohonan. Mereka mengikuti jalan
masuk yang melengkung, sampai nampak ge-
Oung besar itu di depan mereka.
Gedung itu ternyata benar-benar besar sekali.
Sentuk denahnya seperti huruf E. Tapi tanpa ga-
di tengahnya. Di depan gedung itu ada hala-
r>an yang penuh dengan tumbuhan liar. Sebuah
tembok rendah yang tingginya kira-kira sampai
<i»ut. mengitari pekarangan sebelah dalam itu.
Dari salah satu jendela di tingkat atas nampak
cahaya lampu memancar ke luar. Di tingkat dasar
Hja ada satu ruangan yang terang. Selebihnya,
Rdung itu gelap gulita.
98
99
"Kita berkeliling saja sekarang memenksa-
nya.' kata Julian dengan berbisik-bisik Asta-
ga! Apa itu?'
Mereka semua terlompat karena kaget ketika
tiba-tiba terdengar suatu jeritan yang menye-
ramkan. Anne berpegangan pada Julian, la ke-
takutan
Anak-anak mendengarkan sambil tertegun.
Tiba-tiba ada sesuatu menyambar mereka
dan menyenggol rambut George Nyar s saja la
berteriak kaget — tapi tak sempat Suara me-
nyeramkan itu terdengar lagi Dengan cepat
George memegang Timmy untuk menenang-
kannya Timmy kaget dan ikut takut.
Apa itu Ju?" bisik George "Tadi ada sesua-
tu menyentuhku Tapi sebelum sempat kulihat,
sudah lenyap lagi."
Ssst — jangan nbut." bisik Julian Itu cuma
seekor burung hantuI"
Astaga — betul," kata George lega "Tolol.
kenapa tak terpikir sendiri olehku tadi. Burung
hantu yang sedang mencari mangsa Kau tadi ke-
takutan, Anne?
"Tentu sajal" kata Anne, sambil melepaskan
lengan abangnya
'Aku juga ngeri," kata Richard. Giginya ma
sth gemeletuk karena takut. ' Nyans saja aku Ian
pontang-pantingl Tapi kakiku tak bisa kugerak
kan — seolah-olah terpaku ke tanah!"
Terdengar lagi suara burung hantu sekarang
agak jauh. Dan dijawab oleh seekor lagi Lalu
menyusul tenakan burung hantu ketiga. Kawan-
100
an burung hantu berteriak bersahut-sahutanl Se-
ram sekali kedengarannya
Pantas tempat ini diberi nama Bukit Burung
Hantu kata Julian "Rupanya sudah dan dulu
menjadi tempat kediaman burung-burung han-
tu!"
Mereka meneruskan fangkah, menyelinap
mengelilingi rumah. Mereka selalu berjalan di
tempat yang ada bayangannya. Di belakang ter-
nyata gelap kecuali dua jendela panjang yang
nampak terang Kedua jendela itu kacanya ber-
bingkai timah kecil-kecil, dan tertutup tirai-tirai-
nya Julian berusaha mengintip dari sela sela ti-
rai.
la menemukan tempat di mana tirainya ter-
tutup tak begitu rapat. Dengan segera ia mengin-
t p ke dalam
Di sini dapur," katanya ' Ruangannya besar
-kali — sedang penerangannya sebuah lampu
-ninyak yang besar Kecuali di tempat lampu.
•euruh ruangan cuma remang-remang saja. Di
««‘belah sana ada tempat perapian yang besar.
ЭеЬегара batang kayu menyala di dalamnya.
Ada orang di situ?" tanya George, sambil
-* rusaha ikut mengintip ke dalam. Julian ming-
M sedikit, member! kesempatan pada saudara
»?pupunya itu untuk ikut melihat.
Nampaknya tidak ada. kata Julian. Tapi be-
Liu George mengintip, ia langsung berseru —
k-an-pelan tentunya1 Julian mendorongnya ke
amping, lalu mengintip lagi.
Dilihatnya seorang laki-laki masuk ke ruangan
itu. Orangnya pendek, mirip orang cebol. Pung-
gungnya bungkuk sekali. sehingga kepalanya
menjulur ke depan dan agak ke samping. Tam-
pangnya nampak sangat kejam. Di belakangnya
menyusul seorang perempuan Tubuhnya kurus
Nampaknya kumal dan sengsara
Laki-laki itu menjatuhkan badannya pada se-
buah kursi, lalu mulai mengisi pipa. Sementara
itu yang perempuan mengangkat ceret yang ter-
jerang di atas api, lalu mengisi botol-botol air pa-
nes yang berjejer di pojok.
"Yang perempuan itu mestinya juru masak di
sini," pikir Julian. "Kelihatannya sangat menye-
dihkan. Sedang yang laki-laki — kurasa pesuruh
yang biasa melakukan segala macam tugas yang
perlu dikerjakan. Tampangnya menyeramkan
sekali!"
Perempuan itu bicara dengan takut-takut pa-
da laki-laki yang duduk di kursi. Tentu saja Julian
tak bisa mendengar kata-katanya, karena ia ber-
ada di balik jendela. Laki-laki itu nampak menja-
wab dengan kasar. Tangannya dipukul-pukulkan
ke lengan kursi.
Juru masak itu kelihatannya memohon-mo-
hon, entah mengenai apa Tapi tahu-tahu laki-la-
ki itu marah. la mengambil tongkat besi yang bia-
sa dipakai untuk mengorek-ngorek abu di per-
apian. dan mengancam juru masak dengannya.
Julian memandang dengan ngeri. Perempuan
yang malang! Так heran jika kelihatannya begitu
sengsara. apabila kejadian seperti yang sedang
dilihatnya itu sering terjadi.
Tapi ternyata laki-laki itu bukan hendak me-
lemparkan tongkat besi itu. melainkan hanya
mengayun-ayunkannya dengan marah. Setelah
itu dikembalikannya lagi ke tempat semula. dan
ia pun duduk kembali. Perempuan itu pun tak
berbicara lagi. la melanjutkan kesibukannya.
mengisi botol-botol air panas. Julian ingin tahu,
untuk siapa botol-botol itu?
Julian menceritakan pada teman-temannya,
apa yang dilihatnya dalam dapur. Mereka semua
ikut merasa ngeri. Jika orang-orang yang di da-
pur sudah begitu tingkah-lakunya, lalu seperti
apa wujud orang-orang yang mungkin ada dalam
rumah itu?
Mereka pergi dari situ, lalu mengelilingi ru-
mah Mereka sampai di sebuah kamar yang le-
taknya agak lebih rendah. Lampu di dalam me-
nyala. Tapi tirai jendela di situ tertutup rapat. Так
nampak celah. lewat mana mereka bisa mengin-
tip ke dalam.
Anak-anak mendongak. memandang ruangan
Ji tingkat atas yang juga menyala lampunya.
Vungkinkah Dick ada di situ? Mungkinkah ia ter-
«urung dalam ruangan loteng? Ingin sekali me-
-ka mengetahui, di mana sebenarnya anak itu
: tahan!
Bagaimana jika mereka melempar batu ke
•cas? Beranikah mereka melakukannya? Kelihat-
Bnnya tak ada jalan masuk ke rumah bagi me-
• a Pintu depan terkunci. Itu sudah pastil Di
102
103
samping juga ada sebuah pintu lagi. Tapi itu pun
terkunci. Mereka sudah mencobanya Так se-
buah jendela pun yang nampaknya tak terkunci.
Kucoba saja melemparkan batu ke atas," ka-
ta Julian kemudian. "Rasanya aku yakin Dick ada
di atas. jika memang benar bahwa ia dibawa ke
mari! Dan kau kan yakin mendengar orang-orang
itu mengatakan 'Owl's Dene', ya Anne?"
"Aku yakin sekali," jawab Anne. "Lempar saja
batu ke atas. Ju. Aku sudah cemas sekali me-
mikirkan nasib Dick."
Julian meraba-raba di tanah, mencari batu. Di-
temukannya sebuah, di tengah lumut yang ter-
hampar di mana-mana Ditimang-timangnya ba-
tu itu sebentar lalu dilemparkannya ke atas. Tapi
tak sampai ke jendela. Julian memungut sebutir
lagi, lalu melemparkannya ke atas — dan ber-
denting mengenai kaca jendela itu. Seketika itu
juga muncul seseorang di situ, memandang ke
bawah.
Apakah itu Dick? Anak-anak memicingkan
mata — tapi jendela itu terlalu tinggi letaknya.
Mereka tak bisa mengenali muka orang itu.
Julian memungut sebutir batu lagi, lalu melem-
parkannya ke atas. Kena lagi I
"Kurasa itu Dick,” kata Anne. "Astaga — bu-
kan! Так bisakah kau mengenalinya, Ju?"
Tapi siapa pun orang yang nampak di balik
jendela tadi — la sudah menghilang lagi Anak-
anak merasa agak cemas. Bagaimana jika orang
itu ternyata bukan Dick? Bagaimana jika orang
104
lain — dan sekarang turun untuk mencari me-
reka?
"Yuk, kita harus meninggalkan sisi rumah se-
belah sini, kata Julian. Dengan segera mereka
menyelinap pergi ke balik rumah. Tiba-tiba
Richard menarik lengan Julian.
Lihatlah, ada jendela terbuka," katanya sam-
bil menunjuk Bagaimana jika kita masuk lewat
jendela itu?"
Scanned book (sbook) ini hanya untuk pelestarian buku
dari kemusnahan dan membiasakan anak-anak kita
membaca buku melalui komputer.
DILARANG MENGKOMERSILKAN atau
hidup anda mengalami ketidakbahagiaan.
BBSC
105
BAB 11
Terjebak!
JULIAN memandang ke arah jendela itu. Cahaya
bulan meneranginya Dan benarlah — jendela itu
terbuka sedikit.
Apa sebabnya sewaktu kita berkeliling tadi
kita tak melihatnya?" katanya dalam hati. Julian
agak ragu. Bagaimana — masuk atau tidak?
Apakah tidak lebih baik jika diketuk saja pintu
belakang, dan kalau perempuan yang kelihatan-
nya sengsara tadi muncul lalu bertanya pada-
nya?
Tapi laki-laki bungkuk bertampang jahat tadi
dga ada di situ. Julian tak suka melihat tampang
orang itu. Ha. tidak1 Rasanya lebih baik jika me-
nyelinap saja masuk lewat jendela itu — lalu
melihat apakah Dick benar ada di atas. Kalau ia
ada di situ, mereka akan membebaskannya. lalu
menyelinap lagi ke luar lewat jendela yang sama.
Takkan ada orang yang akan tahu. Tawanan ber-
hasil me'arikan din, dan persoalan menjadi be-
•es!
Julian menghampiri jendela, lalu melangkah-
kan kaki melewati ambangnya. la duduk di situ
talu mengulurkan tangan pada Anne. "Ayo — ku-
tolong masuk," katanya, lalu menarik adiknya
sampai ke ambang dan kemudian menurunkan-
nya sampai ke lantai ruangan.
Setelah itu George naik pula disusul oleh Ri-
•rhard. Baru saja George menjulurkan badan ke
ar lagi untuk menyuruh Timmy meloncat ma-
suk ketika tiba-tiba terjadi sesuatu yang di luar
Kigaan!
Sekonyong-konyong sinar senter yang terang
sekali menyilaukan mereka! Keempat remaja itu
berdiri terpaku dengan mata terkejap-kejap. Ada
jpa lagi sekarang?
107
106
Kemudian Anne mendengar suara yang per-
nah didengarnya. Suara salah seorang yang me-
nangkap Dick di hutan
"Wah, — ada segerombolan maling remajal"
kata orang itu Sekonyong-konyong suaranya
be г и bah, kedengaran marah sekarang. "Berani
sekali kalian masuk ke mari! Kuserahkan saja pa-
da polisi!"
Di luar, Timmy menggeram. la melompat,
berusaha mencapai ambang jendela. Hampir saja
berhasil! Tapi orang yang baru datang dengan
segera menyadari bahaya yang mengancam, lalu
buru-buru menutup jendela yang terbuka Seka-
rang Timmy tidak bisa lagi masuk!
Biarkan anjingku masuk!" seru George ma-
rah. Tololnya anak itu mencoba hendak mem-
buka jendela lagi. Orang itu memukulkan sen-
ter. mengenai tangan George. George menjerit
kesakitan.
"Begitulah nasib anak laki-laki yang bandel,"
kata orang itu, sementara George mengusap-
usap tangannya yang sakit.
"Kenapa Anda bersikap sekasar itu?" kata
Julian galak. "Kami masuk ke mari bukan ka-
rena hendak mencuri. Serahkanlah kami pada
polisil Kami bahkan berterima kasih!"
"O ya?" kata orang itu la pergi ke pintu, lalu
memanggil-manggil dengan suara lantang
"AGGIE! AGGIE! Cepat bawa lampu ke sini!"
Terdengar seseorang berteriak menjawab dari
dapur Dan sesaat kemudian nampak sinar lampu
memancar dalam gang. Sinar itu kian mendekat
lalu muncullah perempuan yang tampangnya
sengsara tadi. la membawa lampu minyak yang
besar. la tercengang ketika melihat ada serom-
bongan anak-anak di situ, la hendak mengata-
kan sesuatu tapi tak sempat karena didorong
dengan kasar ke luar.
"Keluar!" bentak orang itu. "Dan tutup mulut,
mengerti?!"
Perempuan itu ketakutan, dan bergegas ke-
luar Sedang orang yang kasar memperhatikan
keempat remaja yang ada dalam ruangan, dite-
rangi lampu minyak. Ruangan itu nampaknya
merupakan semacam kamar tamu. Tapi pera-
botnya sedikit sekali
"Jadi kalian tak keberatan jika diserahkan pa-
da polisi?" kata orang itu. "Menarik sekaliI Kali-
an sangka mereka akan senang jika mendengar
bahwa kalian masuk ke rumahku dengan mak-
sud jahat?"
"Kami tak bermaksud mencuri," kata Julian, la
bertekad untuk menjelaskan persoalan itu. "Kami
ke mari, karena merasa ada alasa'n untuk me-
nyangka bahwa Anda mengurung adikku di salah
satu tempat dalam rumah ini — dan hal itu terja-
d karena kekeliruan. Anda menahan anak yang
keliru."
Hati Richard mulai berdebar-debar. la takut
kalau-kalau nanti dikurung, menggantikan Dick!
Karenanya ia bersembunyi di belakang teman-te-
mannya.
Orang itu menatap Julian. Nampaknya seperti
sedang berpikir-pikir.
199
108
"Di sini tak ada anak yang ditahan," katanya
kemudian. "Aku betul-betul tak mengerti, apa se-
benamya yang kaumaksudkan. Kau kan bukan
hendak menuduh bahwa aku keluyuran men-
culik anak-anak?"
* Aku tak tahu apa sebetulnya yang Anda laku-
kan." kata Julian. "Tapi satu hal kuketahui
dengan pastil Anda menangkap adik laki-lakiku
Dick tadi sore di Hutan Middlecombe — karena
menyangka dia Richard Kent. Tapi dia bukan
anak itu — melainkan Dick, adikku. Jika Anda ti-
dak mau membebaskannya dengan segera, kami
akan melaporkan segala yang kami ketahui pada
polisi."
"Astaga1" kata orang itu. "Dan dari mana kau
mengetahui segalanya itu? Kau ada di situ pada
waktu 1a ditangkap — seperti yang kaukatakan
itu?"
"Ya — salah seorang dari kami ada di atas po-
hon ' kata Julian secara terang-terangan "Ka-
rena itulah kami mengetahuinya."
Sesaat orang itu diam. Diambilnya sebatang
rokok, lalu dinyalakannya.
"Sekarang kau yang keliru," katanya kemu-
dian. "Di sini tak ada anak laki-laki yang ditahan.
Sebetulnya ini sudah gila-gilaan, tak masuk akal-
ku! Tapi sekarang sudah larut malam. Kalian mau
menginap di sini, dan pergi lagi besok pagi? Так
enak rasanya melepaskan serombongan anak-
anak semalam ini I Di sini tidak ada telepon.
Sayang. sebab kalau ada aku bisa menelepon-
kan ke rumah orang tua kalian."
110
Julian ragu-ragu sejenak. la merasa yakin,
Dick ada dalam rumah itu. Kalau 1a mau mene-
rima tawaran orang itu, maka akan ada kesem-
patan baginya untuk menyelidiki — benarkah
Dick ada di situ. Terasa jelas olehnya, orang itu
tak ingin mereka pergi melaporkan pada polisi.
Ada sesuatu yang penuh rahasia dan menye-
ramkan di rumah itu!
"Baiklah, kami menginap di sini," katanya
kemudian. "Orang tua kami sedang pergi — dan
mereka takkan khawatir jika kami tidak pulang
malam ini."
Sesaat Julian melupakan Richard Orang tua
anak itu pasti akan gelisah sekaliI Tapi apa boleh
buat. Pertama-tama, ia harus menemukan Dick
dulu Orang-orang itu gila, apabila masih me-
nahan Dick terus walau sudah yakin bahwa ia
bukanlah anak yang mereka cari. Mungkin Roo-
ky, penjahat yang mengenal Richard saat itu be-
lum datang Jadi belum melihat Dickl Mungkin
itulah sebabnya kenapa orang itu menginginkan
agar mereka menginap semalam di situ. Ya —
tentu saja I la menunggu sampai Rooky datang
Dan jika ternyata Rooky kemudian mengatakan,
Bukan dia anak yang kita caril" maka Dick pas-
• akan dibebaskan. Mereka harus melakukan-
nya!
Orang itu memanggil Aggie lagi. Dan perem-
puan itu datang dengan segera.
"Anak-anak ini tersesat," kata orang itu pada-
iya "Aku tadi sudah mengajak mereka mengi-
nap saja malam ini di sini. Bereskan^sajah satu
111
ruangan! Cukup apabila kautaruh kasur-kasur
serta selimut di sana Kalau mereka ingin ma-
kan, sediakanl"
Aggie kelihatannya tercengang mendengar ka-
ta kata orang itu Menurut perkiraan Julian, pe-
rempuan itu tak biasa mengalami laki-laki itu
bersikap ramah terhadap anak-anak yang terse-
sat. Perempuan itu tertegun sejenak. Seketika itu
juga ia dibentak.
Ayo cepat! Jangan melamun saja di situ)
Ajak anak-anak ini ke luar denganmu!"
Aggie menggamit keempat remaja itu Geor-
ge kelihatan agak enggan.
Bagaimana dengan anjingku?" katanya "la
masih di luar. Aku tak bisa tidur, jika tidak di-
temani anjingku."
"Tapi malam ini kau terpaksa tidur sendiri,"
kata orang itu dengan kasar. "Aku tak mau ia
masuk ke rumah. Habis perkara!"
Jika di luar setiap orang yang dijumpamya
akan langsung diserang," kata George.
la takkan ketemu siapa-siapa di luar," kata
orang itu. "O ya — bagaimana kalian tadi bisa
masuk ke pekarangan?"
'Ketika kami tiba kebetulan ada mobil keluar
Lalu kami cepat-cepat masuk, sebelum pintu ger-
bang tertutup kembali." kata Julian. Ba-
gaimana cara menutup pintu gerbang itu? Seca-
ra otomatis?"
' Kau tak perlu tahu," bentak orang itu, lalu
pergi ke arah yang berlawanan di gang.
112
"Aduh, ramah sekali orang itu," kata Julian pa-
da George
"Ya. benar-benar baik budi," jawab George.
Perempuan yang mengantarkan mereka meman-
dang dengan tercengang. la tak menyadari,
Julian dan George sebetulnya menyindir1 Kemu-
dian perempuan itu berjalan mendului naik ke
tingkat atas.
la masuk ke sebuah kamar yang luas Di lan-
tai terhampar permadani. Di pojok kamar ter-
dapat sebuah tempat tidur kecil, serta satu atau
dua kursi. Kecuali itu tak ada perabot lam di situ.
' Kuambilkan kasur-kasur dulu untuk kahan,"
kata perempuan itu.
' Kutolong mengangkatkan," kata Julian, la
berpikir dengan begitu ada kesempatan baginya
untuk melihat-lihat.
' Baiklah," kata perempuan itu "Kalian yang
lain, tunggu di sini."
la pergi bersama Julian ke sebuah lemari din-
ding. Diambilnya dua buah kasur besar dari da-
lamnya Julian bergegas membantu karena pe-
rempuan itu nampaknya agak kerepotan mena-
rik-narik. Dan perempuan itu rupanya tersentuh
perasaannya karena mendapat bantuan itu.
"Wah, terima kasih," katanya. "Kasur-kasur ini
memang berat."
"Kurasa di rumah ini tak banyak anak-anak,
ya?" t|anya Julian menyelidik.
"Yah, aneh juga — kalian datang segera se-
telah .." kata perempuan itu Tapi langsung ber-
henti, sambil menggigit bibir. la memandang ke
113
kanan dan ke kiri dalam gang itu. Nampaknya ia
cemas.
"Segera setelah apa?" tanya Julian. "Maksud
Anda, segera setelah anak yang satu lagi itu da-
tang?”
"SstT desis perempuan itu. la sangat ke-
takutan. "Dari mana kau mengetahuinya?
Jangan katakan keras-kerasl Pak Perton pasti
mengamuk jika ia sampai tahu bahwa kau juga
mengetahuinya. Percayalah — ia pasti menga-
muk. Jadi jangan sebut-sebut lagi!"
"Itukah anak laki-laki yang disekap dalam sa-
iah satu kamar loteng di atas?" tanya Julian sam-
bil menolong perempuan itu membawakan se-
buah kasur ke kamar tidur yang luas. Seketika itu
juga perempuan itu melepaskan pegangannya,
sehingga kasur terjatuh.
"Kau ini rupanya hendak menyulitkan diriku —
dan kalian sendiri jugal Kau ingin agar Pak Per-
ton menyuruh si Bongkok memukul kalian? Kau
tak kenal orang ituI Dia jahat sekali!"
"Kapan Rooky datang?" tanya Julian lagi. la
sengaja membuat perempuan itu kaget, dengan
harapan agar ia ketakutan dan membeberkan
rahasia secara beruntun-runtun. Dan pertanyaan
terakhir itu rupanya benar-benar mengejutkan-
nya! Perempuan itu berdiri dengan tubuh geme-
tar. Ditatapnya Julian, seakan-akan kurang per-
caya pada pendengarannya sendiri.
"Apa yang kauketahui tentang Rooky?" bisik-
nya "la akan ke mari? Betulkah ia akan ke ma-
ri?"
114
"Kenapa? Anda tak suka padanya?" tanya
Julian Diletakkannya tangannya ke bahu pe-
empuan itu. Apa sebabnya Anda begitu geli
sah dan ketakutan? Ada apa? Katakanlah pa-
aku Mungkin aku bisa menolong."
Rooky jahat orangnya, kata perempuan itu
Kusangka ia masih dalam penjara. Betulkah 1a
akan ke mari? Kalau begitu ia sudah bebas la-
Perempuan itu begitu ketakutan, sehingga tak
mau mengatakan apa-apa lagi. la menangis.
Julian tak sampai hati mendesaknya terus. Tanpa
berkata apa-apa lagi. dibantunya perempuan itu
menyeret kasur-kasur ke kamar tidur
"Kuambilkan makanan untuk kalian," kata pe-
rempuan itu sambil terisak-isak. "Kalau kalian
mau tidur nanti, selimut ada dalam leman din-
ding sebelah sana.’’
Setelah itu ia pergi. Julian berbisik-bisik men-
ceritakan hal-hal yang berhasil dikoreknya pada
anak-anak.
Kita coba saja nanti mencan Dick, jika seisi
rumah ini sudah tidur," katanya. "Di rumah ini
banyak hal-hal yang rahasia dan aneh-aneh
Nanti aku akan menyelinap keluar dari kamar mi
lalu mengadakan penyelidikan. Kurasa orang ta-
di — namanya Pak Perton — sebetulnya se-
dang menunggu kedatangan Rooky, untuk
mengetahui apakah Dick memang benar-benar
bukan Richard. Nanti kalau ia yakin mengenai hal
itu. pasti Dick akan dibebaskan lagi — dan kita
15
"Lalu bagaimana dengan aku?" tanya Richard
Begitu Rooky melihat aku di sini tamatlah ri-
wayatku. Karena akulah anak laki-laki yang di-
carinya. la benci pada ayahku, dan aku pun di-
bencinya pula. Pasti aku akan diculiknya, guna
menuntut uang tebusan yang banyak sekali —
sebagai pembalasan dendaml"
"Yah. kita harus melakukan sesuatu sehmgga
Rooky tak bisa berjumpa dengan kamu,” kata
Julian. "Tapi aku tak melihat alasan untuk apa ia
melihatmu — kan perhatiannya pada Dick sajaI
la takkan tertank pada anak-anak, yang menurut
sangkaannya semua saudara Dick! Sekarang
jangan mulai menangis lagi — nanti benar-be-
nar kuserahkan pada Rooky! Kau ini benar-be-
nar pengecut — sama sekali tak memiliki keta-
bahan!"
"Dan semuanya ini tenadi karena kebohong-
an dan penipuanmu saja," kata George dengan
sengit. "Karena ulahmu pelancongan kami buyar,
Dick terkurung — dan Timmy yang malang ber-
ada di luar sendirian!"
Richard kaget sekali diserang secara begitu. la
meringkuk di pojok, tak berani mengatakan apa-
apa lagi. la merasa sengsara. Так ada yang se-
nang padanya — tak ada yang mau percaya pa-
danyal Richard merasa dinnya sangat kecil dan
hina
116
BAB 12
Julian Menyelidik
Kemudian perempuan itu datang lagi, mengan-
tarkan makanan. Yang dibawa cuma roti dengan
mentega dan selai. Serta kopi panas. Keempat
remaja itu tak begitu lapar. Tapi mereka haus
sekali! Karenanya kopi diminum dengan cepat
George membuka jendela. lalu pelan-pelan
memanggil Timmy.
"Tim! Ini — ada makanan untukmu!”
Ternyata Timmy memang ada di bawah. la
tahu di mana George berada. Mula-mula 1a melo-
long dan mendengking-dengking. Tapi sekarang
ia diam.
George sudah bertekad dalam hati, sedapat-
dapatnya akan berusaha agar Timmy bisa ma-
suk ke dalam rumah. Semua roti yang merupa-
kan bagiannya dilemparkan ke bawah sedikit
demi sedikit Didengarkannya betapa Timmy ma-
kan dengan lahap. Sementara itu Julian berdiri di
gang, mendengarkan apakah rumah sudah sunyi
atau belum Kemudian ia masuk lagi
117
"Kurasa lebih baik lampu ini kita padamkan
saja. Kalian semua baring di kasur. Selimutku
akan kuonggokkan sehingga terdapat kesan se-
akan-akan aku juga berbaring di sisi kalian. Tapi
sebetulnya tidak!"
"Kau mau ke mana7" tanya Anne. "Jangan
tinggalkan kami!"
"Aku akan bersembunyi di gang, dalam lema-
n dinding." kata Julian. "Aku punya firasat, tak
lama lagi tuan rumah yang rarhah tadi — Pak
Perton — akan datang untuk mengunci kita dari
luar. Dan aku tak bermaksud membiarkan diri
terkurung dalam kamar! Kurasa dia nanti akan
menyorotkan senternya ke dalam kamar. la akan
memeriksa apakah kita berempat sudah terlelap
di atas kasur. Setelah itu dengan diam-diam pin-
tu dikuncinya dari luar. Nah — aku kemudian ke-
luar dari lemari dan membukakan pintu lagi! Ja-
di kita tidak jadi terkurungI"'
"Ya — ide yang bagus!" kata Anne sambil
membungkus diri dalam selimut. "Cepat saja kau
masuk sekarang ke dalam lemari, Ju — sebelum
kita semua terkurung di sini malam ini!"
Dengan segera Julian mematikan lampu, lalu
berjingkat-jingkat pergi ke pintu dan membuka-
nya. Dibiarkannya pintu terbuka sedikit. Setelah*
itu ia meraba-raba dalam gang yang gelap, me-
nuju ke lemari dinding. Ah — ia sudah sampai di
tempat itu. Ditariknya pegangan pintu lemari, se-
hingga terbuka. Julian menyelinap masuk. Di-
biarkannya pintu terbuka secelah, sehingga bisa
118
melihat jika ada orang datang di gang yang lebar
itu.
la menunggu di situ selama kira-kira dua puluh
menit. Bau dalam lemari itu apek. Lagipula mem-
bosankan sekali rasanya berdiri diam-diam di si-
tu, tanpa berbuat apa-apa.
Kemudian dilihatnya cahaya mendekat. Ah —
ada orang datang rupanya!
Julian mengintip ke luar. Dilihatnya Pak Per-
ton menyelinap di gang, menuju ke pintu kamar
tidur di mana anak-anak berada. la membawa
lampu minyak yang kecil. Didorongnya pintu itu,
sehingga terbuka sedikit. Julian memperhati-
kannya sambil menahan napas.
Apakah Pak Perton akan melihat bahwa ong-
gokan keempat di atas kasur sebenarnya bukan
Julian, tapi cuma gulungan selimut yang ditutup
dengan selimut7 Julian berharap. semoga Pak
Perton tak menyadari siasatnya itu. Kalau sampai
ketahuan, akan buyarlah semua rencana Julian.
Pak Perton mengangkat lampu di tangannya
tinggi-tinggi, lalu memandang dengan hati-hati
ke dalam kamar. Dilihatnya empat sosok me-
ringkuk di atas kasur. Empat orang anak — pikir
Pak Perton.
Rupanya anak-anak itu sudah tidur nyenyak.
Dengan hati-hati Pak Perton menutup pintu, lalu
menguncinya dari luar. Julian memandang
dengan cemas. Jangan-jangan kunci pintu diba-
wanya pergi. Tapi — ternyata tidakl Kunci itu di-
tinggalkannya terselip dalam lubangnya. Syukur-
lahl
119
Orang itu pergi lagi sambil menyelinap la ti-
dak turun ke bawah, tapi masuk ke dalam se-
buah kamar yang letaknya agak ke kanan dalam
gang itu juga. Julian mendengar pintu kamar itu
tertutup. Kemudian menyusul suara seperti kun-
ci diputar. Rupanya Pak Perton mengunci diri-
nya dalam kamar itu Mungkin ia tak memper-
cayai temannya yang satu lagi — atau mungkin
pula mencurigai si Bongkok, atau perempuan ta-
di!
Julian masih menunggu sebentar, sebelum ke-
luar dengan hati-hati dan lemari la menyelinap-
nyelinap mendekati kamar Pak Perton lalu
mengintip lewat lubang kunci. la ingin melihat,
apakah kamar itu sudah gelap atau belum Ter-
nyata sudah! Tapi 1a tak bisa mendengar suara
dengkuran Pak Perton.
Namun Julian tak berniat menunggu sampai
yakin bahwa orang itu sudah tidur. Tujuannya
mencari Dick — dan ia merasa pasti, tempat per-
tama yang perlu diperiksa adalah di atas lotengf
"Pasti Pak Perton tadi ada di sana bersama
Dick sewaktu aku melempar-lempar batu ke ka-
ca jendela " pikir Julian. "Begitu ia mendengar
bunyi batu mengenai kaca, dengan segera ia
menyelinap ke bawah. Dibukanya jendela tadi
untuk memancing kami masuk Dan kami ternya-
ta kena jebakannya itu I Rupanya ia sudah me-
nunggu dalam ruangan itu. Aku tak suka pada
Pak Perton — orangnya terlalu licikl'*
Sambil berpikir begitu, ia mendaki tangga
yang menuju ke loteng. Julian melangkah
120
dengan pelan dan hati-hati. takut menyebabkan
anak tangga berderak. Tapi tak dapat dihindar-
kannya anak tangga berderak derak juga terin-
jak. Setiap kali berbunyi, Julian berhenti seben-
tar — takut kalau ada yang mendengarnya!
Di ujung atas tangga mehntang sebuah gang
Gang itu menuju ke sayap rumah sisi kiri dan ka-
nan Julian berhenti sebentar. la agak ragu. Ha-
rus ke mana sekarang. Di sayap sisi manakah
dilihat jendela yang terang tadi ? Bahwa letak-
nya di sisi gang yang panjang itu, hal itu dtyakmi-
nya. Akhirnya ia memutuskan untuk menyusur-
nya dan memeriksa setiap pintu. la akan mem-
perhatikan apakah ada cahaya memancar dari
dalam lewat lubang kunci, atau melalui sela pin-
iu dan lantai.
Beberapa pintu yang sudah dilaluinya, semua
terbuka sedikit. Setiap kali Julian mengintip se-
bentar ke dalam. Ruangan-ruangan itu ternyata
kosong, atau berisi barang-barang tua yang su-
dah tak dipakai lagi. Kemudian ia sempai ke se-
buah pintu yang tertutup. la mengintip lewat lu-
bang kunct. Ternyata ruangan di baliknya gelap
Julian mengetuk pintu dengan hati-hati. Seke-
tika itu terdengar jawaban dari dalam. Suara se-
seorang — suara Dick I
"Siapa itu?"
"Sstl Aku — Julian," bisik Julian. "Kau sela-
mat. Dick?"
Terdengar bunyi tempat tidur berderak, disusul
-*ngkah kaki di lantai. Kemudian terdengar sua-
124
га Dick lagi, tepat di belakang pintu la berbisik-
bisik.
"Julian! Bagaimana kau bisa sampai di sini?
Aduh. untung! Bisakah kau membuka pintu, su-
paya aku keluar?"
Sementara itu Julian sudah meraba-raba men-
cari anak kunci. Tapi tidak ada. Pasti dibawa oleh
Pak Perton!
"Aku tidak bisa karena anak kuncmya tidak
ada di sini," kata Julian. "Apa yang dilakukan
orang-orang itu terhadapmu, Dick?"
"Так banyak yang mereka lakukan! Aku dise-
ret ke mobil, lalu didorong masuk," kata Dick da-
ri balik pintu. "Tapi orang yang bernama Rooky
tak ada dalam mobil. Orang-orang yang me-
nangkapku menunggu agak lama, dan kemudian
kami pergi dengan mobil. Teman-teman Rooky
menduga mungkin Rooky pergi mendatangi se
seorang yang hendak mereka datangi Jadi aku
belum bertemu dengannya. Rooky akan ke mari
besok pagi. Pasti ia akan kaget sekali pada saat
melihat bahwa aku bukan Richard!"
"Richard juga ada di sini," bisik Julian. ' Aku
menyesal sekarang bahwa dia ikut — karena jika
Rooky sampai melihatnya, pasti Richard akan
diculikl Satu-satunya harapan hanyalah semoga
Rooky cuma .ingin melihatmu saja Karena
teman-temannya menyangka kita semua seke-
luarga, mungkin saja kemudian kita akan dibe-
baskan! Kau tadi langsung dibawa dengan mo-
bil ke mari, Dick?"
122
"Ya, kata Dick. "Ketika kami sampai pintu
gerbang terbuka dengan sendiri. Tapi aku tak
melihat siapa-siapa. Lalu aku didorong masuk ke
mari. Pintu kamar dikunci dari luar. Seorang di
antara mereka yang menangkapku tadi masuk,
alu mengatakan apa yang akan dilakukan Rooky
terhadapku jika ia datang dan melihatku — tapi
temudian dengan sekonyong-konyong ia keluar
dan turun ke bawah. Sejak itu ia tidak muncul-
muncul lagi
"Ah — kurasa saat itulah aku melempar-lem-
par batu ke jendela kamar ini," kata Julian
dengan segera. "Kau tak mendengarnya?"
"Ya! Jadi itu rupanya bunyi berdetak yang ku-
dengar tadi! Orang itu dengan segera pergi ke
endela — dan rupanya kau dilihatnya I Kau sen-,
diri, bagaimana kau bisa sampai di sini, Julian?
Kalian semua ada di sini sekarang7 Kurasa yang
•nelolong-lolong di luar itu pasti Timmy."
Dengan cepat Julian menceritakan peng-
alamannya. Mulai dari saat ia dan Gaorge
oerjumpa dengan Richard yang lari-lari sambil
menangis, sampai bagaimana ia menyelinap naik
tangga untuk mencari Dick.
Sehabis ia bercerita, keduanya terdiam se-
• ntar Kemudian terdengar lagi suara Dick dari
balik pintu.
Sekarang tak banyak gunanya merencana-
can macam-macam, Ju! Jika semuanya beres,
jpabila Rooky melihat bahwa aku bukan anak
<ang dicarinya besok pagi kita akan sudah bo-
ws lagi semua. Tapi kalau bernasib sial, setidak-
123
tidaknya kita semua ada di sini. Saat itu barulah
ada gunanya menyusun rencana. Aku ingin tahu
perasaan ibu Richard, karena anaknya tak pulang
malam ini!"
Kurasa ia pasti menyangka Richard mengi-
nap di rumah bibinya," kata Julian. "Anak itu
sukar diandalkan. Aku jengkel sekali padanya!
Hanya karena dia, kita sekarang mengalami ke-
repotan."
Kurasa apabila orang-orang yang me-
nangkapmu tadi, besok menyadari bahwa kau
betul-betul bukan Richard, mereka pasti akan
mengarang-ngarang alasan apa sebabnya kau di-
seret ke mari oleh mereka," kata Julian selanjut-
nya "Mungkin mereka akan mengatakan bahwa
kau melempar batu ke mobil mereka, sehingga
kau ditahan oleh mereka — atau kalau tidak
akan dikatakan bahwa mereka menemukan din-
mu dalam keadaan cedera lalu dibawa ke man
untuk diobati1 Pokoknya apa pun yang mereka
katakan, kita tak perlu ribut-ribut mengenainya!
Kita pergi saja dengan diam-diam — tapi se-
telah itu barulah kita bertindakl Aku tak tahu ada
apa di sini. tapi pokoknya ada sesuatu yang tidak
beres. Aku merasa pasti, pihak kepolisian tentu
akan tertarik untuk memeriksal"
Dengar! Itu suara Timmy lagi," kata Dick
"Tentunya sedih karena terpisah dari George!
Sebaiknya kau pergi saja, Julian — siapa tahu
ada orang terbangun karena lolongan Timmy
lalu keluar dan menemukan dirimu ada di sini!
124
Sekarang pergilah Aku senang kini — karena
tahu bahwa kalian tak jauh.”
Julian menyelinap kembali di gang, sambil
memandang dengan takut-takut ke setiap sudut
yang gelap. la ngeri, jangan-jangan Pak Perton
atau salah seorang temannya sudah menunggu
di situ untuk menyergapnya!
Tapi ternyata tak ada siapa-siapa di atas Tim-
my sudah berhenti melolong Rumah sunyi-se-
nyap Julian menuruni tangga, dan kembali ke
kamar tidur di mana anak-anak tidur nyenyak. Di
depan pintu kamar Julian berhenti sebentar. Ba-
gaimana jika ia melanjutkan penyelidikannya?
Kebetulan ada kesempatan baik!
Julian memutuskan untuk meneruskan meme-
nksa di situ, la berharap-harap, mudah-mudah-
an saja Pak Perton sudah tidur nyenyak Menu-
rut perasaannya si Bongkok dan perempuan
yang mengambilkan kasur tadi pasti juga sudah
tidur. la bertanya-tanya dalam hati, ke mana laki-
ak satu lagi yang membawa Dick ke rumah itu
Julian sama sekali belum melihat orang itu.
Mungkin pergi lagi dengan mobil Bentley hitam
yang dilihat keluar ketika mereka datang
Julian turun ke tingkat bawah la mendapat
akal hebat Bagaimana jika pintu depan dibuka-
nya lalu memanggil anak-anak supaya turun dan
melarikan diri? la sendiri tak bisa lari, karena ber-
arti akan meninggalkan Dick seorang din.
Tapi dengan segera gagasan itu dilepaskan-
nya lagi.
125
"Tidak bisa," pikirnya. "Pertama-tama, Geor-
ge dan Anne jelas takkan mau lari jika ia tidak
ikut. Dan apabila mereka mau juga, bagaimana
mereka bisa membuka pintu gerbang? Bukan-
kah pintu itu bekerja secara otomatis, melalui
mesin-mesin yang dikendalikan dari dalam ru-
mah?"
Jadi idenya yang gemilang itu ternyata tak ada
gunanya. Julian kemudian memutuskan untuk
memeriksa semua ruangan yang ada di tingkat
bawah. Mula-mula ia menjenguk ke dalam dapur.
Api di situ sudah hampir padam. Sinar bulan me-
rembes ke dalam lewat celah-celah tirai, mene-
rangi ruangan yang sunyi itu. Rupanya si Bong-
kok dan perempuan tadi tidur di kamar lain.
Так ada yang menarik dalam dapur itu. Julian
pergi ke kamar yang letaknya berseberangan.
Ternyata itu kamar makan. Di situ pun tak ada
yang menarik perhatian, karena kosong.
Julian pergi memasuki kamar berikut. Nam-
paknya semacam tempat kerja. Di situ ada se-
buah pesawat radio serta meja besar. Dan ada
pula sebuah meja peralatan yang aneh, dengan
semacam roda yang kokoh terpasang di situ. Ti-
ba-tiba timbul dugaan pada diri Julian — mung-
kinkah itu alat untuk membuka gerbang? Ya —
betull Dilihatnya etiket terpasang pada meja per-
alatan itu. Pintu Gerbang Kiri. Pintu Gerbang Ka-
nan. Kedua-duanya.
"Ah, ini rupanya yang kucari-cari! Mesin pem-
buka pintu gerbang. Kalau Dick bisa kukeluar-
126
kan dari kamar tadi, kita
sekarang ini juga!" pikir
yang kokoh itu. Apakah
rang?
akan bisa melarikan diri
Julian. Diputarnya roda
yang akan terjadi seka-
127
BAB 13
Rohosia Aneh
Terdengar bunyi yang aneh. Mendenging,
seperti ada mesin besar yang mulai bekerja.
Dengan cepat Julian memutar kembali roda yang
dipegangnya Jika bunyi mesin begitu bertsik, ia
tak mau mencoba-coba membuka pintu ger-
bang sekarang! Pasti Pak Perton akan segera da-
tang berlari-laril
Benar-benar cerdik," kata Julian dalam hati,
sambil memeriksa alat tersebut dengan dite-
rangi sinar bulan yang masuk lewat jendela
Kemudian ia memandang berkeliling ruangan.
Saat itu baru terdengar olehnya bunyi lain. Julian
tertegun
'Suara orang mendengkur/' pikirnya "Se-
baiknya aku tak mengacak-acak lagi di siniI Di
manakah orang-orang tidur? Sudah pasti tak
jauh dari sini."
la berjing’kat jingkat, pergi ke kamar berikut
lalu menjenguk ke dalam Tapi tak ada siapa-
siapa di situ. Dan dalam ruangan itu juga tak ter-
dengar lagi suara orang mendengkur
128
Julian bingung. Di dekat-dekat situ kelihatan-
nya tak ada kamar yang bisa dipakai untuk tidur.
a kembali ke ruangan yang kelihatannya me-
rupakan tempat kerja. Nah — sekarang ter-
dengar lagi suara orang mendengkur. Tapi betul-
kah yang didengarnya itu suara dengkuran? Ada
orang di dekat situ — tapi juga tak terlalu dekat.
sehingga bisa didengar dengan jelas atau dihhat
clehnya Aneh I
Sambil berjmgkat-jingkat Julian mengelilingi
ruangan itu. la hendak menyelidiki, di mana sua-
ra mendengkur terdengar paling jelas. Ya — de-
kat leman buku yang tinggmya mencapai langit-
langit kamar Di tempat itu ia paling jelas men-
dengarnya Mungkinkah ada ruangan lagi di balik
tembok kamar kerja itu? Julian memeriksanya ke
luar. Tapi ternyata di sebelah tidak ada kamar.
Yang ada cuma dinding gang yang panjang. la
merasa semakin aneh I
Julian masuk lagi ke kamar kerja, langsung
menuju lemari buku Nah — terdengar lagi sua-
ra orang mendengkur dengan jelas. Tapi di ma-
na?
Julian memeriksa lemari buku itu. Buku-buku
berjejer memenuhmya. Bermacam-macam buku,
campur-aduk Diambilnya beberapa jilid dan rak,
lalu diperiksanya dinding lemari sebelah bela-
kang. Ternyata terbuat dari papan yang tebal.
Dikembalikannya buku-buku itu ke tempat-
nya, lalu diperiksanya sekali lagi lemari buku Bi-
kinannya kokoh. Julian mengamat-amati jejeran
buku-buku yang disinari cahaya bulan yang ma-
129
suk lewat jendela. Buku-buku pada salah satu rak
nampaknya agak lain. Так begitu rapi susunan-
nya — dan juga tidak terlalu penuh berdesakan.
Apa sebabnya susunan buku-buku di rak yang
satu itu agak lain?
Dengan hati-hati Julian mengeluarkan buku-
buku dari rak itu Dinding di belakangnya juga
papan yang tebal. Julian meraba-raba papan din-
ding itu. Di satu pojok terasa olehnya ada se-
buah tombol. Tombol? Untuk apa tombol itu I
Dengan hati-hati diputarnya tombol itu. mula-
mula ke kiri lalu ke kanan. Tapi tak terjadi apa-
apa. Lalu ditekannya. Tetapi tak ada sesuatu
yang terjadi. Julian kemudian menariknya — dan
tombol itu tertarik, keluar sampai lima belas sen-
timeter!
Kemudian dinding lemari di tempat itu terge-
ser dengan pelan ke bawah. Di depan Julian
ternganga sebuah lubang! Lubang itu lebarnya
cukup untuk dilewati seseorang yang menyu-
sup. Julian menahan napas. Sehelai papan yang
bisa digeserl Ada apa di belakangnva?
Dari ruangan di balik dinding nampak cahaya
samar berkelip-kelip. Julian menunggu sesaat,
sampai matanya sudah agak biasa memandang
ke tempat gelap. Tubuhnya gemetar, karena me-
nahan ketegan'gan. Suara mendengkur tadi, kini
kedengaran sangat jelas. Julian merasa jika ia
mengulurkan tangan ke dalam lubang itu, pasti
akan tersentuh olehnya orang yang mendeng-
kur!
130
131
Lama-kelamaan ia bisa mengenal bentuk se-
buah ruangan sempit Dalam ruangan itu ada se-
buah tempat tidur kecil, sebuah meja dan se-
buah rak Di atas rak itu dilihatnya ada beberapa
benda. Di pojok menyala sebatang lilin. Sedang
yang terdengar dengkurannya. terkapar di tem-
pat tidur Julian tak bisa melihat tampangnya. la
cuma bisa mengenali bahwa orang itu berbadan
besar dan kekar.
"Penemuan luar biasal" pikir Julian kagum.
"Tempat persembunyian rahasia — untuk me-
nyembunyikan orang-orang yang uangnya cukup
banyak sehingga sanggup membayar ongkos pe-
nyembunyian. Orang itu sebenarnya harus
diingatkan agar jangan mendengkur. la ketahu-
an, karena salahnya sendin I"
Julian tak berani berdiri lama-lama di situ,
sambil memandang ke dalam ruangan tersem-
bunyi itu. Rupanya ruangan itu terdapat dalam
rongga antara dinding kamar kerja dengan din-
ding gang. Mungkin dibangun bersamaan
dengan gedung tua itu!
Julian meraba tombol, lalu ditekannya kem-
bali. Lembaran papan dinding belakang lemari
buku tergeser lagi ke atas. Sama sekali tak ke-
dengaran bunyinya Rupanya terawat dengan
baik!
Suara dengkuran tak begitu jelas lagi seka- •
rang. Julian mengembalikan buku-buku yang
menutupi papan tadi ke tempat semula. Mudah-
mudahan tak ada yang memperhatikan bahwa
buku-buku itu pernah dipindahkanl
132
Julian sangat bergairah perasaannya. Se-
tidak-tidaknya ia berhasil mengetahui salah satu
rahasia gedung tua yang bernama Owl's Dene
itu. Polisi pasti akan tertarik sekali jika men-
dengar' tentang rongga rahasia itu — apalagi
mendengar tentang orang yang bersembunyi di
dalamnyal
Yang paling penting sekarang ia berusaha me-
larikan diri, bersama teman-teman. Bagaimana
jika mereka minggat saja tanpa Dick? Tidakl Jika
orang-orang itu mencurigainya — jika mereka
sampai mengetahui bahwa ia menemukan rong-
ga tersembunyi itu misalnya — maka mungkin
mereka akan mencelakakan Dick Dengan rasa
menyesal, Julian terpaksa mengambil keputus-
an bahwa ia tak bisa melarikan diri — kecuali jika
yang Iain-Iain juga bisa ikut lari. Termasuk Dickl
Julian menghentikan penyelidikannya. Tiba-ti-
ba ia merasa sangat capek. la berjingkat-jingkat
naik ke atas. la merasa perlu berbaring dan berpi-
kir-pikir dulu. la tak mampu lagi melakukan kesi-
bukan lainnya, karena sudah terlalu capek.
Julian pergi ke kamar tidur Anak kunci masih
terselip dalam lubang sebelah luar. la masuk ke
kamar, lalu menutup pintu. Kalau Pak Perton da-
tang besok akan dilihatnya pintu tak terkunci.
Tapi mungkin saja ia akan mengira lupa mengun-
ci pintu Julian berbaring di kasur, di sampmg
Richard. Anak-anak semua tidur nyenyak.
Sebenarnya Julian masih bermaksud hendak
merenungkan persoalan-persoalan yang diha-
dapi. Tapi baru saja matanya terpejam, ia lang-
133
sung terlelap. Tidak didengarnya Timmy melo-
long lagi di luar. la juga tak mendengar bunyi
burung hantu, menyebabkan malam di atas bukit
terasa seram. Julian tidak melihat bulan menghi-
lang lagi dan langit.
Yang membangunkan anak-anak keesokan pa-
ginya bukan Pak Perton tapi perempuan juru
masak di situ, la masuk ke kamar sambil berse-
ru.
"Ayo, ke bawah — jika ingin sarapanl"
Anak-anak terbangun lalu langsung duduk
Sekejap mereka tak tahu di mana saat itu se-
dang berada.
"He!" kata Julian, sambil mengejap-ngejap-
kan mata yang masih mengantuk. "Sarapan, ka-
ta Anda? Tentu saja kami mau! Di sini ada tern
pat di mana kami bisa mandi?"
"Kalian bisa cuci muka di dapur,” kata pe-
rempuan itu dengan masam. "Aku tak mau
membersihkan kamar mandi setelah kalian
memakainyal"
"Pintu jangan dikunci, supaya kami bisa ke
luar!" kata Julian pura-pura tak tahu Kemarin
malam dikunci oleh Pak Perton!"
"Ya. katanya ia memang mengunci pintu," ja-
wab perempuan itu. "Tapi kenyataannya tidak!
Pintu ini tak terkunci ketika kubuka tadi! Nah —
kalian tak menyangkanya, bukan? Jika kalian ta
hu, pasti sudah keluyuran ke mana-mana I"
"Kalau tahu — memang," kata Julian, sambil
mengedipkan mata ke arah teman-temannya
Anak-anak itu tahu. Julian berniat mencari Dick
134
tadi malam, lalu memeriksa-meriksa Tapi me-
reka tak tahu apa saja yang ditemukan oleh
Julian, la tak sampai hati membangunkan me-
reka kemarin malam.
"Tapi jangan lama-lama," kata perempuan itu.
la pergi lagi, sedang pintu dibiarkannya terbuka.
"Mudah-mudahan ia sudah mengantarkan sa-
rapan untuk Dick," kata Julian dengan suara pe-
lan. Seketika itu juga anak-anak mengerubungi-
nya.
"Kau berhasil menemukan Dick tadi malam,
Ju?" bisik Anne. Julian mengangguk. Dengan
berbisik-bisik, ia cepat-cepat menceritakan peng-
alamannya kemarin malam
"Aduh — hebat," kata George. "Siapa yang
akan menyangka di sini ada orang bersem-
bunyi?"
"O ya — aku juga berhasil menemukan per-
alatan mesin pembuka pintu gerbang," kata
Julian. "Alat itu juga terdapat dalam kamar ker-
a Tapi ayolah — jika kita tidak segera turun ke
dapur. nanti disusul lagi oleh perempuan tadi.
Moga-moga si Bongkok tak ada di sana — aku
так suka pada orang itu."
Tapi orang yang tak disukai Julian itu ada di
apur la sudah hampir selesai sarapan, mengha-
dapi sebuah meja kecil. Orang itu memandang
anak-anak yang masuk dengan muka masam
Tapi mereka tak mengacuhkannya.
"Lama sekali kalian baru turun." kata pe-
empuan itu sambil menggerutu. "Kalian bisa
mencuci muka di bak cuci piring — dan aku juga
135
sudah menyediakan handuk. Kalian kelihatan-
nya kotor-kotor semua.'
"Memang,'' jawab Julian dengan seenaknya.
"Kami kemarin malam sebenarnya ingin mandi
— tapi Anda tahu sendiri, kami tak bisa dibilang
mendapat sambutan ramah."
Selesai mencuci muka, mereka pergi ke se-
buah meja besar tanpa taplak. Di situ sudah dise-
diakan roti, mentega, beberapa butir telur rebus
serta seteko coklat panas. Anak-anak duduk, lalu
mulai sarapan. Sambil makan Julian mengobrol
dengan riang. la mengedipkan mata pada anak-
anak, agar mereka juga berbuat begitu. la tak
mau si Bongkok mendapat kesan bahwa mereka
takut atau khawatir.
"Diam!" bentak si Bongkok dengan tiba-tiba
Tapi Julian tak mengacuhkannya la berbicara te-
rus didukung dengan berani oleh George. Tapi
Anne dan Richard ngeri, setelah mendengar ben-
takan si Bongkok
Kalian tak mendengar kataku tadi?” teriak si
Bongkok dengan tiba-tiba la meninggalkan meja
kecil tempatnya sarapan tadi. "Semua tutup mu-
lut! Seenaknya saja masuk dan ribut-ribut di da-
purkul Ayo diaml"
Julian berdin dari kursinya.
"Так peduli kau siapa, aku tak mau kauperin-
tah," kata Julian. Caranya bicara persis orang de-
wasa. "Kau sendiri yang tutup mulut — jika tak
bisa bersikap sopanl"
136
' Aduh, jangan begitu kalau bicara dengan-
nya," kata perempuan juru masak dengan cemas.
"la cepat marah — nanti kau dipukulnyal"
"Atau aku yang memukulnya — tapi aku tak
pernah memukul orang yang lebih kecil," tukas
Julian
Untung saja saat itu Pak Perton masuk ke da-
pur. Kalau tidak, entah apa yang akan terjadi!
Pak Perton bergegas masuk sambil memandang
berkeliling dengan mata terbelalak. Seakan-akan
merasa bahwa baru saja terjadi pertengkaran di
situ
"Kau tidak bisa menahan diri lagi, Bongkok?"
katanya. Tunggu saja sampai kuperlukan
Mungkin hari ini — jika anak-anak ini tak mau di-
aturl" ia memandang berkeliling lagi dengan ge-
ram. Setelah itu dipandangnya juru masak.
"Так lama lagi Rooky akan datang," katanya.
Bersama beberapa orang lagi. Sediakan makan-
an untuk mereka — tapi yang enakl Dan anak-
anak ini harus tetap di sini, Bongkok. Awasi me-
reka baik-baik. Mungkin nanti kuperlukanl"
Setelah itu Pak Perton keluar, meninggalkan
juru masak yang berdiri sambil gemetar.
"Rooky datang," katanya setengah berbisik
pada si Bongkok.
"Teruskan kerjamu," bentak si Bongkok pada-
nya. "Ambil sendiri sayuran. Aku harus meng-
awasi anak-anak ini!"
Perempuan itu bergegas-gegas. Anne merasa
kasihan padanya, lalu datang menghampiri.
13?
"Bagaimana jika kutolong membereskan meja
dan mencuci piring?" kata Anne menawarkan
bantuan. "Anda pasti sibuk sekali — sedang aku
tak ada pekerjaan."
"Kami semua ikut membantu," kata Julian.
Perempuan itu memandang dengan heran, dan
juga nampak berterima kasih. Nampak jelas bah-
wa ia tak biasa diperlakukan dengan sopan apa-
lagi ditolongI
"Uahh!" ejek si Bongkok. "Kalau aku — tak-
kan bisa tertipu dengan mulut manisl"
Anak-anak tak mengacuhkannya. Mereka
membereskan meja, dan Anne serta George
mulai mencuci piring
"UahhI" kata si Bongkok lagi dengan kesal.
"Kau sendiri yang uahhI" kata Julian seenak-
nya Anak-anak tertawa, sedang si Bongkok
mengerutkan alis Nyaris lenyap matanya di balik
kerut!
138
BAB 14
Rooky Marah
Sekitar satu jam kemudian terdengar bunyi
aneh. Menggeretak dan berkeresek — setelah itu
berganti menjadi bunyi mendenging Richard,
Anne dan George kaget. Tapi Julian tahu, dan
mana datangnya bunyi itu
"Pintu gerbang dibuka,” katanya menjelas
kan. Anak-anak teringat pada cerita Julian tadi,
mengenai mesin yang membuka pintu gerbang
secara otomatis.
"Dari mana kau tahu?" tanya si Bongkok
dengan segera. la kaget, dan juga curiga.
"Ah — aku memang pintar menebak," kata
Julian seenaknya. "Katakan jika aku kehru —
tapi menurut perasaanku pintu gerbang dibuka,
karena Rooky datang!"
"Kau pintar sekali! Awas, jangan sampai kau
sendiri tertipu olehmu.” kata si Bongkok men-
cemooh sambil pergi ke pintu.
"Memang — ibuku juga mengatakan begitu
ketika aku berumur dua tahun," kata Julian.
Anak-anak cekikikan. Julian memang selalu bisa
139
menjawab dengan tepat, jika dicemoohkan
orang.
Mereka semua pergi ke jendela George lang-
sung membukanya. Timmy duduk di luar. di
bawah jendela itu. George sudah meminta-min-
ta pada juru masak agar Timmy diperbolehkan
masuk. Tapi perempuan itu tidak mau. la melem-
parkan beberapa potong makanan untuk Timmy
dan dikatakannya bahwa di luar ada kolam yang
airnya bisa diminum Tapi ia tak mau mengijin-
kan Timmy masuk ke dalam rumah
"Timmy," panggil George, ketika mendengar
bunyi mobil datang. "Jangan pergi, Timmy! Ting-
gal di sini!"
George takut kalau Timmy lari ke depan dan
langsung menyerang orang yang turun dari mo
bl Timmy memandang tuannya dengan heran.
Anjing itu bingung. Apa sebabnya ia tidak diper-
bolehkan masuk ke rumah bersama George? la
tahu ada orang yang tidak senang jika anjing
masuk ke rumah — tapi biasanya George tak
pernah masuk ke rumah orang yang begitu. Tim-
my juga bingung, apa sebabnya George tak ke-
luar menemaninya Tapi setidak-tidaknya Geor-
ge kini nampak berdiri di depan jendela.
Ayo tutup jendela itu," kata si Bongkok. la se-
nang sekali melihat George kecewa. karena
harus berpisah dan anjing kesayangannya itu
Itu dia mobilnya datang." kata Julian. Anak-
anak memandang ke jalan masuk dan setelah itu
berpandang-pandangan sesama mereka KMF
102. Tentu saja I
Mobil Bentley yang berwarna hitam itu lewat
di depan jendela dapur, menuju halaman depan.
Nampak tiga orang laki-laki keluar dari mobil itu.
Seketika itu juga muka Richard menjadi pucat. la
merunduk.
Julian menoleh padanya dengan alis terang-
kat Tanpa kata-kata ia bertanya pada Richard
apakah satu dan ketiga orang itu Rooky. Richard
mengangguk dengan lesu. la sekarang nampak
sangat ketakutan.
141
140
Sekarang terdengar lagi bunyi mendenging
dan menggeresek Pintu gerbang tertutup kem-
bali Terdengar suara orang-orang berbicara da-
lam serambi depan. Kemudian orang-orang itu
memasuki salah satu kamar, disusul suara pintu
ditutup.
Julian bermaksud hendak menyelinap ke luar
tanpa ketahuan, untuk melihat keadaan Dick di
atas. la beringsut-ingsut mendekati pintu Dikira-
nya si Bongkok terlalu sibuk menggosok sejejer
sepatu kotor Tapi seketika itu juga terdengar
suaranya yang kasar seperti parut.
He mau ke mana? Kalau kau tak mau me
nurut perintah, kulaporkan nanti pada Pak Per-
ton! Menyesal kau nantil"
"Banyak orang di rumah ini yang tak lama
kemud an akan merasa menyesal " kata Julian
dengan suara yang sengaja dibikin-bikin riang
Hati-hati saja, Bongkok!"
Tiba tiba si Bongkok naik darah. Dilempar
kannya sikat sepatu yang sedang dipegangnya ke
arah Julian, Julian menangkap dengan cekatan.
lalu melontarkan sikat itu ke atas sebuah rak
yang tinggi di atas perapian
"Ter ma kasih kata Julian Mau melempar
lagi7"
Aduh, jangan," kata juru masak meminta
minta. Kau tak tahu adatnya apabila sudah
benar-benar marah Jangan!"
Saat itu terdengar pintu dibuka Rupanya pintu
kamar yang tadi dimasuki kawan-kawan Pak Per
142
ton Kemudian terdengar langkah seseorang me-
naiki tangga.
"Pasti menjemput Dick," pikir Julian dengan
segera. la berdiri sambil mendengarkan baik-
baik.
Si Bongkok mengambil sebuah sikat sepatu
lagi lalu meneruskan pekerjaannya yang ter-
ganggu oleh Julian, la menggosok sepatu sambil
mengomel-ngomel. Juru masak mulai sibuk me-
nyiapkan makanan. Anak-anak ikut mendengar-
kan. Mereka juga menarik kesimpulan. orang
yang ke atas itu pasti hendak menjemput Dick.
Hendak dibawa ke depan Rooky.
Kemudian terdengar lagi langkah-langkah kaki
di tangga. Kini langkah dua orang yang beriring-
an. Ya — Dick ikut turun, karena kedengaran
suaranya dengan jelas.
Lepaskan lenganku! Aku bisa jalan sendiri —
tak perlu diseretl" Terdengar suaranya yang
marah-marah Dick takkan mau diseret-seret tan-
pa melawan.
la dibawa ke kamar, di mana sudah menung-
gu tiga orang lagi. Kemudian terdengar suara
seseorang yang berseru dengan keras.
' Bukan ini anaknya! Tololl — Kalian keliru
menculik!"
Si Bongkok dan juru masak juga mendengar
kata kata itu Mereka berpandang-pandangan
sambil melongo Ternyata ada sesuatu yang ke-
liru! Keduanya pergi ke pintu, lalu berdiri di situ
tanpa berkata-kata. Anak-anak juga berdiri, tak
jauh di belakang mereka Dengan sembunyi-
143
sembunyi Julian mendorong Richard, sehingga
keduanya agak menjauh dan pintu.
"Gosokkan angus ke rambutmu," bisik Julian.
Rambutmu harus menjadi sehitam mungkin, Ri-
chard Jika orang-orang itu ke man untuk me-
nengok kita, rasanya mereka takkan mengenali
dinmu dengan mudah jika rambutmu hitam Ayo
cepatl — Sementara kedua orang itu sedang
lengah!"
Sambil berbisik-bisik, Julian menunjuk ke se-
belah dalam perapian Tempat di situ hitam kare-
na angus. Richard menyodorkan tangannya yang
gemetar ke situ, lalu menggosok-gosokkannya
sampai hitam Setelah itu diusap-usapkannya
tangan itu ke rambutnya yang pirang."
"Tambah lagi," bisik Julian. "Lebih banyak la-
gi I Ayo cepatl Aku berdiri di depanmu, supaya
tak kelihatan apa yang sedang kaulakukan itu."
Richard mengusap-usapkan angus ke rambut-
nya Julian mengangguk. Ya — sekarang kelihat-
an sudah cukup hitam. Tampang Richard men-
jadi lain sekarang Dalam hati Julian berharap
agar Anne dan George tidak berteriak nanti, kare-
na kaget melihat rambut Richard dengan tiba- *
tiba sudah berubah warna.
Di kamar dekat serambi depan itu kedengar-
annya sedang berlangsung pertengkaran. Orang-
orang yang ada di situ berbicara dengan suara
keras Tapi anak-anak yang berada dekat pintu
dapur, tak dapat menangkap jelas kata-kata me-
reka. Kemudian terdengar suara Dick. Kede-
ngarannya jelas sekali
144
"Kan sudah kukatakan dari semula, kalian ke-
hru! Sekarang bebaskan aku!"
Tiba-tiba si Bongkok mendorong anak-anak,
supaya menjauh dari pintu. Richard tak perlu lagi
didorong, karena anak itu sudah dengan sendiri-
nya meringkuk di pojok yang gelap. la gemetar
letakutan.
"Mereka ke mari." desis si Bongkok. "Ayo per-
gi dari pintu!"
Anak-anak menurut. Si Bongkok mengambil
sikat sepatunya lagi dan meneruskan pekerjaan-
nya Juru masak melanjutkan kesibukan mengu-
pas kentang, sedang anak-anak pura-pura asyik
membaca majalah tua yang mereka temukan di
situ.
Terdengar langkah-langkah mendekati pintu
dapur. Sesaat kemudian pintu itu dibuka dengan
•asar dari luar Pak Perton tegak di ambang pin-
iu. Seorang laki-laki berdiri di belakangnya.
Dengan segera anak-anak tahu siapa orang itu.
Mereka tak perlu menebak lagi!
Bibir tebal, hidung yang besar sekali — ya, itu-
ah orang yang bernama Rooky! Penjahat yang
lulu bekerja sebagai pengawal ayah Richard.
Orang itulah yang benci pada Richard, karena
anak itu yang mengadukannya sehingga ia dipe-
cat
Richard gemetar ketakutan di pojok dapur,
:*<rsembunyi di belakang teman-temannya Anne
Jan George tercengang sejenak ketika melihat
ambutnya yang sudah berubah warna. Tapi ke-
145
duanya diam saja. Sedang si Bongkok serta juru
masak nampaknya' tak melihat perubahan yang
terjadi pada tampang Richard.
Dick ikut dengan kedua laki-laki itu. la melam-
baikan tangan, menyapa anak-anak. Julian ter-
tawa geli. Dick selalu ada-ada saja!
Rooky memandang keempat anak itu Perha
tiannya terarah sejenak pada Richard. Tapi cuma
sejenak saja. Rooky tak mengenah Richard I
"Nah, Pak Perton." kata Julian "Kulihat Anda
sudah menjemput adikku dari kamar tempat dia
terkurung tadi malam. Syukurlahl Kurasa hal itu
berarti ia bisa ikut dengan kami sekarang. Aku
benar-benar tak mengerti, apa sebabnya Anda
mengurungnya di sini setelah menangkapnya
kemarin sorel"
' Begini soalnya," kata Pak Perton. Nada sua
ranya berlainan sekali dari sebelumnya. "Ternya
ta kami keliru! Kalian tak perlu tahu apa dan
bagaimana kekeliruan kami itu — karena bukan
urusan kalian. Pokoknya, dia ini bukan anak laki-
laki yang kami cari."
"Kami kan sudah mengatakan Dick saudara
kami," kata Anne.
' Betul," jawab Pak Perton dengan sopan
"Maaf, bahwa aku tak mau langsung percaya
Kan bisa saja terjadi kekeliruan. Sekarang — aku
ingin memberi hadiah sebagai imbalan atas pen-
deritaan kalian Ini — uang sepuluh pound, untuk
kalian belikan eskrim dan entah apa saja lagi
Kalian sekarang bebas."
146
Dan jangan coba coba mendongeng pada
orang la n kata Rooky dengan t ba tiba Nada
suaranya mengancam Ingatl Kam memang ke-
ru — tap kami tak senang jika soal ini diketahui
orang lain. Kalau kalian berani mengoceh juga
kami akan mengatakan bahwa anak itu kam te
mukan tersesat dalam hutan. Karena merasa ka
, han padanya lantas kami ajak menginap se
malam d sini. Sedang kalian tertangkap ketika
memasuki pekarangan tanpa ijm Nah
mengerti7"
Aku mengerti ' jawab Julian dengan ketus
Bagaimana — kami sudah b sa pergi se
• ang7
"Ya,'' kata Pak Perton. la merogoh kantong,
mengambil uang Anak anak d berinya masing-
masing dua p >und Mereka met rik Jul an karena
ak tahu apakah pemberian itu bisa diter ma Так
ada yang mau menerima uang dari Pak Perton.
Tap jika Julian menerima, mereka tahu bahwa
mereka juga harus mener manya
Julian menerima uang pound dua lembar yang
sodorkannya lalu langsung memasukkannya
*e dalam kantong tanpa mengucapkan ter ma
*asih. Karena itu yang lam-lain juga menerima
Richard selama itu menunduk terus. Hatinya
g d g dug karena ngeri ketahuan oleh Rooky
•a be doa dalam hati, mudah-mudahan tak keli-
atan bahwa lututnya gemetar.
Seka ang cepat pergi,’ bentak Rooky setelah
..ang sepuluh pound itu selesai d bag bagikan
147
"Lupakan kejadian tadi malam — kalau tidak
kalian menyesal sendiri nanti."
Sambil bicara, dibukanya pintu yang mem-
buka ke kebun. Anak-anak keluar bergerombol.
tanpa mengatakan apa-apa Richard menyelinap
di tengah-tengah. Di luar, Timmy sudah menung-
gu mereka. Anjing itu menggonggong dengan
gembira, lalu mendekati George minta disayang.
Kemudian ia memandang ke arah pintu dapur,
sambil menggeram. Seakan-akan hendak
mengatakan, "Ada yang perlu ^userang di sa-
na?"
Jangan," larang George "Kau harus ikut
dengan kami," Tim. Kita harus pergi secepat
mungkin!"
"Kemarikan uang tadi! Cepat<" kata Julian
dengan suara pelan, ketika mereka sudah tak
terlihat lagi dari jendela dapur Anak anak me
nyerahkan uang mereka dengan perasaan heran
Hendak diapakan oleh Julian uang itu?
Juru masak melangkah ke luar, memperha-
tikan mereka pergi. Julian menggamitnya
Perempuan itu datang dengan agak ragu.
"Ini, untuk Anda," kata Julian sambil menye-
rahkan uang yang sepuluh lembar itu padanya
Kami tak ingin memiliki uang ini."
Perempuan itu menatapnya dengan terce
ngang. Matanya berkaca-kaca.
"Aduh — banyak sekali uang ini — jangan, ini
terlalu banyak. Tapi kalian benar-benar baik bu-
di."
148
I Julian berpaling, meninggalkan juru masak
9 yang tercengang campur gembira itu. la ber-
9 gegas menyusul anak-anak yang sudah agak
jauh.
1 "Bagus sekali idemu itu," kata Anne senang
9 Yang lain-lam juga sependapat dengannya Se-
9 mua merasa kasihan pada perempuan yang ma-
lang itu.
I "Ayo," kata Julian. "Jangan sampai kita ter-
9 lambat keluar! Dengarlah — itu bunyi mesin
9 yang menggerakkan pintu gerbang Rupanya ada
9 orang di rumah yang menggerakkannya Kita be-
9 bas sekarangl Syukurlahl Dan Richard juga be-
9 bas. Kita benar-benar bernasib mujurl"
I "Ya! Aku tadi sudah ngeri, jangan-jangan Roo-
9 ky bisa mengenali walau rambutku sudah men-
jadi hitam kena angus," kata Richard la kelihat-
annya sudah lebih nang sekarang. "Nah, gerbang
sudah nampak di depan kita — dan pintu-pintu-
9 nya terbuka lebarl Kita bebas."
’Kita ambil dulu sepeda," kata Julian. "Aku
9 masih ingat di mana kita menyembunyikannya
«emarin malam Richard, kau membonceng aku
saja. karena kita kekurangan satu sepeda Dick
iaik sepedanya sendiri. Nah — ini dia sepeda-
»epeda kita!"
9 Mereka meloncat ke atas sadel sepeda ma-
9 *ng-masmg lalu mengayuhnya ke arah gerbang
"ba-tiba Anne menjerit.
9 I "Aduh. Julian! Lihatlah — pintu gerbang
^enutup lagi. Cepat, cepat — nanti kita ter-
I rung lagi di sinil"
I 149
Anak-anak memandang dengan kaget dan ke-
takutan. Pintu-pintu gerbang yang berat menu-
tup dengan pelan. Anak-anak mengayuh sepeda
sekuat tenaga — tapi sia-sia! Sesampai mereka
di gerbang pintu-pintu sudah tertutup Tapat. Так
ada gunanya menggoncang-goncang, karena te-
tap tak bisa terbuka lagi. Padahal mereka sudah
nyaris bebas!
150
15
EREKA menjatuhkan diri ke atas rumput di tepi
Ian masuk. Lesu sekali rasanya saat itu I
"Padahal sudah nyaris keluar," kata Dick. "Ke-
ipa mereka menutup pintu gerbang secepat
j? Mungkinkah karena keliru? Maksudku —
ungkin saja mereka mengira kita sudah keluar
bih dulul"
"Kalau memang keliru, bisa dibereskan
lengan mudah," kata Julian. "Aku pergi saja lagi
e rumah itu untuk mengatakan bahwa pintu
i-ecbang terlalu cepat mereka tutup lagi."
Ya — pergilah membentahukan pada mere-
a kata George. "Kami menunggu di sini"
Tapi sebelum Julian sempat meloncat ke atas
adel. terdengar bunyi mobil datang. Anak-anak
-rlompatan bangkit. sedang Richard lari ke-
»kutan. la bersembunyi di belakang semak.
arena takut berhadapan lagi dengan Rooky.
Mobil yang datang itu berhenti dekat anak-
I ak
151
"Ya, mereka masih ada di sini." Terdengar
suara Pak Perton, dan saat berikutnya orang itu
turun dari mobil. Rooky juga ikut keluar, dan ke-
duanya lantas menghampiri anak-anak.
Rooky memandang mereka. lalu bertanya
dengan buru-buru,
"Mana anak laki-laki yang satu lagi?"
"Aku juga tak tahu,” jawab Julian tenang
"Mungkin sudah sempat keluar tadil Apa sebab-
nya pintu gerbang cepat-cepat ditutup lagi, Pak
Perton?"
Sementara itu Rooky sudah melihat Richard
yang bersembunyi ketakutan di belakang semak
Dengan cepat la pergi ke tempat itu, lalu menarik
Richard ke luar. Ditatapnya muka anak itu
dengan saksama, lalu diseretnya ke tempat Рак
Perton.
"Ya — seperti sudah kusangka tadi. mila
anak laki-laki yang kita cari. Rambutnya dihitam
kan! Karena itulah aku tadi tidak mengenaliny»
dengan segera Tapi kemudian kurasa aku perna
melihatnya — dan karena itulah aku ingin meng
amatinya sekali lagi." Richard digoncang-gorr
cangnya dengan keras, seperti yang dilakuka.
oleh anjing dengan tikus yang ditangkapnya
"Nah — sekarang bagaimana?" kata Pak Pe
ton. la kedengarannya tidak begitu gembira.
"Tentu saja anak ini kita tahan di sini," ka-i
Rooky. "Sekarang aku bisa membalas denda
terhadap ayahnyal Akan kuminta pembayarr
uang tebusan yang banyak sekali untuk anakn. I
yang menyebalkan ini I Kan ada gunanya bagi ь-
ta. Dan aku bisa membalas pada anak ini, karena
dulu sering mengadukan diriku pada ayahnya.
Dasar anak jahatl"
Richard digoncang-goncangnya lagi. Julian
marah sekali melihat perbuatan itu. la melang-
kah maju!
"Lepaskan anak itu!" tukasnya geram. "Ma-
sih belum cukupkah kejahatanmu — menahan
adikku tanpa alasan — mengurung kami se-
malaman! Dan kini berniat mau menculik lagi»
Bukankah kau baru saja keluar dari penjara? Ke-
pingin masuk lagi ya?!"
Rooky melepaskan Richard, lalu menubruk
Julian. Tapi secepat kilat Timmy menyambar
tangan Rooky dan langsung menggigitnya. Roo-
ky menjerit karena marah dan kesakitan, sambil
memegang tangannya yang kena gigitan.
"Suruh anjingmu mundur!" teriaknya pada
Julian.
"Dia akan kusuruh mundur — jika kau ber-
sikap normal," kata Julian yang masih pucat past
karena marah. "Bebaskan kami semua — saat ini
juga Buka lagi pintu gerbangI"
Timmy menggeram-geram menakutkan. Roo-
ky dan Pak Perton buru-buru mundur karena
merasa ngeri. Rooky mengambil batu besar, dan
hendak melemparkannya ke arah Timmy.
"Jika kau berani melempar, akan kusuruh an-
nngku menyerang lagil" seru George ketakutan.
Pak Perton menepiskan batu yang digenggam
Rooky
152
153
"Jangan sembrono," kata Pak Perton. "Akan
habis kita diserang anjing besar itu! Lihat saja gi-
ginya yang besar-besarl Sudahlah — lepaskan
anak-anak ituI”
"Tidak," tukas Rooky dengan sengit, sambil
mengurut-urut tangannya. "Mereka harus tetap
terkurung di sini, sampai rencana kita sudah ter-
laksanal Kan sebentar lagi sudah selesai. Dan si
kunyuk ini kemudian akan kubawa pergi I Hah I
Biar tahu rasa dia — begitu pula ayahnyal"
Timmy menggeram lagi. George mulai kewa-
lahan menahannya Richard gemetar mendengar
ancaman-ancaman Rooky terhadap dirinya. Air
matanya bercucuran.
"Ya — sekarang menangislah sepuas-puas-
nya," kata Rooky sambil menatap Richard
dengan pandangan bench "Tunggu saja nantil
Anak pengecut — tak berani apa-apa I Bisanya
cuma mengadu, berbuat konyol begitu ada ke-
sempatan!"
"Lebih baik kau ke rumah saja sekarang. Roo-
ky," kata Pak Perton. "Rawat dulu tanganmu
yang berdarah ituI Cuci dan bubuhi obat di atas-
nya — kau kan tahu gigitan anjing bisa ber-
bahaya! Pergilah — nanti saja kaubereskan urus-
an anak-anak inil"
Rooky menurut, ketika diajak kembali ke mo-
bil. Diacung-acungkannya kepalan tinjunya yang
tidak Iuka ke arah anak-anak yang memandang
sambil membisu.
"Anak-anak iseng! Dasar ..."
154
Tapi mesin mobil sudah dihidupkan, sehingga
kata-katanya yang ramah' itu sisanya lenyap di-
telan bunyi menderu Pak Perton memundurkan
mobil sedikit, membelokkannya lalu melaju ke
arah Owl's Dene lagi. Kelima remaja itu terduduk
di rumput. Richard mulai menangis tersedu-
sedan.
"Ayo diam!" bentak George padanya. "Rooky
memang benar tadi! Kau ini anak penakut. sama
sekali tak punya ketabahan. Anne saja lebih ta-
bah dari kamu! Aku menyesal bertemu dengan-
mu!"
Richard mengusap-usap matanya yang basah
karena air mata. Karena tangannya kotor kena
angus, dengan segera mukanya coreng-moreng
Tampangnya saat itu benar-benar menyedih-
kanl
"Maafkanlah aku," katanya terisak-isak. "Aku
tahu kalian tak mau percaya padaku. Aku me-
mang penakut! Sifatku memang begitu!"
"Ah! O.mong kosong!" tukas Julian "Так ada
orang yang dilahirkan penakut. Rasa takut cuma
timbul. jika yang dipikirkan cuma diri sendiri saja!
Так mau mengingat kepentingan orang lain. Si
Anne yang kecil ini saja — ia lebih cemas
mengenai keselamatan kita semua, daripada
mengingat keselamatan diri sendiri saja! Itu yang
menyebabkan ia bisa tabah! Anne tak mungkin
bisa menjadi penakut!"
Baru saat itu Richard mendengar jalan pikiran
yang begitu. Dipaksanya dirinya untuk berhenti
menangis.
155
"Akan kucoba bersikap seperti kalian," kata-
nya menggumam "Kalian baik hati semuanyal
Selama ini belum pernah aku punya teman se-
perti kalian. Aku takkan mengecewakan kalian
lagi. Sungguh!"
"Kita lihat saja nanti," kata Julian agak sang-
si. "Akan menyenangkan sekali jika kau tiba-tiba
ternyata bisa bertindak sebagai pahlawanl Tapi
sementara ini, jika kau bisa berhenti menangis
saja — sudah lumayan! Kita perlu berunding se-
dikit."
Richard berhenti menangis. Mukanya coreng-
moreng, karena angus tercampur air mata. Julian
berpaling, lalu berbicara pada saudara-saudara-
nya.
"Benar-benar menjengkelkanl" katanya. "Pa-
dahal nyaris saja kita berhasil keluar tadiI Kurasa
kmi kita akan dikurung dalam sebuah ruangan
dan akan tetap ditahan di situ, sampai 'bisnis'
mereka selesai. Kurasa 'bisnis' itu ialah me-
nyelundupkan orang yang bersembunyi dalam
kamar rahasia itu ke tempat aman."
"Tidakkah orang tua Richard melaporkan kehi-
langannya pada polisi?" tanya George sambil
mengelus-elus Timmy.
"Ya, tentu sajal Tapi apa gunanya? Polisi tak-
kan tahu di mana dia," kata Julian. "Begitu pula
tak ada yang tahu di mana kita! Sedang Bibi Fan-
ny pasti tak merasa cemas, karena menyangka
bahwa saat ini kita sedang melancong naik sepe-
da. Bukankah kita sudah mengatakan takkan bisa
mengirim surat padanya."
"Menurut perasaanmu. orang-orang itu nanti
akan benar-benar membawaku jika mereka pergi
dari sinP" tanya Richard.
"Yah, kita harus berusaha melarikan diri se-
belumnya," kata Julian, la segan mengatakan
keyakinannya, bahwa Richard pasti akan dibawa
pergi oleh orang-orang itu!
"Tapi bagaimana kita bisa melarikan diri?" ta-
nya Anne. "Tembok tinggi itu sudah pasti takkan
mungkin bisa kita panjat. Dan kurasa takkan ada
orang datang ke mari — ke puncak bukit yang
sunyi ini. Takkan ada pedagang yang mampir!"
Bagaimana dengan tukang pos?" kata Anne
"Kurasa mereka sendiri yang menjemput su-
rat-surat ke kantor pos," tebak Julian "Mereka
pasti mengatur sedemikian rupa, sehingga tak
ada orang yang perlu datang ke man Atau —
mungkin juga di sebelah luar tonggak gerbang
ada kotak surat. Так terpikir olehku kemung-
kinan itu!"
Mereka bergegas-gegas pergi ke tonggak ger-
bang. Tapi walau mereka sudah memanjang-
manjangkan leher tetap tak kelihatan ada kotak
pos di sebelah luar. Karenanya lenyap lagi harap-
an tipis mereka, akan bisa menyongsong tukang
pos yang datang dan menyampaikan pesan lewat
orang itu.
"He! Perempuan yang jadi juru masak datang!
Siapa namanya — ah, ya — Aggie," kata Geor-
ge pada saat itu. Timmy menggeram-geram.
Anak-anak menoleh ke arah tatapan George. Be-
nar — mereka mehhat perempuan yang ber-
157
156
nama Aggie datang bergegas-gegas ke arah
mereka. Mungkinkah Aggie mau pergi? Dan akan
terbukakah pintu gerbang untuk memberi kesem-
patan lewat padanya?
Tapi harapan itu lenyap ketika Aggie sudah de-
kat.
"Ah! Di sini kalian rupanya/' katanya. ''Ada
pesan untuk kalian. Kalian bisa memilih dua ke-
mungkinan: tinggal di luar sepanjang hari dan
tidak bisa masuk ke rumah — atau masuk. lalu
dikurung dalam kamar!"
Aggie celingukan sesaat, lalu merendahkan
"Aku ikut menyesal. melihat kalian tak ber-
hasil melarikan din Aku sungguh-sungguh sedihl
Perempuan tua seperti aku saja sudah cukup
tidak enak terkurung di sini bersama si Bong-
kok — apalagi kalian! Padahal kalian semua
anak baik-baik!"
"Terima kasih," kata Julian membalas pujian
itu. "Nah. karena kami semua anak-anak baik —
tolong katakan, adakah jalan lain untuk keluar
dari sini — kecuali lewat pintu gerbang?"
158
"Tidak! Sama sekali tak ada jalan lain," kata
Aggie. "Tempat ini begitu pintu gerbang sudah
ditutup. sama saja seperti penjara. Так ada yang
boleh keluar-masuk tanpa ijin Pak Perton dan
kawan-kawannya. Jadi percuma saja mencoba
melarikan diri."
Anak-anak terdiam semua Aggie menoleh lagi
ke belakang Seolah-olah takut ada orang yang
menguping — mungkin si Bongkok. Setelah itu
ia bicara lagi. dengan suara yang lebih pelan dari
tadi
"Pak Perton tadi menyuruhku agar jangan ter-
lampau banyak memberi makan pada kalian, la
juga memerintahkan si Bongkok agar memasuk-
kan racun ke dalam makanan anjing kalian. Jadi
jangan perbolehkan anjing kalian memakan ma-
kanan lain, kecuali makanan yang kusediakan
sendiri untuk kalian."
"Aduh, jahatnya!" seru George kaget. Dipeluk-
nya Timmy erat-erat. "Kau dengar itu, Tim?
Sayang Pak Perton tidak ikut kaugigit tadiI"
"Ssst!" desis Aggie ketakutan. "Sebetulnya
aku tak boleh menceritakannya pada kalian —
tapi kalian begitu ramah padaku, dan memberi
uang yang sedemikian banyaknya padaku. Kalian
benar-benar baik budil Sekarang dengarkan
baik-baik! Sebaiknya kalian memilih tinggal di
luar saja — karena jika terkurung dalam kamar,
aku tak berani mengantarkan makanan banyak-
banyakl Nanti ketahuan oleh Rooky, jika ia kebe-
tulan masuk ke tempat kalian. Tapi jika kalian di
159
luar. bagiku lebih mudah untuk memberikan ma-
kanan yang banyak!"
"Terima kasih," kata Julian, diikuti oleh anak-
anak yang lain. "Bagaimanapun, kami memang
lebih memilih di luar saja! Kurasa jika kami me-
milih tinggal di rumah kami harus dikurung, se-
bab Pak Perton khawatir jika kami secara kebe-
tulan mengetahui salah satu rahasianya yang ada
di situ. Baiklah' Katakan padanya, kami memilih
tinggal di luar saja. Bagaimana dengan makanan
kami? Bagaimana сага Anda mengaturnya?
Kami tidak ingin menyebabkan Anda mengalami
kesukaran karenanya — tapi kami juga sangat la-
par. Kami sudah ingin makan!"
"Akan kuurus nanti," kata Aggie, la bahkan
sempat tersenyum! "Tapi ingat kataku tadi —
jangan sampai anjing kalian memakan apa pun
yang disediakan oleh si Bongkok untuknya! Pasti
sudah dibubuhi racun!"
Saat itu terdengar suara orang memanggil dari
arah rumah.
"Si Bongkok memanggil," kata Aggie. "Aku
harus pergi sekarang!"
la bergegas kembali ke rumah.
"Ah. begitu rupanya siasat mereka," kata
Julian sambil mengangguk-angguk. "Rupanya
mereka berniat hendak meracuni Timmy! Yah
— kita lihat saja siapa yang lebih cerdik. Ya.
Tim?"
Timmy menggonggong. Kedengarannya
serius. Bahkan ekornya pun tak dikibaskan oleh-
nya!
160
BAB 16
Aggie — Dan Si Bangkok
"AKU rasanya perlu bergerak sedikit," kata Geor-
ge, ketika Aggie sudah pergi lagi. "Yuki Kita
memeriksa sekitar pekarangan ini. Siapa tahu —
apa yang kita temukan nantiI"
Anak-anak bangkit semua. Mereka merasa le-
gs, karena ada kesibukan lain yang bisa mem-
buat mereka agak melupakan kerumitan saat itu.
Siapalah yang akan mengira kemarin — ketika
mereka masih bersenang-senang naik sepeda —
bahwa hari ini mereka terkurung seperti dalam
penjara? Memang nasib tidak bisa diramalkan.
Dengan begitu hidup memang menjadi asyik —
tapi di pihak lain, acara pelancongan mereka
menjadi buyar karenanya!
Tapi dalam pemeriksaan yang mereka laku-
kan sambil berjalan-jalan di pekarangan Owl's
Dene itu, anak-anak tidak menemukan sesuatu
yang istimewa. Yang ada di situ cuma beberapa
ekor sapi, lalu ayam betina sekandang dan seka-
wan anak bebek. Rupanya segala-galanya terse-
dia di situ. Tukang susu tak .perlu datang.
161
"Kurasa setiap harl mereka pergi dengan mo-
bil ke salah satu kota yang tak jauh dari sini, un-
tuk mengambil surat atau membeli daging dan
ikan," kata George. "Selebihnya, semua tersedia
di sini. Mereka bisa hidup di sini berbulan-bulan
tanpa ada hubungan sedikit pun dengan orang
luar. Kurasa mereka banyak menyimpan makan-
an dalam kaleng "
"Seram rasanya menemukan tempat seperti
rumah ini," kata Dick. "Terpencil di atas bukit
yang sunyi, menyembunyikan rahasia-rahasia
aneh! Aku ingin tahu. siapa orang yang kaulihat
sedang tidur sambil mendengkur dalam kamar
rahasia itu Ju1
"Terang seseorang yang tak ingin dirinya dili-
hat orang lain — termasuk si Bongkok atau Ag-
gie," kata Julian. "Kurasa polisi akan gembira,
jika tahu bahwa orang itu bersembunyi di sini!"
Aku kepingin sekali bisa pergi dari sini," kata
George Aku tak suka tempat ini — karena rasa-
nya aneh di sini! Dan aku juga takut, jangan-
jangan Timmy berhasil mereka racuni!"
Jangan khawatir — hal itu takkan terjadi,"
kata Dick. "Kita takkan membiarkannya! Kita
bagi saja makanan yang untuk kita dengannya.
Kau kan mau, Tim?"
Tentu saja Timmy setujul la berbunyi seperti
terbatuk, sedang ekornya mengibas-ngibas
dengan sibuk. Pagi ini ia takkan beranjak sedikit
pun dari sisi George.
"Nah, sekeliling pekarangan sudah kita perik
sa, dan ternyata tak ada hal yang menarik," kata
Julian, ketika mereka sudah kembali ke dekat ru-
mah lagi. "Kurasa si Bongkok yang melakukan
tugas memerah susu, memberi makan pada
ayam dan bebek serta memetik sayuran Sedang
Aggie bertugas mengurus rumah. He — lihat-
lahl Si Bongkok datangl la membawa makanan
— pasti untuk Timmy."
Si Bongkok menggamit mereka, sambil ber-
seru.
"Ini makanan untuk anjing kalian!"
"Diam saja, George," kata Julian dengan sua-
ra pelan "Kita pura-pura membiarkan Timmy
makan. Padahal makanan itu kita buang! Pasti si
Bongkok akan tercengang besok pagi, jika meli-
hat Timmy masih segar bugar!"
Si Bongkok pergi ke kandang sapi, sambil
membawa ember. Anne cekikikan.
"Aku tahu akal!" katanya. "Kita pura-pura si
Timmy tak menghabiskan makanannya — lalu
kita berikan pada ayam dan bebekl"
"Si Bongkok pasti panik nanti, karena me-
nyangka ternak piaraannya akan mati kena ra-
cun," kata George. "Biar tahu rasal Yuk — kita
ambil saja makanan ituI"
George berlari menghampiri basi besar yang
berisi makanan yang beracun, lalu mengambil-
nya. Dari rupanya saja sudah pasti Timmy tak-
kan doyan memakannya, juga apabila diper-
bolehkan oleh George. Timmy memang tidak
sembarangan saja mau makan segalanyal
"Cepatl Ambil sekop, Ju! Gali lubang, se-
belum si Bongkok kembali," kata George. Julian
162
163
mulai menggali lubang sambil tertawa-tawa. Так
sampai semenit kemudian sudah digalinya se-
buah lubang yang dalam, karena tanah di situ
lembek. George menuangkan seluruh isi basi itu
ke dalam lubang Sedang basi itu sendiri diber-
sihkannya dengan daun-daunan, supaya tak ada
makanan yang tersisa. Setelah itu Julian menu-
tup lubang itu kembali Sekarang takkan ada
binatang yang bisa mati karena memakan ma-
kanan yang beracun.
"Sekarang kita ke kandang ay am. Jika si
Bongkok muncul, kita harus melambai ke arah-
nya," kata Julian. "Pasti nanti ia akan bertanya
apa yang kita lakukan di situ. Yuki Kita kejutkan
orang itu! Biar kapok!"
Anak-anak pergi ke kandang ayam. D situ me-
reka memandang ke dalam, lewat pagar kawat
yang mengelilingi. Ketika si Bongkok lewat, me-
reka berpahng lalu melambaikan tangan. George
pura-pura mengais-ngais sisa makanan di basi
dan memasukkannya ke tempat makanan ayam
Si Bongkok melotot melihat perbuatannya itu
Kemudian ia berlari-lari menghampiri, sambil
berteriak-teriak,
"Jangan! Janganl"
Ada apa?" tanya George berpura-pura tak ta-
hu sementara tangannya terus sibuk pura-pura
memasukkan sisa makanan Timmy ke dalam
tempat makanan ayam. "Tidak bolehkah ayam-
ayam itu kuberi sisa makanan?'
"Basi itu yang kupakai tadi untuk memberi
makanan anjing?" tanya si Bongkok curiga.
"Betul," jawab George.
"Jadi dia tak menghabiskan makanannya —
lalu kalian benkan pada ayam-ayamkul" tenak si
Bongkok marah-marah Disentakkannya basi itu
dari tangan George Anak itu pura-pura marah.
"Apa sebabnya ayam-ayam itu tak boleh ku-
beri sisa makanan anjingku? Kan enak kelihat-
annya!"
Si Bongkok memandang ke kandang ayam,
lalu mengeluh Dilihatnya ayam-ayam di situ
mematuk-matuk dekat anak-anak. Kelihatannya
seperti sedang memakan sesuatu yang baru saja
ditaburkan di situ Si Bongkok sudah merasa pas-
ti ternaknya itu besok akan mati. Pasti ia akan di-
amukl
"Kau ini anak laki-laki yang goblokl" katanya
pada George sambil melotot. "Masa makanan itu
164
166
kauberikan pada ayam-ayamku Kau tni minta di-
pukul rupanya!”
Ternyata si Bongkok mengira George anak
laki-laki. Anak-anak mengikuti adegan itu dengan
penuh minat. Biar si Bongkok tahu rasa se-
karang! Biar saja dia panik — ketakutan ayam-
ayamnya akan mati! Itulah pembalasannya, kare
na hendak meracuni Timmy!
Si Bongkok nampak kebingungan, tak tahu
apa yang harus dilakukan Kemudian diambilnya
sapu dari gudang yang ada di dekat situ, lalu ma-
suk ke kandang ayam Rupanya 1a hendak me-
nyapu tempat itu takut kalau masih ada remah-
remah makanan beracun yang masih keting-
galan. Si Bongkok menyapu dengan sibuk Anak-
anak menonton' Mereka puas, karena melihat si
Bongkok menghukum dirinya sendiri I
Belum pernah kulihat ada orang yang mau
repot-repot menyapu kandang ayam kata Dick
dengan suara lantang.
"Aku juga belum pernah,” jawab George. "Ru-
panya ia ingin mendidik ayam-ayamnya, supaya
mengenal kebersihanl"
"Bukan pekerjaan gampang," kata Julian pula.
"Untung bukan aku yang harus mengerjakan-
nya. Sayang, remah-remah makanan tadi hilang
disapu Terbuang percuma jadinya!"
Semuanya sependapat dengannya.
"Tapi aneh — dia begitu ribut melihat aku
memberikan sisa makanan Timmy pada ayam-
ayam itu,' kata George kemudian.' Aku jadi agak
curiga karenanya."
Betul,” kata Dick menyetujui. "Tapi tampang
si Bongkok memang agak mencurigakan."
Kata-kata mereka semua terdengar jelas oleh
si Bongkok. Dan itu memang disengaja oleh me-
reka I Si Bongkok berhenti menyapu, lalu mena-
tap mereka sambil cemberut
"Ayo pergi dari sini," bentaknya. Diangkatnya
gagang sapu yang dipegangnya, hendak di-
ayunkannya ke arah anak-anak.
"Wahl Kelihatannya seperti induk ayam yang
sedang marahl" kata Anne ikut-ikut.
"Sebentar lagi pasti berkotek-kotekl” kata Ri-
chard menambah bumbu yang pedas. Anak-anak
tertawa terpingkal-pingkal. Si Bongkok menjadi
merah padam mukanya karena marah la lari ke
pintu kandang dan membukanya.
"Nanti dulu — mungkin ia memasukkan racun
ke dalam makanan Timmy tadi," kata Julian
keras-keras. "Karena itu rupanya ia gelisah meli-
hat ayam-ayamnya. Betul juga kata peri bahasa
kuno Barang siapa menggali lubang, terperosok
sendiri ke dalamnyal"
Si Bongkok tertegun ketika mendengar per-
kataan racun Dilemparkannya sapu ke arah gu-
dang. la sendiri masuk ke rumah, tanpa menga-
takan apa-apa lagi.
"Nah, kita sudah berhasil membalas kejahat-
annya dengan lipat ganda," kata Julian.
"He — Aggie memanggil kita." kata Richard.
'Lihatlah — mungkin dia membawa makanan
untuk kita "
166
167
"Mudah-mudahan saja/' kata Dick. "Aku su-
dah mulai merasa lapar. Aneh, orang dewasa
kelihatannya seperti tak pernah lapar! Tidak se-
perti kita. Kasihan mereka itu."
"Kenapa kasihan? Kau senang merasa lapar?"
kata Anne, sementara mereka berjalan menuju
rumah.
"Ya. asal aku tahu sebentar lagi akan makan
enak," jawab Dick. "Tapi jika tidak, rasa lapar ti-
dak enakl Astaga — cuma itu yang disediakan
Aggie untuk kita?"
Di ambang jendela terletak sebatang roti yang
nampaknya sudah tua, serta keju kuning yang
keras. Cuma itu saja. Si Bongkok berdiri di situ
sambil meringis.
"Kata Aggie, itulah makanan kalian," katanya
Setelah itu ia duduk di tempatnya, lalu mulai me-
nyuap masakan huspot yang kelihatannya sedap
sekali
"Rupanya ia membalas tindakan kita tadi di
kandang ayam," bisik Julian. "Wah — tak kukira
Aggie akan bersikap seperti begini. Ke mana dia
sekarang?"
Saat itu Aggie keluar dan dapur, membawa
keranjang cucian yang nampaknya penuh dengan
pakaian. "Aku hendak menggantung pakaian ini
sebentar," serunya pada si Bongkok. "Setelah itu
aku kembali lagi." Kemudian Aggie memandang
anak-anak, lalu mengedipkan mata.
"Itu makanan kalian, kuletakkan di ambang
jendela," katanya "Ambillah, dan pergi makan di
tempat lain Aku dan si Bongkok tak suka jika
kalian makan di dapur!"
Tapi tiba-tiba Aggie tersenyum sambil meng-
anggukkan kepala ke keranjang cucian yang
dibawanya Dengan segera anak-anak mengerti
— makanan yang sebenarnya untuk mereka ada
dalam keranjang itu!
Dengan cepat mereka mengambil roti dan keju
dari ambang jendela, lalu menyusul Aggie.
Perempuan itu meletakkan keranjang cucian di
bawah sebatang pohon yang tidak kelihatan dari
rumah. Di tempat itu terentang tali jemuran.
, "Nanti aku keluar lagi untuk menjemur pakai-
an," katanya. la tersenyum lagi, lalu masuk ke ru
mah.
I "Aggie yang baik," kata Julian, lalu mengang-
Kat tumpukan pakaian yang terdapat di sebelah
atas keranjang. "Astaga — coba lihat makanan
'П|Г'
168
169
BAB 17
Ide Yulian Yang Cemerlang
Di dasar keranjang tersusun sendok, garpu.
pisau. pinng dan cangkir-cangkir. Kecuali itu juga
ada susu dua botol besar Lalu perkedel daging
roti yang bundar-bundar, biskuit serta jeruk. Ag-
gie benar-benar murah ha til
Dengan cepat anak-anak mengeluarkan kese
muanya itu dari keranjang, lalu membawanya ke
balik semak. Di situ mereka duduk lalu makan i
dengan nikmat Timmy juga mendapat bagian
Bahkan keju kuning yang sudah keras pun habis
disikatnya1
Sekarang kita cuci saja semuanya di kerar
yang ada di kebun, lalu kita kemaskan kembali u
dalam keranjang," kata Julian. "Jangan samp
Aggie mengalami kesulitan sebagai akibat kera
mahan hatinyal"
Setelah semuanya dicuci sampai bersih, lalu
ditumpukkan lagi ke dasar keranjang. Setelah itu
ditutyp dengan pakaian.
Sesudah setengah jam Aggie keluar lagi.
Anak-anak menghampirinya, lalu berbicara
dengan suara pelan
Terima kasih Aggie! Enak sekali makanan-
nya tadi!"
Tanggung bagian si Bongkok tak seenak yang
kami makan tadi!"
"Ssst!" kata Aggie la senang mendengar puji-
pujian itu tapi juga agak khawatir Kita harus
hati-hati Siapa tahu si Bongkok mengintai! Pen-
dengarannya taiam sekah1 Nant sore aku harus
keluar lagi, mengambil telur dan kandang ayam
Aku akan membawa keranjang — dan di dalam-
nya akan kubawakan makanan sore untuk kalian.
Sementara aku mengumpulkan telur, kuting-
galkan makanan itu dalam kandang ayam. Apa-
bila aku sudah pergi lagi kalian bisa mengam-
biinya I"
Kau benar-benar baik budi, Aggiel" kata
Julian mengaguminya. Sungguhl
Aggie kelihatan senang Nampak jelas bahwa
sudah lama sekali ia tak diajak bicara dengan ra
mah atau dikagumi orang Aggie benar-benar
malang nasibnya. Selalu ketakutan dan seng-
sara Tapi sekarang ia merasa senang, karena
p enyimpan rahasia kecil dengan anak anak la
pun senang karena bisa menipu si Bongkok
Mungkin baginya perbuatan itu merupakan pem-
balasan dendam atas sikap buruk yang dialami-
nya selama itu
Aggie menggantungkan pakaian yang ada da-
am keranjang Selembar ditmggalkannya dalam
170
171
keranjang untuk menutupi piring dan mangkuk
yang tadi dipakai anak-anak untuk makan siang.
Kemudian ia masuk lagi ke rumah.
"Kasihan Aggie," kata Dick. "Hidupnya me-
rana!"
"Ya — aku takkan mau hidup terkurung di sini
selama bertahun-tahun, bersama orang-orang ja-
hat seperti Perton dan Rooky," kata Julian.
"Tapi nampaknya nasib kita akan seperti dia,
jika tidak cepat-cepat mencari akal untuk melari-
kan diri," kata Dick lagi
BetulI Kita harus memeras otak," kata Julian.
Kita ke sana saja ke bawah pohon itu. Di situ
kita bisa duduk-duduk di rumput sambil berun-
ding, tanpa ada otang lain yang bisa mendengar
pembicaraan kita."
"Lihatlahl Si Bongkok sedang mengelap mobil
Bentley," kata George sekonyong-konyong. "Aku
lewat sebentar ke sana bersama Timmy, dan
Timmy kusuruh menggeram-geram sedikit. Biar
ia melihat bahwa Timmy masih segar-bugar!
Niatnya itu dilakukan olehnya. George meng
ajak Timmy menuju ke mobil besar yang ber-
warna hitam itu. Dan ketika sudah dekat ke tem-
pat si Bongkok, Timmy mulai menggeram-geram
dengan galak. Secepat kilat si Bongkok masuk ke
dalam mobil lalu menutup pintu. George me-
ringis!
"Halo," sapanya. "Mau jalan-jalan ya? Bo-
lehkah aku ikut, bersama Timmy?"
172
George berbuat seakan-akan hendak mem-
buka pintu mobil. Seketika itu juga si Bongkok
menjerit,
"Jangan masukkan anjing itu ke mari! Aku su-
dah melihat tangan Rooky! Satu jarinya Iuka
parahl Aku tak mau diserang anjing itu.”
’Ajaklah kami pelesir dengan mobil, Bong-
kok," kata George nekad. "Timmy paling senang
jika diajak jalan-jalan naik mobil."
Ayo pergi!" seru si Bongkok. Dipegangnya
pintu kuat-kuat, supaya tidak bisa dibuka dan
luar oleh George. "Aku disuruh Pak Perton mem-
bersihkan mobil ini, karena 1a nanti malam akan
pergi. Aku harus menyelesaikan pekerjaanku —
janganlah aku kauganggu lagi."
Sambil tertawa-tawa George kembali ke tem-
pat teman-temannya.
"Nah, sekarang ini ia bisa melihat bahwa Tim-
my tidak jadi mati," kata Dick sambil meringis.
"Untung saja — jika Timmy tak ada bersama ki-
ta, pasti к ta akan lebih repot lagi.'
Mereka pergi ke bawah pohon, lalu duduk di
situ.
"Apa kata si Bongkok tadi tentang mobil?" ta-
nya Julian. Dengan segera George menceri-
takan apa yang didengarnya tadi. Julian ber-
pikir-pikir. Anne mengenal sikap abangnya —
jika ia sudah begitu, artinya 1a sedang menyusun
rencana Anne menyenggolnya
' Kau punya rencana, Ju? Bagaimana ren-
canamu?"
173
"Ah — aku cuma berpikir saja," kata Julian
lambat-lambat. "Mobil itu — dan Pak Perton
akan pergi malam ini — jadi ia harus melewati
pintu gerbang ..."
Lalu?" tanya Dick. "Kau mau ikut dengan
dia?"
'Ya, betul!" jawab Julian dengan tidak di-
sangka-sangka. "Soalnya, jika ia baru berangkat
jika hari sudah gelap, kurasa aku akan bisa ber-
sembunyi dalam tempat bagasi mobilnya Dan
pada saat mobil berhenti di salah satu tempat.
kubuka lagi tutup tempat bagasi, cepat-cepat ke-
luar lalu mencari bantuan!"
Anak anak menatap Julian sambil membisu.
Anne berkilat-kilat matanya.
"Wah — hebat rencanamu itu, Ju!” pujinya
kagum.
"Memang," tambah Dick.
"Tapi — aku tak mau tinggal di sini jika Julian
pergi," kata Anne. Tiba-tiba ia merasa takut. "Ka-
lau ada Julian, aku tak takut apa-apal"
"Kalau begitu aku saja yang pergi," kata Dick
"Aku juga bisa," kata George pula. "Tapi Tim-
my harus ikut. dan rasanya dalam tempat bagasi
takkan ada tempat untuknyal"
"Kalau dari luar, kelihatannya cukup lapang
kata Julian. "Coba jika Anne bisa kubawa serta
jadi aku bisa tahu pasti bahwa 1a selamat. Se-
dang yang Iain-Iain, kalian takkan terancam ba-
haya selama Timmy ada!"
Mereka merundingkan rencana itu masak
masak. Menjelang saat minum teh mereka ber-
174
henti berunding, karena melihat Aggie keluar
sambil membawa keranjang untuk tempat telur.
la memberi isyarat pada anak-anak, agar jangan
mendekat. Rupanya mungkin ada orang sedang
memperhatikan Karena itu anak-anak tetap ber-
ada di tempat mereka, sambil memperhatikan
Aggie yang masuk ke kandang ayam Так lama
kemudian perempuan itu keluar lagi, membawa
telur dalam keranjang. la langsung masuk ke ru-
mah. tanpa menoleh ke arah anak-anak.
"Coba kuperiksa sebentar, apa yang diting-
galkannya dalam kandang ayam," kata Dick, lalu
pergi ke tempat itu. Так lama kemudian ia sudah
kembali sambil tertawa lebar. Kantong-kantong-
nya menggelembung, penuh dengan makanan
yang ditaruhkan oleh Aggie dalam kandang
ayam.
"Bahkan tulang untuk Timmy juga dibawakan
olehnya," kata Dick
Apakah tidak berbahaya?" tanya George agak
sangsi. Julian mencium tulang itu sebentar
"Baunya masih segar," katanya. "Так tercium
bau racun! Lagipula Aggie takkan sampai hati
berbuat selicik itu. Yuk, kita makan saja se-
karang I"
Sehabis makan, anak-anak merasa bosan
karena tak tahu lagi apa yang masih bisa diker-
akan Karenanya Julian mengajak mereka meng-
adakan pertandingan lari dan melompat. Timmy
•sdak ikut serta sebagai petanding. Kalau ikut,
oasti semua pertandingan akan dimenangkan-
эуа dengan mudah Tapi walau begitu ia ikut ju-
175
ga Begitu asyik, sehingga ribut menggonggong-
gonggong. Tahu-tahu Pak Perton muncul di balik
jendela lalu berseru menyuruh diam.
"Wah, maaf!" balas George berseru. "Entah
kenapa, Timmy bergembira sekali hari ini!"
"Pasti Pak Perton akan bingung, tak tahu apa
sebabnya" kata Julian sambil meringis. "Si
Bongkok pasti akan diomeli, karena disangka tak
menurut perintahnya untuk meracuni Timmy!"
Ketika hari mulai gelap, anak-anak menye-
linap mendekati mobil Pak Perton. Si Bongkok
sudah selesai dengan pekerjaannya. Dengan
hati-hati Julian membuka tutup tempat bagasi
lalu memandang ke dalam. Seketika itu juga ia
berseru dengan nada kecewa.
"Wah, sempit sekali I Kurasa aku tak bisa ma-
suk ke situ. Kau juga takkan muat di dalamnya,
Dickl"
"Kalau begitu aku saja yang pergi," kata
Anne dengan suara takut-takut.
"Ah, janganl" larang Julian.
"Aku saja," kata Richard sekonyong-konyong.
"Kalau aku, rasanya persis muat di dalamnya."
"Kau mau pergil" kata Dick heran. "Mestinya
kau sudah setengah mati ketakutanl"
Richard terdiam sesaat.
"Memang — aku sangat takut," katanya
kemudian. "Tapi walau begitu, aku tetap ber-
sedia pergi. Soalnya — tinggal aku saja yang ma-
sih mungkin I Anne tidak boleh — sedang Geor-
ge tidak bisa pergi tanpa Timmy. Dan Julian atau
176
Dick terlalu besar badannya, sehingga tak mung-
kin muat di situ I"
Anak-anak tercengang. Так mereka sangka Ri-
chard akan mau mengajukan dirinya untuk mela-
kukan sesuatu yang bukan untuk kepenting-
annya sendiri. Так mereka kira ia akan setabah
itu. Tapi Julian masih agak sangsi.
"Ini urusan serius, Richard," katanya. "Mak-
sudku — jika kau melakukannya.'kau harus ber-
sungguh-sungguh melakukannya. Jangan lantas
ketakutan dan menangis kemudian, sehingga ter-
dengar oleh orang yang dalam mobil. Pasti me-
reka akan memeriksa tempat bagasi ini jika kau
nanti menangisl"
"Aku tahu," kata Richard. "Kurasa aku sang-
gup melakukannya. Kuharap kalian mau mem-
percayai diriku sedikitl"
"Aku tak mengerti apa sebabnya kau me-
nawarkan diri untuk melakukan tugas sesulit itu."
kata Julian lagi. "Bukan begitu watakmu — kare-
na selama ini belum pemah kualami kau bersikap
tabah!"
"Kurasa aku bisa mengerti, Ju," kata Anne
tiba-tiba, sambil menarik-narik lengan abang-
nya. "Sekali ini Richard tidak memikirkan dirinya
sendiri. la teringat pada keselamatan kita semua.
Setidak-tidaknya ia ingin mencobal Benlah ke-
sempatan padanya, karena sekarang ia sudah
mulai menampakkan keberanian."
"Aku cuma ingin agar diberi kesempatan,"
kata Richard lirih.
177
"Baiklah," kata Julian. "Kami berikan kesem-
patan itu padamu. Kami akan sangat gembira
jika ternyata kau memanfaatkan kesempatan itu
untuk melakukan sesuatu yang berguna!”
"Katakan apa yang harus kulakukan," kata Ri-
chard. Dipaksanya suaranya agar jangan sampai
kedengaran gemetar.
"Yah — begitu kau sudah masuk ke dalam, tu-
tup tempat bagasi ini harus kami rapatkan lagi.
Aku tak tahu berapa lama kau harus menunggu
dalam tempat yang gelap itu," kata Julian. "Se-
baiknya kukatakan saja dari sekarang, di dalam
akan pengap dan sama sekali tidak enak! Apa-
lagi jika mobil sudah berjalan!"
"Kasihan Richard," kata Anne.
"Begitu mobil berhenti dan kaudengar orang-
orang itu keluar. kau harus menunggu beberapa
saat lagi. Tunggu sampai mereka sudah agak
jauh. Kemudian kau harus cepat-cepat keluar
dan pergi ke kantor polisi terdekat," kata Julian
lagi. "Di sana kau harus menyampaikan laporan
dengan singkat. Dan sebutkan alamat ini
Owl's Dene di atas Owl’s Hill, beberapa kilo-
meter dari Hutan Middlecombe. Selebihnya akan
diurus oleh polisi. Mengerti?"
"Ya." kata Richard.
"Nah, setelah tahu apa tugasmu, kau masih
mau pergi juga sekarang?" tanya Dick.
"Ya," kata Richard sekali lagi. la kaget, ketika
dengan tiba-tib? Anne memeluknya.
"Kau baik hati. Richard," kata Anne. "Mula-
mula tak kusangka kau anak yang baikl"
178
Julian menepuk punggungnya.
"Jika tugas ini kauselesaikan dengan baik,
akan kita lupakan segala perbuatan konyolmu se-
lama ini! Nah — sekarang cepat-cepat saja ma-
suk, karena kita tak tahu kapan mereka akan ke-
luar rumahl"
"Ya, aku masuk saja sekarang," kata Richard,
la merasa tabah sekali, setelah dipeluk oleh Anne
dan ditepuk punggungnya oleh Julian. Julian
memeriksa bagian dalam kunci tutup tempat ba-
gasi.
"Kurasa Richard takkan bisa membukanya dari
dalam," katanya kemudian. "Так mungkin I Jadi
jangan kita tutup sampai rapat. "Kuganjal saja
dengan ranting atau salah satu benda lain. De-
ngan begitu Richard akan mendapat udara segar
untuk bernapas, dan ia bisa membuka tutup ini
179
jika dianggap sudah waktunya. Tolong ambilkan
sepotong ranting I"
Sementara Dick mengambilkan ranting untuk
dijadikan ganjalan. Richard masuk ke dalam tem-
pat bagasi dan meringkuk di situ. Untuknya saja.
tempat itu sudah nyaris terlalu sempitl Julian
menutupkan кар belakang, dan mengganjalnya
dengan sepotong ranting sehingga tidak sampai
tertutup rapat. Masih ada celah sedikitl Tiba-tiba
Dick menyikut Julian.
"Cepatl Ada orang datang!"
180
BAB 18
Cori Richard!
Pak Perton nampak berdiri di ambang pintu
depan, diterangi sinar lampu serambi dalam. la
sedang bicara dengan Rooky; yang kelihatannya
tidak ikut pergi. Rupanya Pak Perton akan pergi
seorang diri saja dengan mobil.
Setelah membisikkan doa selamat pada Ri-
chard, Julian beserta saudara-saudaranya meng-
hilang ke tempat gelap di seberang jalan masuk
itu. Di situ mereka mengintip, memperhatikan
Pak Perton yang berjalan menuiu ke mobil. Pak
Perton masuk, lalu menutup pintu. Untung tak
ada barang yang harus dimasukkannya ke dalam
tempat bagasi I
Mesin mobil dinyalakan, dan kendaraan itu
meluncur menuju gerbang. Pada saat bersama-
an, terdengar bunyi mesin membuka pintu ger-
bang menggeretak.
"Pintu gerbang dibuka," gumam Dick. Me-
reka mendengar mobil meluncur terus, tanpa
berhenti dulu dekat gerbang. Terdengar bunyi.tu-
181
ter, rupanya mengisyaratkan orang di rumah agar
pintu gerbang cepat-cepat ditutup lagi.
Pintu rumah sebelah depan ditutup dari dalam.
Anak-anak termenung sesaat. Semuanya memi-
kirkan Richard, yang terkurung dalam tempat ba-
gasi mobil.
"Так pernah kusangka ia akan berani," kata
George.
"Memang," kata Julian sambil termenung.
"Tapi kita memang tak mungkin bisa menduga
apa yang mungkin terjadi pada diri seseorang.
Kurasa bahwa orang yang paling penakut, atau
penjahat yang paling keji dan tak jujur pun —
kalau benar-benar mau, masih bisa menemukan
kebajikan dalam dirinyaI"
"Ya — tapi yang jarang ada justru kemauan
itu,” kata Dick. "Lihat — Aggie berdiri di ambang
pintu dapur Kita dipanggilnya."
Anak-anak mendatanginya.
"Kalian boleh masuk sekarang," katanya. "Ta-
pi sayang tak banyak makanan yang bisa kube-
rikan pada kalian, karena ada si Bongkokl Tapi
nanti akan kusembunyikan kue-kue dalam kamar
kalian, kutaruh di bawah selimut."
Anak-anak masuk ke dapur. Nyaman rasanya
di situ, karena api menyala dalam pediangan.
Ruangan itu diterangi cahaya lampu minyak yang
redup. Si Bongkok sedang duduk dj pojok se-
belah sana. sibuk dengan lap dan semir la mena-
tap anak-anak yang masuk. Tampangnya cem-
berut
182
Bawa anjing kalian ke luar!"tukasnya. "la tak
boleh masuk ke siniI"
Tapi George membangkang
"Kulaporkan pada Rooky nanti," kata si Bong-
kok la maupun Aggie nampaknya tak menyadari
saat itu, bahwa anak-anak tinggal berempat saja.
"Jika Rooky beram ke mari, Timmy pasti akan
menggigit tangannya yang satu lagi," kata Geor-
ge. "Lagipula — tidakkah ia akan heran nanti,
jika melihat Timmy masih segar-bugar?"
Setelah itu, persoalan Timmy selesai. Tanpa
mengatakan apa-apa, Aggie meletakkan sisa kue
tar berisi buah prem ke atas meja
"Itu makan malam kalian." Hanya itu saja
yang dikatakannya.
183
Anak-anak membagi kue itu, masing-masing
sepotong kecil Kemudian si Bongkok pergi ke
luar. Dengan cepat Aggie berbisik-bisik,
"Tadi sore pukul enam, aku mendengarkan
siaran radio Ada berita polisi mengenai satu di
antara kalian, yang bernama Richard! Ibunya me-
laporkan kehilangannya pada polisi — yang lang-
sung menyiarkan melalui radiol"
"0 ya?" kata Dick. "Wah! Kalau begitu seben-
tar lagi polisi akan ke mari!"
"Tahukah mereka bahwa kalian ada di sini7"
tanya Aggie tercengang. Dick menggeleng.
"Belum tahu — tapi kurasa tak lama lagi me-
reka akan berhasil menemukan jejak kami sam-
pai di sini."
Aggie kelihatan sangsi.
Belum pernah polisi berhasil menemukan
jejak orang sampai di sini. Kurasa juga takkan
pernah! Mereka pergi ke mari — sekali. Katanya
mencari seseorang! Pak Perton menyilakan me-
reka masuk dengan sopan. Polisi lantas meng-
geledah rumah, mencari orang itu! Tapi tak ber-
hasil."
Julian menyikut Dick, la tahu di mana polisi
bisa menemukan orang yang dicari itu — dalam
kamar rahasia. di belakang papan lemari buku
yang bisa digeserkan!
"Aneh, aku tak*melihat pesawat telepon di ru-
mah ini." katanya kemudian. "Atau memang ti-
dak ada?"
"Tidak." jawab Aggie. "Tidak ada telepon. lis-
trik, gas. Так ada air leding — pokoknya semua
184
serba tidak ada di sini! Yang ada cuma rahasia,
orang-orang yang bolak-balik datang dan pergi
ancaman-ancaman dan
Aggie tidak meneruskan kata-katanya, karena
saat itu si Bongkok masuk lagi ke dapur. Aggie
pergi ke perapian, di mana ada ceret tergantung
di atas batang-batang kayu yang menyala. Si
Bongkok memandang anak-anak yang menatap
nya.
’Rooky menyuruhku menjemput anak yang
bernama Richard," katanya sambil menyeringai.
"Katanya, hendak diberi pelajaran sedikitl"
Keempat anak itu mengucap syukur dalam ha-
ti, karena Richard sudah tidak ada lagi di rumah
itu. Mereka merasa pasti, Richard tentu takkan
menyukai pelajaran yang akan dibenkan Rooky
padanya.
Mereka saling berpandang-pandangan seje-
nak, lalu memandang ke sekeliling dapur.
"Richard? Lho — ke mana Richard tadi?"
"Apa maksud kalian — mana Richard?!" ben-
'ak si Bongkok. Mendengar bentakannya itu,
Timmy langsung menggeram. "Pokoknya aku ha-
nya tahu bahwa satu dari kalian bernama Ri-
hard."
Ehl Tadi kan mereka berlimal Kenapa se-
karang tinggal empat?" kata Aggie tiba-tiba.
’ Baru sekarang kusadari. Richard-kah yang tidak
ida di sini?"
"Astaga — ke mana lagi anak itu?I" kata
lulian, pura pura bingung la memanggil-mang-
185
gil, "Richard! He. Richard? Di manakah kamu?"
Si Bongkok marah.
"Jangan main-main!" bentaknya. "Satu dari
kalian, pasti bernama Richard! Sekarang meng-
aku — siapa yang bernama Richard?"
"Так ada di antara kami yang bernama Ri
chard," kata Dick. "Ah, ke mana lagi perginya
anak itu? Mungkinkah ketinggalan di peka-
rangan tadi, Ju?"
"Rupanya begitu," jawab Julian, la membuka
jendela dapur lebar-lebar.
"RlCHARDl" teriaknya. "Kau dipanggil, Ri-
chard!"
Tentu saja Richard tidak menjawab — apa
lagi muncull la sudah jauh, bersembunyi dalam
tempat bagasi mobil Bentley yang dipakai oleh
Pak Perton1
Kemudian terdengar langkah orang bergegas-
gegas dalam gang, Pintu dapur dibuka dengan
kasar. Rooky berdiri di ambang pintu. Keningnya
berkerut. Satu tangannya dibungkus pembalut
Timmy menggonggong dengan gembira, hendak
menerjang — tapi George sempat menyamba
kalung lehernya.
"Bukankah anjing itu sudah kusuruh agar di-
racun?" bentak Rooky. "Dan apa sebabnya ana*
laki-laki itu tak kaubawa seperti kukatakan tad'
Bongkok?"
Si Bongkok ketakutan.
"Tapi anak itu rupanya tak ada di sini. Pak
katanya. "Kecuali jika satu di antara keempr
anak ini yang bernama Richard."
186
Rooky memandang mereka sekilas
"Tidak — bukan mereka! Mana Richard?" ta-
nyanya pada Julian
"Aku baru saja berteriak-teriak memanggil-
nya," kata Julian, la pura-pura tercengang. "A-
nehl Tadi sehan penuh anak itu bersama kami di
kebun. Sekarang ketika kami masuk, tahu-tahu ia
sudah tidak ada lagi. Bagaimana jika aku men-
carinya di kebun?"
"Coba kupanggil sekali lagi," kata Dick, lalu
pergi ke jendela dan berteriak keras-keras, "RI-
CHARD!"
"Tutup mulut!" bentak Rooky. "Aku sendiri
yang akan mencarinya! Mana senterku? Ayo am-
bil, Aggie. Kalau kutemukan nanti — akan me-
nyesal sekali dia1"
"Aku ikut mencari." kata si Bongkok. "Kau
mencari ke Sana, dan aku ke mari!"
"Suruh Ben dan Fred ikut mencari," perintah
Rooky. Si Bongkok pergi memanggil kedua orang
lu Menurut perkiraan anak-anak, pasti mereka
tu kedua laki-laki yang datang kemarin malam
bersama Rooky.
Rooky pergi ke luar lewat pintu dapur. la
membawa sentemya yang terang cahayanya.
Anne gemetar la mengucap syukur bahwa Ri-
hard pasti takkan berhasil mereka temukan Так
ama kemudian terdengar orang-orang bicara di
tebun Mereka berpisah dan mulai mencari da-
am dua kelompok
187
Ke mana anak yang malang itu?" bisik Aggie.
"Aku tak tahu," jawab Julian la tak ber-
bohong Tapi ia juga tak mau menyebutkan raha-
sia mereka pada Aggie, walau perempuan itu
kelihatannya sungguh-sungguh bersikap ramah
terhadap mereka.
Aggie pergi ke luar. Dengan segera anak-anak
berkerumun lalu berbicara sambil bisik-bisik.
"Untung Richard yang pergi dalam mobil tadi
dan bukan seorang dari kita,” bisik George
"Ya — seram rasanya melihat tampang Rooky
ketika 1a masuk ke dapur tadi," jawab Julian.
"Ada juga gunanya Richard bersikap tabah,"
bisik Anne, "la terhindar dari siksaan Rookyl
Julian memandang ke jam yang ada di dapur
"Sudah hampir pukul sembilan malam I Di atas
rak ada pesawat radio I Kita hidupkan saja — sia-
pa tahu ada pengumuman tentang Richard."
Julian menyalakan radio. Lalu diputar-putar-
nya tombol mencari gelombang, sampai dite-
mukannya stasion pemancar yang dicari. Setelah
mengikuti beberapa buah berita, kemudian da-
tang pengumuman yang ditunggu-tunggu.
"Seorang anak laki-laki bernama Richard
Thurlow Kent, sejak hari Rabu meninggalkan ru-
mah tanpa memberi tahu orang tuanya. Tanda-
tandanya: berumur dua belas tahun, berbadan
tegap, rarnbot pirang, bermata biru, menge-
nakan celana pendek dan baju kaos lengan pan-
jang berwarna abu-abu la mungkin pergi naik
sepeda."
Pengumuman itu diakhiri dengan penyebutan
nomor telepon kantor polisi yang harus dihu-
bungi. Sama sekah tak ada pengumuman
mengenai Julian serta saudara-saudaranya.
Mereka merasa lega.
"Jadi Ibu tidak cemas," kata George. "Tapi itu
juga berarti jika Richard tak berhasil minta per-
tolongan, takkan ada orang yang tahu bahwa kita
terkurung di sini. Jika kita tidak dinyatakan hi-
lang, maka takkan ada yang mencari. Padahal
aku sudah tak mau lebih lama lagi berada di tem-
pat ini!"
Semuanya juga tidak maul Harapan mereka
satu-satunya tergantung pada Richard sekarang
Anak itu rasanya sukar dijadikan andalan. Tapi
siapa tahu! Mungkin saja ia berhasil keluar dari
tempat bagasi mobil Bentley tanpa ketahuan
oleh Pak Perton, lalu cepat-cepat pergi ke kantor
polisi.
Setelah kira-kira satu jam Rooky masuk lagi ke
dapur, diikuti oleh kawanannya. Rooky marah-
marah, lalu membentak Julian,
"Apa yang terjadi dengan anak itu? Tentunya
kalian tahu!"
Seketika itu juga Timmy menggeram, mem-
perlihatkan taringnya yang runcing. Rooky meng-
gamit Julian, menyuruhnya pergi dengan dia ke
gang. Setelah menutup pintu dapur, ia memben-
tak-bentak lagi
"Kau dengar pertanyaanku tadi — mana
anak laki-laki itu?"
188
189
"Tidak ada di kebun?" tanya Julian. Dipamer-
kannya tampang gelisah. "Astaga! Apa sebetul-
nya yang terjadi dengan anak itu? Sungguh tadi
sepanjang hari ia bersama kami. Tanya saja pada
Aggie — dan juga pada si Bongkok.”
Mereka juga sudah mengatakan begitu pada-
ku," kata Rooky. "Tapi anak itu tak ada di kebun.
Kami sudah memeriksa dengan teliti. Jadi ke
mana dia?"
"Mungkin bersembunyi dalam rumah," saran
Julian, pura-pura penuh perhatian.
"Так mungkin!" seru Rooky marah-marah.
"Pintu depan terkunci sepanjang hari. Hanya
sekali dibuka, yaitu ketika Perton pergi tadi. Se-
dang si Bongkok serta Aggie berani bersumpah,
anak itu tak masuk ke dapur selama ini."
"Benar-benar ajaib," kata Julian. "Bagaimana
jika kupenksa ke seluruh rumah? Yang Iain-Iain
bisa ikut membantu. Mungkin anjing kami bisa
mencium di mana Richard sekarang."
"Anjing itu tak boleh masuk ke dapur," bentak
Rooky. "Kalian juga tidakl Kurasa anak itu ber-
sembunyi di suatu tempat — dan saat ini ceki-
kikan menertawakan kita! Kurasa kalian juga
tahu di mana ia beradal"
"Aku tak tahu," kata Julian. "Sungguh!"
"Kalau anak itu kutemukan ku ... ku ..." Rooky
terbata-bata karena tak tahu tindakan apa yang
paling keras yang bisa dilakukannya untuk meng-
hukum Richard yang dibencinya itu.
190
Rooky pergi lagi ke tempat kawan-kawannya.
sambil mengomel. Julian kembali ke dapur. la
merasa bersyukur bahwa Richard sudah berhasil
pergi dari situ. Sebetulnya kebetulan saja — tapi
walau begitu syukur! Di manakah Richard se-
karang?
191
ч
BAB 19
Pengalaman Richard
Pengalaman Richard tidak kalah tegangnya
danpada keempat temannya yang tinggal di
Owl's Dene. Ketika mobil Bentley berangkat, ia
berbaring meringkuk dalam tempat bagasi. Ru-
suknya terasa sakit kena kotak peralatan Bau
bensin menusuk hidung, menyebabkan Richard
merasa mual.
Mobil itu meluncur ke luar lewat gerbang, lalu
menurum bukit Jalannya agak laju. Tapi tiba-tiba
terhenti di suatu tempat setelah melewati tikung
an, karena nyaris menubruk sebuah truk yang se-
dang berhenti Pak Perton menginjak rem
dengan tiba-tiba. Kasihan Richard — ia ketakut-
an setengah matil la mengerang kesakitan, kare-
na kepalanya terantuk ke tutup tempat bagasi.
la mulai menyesal, kenapa tadi berlagak bera-
ni dan menawarkan din untuk pergi memanggil
bantuan. Menjadi pahlawan saja sudah berat —
apalagi menjadi pahlawan dengan jalan yang be-
gitu menyakitkanl
Setelah itu mobil melaju lagi. Richard sama
sekali tak bisa menduga ke mana arah perjalan-
an itu Mula-mula sama sekali tak terdengar bu-
nyi kendaraan lain. Tapi makin lama makin ramai
bunyi mesin dan roda berputar Karenanya Ri-
chard lantas mengambil kesimpulan bahwa mo-
bil menuju ke salah satu kota. Sekali ia merasa,
mestinya mobil melewati stasiun atau meluncur
tak jauh dari jalan kereta api. Sebabnya, ia men-
dengar dengan jelas suara kereta api disusul
dengan bunyi peluit melengking
Akhirnya mobil berhenti Richard menajam-
kan telinga Apakah berhenti karena lampu lalu
lintas sedang menyala merah — atau keluarkah
Pak Perton dari mobil? Kalau Pak Perton ternyata
turun ia mendapat kesempatan untuk lari!
Didengarnya bunyi pintu mobil ditutup dengan
keras. Nah1 Rupanya Pak Perton turun dari mo-
bil. Richard mendorong tutup tempat bagasi itu
kuat-kuat Julian tadi agak kuat juga menjepit-
kannya. Tapi akhirnya Richard berhasil juga Кар
belakang itu terangkat. Terbuka lebar dengan bu-
nyi berdentangl
Dengan hati-hati Richard mengintip ke luar.
Ternyata mobil berhenti di suatu jalan yang ge-
lap Di trotoar seberang nampak beberapa orang
berjalan kaki. Agak jauh dari tempat mobil ber-
henti. dilihatnya ada tiang lampu jalan Bisakah ia
keluar sekarang? Atau mungkinkah Pak Perton
ada di dekat-dekat situ sehingga pasti bisa meli-
hat jika ia menyelinap ke luar?
192
193
Diangkatnya kaki yang sebelah. Maksudnya
hendak melangkahi tepi tempat bagasi, lalu me-
lompat ke tanah. Tapi ternyata ia tidak bisa ber-
gerak dengan cepat, karena terlalu lama mering-
kuk. Badannya terasa kaku. la kesemutan, ketika
mencoba meluruskan badan.
Richard tidak bisa meloncat lalu langsung lari,
la terpaksa bertindak pelan sekali. Anggota ba-
dannya tak bisa dipaksa bergerak lebih cepat.
Ada kira-kira setengah menit Richard terduduk
dalam tempat bagasi yang sudah terbuka tutup-
nya. la masih ragu, apakah sebaiknya cepat-
cepat saja keluar.
Saat itu didengarnya suara Pak Perton! Orang
itu menuruni jenjang rumah, di mana ia mernar-
kir mobilnya. Richard terkejut dan ketakutan. Так
dikiranya Pak Perton akan kembali secepat ituI
Richard mencoba melompat ke luar, tapi ia
tersungkur ke tanah. Pak Perton mendengarnya.
Dikiranya ada orang hendak mencuri sesuatu dari
tempat bagasi. la bergegas menghampiri,
dengan tangan terjulur.
Untung saja Richard masih sempat berdiri, lalu
lari secepat-cepatnya ke seberang jalan. Sambil
berlari ia berharap-harap, semoga tidak tiba-tiba
roboh karena kakinya masih kaku. Sedang Pak
Perton langsung mengejar.
"He, berhenti! Apa yang kaubuat tadi di mobil-
ku!" serunya. Richard mengelakkan seorang
pejalan kaki yang nyaris ditubruknya. la terus lari
dengan ketakutan. la tidak boleh sampai tertang-
194
кар oleh Рак Perton! Jangan sampai tertangkap
lagi!
Tapi orang itu berhasil mengejarnya juga, ke-
tika sampai di bawah lampu jalan. Dipegangnya
leher baju Richard, dan diputarnya dengan kasar
sehingga anak itu menghadap ke arahnya.
"Lepaskan!" teriak Richard. Diayunkannya
kaki kuat-kuat untuk menendang. Nyaris ia sen-
diri yang terpelanting, karena kehilangan keseim-
bangan!
Saat itu Pak Perton mengenali siapa anak
yang berada dalam genggamannya itu.
"Astaga! Kau!" serunya. "Anak yang dicari
Rooky! Apa yang kaulakukan di sini? Bagai-
mana kau bisa ..."
Tapi dengan sentakan keras, Richard berhasil
melepaskan diri. Kakinya sudah tidak kaku lagi
sekarang. Karena itu larinya juga bisa lebih laju!
Richard lari pontang-pantingl Membelok di
pojok jalan. Nyaris menubruk seorang anak laki-
laki — lalu lari lagi. sebelum anak itu sempat ber-
teriak karena kaget. Pak Perton memburunya,
dan langsung menubruk anak yang tadi. Tapi
anak itu kini reaksinya lebih cepat! la menyam-
bar jas Pak Perton! Anak itu marah sekali, karena
seenaknya saja ditubruk-tubruk orang.
Ketika Pak Perton akhirnya berhasil mem-
bebaskan diri dari cengkeraman anak yang
marah itu, Richard sudah menghilang. Pak Per-
ton lari ke pojok jalan, lalu celingukan di situ. Ri-
chard tak kelihatan lagi di jalan yang penerang-
annya guram itu. Pak Perton berteriak marah.
195
"Hilang! Anak setan — bagaimana’ mungkin.
tahu-tahu ia sudah ada di sini?! Mungkmkah tad
bersembunyi dalam tempat bagasi? Ah — pasts
itu dia. di sana!"
Ternyata memang betul! Richard menyembu
nyikan diri dalam kebun orang Tapi tak bisa
lama-lama di situ, di kebun itu ada anjing galak
Richard kaget ketika anjing itu menggonggong
lalu cepat-cepat Ian ke luar. Dan Pak Perton
mengejarnya lagi.
Richard Ian lewat jalan yang satu membelok
di tikungan. masuk ke jalan berikutnya — Ian
dengan napas terengah-engah. Sambil Ian ia
cuma bisa berharap. jangan sampai ada orang
yang menangkapnya. karena dikira pencuri. Ka
sihan si Richard! la tak merasa tabah pada saat
itu.
la membelok lagi di tikungan jalan yang ke
sekian, dan sampai di jalan utama kota itu. Dan
— di seberang jalan itu nampak tulisan d terangi
lampu Tulisan itulah yang dicari-carinya.
POLISI
Richard terhuyung-huyung menaiki tangga
gedung kantor polisi itu, membuka pintu depan-
nya. la sampai di semacam ruang tunggu. Di situ
ada seorang polisi, yang duduk menghadapi meja
kerja. Polisi itu tercengang melihat tiba-tiba
muncul seorang anak laki-laki di depannya. Anak
itu terengah-engah
"He! He — ada apa?" kata polisi itu. Richard
menoleh ke pintu dengan ketakutan la sudah
khawatir saja Pak Perton akan muncul. Tapi ter-
196
nyata tidak. Pintu tetap tertutup. Tentu saja —
tak mungkin Pak Perton secara sukarela mau
mendatangi kantor polisi.
Richard masih mengap-mengap napasnya. se-
hingga pada awalnya tak sepatah kata pun keluar
dari mulutnya Tapi kemudian ia mulai dengan la-
porannya Polisi itu mendengarkan dengan mu-
lut ternganga. Tapi hanya sebentar saja. Setelah
itu disuruhnya Richard berhenti bercerita, lalu di-
panggilnya seorang laki-laki bertubuh tegap.
Laki-laki itu ternyata seorang inspektur polisi.
Pak Inspektur menyuruh Richard mencerita-
kan kisahnya sekali lagi. dengan lebih tenang dan
jelas Richard sudah merasa lebih lega sekarang.
la bahkan merasa bangga terhadap dinnya sen-
197
din! Bayangkan! Apa saja yang sudah dilakukan
olehnya. melarikan diri dalam tempat bagasi mo-
bil penjahat — menghindarkan diri dari kejaran
Pak Perton — dan tiba dalam keadaan selamat di
kantor polisi. Hebat Richard! Pikir anak itu
memuji dirinya sendiri.
Di manakah bangunan yang namanya Owl s
Dene itu?" tanya Pak Inspektur.
"Mestmya gedung tua yang ada di atas Owl s
Hill, Pak," jawab polisi yang duduk di meja
Mungkin Bapak masih ingat, kita pernah melan-
carkan penggerebekan ke sana — tapi waktu itu
keadaan di Sana nampaknya beres semua. Ru-
mah itu milik seseorang yang sering pergi ke luar
negeri. Yang mengurus seorang laki-laki ber
badan bungkuk, beserta saudara perempuannya
Sedang pemilik rumah itu — kalau tidak salah
namanya Perton, Pak!
Betul!" seru Richard. "Aku ke mari naik mo-
bilnya — sebuah Bentley, berwarna hitam I '
"Kau hafal nomornya?" tanya Pak Inspektur
menyelidik.
"KMF 102," jawab Richard dengan segera.
"Bagus," kata Pak Inspektur Dengan segera ia
menelepon menyuruh mobil patroli mencari mo-
bil Bentley itu dengan segera dan mengejarnya
Jadi kau rupanya yang bernama Richard
Thurlow Kent," kata Pak Inspektur kemudian. "I-
bumu sudah sangat gelisah. Sebaiknya ia kuber
kabar. untuk mengatakan bahwa kau selamat
Dan kau sebaiknya kusuruh antar saja dengan
segera pulang, naik mobil."
198
"Pak — tidak bolehkah aku ikut ke Owl's De-
ne?" tanya Richard dengan nada kecewa. "Ba-
pak kan akan ke sana? Teman-temanku semua
masih terkurung di sanal"
"Kami memang akan ke sana," kata Pak In-
spektur. "Tapi kau tak boleh ikutl Sudah cukup
banyak ketegangan yang kaualami selama mi
Sekarang kau pulang saja, lalu tidur! Kau
seorang pahlawan, karena sudah berhasil melari-
kan diri dan datang ke mari."
Richard merasa bangga. Tapi ia juga kepingin
ikut naik mobil polisi, pergi ke Owl’s Dene. Pasti
gagah rasanya, jika bisa ikut menyerbu bersama
polisi ke sana. la ingin menunjukkan pada Julian,
bahwa ia telah melakukan tugas dengan baik
sekali. Pasti Julian takkan menganggapnya
cengeng lagi I
Tapi Pak Inspektur tetap tak mau membawa-
nya pergi ke Owl's Dene Seorang polisi muda
mengantar Richard pulang.
Saat itu telepon berdering. Pak Inspektur lang-
sung mengangkat gagang pesawat.
"Mobil Bentley tak berhasil ditemukan jejak-
nya? Baiklah. Terima kasihl"
Kemudian ia berkata lagi pada polisi yang mu-
da
Sudah kukira takkan ditemukan. Rupanya
penjahat itu cepat-cepat kembali ke Owl's Dene,
untuk memberi tahu kawan-kawannya di sana."
'Tapi tak lama lagi kita juga akan sudah sam-
pai di sanal" kata polisi yang muda sambil me-
ringis "Mobil kita tak kalah lajunya!”
199
Ternyata Pak Perton memang sudah cepat-
cepat lari, begitu melihat Richard terhuyung-
huyung masuk ke kantor polisi. Dengan ber-
gegas ia kembali ke mobilnya. la merasa yakin,
tak lama lagi polisi pasti akan mencari mobil
Bentley bernomor KMF 102.
Pak Perton ngebut dengan mobilnya Memo-
tong tikungan dengan tajam, sambil menyem
bunyikan tuter seperti orang gila Para pejalan
kaki berhamburan lari dibuatnya Beberapa saat
kemudian ia sudah berada di luar kota Lari mobil
semakin dipercepat.
Ketika sampai di Owl s Hill, Pak Perton mem-
bunyikan tuter, minta dibukakan pintu gerbang!
Pintu itu terbuka, tepat ketika ia meluncur di situ
dengan laju Rupanya ada yang mendengar bunyi
tuternya lalu bergegas-gegas membukakan pm
tu gerbang Begitu sampai di depan pintu rumah
Pak Perton meloncat turun dari mobil. Pintu de-
pan rumah terbuka. Rooky berdin di ambang pin-
tu bersama dua orang kawannya Mereka semua
kehhatan khawatir.
Ada apa, Perton? Kenapa begini cepat kau
sudah kembali?" tanya Rooky. "Ada yang tidak
beres?"
Pak Perton bergegas menaiki tangga depan
masuk dan cepat-cepat menutup pintu rumah.
"Kalian mau tahu apa yang terjadi tadi di kota?
Anak laki-laki yang bernama Richard itu ternya
ta bersembunyi dalam tempat bagasi mobill
Kalian tak sadar bahwa la lenyap?"
"Tentu sajaI" kata Rooky. "Lalu — kau tak
berhasil menangkapnya kembali, Perton?"
200
"Yah — karena aku tak tahu bahwa ia ber-
sembunyi di belakang dan aku harus mening-
galkan mobil sewaktu mendatangi Ted di rumah-
nya, tentu saja ia bisa melarikan diri dengan mu-
dahl" kata Pak Perton "Anak itu lari dengan ce-
pat. Nyaris saja tertangkap, tapi ia berhasil mem-
bebaskan diri lagi. Kemudian ia masuk ke kantor
polisi Karena itu tak kulanjutkan pengejaran.
Aku cepat-cepat kembali ke mari, untuk mem-
beritahukan pada kalian."
Jika begitu polisi pasti sebentar lagi akan su-
dah menyerbu ke mari." teriak Rooky. "Kau
benar-benar goblok, Perton I Mestinya tertang-
kap olehmu anak itu. Sekarang kita takkan bisa
menuntut uang tebusan! Dan aku sudah senang
sekali, akan bisa membalas dendam terhadap se-
tan kecil itu!"
"Так ada gunanya menyesali kejadian yang su-
dah terlanjur," kata Perton. "Bagaimana dengan
Weston? Bagaimana jika polisi sampai berhasil
menemukannya71 la dicari polisil Selama dua
hari belakangan ini koran-koran penuh dengan
dua berita — yaitu lenyapnya Richard Thurlow
Kent, dan minggatnya Solomon Weston dari
penjara! Dan kita terlibat dalam kedua perkara
itu. Kau ingin dijebloskan ke dalam penjara lagi.
Rooky? Padahal kau baru saja bebasl Apa yang
harus kita lakukan sekarang?"
"Kita harus berpikir dulu," kata Rooky. Ke-
dengarannya ia mulai panik. "Ayo, kita ke kamar
ini Kita harus berpikir!"
201
BAB 20
Ruangan Rahasia
Julian beserta ketiga saudaranya mendengar
ketika mobil datang. Terdengar bunyinya, ngebut
ke arah pintu depan rumah. Julian pergi ke pintu
dapur. la ingin tahu apa yang terjadi. Jika Pak
Perton yang datang, artinya Richard berhasil
melarikan diri — atau ia tertangkap lagi.
Didengarnya setiap kata yang diucapkan
orang-orang yang ribut berunding di serambi de-
pan. Bagusl Ternyata Richard berhasil melarikan
diri! Dan juga sudah melapor pada polisi. Pasti
tak lama lagi polisi akan menyerbu Owl's Dene
Mereka pasti tercengang melihat apa yang me-
nunggu di situ!
Julian berjingkat-jingkat ke serambi dalam se-
belah depan. Didengarnya orang-orang masuk ke
kamar yang ada di dekat situ. Apakah yang akan
mereka lakukan sekarang? Mudah-mudahan saja
tidak akan melampiaskan kemarahan mereka
pada dinnya serta anak-anak. Memang, Timmy
ada bersama mereka — tapi kalau sudah ber-
202
sungguh-sungguh, rasanya Rooky takkan segan-
segan menembakl
Karenanya Julian merasa cemas, ketika men-
dengar perundingan orang-orang itu dalam ka-
mar.
"Mula-mula anak-anak itu akan kuhajar se-
muanya," kata Rooky dengan sengit. "Kurasa
rencana pelarian Richard Kent disusun oleh anak
laki-laki yang paling besar — yang bernama
Julian! Jadi dia yang akan paling dulu kupukull"
"Bagaimana dengan. permata kita. Rooky?"
kata seseorang, entah siapa. "Sebaiknya cepat-
cepat kita sembunyikan, sebelum polisi tiba!"
"Ah, mereka pasti akan bingung sebentar,
karena ternyata pintu gerbang tak bisa mereka
buka," kata Rooky. "Dan setelah itu mereka juga
tidak bisa cepat-cepat memanjat tembok peka-
rangan yang tinggi. Jadi kita masih punya waktu
untuk menyembunyikan permata ke dalam ka-
mar rahasia, bersama Weston, la aman di situ —
jadi permata kita pasti akan aman pula!"
"Permata!" pikir Julian. "Jadi rupanya me-
reka menyembunyikan permata hasil curian di si-
ni!"
"Masukkan permata-permata itu ke kamar
rahasia," kata Pak Perton. "Cepatlah sedikit.
Rooky! Sebentar lagi polisi pasti sudah datang!"
"Nanti kita akan mengarang cerita mengenai
soal Richard dan kawan-kawannya," kata
seorang lagi. "Kita akan mengatakan bahwa
mereka tertangkap karena memasuki peka-
rangan tanpa ijin. Lalu kita tahan di sini sebentar.
203
sebagai hukuman! Sebetulnya jika masih ada
waktu, sebaiknya mereka kita bebaskan saja
cepat-cepat Bagaimanapun. anak-anak itu kan
tak tahu apa-apa! Takkan mungkin mereka akan
membongkar rahasia kita!"
Tapi Rooky tak setuju la tak mau membebas-
kan Julian beserta ketiga saudarahya la sudah
mempunyai rencana — rencana jahatl Tapi
kawan-kawannya tidak setuju. Akhirnya Rooky
mengalah juga.
Baiklah! Bebaskan saja mereka — jika masih
ada waktu," katanya dengan nada kesal "Antar
mereka ke pintu gerbang, Perton I Usir mereka
cepat-cepat, sebelum polisi datangl Mungkin
anak-anak itu akan bergegas pergi, lalu tersesat
dalam gelap Biar tahu rasa mereka Г
"Baiklah! Dan kau yang mengurus permata.
kata Pak Perton. Julian bergegas kembali ke da-
pur. karena didengarnya orang berdiri dari kursi.
Kelihatannya tak ada kemungkinan lain bagi
anak-anak itu kecuali membiarkan diri digiring
ke luar gerbang dan kemudian diusir pergi. Julian
sudah bertekad, jika hal itu terjadi mereka akan
menunggu di luar gerbang sampai polisi tiba.
Mereka takkan sampai tersesat dalam gelap, se-
perti diharapkan oleh Rooky!
Pak Perton masuk ke dapur. D perhatikannya
keempat remaja yang berkumpul di situ. Timmy
mulai menggeram-geram.
"Hah — rupanya kalian yang menyusun renca-
na. menyembunyikan Richard dalam mobil. ya?T
kata Pak Perton. "Nah sekarang kami akan me-
204
nyuruh kalian pergi. Mudah-mudahan saja terse-
sat berhari-hari di daerah yang terpencil ini!"
Anak-anak diam saja. Pak Perton mengayun-
kan tinju ke arah Julian. Tapi Julian sempat
mengelak. Dengan segera Timmy menyerang.
Dengan cepat George menyambar kalung leher-
nya. Untung saja —- sebab kalau tidak,. pasti su-
dah patah tulang lengan Pak Perton digigitnya!
"Kalau anjing itu masih sehari saja lagi ada di
sini. pasti akan kutembak dia!" kata Pak Perton
galak. "Ayo, sekarang ikut!"
"Selamat tinggal, Aggie," kata Anne. Aggie
dan si Bongkok memperhatikan anak-anak me-
ninggalkan dapur. masuk ke kebun yang gelap.
Aggie kelihatannya sangat ketakutan. Sedang si
Bongkok melontarkan cacian sambil meludah.
Tapi ketika mereka sedang berjalan menuju
pintu gerbang. tiba-tiba terdengar deru beberapa
mobil yang ngebut mendaki bukitl Ternyata yang
datang dua mobil. Pasti polisi! Pak Perton ber-
henti berjalan. Saat berikutnya, anak-anak dido-
rongnya kembali ke rumah. la tak sempat lagi
mengusir mereka. dengan harapan akan ter-
sesat kemudian
"Kalian harus hati-hati terhadap Rooky," kata
Pak Perton pada keempat remaja itu. "Orang itu
kalau sudah ketakutan, bisa mata gelap! Dan se-
karang ia pasti ketakutan, karena polisi sudah
ada di pintu gerbang!"
Julian beserta saudara-saudaranya menye-
linap kembali ke dapur. Sedapat mungkin mereka
harus mengelakkan diri dari Rooky. Sesampai di
205
dapur, ternyata tak ada orang di situ. Entah ke
mana si Bongkok dan Aggie! Pak Perton terus ke
serambi depan.
"Sudah kausembunyikan permata kita?" seru-
nya. Dan seseorang menjawab, "Sudah! Ada da-
lam kamar rahasia. bersama Weston. Jadi beres!
Dan bagaimana dengan anak-anak? Kau masih
sempat mengusir mereka?"
"Tidak!" jawab Pak Perton dengan suara ge-
ram. "Polisi sudah ada di depan pintu gerbang!"
Saat itu juga terdengar seseorang berteriak
dengan keras. Rupanya Rooky!
"Apa7 Polisi sudah sampai di sini? Jika Ri-
chard ada di sini, pasti sudah kupukul sampai ba-
bak belur! Tunggu sampai kubakar beberapa su-
rat yang tak boleh sampai jatuh ke tangan polisi’
Setelah itu akan kuhajar seorang di antara anak-
anak itu! Так peduli siapal Pokoknya ada yang
harus menderita karena menyebabkan kesialan
kita ini!"
"Tenang, Rooky," kata Pak Perton. "Jangan
sampai kau mengalami kesulitan lagi — hanya
karena watakmu yang cepat naik darahl Jangan
ganggu lagi anak-anak itu!"
Julian mendengar seluruh pembicaraan itu. la
merasa sangat cemas la harus menyembunyi-
kan saudara-saudaranyal Timmy pun tak meru-
pakan pelindung lagi bagi mereka, jika Rook
memegang pistol. Tapi di manakah ia bisa me-
nyembunyikan mereka?
"Jika Rooky semakin marah lagi dan berkeras
hendak membalas dendam, maka pasti akan
206
digeledahnya seluruh rumah jika anak-anak ber-
sembunyi," pikir Julian. "Sayang tak ada ruang-
an rahasia satu lagi! Jika ada, kita bisa bersem-
bunyi dengan aman di situ!"
Didengarnya Rooky naik ke tingkat atas ber-
sama kawan-kawannya Sekarang ada kesem-
patan bagi Julian untuk mengajak saudara-sau-
daranya menyembunyikan diri, Tapi ke mana?
Tiba-tiba ia mendapat akal Walau begitu ia
masih ragu-ragu sejenak — jangan-jangan akal
itu meleset! Akhirnya ia memutuskan untuk
mencoba saja.
Kita harus bersembunyi," katanya pada ke-
tiga saudaranya. "Kalau Rooky sedang marah-
marah. ia berbahaya!"
Tapi ke mana kita akan bersembunyi?" tanya
Anne ketakutan.
"Dalam kamar rahasial" jawab Julian. Anak-
anak menatapnya dengan mulut ternganga
"Tapi — tapi di situ kan sudah ada orang yang
bersembunyi — kau sendiri mengatakan, bahwa
kau melihatnya kemarin malam," kata George
kemudian.
Memangl Tapi apa boleh buat Jika kita ikut
bersembunyi di situ, pasti orang itu takkan ribut-
ribut," kata Julian, la juga tak mau ketahuan po-
lisi! Pasti kita akan berdesak-desakan di dalam-
nya karena ruangan itu sangat sempit. Tapi di pi-
hak lain, tempat itu paling aman di rumah ini!"
"Timmy juga harus ikut," kata George dengan
tegas Julian mengangguk.
207
"Tentu saja! Dia mungkin kita perlukan, untuk
membela diri terhadap orang itu," katanya.
Mungkin orang itu akan marah jika kita dengan
sekonyong-konyong masuk ke tempat persem-
bunyiannya! la tak boleh kita ben kesempatan
memanggil Rooky Tapi j ka kita sudah ada di da
lam. pasti akan beres — karena-ia pasti tak bera-
ni berkutik lagi. Pasti takut pada Timmy1 Dan 1a
juga takkan berani berteriak, karena kita akan
mengatakan padanya bahwa polisi datang!"
"Bagus1" kata Dick- "Yuk, kita ke sana se-
karang. Bagaimana — di luar sudah aman?"
"Ya — mereka ke atas semua! Rupanya ada
urusan di situ," kata Julian. Mungkin hendak
memusnahkan bukti-bukti yang bisa memberat-
kan mereka Ayo, kita pergi bersembunyi!"
Aggie dan si Bongkok masih tetap belum keh-
hatan. Rupanya mereka ketakutan mendengar
ribut-nbut lalu bersembunyi. Julian mendahului.
berjalan mengendap-endap pergi ke kamar
kerja.
Sesampai di situ, anak-anak menatap lemari
buku besar yang menjulang sampai ke langit
langit kamar. Dengan cepat Julian menghampiri
salah satu rak lemari itu, lalu menyingkirkan
buku-buku yang ada di situ. Tangannya meraba-
raba, mencari tombol.
Nah, itu dia tombol yang dicaril Dengan sege-
ra Julian menariknya. Lembaran papan dinding
rak itu tergeser tanpa bunyi ke bawah. Di depan
Julian ternganga sebuah lubang besar. Seperti
sebuah tingkap kamar rahasia1
208
Napas saudara-saudaranya tersentak Ajaib!
Benar-benar luar biasa. Mereka menatap ke da-
lam lubang itu. Nampak sebuah ruangan kecil di
belakangnya diterangi cahaya lilin Dan mereka
juga melihat orang yang bersembunyi di dalam.
Tapi orang itu juga melihat mereka! la ter
cengang.
"Siapa kalian?" tanyanya dengan suara galak.
"Siapa menyuruh kalian membuka tingkap?
Mana Rooky dan Perton?"
"Kami mau masuk ke situ," kata Julian. "Ja-
ngan ribut!
George disuruhnya masuk paling dulu, lang-
sung disusul oleh Timmy yang didorong ke dalam
oleh Julian.
Orang yang di dalam itu cepat-cepat berdiri.
Ternyata 1a berbadan tinggi kekar. Matanya kecil
209
dan rapat letaknya. Sedang bibirnya memberi ke-
san kejam.
"He. seenaknya saja kalian masuk!" katanya
Mana Perton? He Orang itu hendak ber-
teriak, memangg I Perton.
Kalau kau ribut lagi, akan kusuruh anjingku
menyerangmu," kata George, ketika Julian mem-
beri isyarat padanya. Tim menggeram, kede-
ngarannya galak sekali. Dengan segera orang itu
mundur.
"Aku aku ..." katanya terbata-bata Timmy
menggeram sekali lagi, sambil menyenngai
memperlihatkan gigi taring yang runcing. Orang
itu cepat-cepat naik ke tempat tidur la tak berani
membuka mulut lagi, karena ketakutan Tapi
nampak jelas bahwa ia menahan marah. Rasa
herannya juga belum lenyap. Sementara itu Dick
menyusul masuk, diikuti oleh Anne. Ternyata
dugaan Julian benar! Ruangan itu terlalu sempit
untuk orang sebanyak itu. Belum lagi ditambah
dengan Timmyl
'He ' kata Julian Tiba-tiba ia teringat pada
sesuatu. "Aku terpaksa tinggal di luar. Buku-
buku ini harus kukembalikan ke tempat semula
Jika tidak, pasti Rooky akan segera tahu bahwa
ada orang lain bersembunyi di situ. Kalau ke-
tahuan, kita tak mungkin bisa lari lagi
' Aduh, Ju — kau harus ke man bersama kita
kata Anne ketakutan
Так mungkin, Anne Papan dinding ini harus
kututup lagi, dan buku-buku kukembalikan ke
tempatnya." kata Julian. "Aku tak berani me-
210
nanggung risiko ketahuan, sebelum polisi ber-
hasil meringkus Rookyl Kau tak perlu khawatir,
aku bisa menjaga diriku sendiri."
"Polisi? Tiba tiba terdengar suara orang yang
meringkuk di tempat tidur. Anak anak berpaling
memandangnya Mata orang itu terbelalak keta-
kutan. ' Polisi ada di sini?"
"Ya, mereka sudah ada di depan gerbang,"
kata Julian. "Karena itu jangan ribut, jika tak mau
langsung ketahuan!"
Setelah itu Julian menekan tombol Papan din-
ding rak tergeser lagi ke tempatnya Dengan ce-
pat Julian mengatur buku-buku penyamar, se-
hingga keadaan nampak seperti semula Setelah
itu 1a cepat-cepat lari ke luar karena tak mau ke-
tahuan
Sekarang ia harus bersembunyi di mana?
Berapa lama polisi harus memerlukan waktu un-
tuk memanjat pagar tembok, atau mendobrak
pintu gerbang yang besar itu? Mestinya tak lama
lagi mereka akan sudah tiba di situ — demikian-
lah harapan Julian.
Saat itu terdengar langkah orang berlari-lari
menuruni tangga dari tingkat atas. Ternyata Roo-
ky yang datang! la dengan segera melihat Julian
tertegun dalam serambi.
"Ah — di situ kau rupanya? Mana yang Iain-
lain? Sekarang akan kuperlihatkan apa yang ter-
jadi dengan anak-anak yang membuyarkan
rencanaku. Akan kutunjukkan ..."
Rooky memegang cambuk Matanya jelalat-
an1 Julian takut melihatnya. la bergegas masuk
211
kembali ke kamar kerja, lalu mengunci pintu dari
dalam. Rooky datang. lalu memukul-mukulkan
tinjunya ke daun pintu. Kemudian terdengar bu-
nyi berderak. Menurut perasaan Julian saat itu,
pasti Rooky mengambil kursi dan memukulkan-
nya ke daun pintu. Pasti sebentar lagi pintu akan
pecah berantakan!
212
BAB 21
Akhir Yang Menegangkan!
J ulian bukan anak yang penakut. Tapi saat itu ia
sungguh-sungguh merasa ngeri. Bagaimana
perasaan anak-anak yang bersembunyi dalam
kamar rahasia? Anne pasti sudah ketakutan,
mendengar Rooky berteriak-teriak serta bunyi
pintu dipukul berderak-derak.
Kemudian Julian mendapat ilham yang benar-
benar gemilang! Ya ampun — kenapa tidak dari
tadi-tadi ia mendapat akal itu? Kan dia bisa
membukakan pintu gerbang pekarangan, sehing-
ga polisi bisa masuk dengan segera! la tahu
bagaimana cara membukanya. Peralatan pem-
buka gerbang ada di pojok kamar kerja itu. Dan
jika pintu gerbang sudah terbuka, tak lama lagi
polisi pasti sudah akan menggedor-gedor pintu
depan rumah!
Julian lari menghampiri roda pemutar mesin.
lalu memutarnya dengan keras. Seketika itu juga
terdengar bunyi mesin mulai bekerja.
Sementara itu Rooky masih terus berusaha
mendobrak pintu dengan kursi. Selembar daun-
213
nya sudah pecah berantakan. Tapi tiba-tiba dide-
ngarnya bunyi mesin yang membuka gerbang.
Rooky tertegun ketakutan Pintu gerbang ter-
buka! Sebentar lagi polisi pasti akan menyerbu
ke rumah — dan ia akan tertangkap!
Rooky lupa bahwa ia sudah menyusun cerita
yang akan dibualkannya pada polisi jika mereka
datang. la lupa segala-galanya. Cuma satu yang
diingatnya saat itu — ia harus bersembunyi! Di-
campakkannya kursi yang dipakainya untuk men-
dobrak pintu, lalu la lari.
Julian terduduk ke kursi yang ada di dekat-
nya. Hatinya berdebar keras, seperti habis ber-
lomba lari. Pintu gerbang sudah terbuka — Roo-
ky lari — dan sebentar lagi polisi akan tibal Pada
saat ia sedang berpikir-pikir begitu, terdengar
deru mobil-mobil datang. Kemudian berhenti.
Terdengar bunyi pintu-pintu mobil dibuka.
Kemudian pintu depan rumah digedor dan
luar.
"PolisiI Buka pintuI
Terdengar seruan lantang, disusul bunyi pintu
digedor lagi Tapi tak ada yang datang untuk
membukakan Julian membuka pintu kamar kerja
yang sudah agak pecah, lalu mengintip dengan
hati-hati ke luar. Kelihatannya sama sekali tak
ada orang di situ.
Julian berlari ke pintu depan. Ditariknya ge-
rendel ke belakang, dibukanya rantai berat — se-
mentara hatinya berdebar keras, takut kalau-
kalau ada yang datang dan merintanginya. Taps
tetap tak ada yang muncul.
214
Tiba-tiba pintu terdorong dan terbuka dengan
keras Polisi menyerbu ke dalam. Mereka ber-
delapan. Semuanya tercengang ketika melihat
bahwa yang membukakan pintu seorang anak
laki-laki.
Siapa namamu?" tanya Pak Inspektur yang
ikut dalam penyerbuan itu.
"Julian, Pak," kata Julian. "Untung Bapak
segera datang. Di sini sudah gawat sekali ke-
adaannya!"
"Ke mana orang-orang itu?” tanya Pak In-
spektur sambil melangkah masuk
"Так tahu, Pak," kata Julian.
Can mereka," perintah Pak Inspektur. De-
ngan segera anak buahnya menyebar. Tapi se-
belum mereka sempat melakukan penggele-
dahan, tiba-tiba terdengar suara orang menyapa
dari ujung gang. Suara orang itu tenang, seperti
tak ada kejadian apa-apa.
'Ada apa nbut-nbut di sini?"
Ternyata Pak Perton yang muncul. Sikapnya
sangat tenang la memegang sebatang rokok
sambil berdin di ambang pintu ruangan duduk.
Sikapnya santai
"Sejak kapan polisi boleh menyerbu ke rumah
orang tanpa alasan?!"
"Mana yang Iain-Iain?" tanya Pak Inspektur.
"Di sini, Inspektur," jawab Pak Perton dengan
santai Kami sedang berunding Tahu-tahu ter-
dengar pintu luar digedor. Ternyata polisi yang
masuk! Kalian akan mengalami kerumitan, kare-
na menyerbu rumah ini tanpa alasatfl'
215
Pak Inspektur menghampin ruangan dan
mana Pak Perton muncul, lalu menengok ke da-
lam.
Ah — sobat kita Rooky ada di sini rupanya,"
kata Pak Inspektur dengan ramah "Baru bebera-
pa hari keluar dari penjara — dan sudah terlibat
lagi dalam perkara baru! Ck ck ck!" Pak Inspek-
tur mendecakkan lidah "Mana Weston?”
'Aku tak mengerti maksud Anda," kata Rooky
dengan masam. "Bagaimana aku bisa menge-
tahui di mana ia berada? Terakhir kahnya aku
melihat orang itu, ia ada dalam penjara I"
"Betull Tapi ia berhasil melarikan diri,” jawab
Pak Inspektur "Dan ada orang yang membantu-
nya Ian Rooky Ada yang merencanakan pela-
rian temanmu itu — dan ada juga yang tahu di
mana Weston menyembunyikan permata yang
dicunnya Kurasa kau menuntut bagian, sebagai
imbalan atas jasamu mengerahkan kawan-
kawanmu untuk menolongnya lari dan penjara
Mana Weston, Rooky?"
"Sudah kubilang tadi aku tak tahu," kata Roo-
ky sekali lagi. "Pokoknya ia tak ada di sini — jika
itu sangkaan Anda Geledah saja rumah mi dari
loteng sampai ke kolongl Perton takkan ber-
keberatan. Ya kan, PertonI Kalian bisa sekaligus
mencari permata yang hilang Aku tak tahu-
menahu tentang urusan itu!"
"Kami sudah lama mencurigaimu. Perton,"
kata Pak Inspektur sambil menatap Perton yang
masih mengisap rokok dengan tenang di ambang
pintu. "Kurasa kaulah dalang pelarian-pelarian
216
dan penjara! Karena itulah kaubeli rumah yang
terpencil ini — supaya bisa beraksi tanpa digang-
gul Kau yang mengatur pelarian, kau yang
mengurus pakaian yang diperlukan — dan kau
pula yang mencarikan tempat persembunyian
yang aman, sebelum mengusahakan penyelun-
dupan ke luar negeril"
'Omong kosong kata Pak Perton dengan te-
nang.
"Dan kau hanya membantu para penjahat
yang diketahui melakukan perampokan yang he-
bat serta sempat menyembunyikan hasil peram-
pokan sebelum mereka tertangkap,” sambung
Pak Inspektur dengan geram "Dengan begitu
kau tahu bahwa kau bisa menarik keuntungan
besar dalam usahamu itu. Aku tahu Weston ada
di s ml Begitu pula permata yang dicurinya Kau-
sembunyikan di mana, Perton?"
"Kedua-duanya tak ada di sini," kata Perton.
'Silakan periksa sendiri, jika tak mau memper-
cayai kataku Anda pasti takkan bisa menemukan
apa-apa, Inspektur! Aku tak bersalah."
Julian tercengang mendengar pembicaraan
itu Wah, ternyata yang dihadapinya penjahat
ulung! Dan — ia tahu di mana orang yang ber-
nama Weston itu disembunyikan — bersama
permata hasil curiannya. Julian maju hendak ikut
bicara. Tapi tak diacuhkan.
"Nanti saja, Nak!” kata Pak Inspektur. "Se-
karang kami sedang repotl"
"Tapi saya bisa membantu, Pakl" kata Julian
berkeras. "Saya tahu di mana penjahat yang lari
217
dan penjara itu bersembunyi — dan juga perma
ta hasil curiannyal"
Seketika itu juga Rooky melompat dari kursi-
nya sambil bertenak marah Pak Perton terbe
lalak menatap Julian. Sedang kawan-kawannya
nampak gelisah Mereka berpandang-pandang-
an
"Kau tak tahu apa-apal" teriak Rooky. "Kau
baru kemarin muncul di sinil"
Tapi Pak Inspektur menatap Julian dengan
serius. la senang melihat remaja yang bersikap
tenang dan tahu sopan-santun itu
"Kau betul-betul tahu?" tanyanya.
"Ya, Pak," jawab Julian. Ikut saja dengan
aku I"
la berpaling, lalu pergi ke luar. Polisi, Rooky
serta kawan-kawannya berbondong-bondong
mengikuti. Tapi tiga orang polisi berjalan di bela-
kang, menjaga supaya tak ada yang bisa mela-
nkan din
Julian berjalan mendahului, menuju kamar
kerja. Melihat arah tujuannya, muka Rooky men-
jadi merah padam dengan seketika la sudah
nyaris berteriak lagi, tapi Pak Perton cepat-cepat
menyikutnya Rooky tak jadi marah. Sementara
itu Julian pergi ke lemari buku. Deretan buku
yang ada di papan rak tertentu, disapunya
dengan tangan sehingga ter atuh semuanya ke
lantai
Rooky berteriak marah, lalu melompat ke arah
Julian
218
Apa yang kaulakukan itu? I" teriaknya
Dengan segera dua orang polisi meringkus
Rooky yang mengamuk lalu menyeretnya ke
belakang Julian menank tombol Tanpa menim-
bulkan suara, selembar papan dinding belakang
lemari tergeser ke bawah Di depan mereka ter-
nganga sebuah lubang, menampakkan kamar ra-
hasia yang ada di belakangnya
Di tengah lubang itu nampak muka empat
orang. Tiga anak-anak dan seorang laki-laki
dewasa Timmy juga ada dalam ruangan itu, tapi
ia tidak ikut memandang ke luar. Semuanya ter-
diam sesaat Yang bersembunyi dalam kamar ra-
hasia tercengang karena tahu-tahu berhadapan
dengan serombongan polisi. Sedang orang-orang
yang ada di kamar kerja, heran ketika melihat be
gitu banyak anak-anak dalam ruangan tersem-
bunyi itu1
Nah I" kata Pak Inspektur. "Tenyata di sini
Weston disembunyikan!"
Rooky meronta-ronta mencoba melepaskan
diri dari tangan polisi yang memegangnya la
menatap Julian dengan marah
Kuhajar anak itul" gumamnya sengit Anak
setan!"
Permatanya juga ada di situ Weston? tanya
Pak Inspektur dengan nada hang Serahkan saja
sekarang!"
Muka Weston pucat pasi. Tapi ia sama sekali
tak bergerak. Namun Dick langsung bertindakl la
merogoh ke bawah tempat tidur yang sempit,
mengambil sebuah bungkusan
219
' Ini dia!" katanya sambil nyengir. "Wah. berat
sekali! Kami boleh keluar sekarang. Ju?"
Anak-anak keluar, ditolong polisi Sedang
Weston diborgol dulu sebelum disuruh ke luar
Rooky juga ikut dibelenggu, sedang Pak Perton
kaget dan marah ketika tiba-tiba pergelangan
tangannya tak bisa digerakkan dengan bebas la-
gi. Polisi memborgolnya pula!
Lumayan juga hasil penyerbuan kita," kata
Pak Inspektur dengan gembira. la semakin se-
nang ketika sudah melihat isi bungkusan yang
disodorkan Dick padanya. 'Mana pakaian nara-
pidanamu, Weston7 Setelanmu bagus — tapi
bukan itu yang kaupakai ketika lari dari pen-
jara!"
Aku tahu di mana ia menaruh pakaiannya,"
kata Julian. Semua memandangnya dengan
heran. kecuali Anne dan George Mereka juga
teringat.
"Pakaiannya dimasukkan ke dalam sebuah su-
mur di belakang sebuah pondok reyot yang ada
di pinggir jalan antara tempat ini dengan Hutan
Middlecombe,” kata Julian. Aku bisa menemu-
kan tempat itu dengan gampang!"
Pak Perton menatap Julian dengan mata ter
belalak.
"Dari mana kau mengetahuinya?" tanyanya
kasar Mustahil hal itu juga kauketahui!"
"Tapi buktinya aku tahu," kata Julian "Aku
juga tahu Anda yang membawakan pakaian baru
untuknya. Dan Anda datang ke pondok itu naik
220
Bentley hitam, nomornya KMF 102 Betul, kan?
Aku melihatnya
"Nah, sekarang kau mati kutu, Perton," kata
Pak Inspektur sambil tersenyum senang. Hebat
pemuda kita yang satu ini! Sanggup mengingat
berbagai hal yang pentingl Aku tak heran apa-
bila suatu hari nanti ia menjadi polisi. Pemuda
seperti kamu, besar sekali gunanya bagi kamil"
Pak Perton mencampakkan rokoknya ke lantai,
lalu menginjak-injaknya dengan gemas. Seolah-
olah membayangkan sedang menginjak-injak
Julian! Kesemuanya itu salah Rooky, pikirnya
Kalau ia tak melihat Richard dan kemudian
mengejar-ngejarnya, takkan terjadi kesialan yang
kini menimpal Weston akan berhasil disem-
bunyikan dengan aman dan kemudian \liselun-
dupkan ke luar negeri! Sedang batu-batu perma-
ta dijual, dan uangnya dibagi-bagi la, Perton,
akan menjadi kaya raya Kim semuanya buyar —
karena perbuatan serombongan anak remaja.
"Masih ada lagi orang di sini?” tanya Pak In-
spektur pada Julian Kelihatannya kamu yang
paling banyak mengetahui di sini — jadi katakan-
lah, masih ada orang lain dalam rumah ini?"
"Ya, Pak — Aggie dan si Bongkok,' jawab
Julian dengan segera. "Tapi Aggie harap jangan
diapa-apakan — perempuan itu baik sekali terha-
dap kami la sangat takut pada si Bongkok!"
Akan kami pertimbangkan kata katamu itu
janji Pak Inspektur "Geledah rumah ini,' katanya
menugaskan bawahannya. "Bawa Aggie dan si
Bongkok! Kita memerlukan mereka sebagai sak-
221
si. Dua orang menjaga di sini. Selebihnya ke kan-
tor polisi!"
Mobil Bentley terpaksa ikut dipakai, untuk
mengangkut mereka semua ke kota yang ter-
dekat. Sepeda anak-anak terpaksa ditinggal di si-
tu, karena tak bisa diangkut dengan mobil
"Kalian hendak pulang malam ini juga?” tanya
Pak Inspektur pada Julian. "Kami antarkan nanti.
Bagaimana dengan orang tua kalian? Tentunya
sudah cemas!"
"Ah, tidak, Pak!" jawab Julian. "Mereka se-
dang bepergian. Kami sebetulnya juga sedang
melancong, naik sepeda. Jadi malam ini kami tak
tahu harus menginap di mana I"
Tapi ketika tiba di kantor polisi, ternyata ada
pesan dari Ibu Kent untuk Pak Inspektur. Isi pe-
san itu mengatakan bahwa anak-anak diundang
menginap di rumah orang tua Richard. Ibu Kent
ingin sekali mendengar kisah petualangan mere-
ka yang mendebarkan hati itu.
"Yah — jadi soal itu beresl" kata Julian. "Kita
pergi menginap di sana. Aku ingin menyam-
paikan pujianku pada Richard. Ternyata anak itu
seorang pahlawan!"
"kalian harus ada di sekitar sini selama be
berapa hari," kata Pak Inspektur. "Kurasa kami
masih memerlukan kalian sebagai saksi."
"Baiklah," jawab Julian. "Dan kami akan
sangat berterima kasih, apabila sepeda kami bisa
diantarkan ke rumah keluarga Kent."
Ketika anak-anak tiba di rumah itu, Richard
menyongsong ke pintu. Padahal saat itu malam
222
sudah larut Richard sudah berganti pakaian.
Kelihatannya rapi sekali, berdekatan dengan
Julian serta saudara-saudaranya yang nampak
kumal
Sayang aku tak bisa bersama kalian sampai
detik-detik terakhirl" seru Richard. ''Jengkel
sekali rasanya ketika disuruh pulang! Ayah —
Ibu — ini mereka, anak-anak yang kuikuti ketika
minggat dari sini!”
Pak Thurlow Kent baru saja kembali dari per-
jalanannya ke Amerika. la menyalami Julian ser-
ta ketiga saudaranya.
"Silakan masuk,” kata Pak Kent "Kami sudah
menyediakan makanan. Tentunya kalian lapar
sekali!"
Ceritalah dulu apa yang terjadi setelah aku
pergi!" pinta Richard.
'Kami harus mandi dulu," kata Julian "Kotor
sekali rasanya badan kami."
"Yah! Kalian bisa bercenta sambil mandi,"
kata Richard. "Aku tak sabar lagi menunggu!"
Enak rasanya bisa mandi dengan air hangat,
dan setelah itu mengenakan pakaian bersih.
George diberi celana pendek, seperti Dick dan
Julian. Keduanya tersenyum geli, karena rupanya
orang tua Richard menyangka George anak laki-
laki. George ikut meringis Tapi ia diam saja
"Aku marah sekali pada Richard, ketika ku-
dengar apa yang diperbuat anak bandel ini," kata
Pak Kent ketika anak anak sudah duduk meng-
hadapi meja makan dan makan dengan lahap
"Aku merasa malu mengingat kelakuannyal"
223
* Richard menunduk Tapi masih sernpdt melink
* ke arah Julian.
"Ya — kekonyolan Richard itu menyebabkan
kami semua nyaris celaka!" kata Julian 'Anak
iai memang bengal, Pak!"
Richard semakin menunduk, tak berani mene-
ngok lagi. Mukanya menjadi merah padam
"Tapi krmudian ia membuktikan bahwa ia
juga bisa tabah,' sambung Julian "Tidak sem-
barang anak berani melakukan hal-hal yang di-
perbuatnya sewaktu lari mencari bantuan! Saya
sekarang tidak memandang rendah lagi pada-
nya!" Diperkuatnya pernyataan itu dengan me-
nepuk bahu Richard. Saudara-saudaranya semua
mengikuti teladan Julian.
Richard menjadi merah lagi mukanya — tapi
kali ini karena senang
"Terima kasih! Aku takkan melupakan peng-
alaman ini," katanya.
"Kau harus sungguh-sungguh mencamkan-
nya," kata Pak Kent. "Kejadian itu bisa saja ber-
akhir dengan bencana!"
"Tapi ternyata tidak," kata Anne. "Akhirnya
menggembirakan. Sekarang kami bisa menarik
napas lega lagi."
"Sampai lain kali," kata Dick mengakhiri
pembicaraan itu. la meringis.
T A M A T
224
Scanned book (sbook) ini hanya untuk pelestarian buku
dari kemusnahan dan membiasakan anak-anak kita
membaca buku melalui komputer.
DILARANG MENGKOMERSILKAN atau
hidup anda mengalami ketidakbahagiaan.
BBSC