/
Author: Stine R.L.
Text
Goosebumps - Rambut Setan
eA_A fà|Çx
PDF & ePub by FotoSelebriti.Net
1
AKU tidak habis pikir kenapa begitu banyak anjing liar di kotaku.
Dan aku lebih heran lagi kenapa harus aku yang mereka incar?
Jangan-jangan mereka sembunyi di balik semak-semak sambil
memperhatikan orang-orang yang lewat. Lalu mereka saling berbisik, "Kau
lihat anak berambut pirang itu? Itu Larry Boyd-ayo, kita kejar dia."
Aku berlari sekencang mungkin. Tapi tidak mudah untuk berlari kencang
sambil membawa kotak gitar. Kotak itu membentur-bentur kakiku.
Dan aku juga terpeleset-peleset di salju.
Kawanan anjing itu semakin dekat. Semua melolong dan menyalak
menakut-nakutiku.
Hmm, usaha kalian memang berhasil! pikirku. Aku ngeri. Ngeri setengah
mati!
Kata orang sih, anjing bisa tahu kalau kita takut. Tapi biasanya aku tidak
takut anjing. Sebenarnya, aku justru senang anjing.
Aku cuma takut kalau ada segerombolan anjing yang berlari mengejarku
sambil meneteskan air liur, seakan-akan hendak menerkam dan
mengoyak-ngoyakku. Seperti sekarang.
Tergopoh-gopoh aku berusaha menyelamatkan diri, dan nyaris jatuh ke
gundukan salju setinggi lutut. Aku menengok ke belakang. Anjinganjing
itu terus mendekat.
Ini tidak adil! pikirku dengan getir. Mereka berkaki empat, sedangkan aku
cuma punya dua!
Seperti biasa gerombolan itu dipimpin anjing hitam besar dengan mata
hitam beringas. Dia menyeringai, dan' giginya yang tajam dan
runcing kelihatan jelas.
"Pulang! Ayo pulang! Anjing-anjing nakal! Pulang!"
Percuma saja aku berteriak-teriak. Mau pulang ke mana mereka? Mereka
tidak punya rumah!
"Pulang! Ayo pulang!"
Sepatu botku tergelincir di salju, dan gitarku yang berat nyaris membuatku
terjatuh. Tapi entah bagaimana aku berhasil menjaga
keseimbangan dan terus melangkah maju.
Jantungku berdegup-degup. Tubuhku serasa terbakar, padahal suhu
udara saat itu beberapa derajat di bawah nol.
Salju di sekelilingku begitu putih sehingga aku terpaksa memicingkan
mata supaya tidak silau. Aku berusaha menambah kecepatan, tapi
otot-otot kakiku sudah mulai kram. '
Tamatlah riwayatku! pikirku pasrah.
"Aduh!" Kotak gitar yang berat membentur pinggangku.
Aku melirik ke belakang. Anjing-anjing itu melompat-lompat seakan-akan
tak kenal lelah. Semua melolong dan menggonggong sambil
mengejar.
Semakin dekat. Semakin dekat.
"Pulang! Anjing-anjing nakal! Bandel! Pulang!"
Kenapa harus aku?
Aku anak baik. Sungguh. Silakan tanya siapa saja. Mereka pasti akan
bilang-Larry Boyd, anak dua belas tahun paling ramah di kota ini!
Jadi kenapa arus aku yang dikejar-kejar?
Terakhir kali aku menyelamatkan diri dengan melompat ke mobil yang
diparkir di, pinggir jalan dan menutup pintunya, persis waktu mereka
menerkam. Tapi kali ini gerombolan anjing itu sudah terlalu dekat. Dan
semua mobil di sepanjang jalan tertutup salju. Sebelum aku sempat
membuka pintu salah satu mobil, aku pasti sudah jadi santapan mereka!
Jarak ke rumah Lily tinggal setengah blok. Rumahnya sudah kelihatan di
pojok di seberang jalan. Itu satu-satunya kesempatanku.
Kalau saja aku bisa sampai ke rumah Lily aku bisa-"ADUUUH!" '
Kakiku tersandung pada batu kecil yang tersembunyi di bawah salju. Kotak
gitarku terlepas dari tanganku dan terpental.
Aku terjerembab.
"Tamatlah riwayatku," aku mengerang. "Kali ini aku takkan lolos.”
2
SEMUANYA jadi putih.
Dengan susah payah aku berusaha bangkit. Terburu-buru kutepis salju
yang menempel di wajahku.open in browser customize fcrowd.com
Anjing-anjing itu menyalak garang.
"Hus! Pergi! Ayo pergi!" Suara lain. Suara yang sangat kukenal. "Pergi,
kubilang! Ayo pergi!"
Suara anjing-anjing itu bertambah pelan.
Kutepis salju lembab yang menutupi mataku.
"Lily!" aku berseru dengan gembira. "Kok kau ada di sini?"
Dia mengayunkan sekop salju yang berat ke arah anjing-anjing itu. "Hus!
Pergi! Ayo!"
Anjing-anjing yang semula masih menggeram kini merintih-rintih tertahan.
Satu per satu mereka mulai mundur. Anjing hitam raksasa
dengan mata hitam pun menundukkan kepala dan membalik.
Yang lain mengikutinya.
"Lily-mereka tunduk padamu!" aku kembali berseru dengan lega. Pelanpelan aku berdiri dan menepis-nepis salju dari jaket biruku.
"Tentu saja," sahut Lily sambil nyengir. "Masa kau tidak tahu kalau aku
paling ditakuti di daerah sini, Larry? Semuanya tunduk padaku."
Sebenarnya penampilan Lily Vonn sama sekali tidak menakutkan.
Umurnya dua belas, sama seperti aku, tapi tampangnya masih seperti
anak kecil. Dia pendek dan kurus dan, ehm... lumayan manis. Rambutnya
yang pirang dipotong sebatas dagu dan dibiarkan menutupi
keningnya.
Yang aneh pada Lily adalah matanya. Yang satu biru, yang satu lagi hijau.
Tak ada yang percaya bahwa kedua matanya berbeda warna
sampai mereka melihatnya sendiri. ,
Kutepis salju yang menempel di mantel dan lutut celana jeans-ku. Lily
mengulurkan kotak gitarku. "Moga-moga tahan air," gumamnya.
Aku menoleh ke jalan. Anjing-anjing itu kembali menyalak-nyalak sambil
mengejar seekor tupai.
"Aku melihatmu dari jendela kamarku tadi," Lily berkata ketika kami
menuju rumahnya. "Kenapa sih kau selalu dikejar anjing?"
Aku angkat bahu. "Mana aku tahu?" sahutku. "Aku sendiri heran." Salju
yang menutupi trotoar bekersik-kersik di bawah sepatu bot kami.
Lily berjalan di depan. Aku menapakkan kaki pada jejak yang
ditinggalkannya.
Kami menunggu sebuah mobil melintas, lalu menyeberang dan memasuki
pekarangan rumah Lily.
"Kenapa kau telat?" tanya Lily.
"Aku disuruh ayahku membersihkan salju di depan garasi," jawabku.
Tudung jaketku rupanya kemasukan salju, yang sekarang terasa
mengalir di tengkukku. Aku menggigil. Aku sudah tidak sabar masuk ke
rumah Lily yang hangat.
Yang lain ternyata sudah berkumpul di ruang tamu Lily. Aku melambaikan
tangan kepada Manny, Jared, dan Kristina. Manny sedang
berlutut dan mengotak-atik amplifier gitarnya. Sekonyong-konyong gitarnya
mengeluarkan suara melengking yang membuat kami semua
tersentak kaget.
Manny jangkung; - kurus, dan bertampang agak bloon, dengan senyum
yang menceng dan rambut hitam ikal yang lalu berkesan acakacakan.
Jared juga berumur dua belas seperti yang lain, tapi tampangnya seperti
anak delapan tahun. Rasanya kami semua belum pernah
melihat dia tanpa topi Raiders-nya yang berwarna hitam dan perak.
Kristina agak gendut. Rambutnya keriting dan merah seperti wortel. Dia
memakai kacamata dengan bingkai plastik berwarna biru.
Kubuka mantelku yang basah kemudian kugantungkan pada gantungan di
dekat pintu masuk.
Rumah Lily terasa hangat dan nyaman. Kurapikan sweterku lalu
bergabung dengan yang lain.
Manny menoleh dan tertawa keras-keras. "Hei, lihat tuh-rambut Larry
berantakan! Cepat, foto dia!"
Semua tertawa.
Mereka selalu berkomentar tentang rambutku. Padahal bukan salahku
kalau rambutku memang bagus, ya, kan? Rambutku panjang, pirang
dan berombak.
"Hairy Larry!" Lily berseru.
Ketiga temanku yang lain tertawa lalu ikut bersenandung. "Hairy Larry!
Hairy Larry! Hairy Larry!"
Aku langsung merengut dan menyibakkan rambut. Mukaku mendadak
terasa panas.
Aku paling tidak suka diolok-olok. Aku selalu kesal, dan mukaku selalu
memerah karenanya. Mungkin justru karena itu, Lily dan yang lain
begitu getol mengolok-olokku. Ada saja ide mereka. Kalau bukan soal
rambutku, ya soal telingaku yang besar, atau soal apa saja yang
kebetulan terlintas dalam benak mereka.
Dan aku selalu kesal. Dan mukaku selalu merah. Dan mereka semakin
menjadi-jadi.
"Hairy Larry! Hairy Larry! Hairy Larry!"
Huh, dasar!
Sebenarnya sih, aku senang berteman dengan mereka. Rasanya kami
tidak pernah bosan kalau sedang bersama-sama. Kami berlima juga
membentuk band. Minggu ini namanya The Geeks. Minggu lalu, kami
pakai nama The Spirit. Band kami memang sering berganti-ganti
nama.
Lily punya keping emas yang dipasangnya sebagai liontin pada kalung
emas. Keping itu pemberian kakeknya, dan kakeknya bilang,
keping emas itu hasil jarahan bajak laut.
Lily pernah mengusulkan nama Pirate Gold untuk band kami. Tapi
menurutku nama itu kurang keren. Dan Manny, Jared, dan Kristina
sependapat denganku.
Nama band kami - The Geeks - jauh lebih keren dibandingkan Howie and
the Shouters. Itu nama band yang bakal jadi lawan kami dalam
kontes Battle of the Bands di sekolah.
Sampai sekarang kami masih heran bahwa Howie Hurwin nekat memakai
namanya sendiri untuk bandnya itu! Dia cuma pemain drum.
Penyanyinya adalah Marissa, adik perempuannya yang sok "Kenapa nama
band-mu bukan Marissa and the Shouters?" aku sempat
bertanya padanya.
"Soalnya jarang ada kata yang bunyinya mirip Marissa," jawab Howie.
"Hah? Memangnya ada kata yang bunyinya mirip Howie?" tanyaku heran.
"Ada, Zowie!" sahutnya. Lalu dia tertawa dan mengacak-acak rambutku.
Dasar konyol.
Howie dan adiknya tidak disukai di sekolah.
Dan The Geeks sudah tidak sabar untuk menyapu the Shouters dari
panggung.
“Sayang sekali kita tidak punya pemain bas," Jared mengeluh ketika kami
menyetem alat-alat.
"Juga pemain saksofon atau trompet," Kristina menambahkan sambil
mengeluarkan beberapa pick gitar berwarna pink dari kotak gitarnya.
"Ah, begini juga sudah bagus kok," Manny berkomentar. Dia masih
berlutut dan mengotak-atik kabel dari gitar ke amplifier. "Suara tiga
gitar benar-benar mantap. Apalagi kalau kita pakai fuzztone yang disetel
sampai mentok"
Kristina, Manny, dan aku sama-sama main gitar. Lily penyanyi. Dan Jared
pegang keyboard. Keyboard-nya dilengkapi drum synthesizer
dengan sepuluh irama berbeda. Jadi bisa dibilang kami Juga punya
pemain drum.
Begitu amplifier Manny siap dipakai, kami mencoba membawakan lagu
Rolling Stones. Tapi Jared tidak berhasil menemukan irama drum
yang cocok pada syntheslzer-nya, sehingga kami terpaksa bermain tanpa
iringan drum.
Begitu lagunya selesai aku segera berseru "Ayo kita coba lagi!"
Yanglain langsung menggerutu, "Larry, tadi sudah bagus, kok!" Lily
berkomentar. "Kenapa mesti diulang lagi?"
“Gitar pengiringnya belum pas," kataku.
“Kau yang belum pas!" balas Manny sambil mengerutkan muka.
"Larry maunya memang serba sempurna, Manny," ujar Kristina. Masa kau
lupa sih?"
“Mana mungkin aku lupa?" Manny menyahut dengan kesal. Mana pernah
sih kita bisa memainkan lagu sampai selesai? Dia selalu
menyuruh kita mulai dari awal sebelum lagunya habis!"
Aku tersipu-sipu. "Aku cuma ingin hasil yang terbaik,” aku membela diri.
Oke. Oke. Aku memang selalu menuntut kesempurnaan. Tapi apakah itu
salah?
"Kontes di sekolah tinggal dua minggu lagi," kataku. “Jangan sampai
penampilan kita memalukan kalau kita sudah di atas panggung."
Aku paling tidak tahan malu. Perasaan itu aku benci lebih dari apa pun
juga di seluruh dunia. Bahkan lebih dari brokoli rebus!
Kami mulai bermain lagi. Jared menekan tombol saksofon pada keyboardnya, dan seketika kami seakan-akan punya pemain saksofon.
Solo gitar pertama dimainkan oleh Manny, solo kedua olehku. Satu chord
yang kumainkan terasa kurang sreg di telingaku, dan
sebenarnya aku ingin mulai dari awal lagi. Tapi aku tahu mereka akan
menggantungku kalau latihannya kuhentikan lagi. Jadi aku terus
bermain.
Suara Lily sempat pecah ketika dia mengambil nada tinggi. Tapi suaranya
begitu merdu dan manis, sehingga kesalahannya tidak terlalu
berpengaruh.
Hampir dua jam kami bermain tanpa berhenti.
Permainan kami bagus juga. Dan setiap kali Jared menemukan irama
drum yang pas, lagu yang kami mainkan terdengar benar-benar bagus.
Setelah menyimpan instrumen masing-masing, Lily mengusulkan untuk
keluar dan bermain salju. Matahari sore masih tinggi di langit yang
biru cerah. Lapisan salju yang tebal tampak berkilau-kilau dalam cahaya
matahari yang keemasan.
Kami berkejar-kejaran mengelilingi semak-semak di pekarangan depan
rumah Lily. Manny menumbuk topi Raiders di kepala Jared dengan
bola salju yang besar dan basah. Ulahnya itu segera memicu perang bola
salju yang berlangsung sampai kami semua kehabisan napas
dan terlalu capek tertawa untuk bisa meneruskannya.
"Kita bikin orang-orangan salju, yuk?" Lily mengusulkan.
"Ya, kita bikin yang mirip dengan Larry," Kristina menambahkan.
Kacamatanya yang berbingkai biru sepenuhnya tertutup embun.
"Mana ada orang-orangan salju berambut pirang?" sahut Lily.
"Jangan macam-macam deh," aku bergumam.
Mereka mulai membuat bola-bola salju besar untuk badan si orangorangan salju. Jared mendorong Manny hingga terjerembab ke atas
salah satu bola salju dan mencoba menggulungnya. Tapi Manny terlalu
berat, dan bola salju itu langsung remuk.
Sementara mereka asyik membuat orang-orangan salju, aku menuju
jalanan. Di trotoar depan rumah sebelah ada sesuatu yang menarik
perhatianku, barang-barang bekas yang menumpuk di samping tong
sampah.
Aku melirik ke rumah tetangga Lily. Sepertinya rumah itu sedang
direnovasi. Barang-barang bekas yang kulihat sengaja ditaruh di trotoar
supaya diangkut truk sampah.
Aku membungkuk dan mulai mengamati semuanya. Aku memang suka
barang-barang bekas. Setiap kali ada tumpukan barang bekas,
mau tak mau aku harus membongkarnya.
Sambil membungkuk aku menggeser beberapa potong keramik dinding
serta gumpalan plastik yang semula merupakan tirai kamar mandi.
Di bawah karpet bulu yang kecil dan berbentuk bundar, aku menemukan
lemari obat berwarna putih.
"Wow! Asyik!" gumamku.
Lemari itu langsung kuangkat, lalu kubuka. Di dalamnya ada sejumlah
botol dan tabung plastik.
Perhatianku segera tertuju pada sebuah botol berwarna jingga. "Hei!" aku
berseru pada teman-temanku. "Coba lihat apa yang kutemukan!”
3
BOTOL jingga itu segera kubawa ke pekarangan rumah Lily. "Hei-lihat
nih!" aku berseru sambil mengacungkan botol tersebut.
Tak ada yang menghiraukanku. Manny dan Jared sedang sibuk
mengangkat bola salju besar ke atas bola salju yang satu lagi untuk
membuat badan orang-orangan salju. Lily asyik memberi semangat pada
mereka. Dan Kristina sedang membersihkan salju dari
kacamatanya.
"Hei, Larry-apa itu?" Kristina akhirnya bertanya sambil memasang kembali
kacamatanya. Yang lain menoleh dan melihat botol di
tanganku.
Aku membacakan labelnya untuk mereka.
"INSTA-TAN. Kulit cokelat dalam sekejap."
"Asyik juga!" seru Manny. "Ayo, kita coba saja."
"Kau dapat dari mana?" tanya Lily. Pipinya tampak merah karena udara
yang dingin. Butir-butir salju menempel di rambutnya.
Aku menunjuk ke tong sampah di trotoar. "Dari sebelah. Botol ini masih
penuh," ujarku.
"Kita coba saja!" Manny mengulangi sambil mengembangkan senyumnya
yang tinggi sebelah.
"Yeah. Dan senin besok kita semua masuk sekolah dengan kulit cokelat
seperti habis berjemur!" Kristina mendukungnya. "Miss shindling
pasti terbengong-bengong. Kita bilang saja kita habis dari Florida."
"Jangan! Dari Bahama saja!" Lily menimpali. "Kita bilang pada Howie
Hurwin bahwa The Geeks pergi ke Bahama untuk berlatih!"
Semua tertawa.
"Memangnya obat ini manjur?" tanya Jared. Dia menatap botol di
tanganku sambil membetulkan letak topinya.
"Pasti dong," ujar Lily. "Takkan ada yang mau beli obat ini kalau tidak
manjur!” Dia merampas botol itu dari tanganku. "Wow, masih penuh.
Kita semua bisa berkulit cokelat. Ayo dong. Tunggu apa lagi. Bakal asyik,
nih!"
Kami kembali masuk ke dalam rumah. Salju di tanah bergemerisik ketika
diinjak, sementara napas kami mengepul-ngepul di udara.
Aku membuka jaket dan melemparnya ke tumpukan jaket yang lain. Tapi
ketika kami menuju ke ruang tamu, aku mulai diliputi perasaan
ragu. Bagaimana bila obat ini tidak manjur? aku bertanya dalam hati.
Bagaimana kalau kulit kita bukannya cokelat, tapi malah kuning atau
hijau nanti?
Di mana wajahku harus kutaruh kalau aku sampai terpaksa masuk
sekolah dengan kulit berwarna hijau terang? Aku takkan tahan. Aku
pasti akan terus bersembunyi di dalam rumah-di dalam lemari pakaiankalau perlu berbulan-bulan, sampai warna itu akhirnya luntur.
Tapi sepertinya teman-temanku tenang-tenang saja.
Kami berdesak-desakan di kamar mandi. Botol INSTA-TAN itu masih di
tangan Lily. Dia membukanya dan segera menuangkan cairan
kental berwarna putih dari dalam botol.
"Mmmmmm. Baunya enak," ujar Lily sambil mendekatkan tangan ke
wajah. "Baunya manis sekali."
Dia mulai menggosokkannya ke tengkuk, lalu ke pipi, lalu ke kening.
Kemudian dia kembali menuangkan cairan itu dan mengusapusapkannya
ke punggung tangan.
Setelah itu giliran Manny. Tanpa ragu-ragu dia mengoleskan obat itu ke
seluruh wajahnya.
"Rasanya sejuk dan lembut," Kristina melaporkan setelah mencobanya,
disusul Jared, yang nyaris menghabiskan seluruh isi botol untuk
wajah dan tengkuknya.
Akhirnya tibalah giliranku. Aku meraih botol itu dan mulai memiringkannya.
Tiba-tiba aku berhenti. Yang lain memperhatikanku sambil -mengerutkan
kening. sepertinya mereka berharap aku segera mengikuti contoh
mereka.
Tapi aku malah menegakkan botol itu dan membaca tulisan kecil pada
labelnya. G Dan apa yang kubaca membuatku memekik tertahan.
4
"ADA apa sih, Larry?" Lily bertanya dengan nada tidak sabar. "Tuangkan
saja, lalu gosok-gosokkan ke kulitmu."
"Ta-ta-tapi-" aku tergagap-gagap.
"Eh, kulitku sudah tambah gelap, belum?" tanya Kristina pada Lily.
"Hasilnya sudah mulai kelihatan?"
"Belum," jawab Lily. Dia kembali berpaling padaku. "Ada apa sih, Larry?"
dia. bertanya sekali lagi.
"La-labelnya," ujarku. "Di sini tertulis, 'Jangan digunakan setelah Februari
1991'."
Semua tertawa. suara tawa mereka memantul pada dinding-dinding kamar
mandi.
"Memangnya kenapa kalau krim ini sudah agak tua?" Lily berkata sambil
menggelengkan kepala.
"Tenang saja deh. Kulitmu tak bakal mengelupas!"
“Jangan macam-macam deh," Manny menimpali.
Dia meraih botol itu dan memiringkannya ke telapak tanganku. "Ayo, tuang
saja. Yang lain sudah kebagian semua, Larry. sekarang
giliranmu."
"sepertinya kulitku sudah mulai cokelat," Kristina angkat bicara. Dia dan
Jared sedang asyik berkaca pada cermin di atas tempat cuci
tangan.
"Ayo dong, Larry," Lily mendesak. "Tanggal di label itu tidak berarti apaapa." Dia mendorong lenganku. "Pakai saja. Takut apa sih kau?"
Semua memandang ke arahku. Mukaku mendadak terasa panas, dan aku
tahu aku tersipu-sipu. Aku tidak mau dianggap pengecut. Aku
tidak mau jadi satu-satunya orang yang tidak kompak.
Jadi kubalikkan botolnya dan kutuangkan isinya yang kental dan lengket
ke telapak tanganku. Muka, tengkuk, punggung tangan-semuanya
kugosok-gosok. Cairan itu terasa sejuk dan lembut. Dan baunya memang
agak manis, persis seperti after-shave ayahku.
Teman-temanku langsung bersorak-sorai. "Nah, begitu dong, Larry!"
mereka berseru. Jared menepuk punggungku begitu keras, sehingga
botol INSTA-TAN yang sudah kosong itu nyaris terlepas dari tanganku.
Kami saling mendorong dan mendesak untuk berebut tempat yang pas di
depan cermin. Manny mendorong Jared dengan keras, sehingga
Jared terjatuh ke shower.
"Berapa lama sih sampai terlihat hasilnya?" tanya Kristina. Cahaya terang
dari lampu di langit-langit memantul pada kacamatanya ketika
dia menatap bayangannya di cermin.
"Huh, belum ada perubahan," Lily mengeluh kecewa.
Aku kembali membaca label pada botol jingga itu. "Hmm, seharusnya kulit
kita jadi cokelat dalam sekejap," aku melaporkan. Aku
menggelengkan kepala. "Apa kubilang? Obat ini sudah kedaluwarsa.
Seharusnya kita jangan-"
Kalimatku terpotong oleh jeritan Manny. Kami menoleh dan melihatnya
membelalakkan mata dengan ngeri.
pdfcrowd.com
"Mukaku!" Manny memekik. "Mukaku mengelupas!"
Dia menengadahkan tangan di depan dada. Kedua-duanya gemetaran.
Dan kemudian aku menyadari dia memegang sepotong kulitnya
Sendiri!
5
"OHHH," aku mengerang tertahan.
Yang lain pun menatap tangan Manny dengan mata terbelalak ngeri.
"Kulitku!" dia merintih. "Kulitku!"
Tiba-tiba dia nyengir lebar, lalu tertawa terbahak-bahak.
Dia mengangkat tangannya, dan aku sadar bahwa yang dipegangnya
ternyata bukan kulit, melainkan sepotong tisu yang basah.
sambil terpingkal-pingkal Manny membiarkan tisu itu jatuh ke lantai kamar
mandi.
"Dasar brengsek!" seru Lily gusar.
Kami semua bersorak-sorai dan mendorong-dorong Manny. Dia kami
dorong ke bawah shower.
Lily langsung meraih kenop untuk menyalakan air.
"Hei-jangan dong!" Manny memohon. Sambil tertawa dia meronta-ronta
untuk membebaskan diri. "Tolong! Aku cuma bercanda!"
Lily berubah pikiran dan mundur sambil berbaris meninggalkan kamar
mandi, kami semua melirik ke cermin.
Tak ada perubahan. Kulit kami tetap pucat seperti semula. Obat itu
ternyata tidak manjur.
Kami meraih mantel masing-masing dan bergegas ke pekarangan untuk
menyelesaikan orang-orangan salju. Botol INSTA-TAN yang sudah
kosong kubawa juga, lalu kulemparkan ke salju ketika Lily dan Kristina
mulai membuat bola salju untuk bagian kepala. Kemudian mereka
menaruhnya pada badan si orang-orangan salju.
Aku menemukan dua batu gelap untuk matanya. Manny menyambar topi
Raiders milik Jared dan memasangnya di kepala si orangorangan
salju. Kelihatannya cukup bagus, tapi Jared segera meraih kembali
topinya.
"Dia mirip kau, Manny," ujar Jared. "Cuma tampangnya lebih pintar."
Kami semua tertawa.
Angin kencang berembus dari sisi rumah dan menjatuhkan kepala si
orang-orangan salju. Kepala itu membentur tanah dan langsung pecah
berantakan.
"sekarang benar-benar mirip kau!" Jared berkata kepada Manny.
"Hei, tangkap!" seru Manny. Ia meraih segenggam salju dan
melemparkannya ke arah Jared.
Jared berusaha mengelak, namun terlambat. Serta-merta ia membungkuk,
meraup salju lebih banyak lagi, dan menuangkannya ke kepala
Manny.
Perbuatannya langsung memicu pertempuran bola salju yang seru di
antara kami berlima. Lily dan aku lawan Manny, Jared, dan Kristina.
open in browser customize pdfcrowd.com
Mula-mula Lily dan aku masih bisa bertahan.
Lily adalah pembuat bola salju tercepat yang pernah kulihat. Aku baru
membuat satu bola salju, dia sudah membuat dan melempar dua
buah.
Pertempuran kami berkembang menjadi perang habis-habisan. Kami
bahkan tidak mau repot-repot membuat bola salju. Kami sekadar
meraup salju sebanyak-banyaknya untuk dituang ke kepala lawan.
Kemudian kami mulai berguling-guling di salju. setelah itu kami pindah
ke pekarangan sebelah, di mana saljunya masih banyak-dan mulai dengan
pertempuran berikut.
Wah, pokoknya asyik banget deh! Kami tertawa-tawa dan bersorak-sorai.
semua terengah-engah dan kepanasan, padahal anginnya dingin
sekali.
Dan kemudian, tiba-tiba saja, aku merasa mual.
Aku jatuh berlutut sambil menelan ludah. salju di sekelilingku mendadak
terang benderang. Terlalu terang. Tanah di bawahku seakan-akan
oleng dan bergoyang.
Aku benar-benar mual.
Hei, ada apa ini? aku bertanya dalam hati.
6.
DR. MURKIN meraih alat suntik berjarum panjang yang berkilau-kilau. Di
ujung jarumnya ada setetes cairan hijau.
"Tarik napas dalam-dalam lalu tahan, Larry," Dr. Murkin berkata. dengan
suaranya yang pelan. "Ini takkan terasa."
Dia selalu bilang begitu setiap kali aku mengunjunginya. Aku tahu dia
bohong. Yang namanya disuntik, ya pasti sakit. .Aku disuntik dua
minggu sekali, dan selalu kesakitan.
Dia meraih lenganku, lalu membungkuk, sehingga aku bisa mencium
napasnya yang berbau peppermint. '
Aku menarik napas dalam-dalam kemudian memalingkan muka. Aku tidak
tahan melihat jarum yang panjang itu masuk ke lenganku.
" Aduh!" aku memekik pelan ketika jarumnya menembus kulitku.
Genggaman Dr. Murkin bertambah kencang. "Nah, tidak apa-apa, kan?"
tanyanya. suaranya begitu pelan sehingga nyaris tak terdengar.
Aku, menggelengkan kepala.
Kemudian aku melirik ke arah ibuku. Dia sedang menggigit bibir, dan
wajahnya berkerut-kerut karena cemas, seakan-akan dia yang
disuntik!
Akhirnya kurasakan jarumnya dicabut. Dr. Murkin mengusap-usap kulitku
dengan kapas yang dibasahi alkohol. "Nah, sudah selesai," dia
berkata sambil menepuk punggungku yang telanjang. "silakan pakai baju
lagi."
Dia berbalik dan tersenyum menenangkan ibuku. Wajah Dr. Murkin sangat
berwibawa. Aku rasa usianya sekitar lima puluhan. Rambutnya
yang putih disisir lurus ke belakang. Senyumnya hangat, dan matanya
yang biru tampak ramah di balik kacamatanya yang berbingkai
persegi.
Walaupun dia berbohong dengan mengatakan suntikannya tidak sakit,
bagiku dia dokter yang baik, dan aku suka sekali padanya. Dia selalu
membuatku merasa lebih enak.
"Masalah kelenjar keringat seperti biasa," dia memberi tahu ibuku sambil
mencatat sesuatu dalam fileku. "suhu badannya meningkat
terlalu tinggi. Dan kita tahu itu tidak baik-ya, kan, Larry?"
Aku bergumam tak jelas.
Aku memang punya masalah dengan kelenjar keringatku. Kelenjar-
kelenjarku tidak berfungsi dengan baik. Maksudnya, aku tidak bisa
berkeringat.
Jadi, kalau suhu badanku meningkat terlalu tinggi, aku langsung mual.
Karena itulah aku harus mengunjungi Dr. Murkin setiap dua minggu. Dia
memberiku suntikan yang membuatku merasa lebih enak.
Perang bola salju memang mengasyikkan. Tapi di tengah salju dan angin
yang dingin, aku sama sekali tidak sadar bahwa suhu badanku
naik.
Itulah sebabnya aku jadi tidak enak badan.
"Bagaimana? Sudah lebih enak sekarang?" ibuku bertanya ketika kami
meninggalkan ruang praktek.
Aku mengangguk. "Yeah. Aku sudah tidak apa-apa sekarang." Aku
berhenti di pintu dan berbalik menghadapnya. "Mom, apakah aku
kelihatan lain?"
"Hah?" Dia memicingkan matanya yang gelap.
"Lain? Lain bagaimana?"
"Barangkali kulitku kelihatan agak kecokelatan?"
Matanya mengamati wajahku. "Mom agak menguatirkanmu, Larry," dia
berkata dengan serius.
"Nanti kalau kita sudah sampai di rumah, kau harus tidur siang sebentar.
Oke?"
sepertinya itu berarti kulitku belum berubah warna.
Dari pertama aku sudah tahu INSTA-TAN takkan bekerja. Botolnya sudah
terlalu lama. Waktu masih baru pun belum tentu manjur.
"Mom kira sulit mendapatkan kulit kecokelatan di tengah musim dingin
seperti sekarang," lanjutnya ketika kami melintasi pelataran parkir
yang tertutup salju untuk menuju mobil.
Yeah, aku tahu, pikirku.
Lily menelepon seusai makan malam. "Aku juga agak tidak enak badan
tadi," dia mengakui. "Kau sudah mendingan sekarang?"
"Yeah, aku sudah tidak apa-apa," sahutku. Dengan sebelah tangan
kugenggam gagang telepon tanpa kabel, sementara tanganku yang lain
memencet-mencet tombol remote control TV untuk memindah-mindah
saluran
Itu salah satu kebiasaan burukku. Kadang-kadang aku berpindah-pindah
saluran selama berjam-jam tanpa memperhatikan acara yang
sedang ditayangkan.
"Howie dan Marissa lewat setelah kau pulang," Lily bercerita.
"Terus? Kalian bantai mereka?" aku bertanya dengan semangat berkobarkobar. "Kalian hujani mereka dengan bola salju?"
Lily tertawa. "Tidak. Kami semua sudah basah kuyup dan capek waktu
Howie dan Marissa muncul. Kami cuma berdiri sambil menggigil."
"Howie sempat ngomong soal band mereka?" tanyaku.
"Yeah," ujar Lily. "Dia bilang dia baru beli buku gitar Eric Clapton. Dia
bilang dia lagi belajar lagu-lagu baru yang bakal membuat kita
terbengong-bengong."
"Hah, dasar sok jago. Howie sebaiknya tetap main drum saja. Dia pemain
gitar terburuk di dunia," aku bergumam. "Kalau dia main gitar,
gitarnya bisa mencicit seperti tikus! Aku tidak tahu bagaimana bisa begitu.
Bagaimana sih caranya membuat gitar berbunyi begitu?"
Lily tertawa lagi. "Marissa juga mencicit. Tapi dia bilang itu menyanyi."
Kami sama-sama tergelak.
Tapi kemudian aku kembali serius. "Menurutmu, bagaimana kemampuan
Howie and the shouters?"
"Entahlah," sahut Lily, tak kalah seriusnya. "Howie terlalu banyak
membual, jadi dia tidak bisa dipercaya. Dia bilang sih, mereka cukup
bagus untuk membuat CD. Katanya, mereka disuruh bikin rekaman demo
oleh ayahnya, untuk dikirim ke semua perusahaan rekaman."
"Yeah, pasti," aku bergumam sinis. "Eh, bagaimana kalau kapan-kapan
kita ke rumah Howie untuk mendengarkan latihan mereka," aku
mengusulkan. "Kita bisa menguping dari jendela."
"Marissa sebenarnya cukup bagus sebagai penyanyi," Lily berkomentar.
"suaranya enak didengar."
"Tapi tidak sebagus kau," ujarku.
"Hmm, penampilan kita memang semakin mantap," kata Lily. Kemudian ia
menambahkan, "sayang kita tidak punya pemain drum
sungguhan."
Aku sependapat. "Yeah, mesin drum Jared kadang tidak pas dengan lagu
yang kita mainkan!"
Lily dan aku masih mengobrol tentang Battle of the Bands. Akhirnya aku
meletakkan gagang telepon, dan duduk di meja belajarku untuk
membuat PR.
Baru sekitar pukul sepuluh aku selesai. sambil menguap aku turun untuk
mengucapkan selamat tidur pada orangtuaku. setelah kembali ke
atas, aku berganti baju dan pergi ke kamar mandi untuk gosok gigi.
Dengan saksama kuamati wajahku di cermin di atas wastafel. Belum ada
rona cokelat sedikit pun.
Wajah yang membalas tatapanku tetap pucat seperti biasa.
Kuraih sikat gigi, lalu mengoleskan odol.
Aku sudah hendak mulai menggosok gigi-tapi mendadak terhenti.
"Hah-!" seruku kaget.
sikat gigiku sampai terlepas dari genggaman ketika kutatap punggung
tanganku.
Mula-mula kukira itu cuma bayangan.
Tapi setelah kuamati dari dekat, aku menyadari bahwa yang kulihat bukan
bayangan.
Sambil menelan ludah aku membelalakkan mata.
Punggung tanganku tertutup bulu-bulu tebal berwarna hitam.
7
SAMBIL membelalakkan mata, tanganku kukibaskan berkali-kali.
sepertinya aku berharap bulu-bulu hitam itu bisa copot dengan
sendirinya.
Kemudian kuraih bulu-bulu itu dan kutarik keras-keras.
"Aduh!"
Ternyata bulu-bulu itu benar-benar tumbuh dari punggung tanganku.
"Bagaimana mungkin?" teriakku. Dengan susah payah kupaksakan
tanganku agar berhenti bergetar, supaya aku bisa mengamatinya
dengan saksama.
Bulu-bulu itu cukup panjang, kira-kira setengah inci. Warnanya hitam
mengilap. Rasanya kasar ketika aku mengusapnya dengan tanganku
yang satu lagi.
"Hairy Larry."
Julukan konyol yang diberikan Lily sekonyong-konyong muncul kembali
dalam benakku.
"Hairy Larry."
Wajahku menjadi merah padam. Kalau temanku sampai melihat bulu-bulu
di tanganku ini, pikirku dengan perasaan galau, seumur hidup
aku bakal dijuluki Hairy Larry!
Jangan sampai ada yang melihatnya! kataku dalam hati. Dadaku
mendadak sesak karena serangan panik. Jangan sampai! Ini benar-benar
memalukan.
Dengan waswas kuamat! tangan kiriku yang ternyata masih tetap halus
dan bersih.
"Uh, untung saja cuma sebelah tangan yang kena," gumamku lega.
Kalang kabut aku lalu kembali menarik-narik bulu-bulu hitam itu. Aku
menarik dan menarik, sampai punggung tanganku terasa nyeri. Tapi
bulu-bulu itu tetap tidak mau copot.
"Oh, apa yang mesti kulakukan sekarang?" aku mengeluh.
Masa sih aku harus pakai sarung tangan terus? Dan apa jadinya kalau
teman-temanku sampai tahu soal ini? Aku bakal seumur hidup
dijuluki Hairy Larry. Julukan itu bakal terus melekat pada diriku!
Tenggorokanku serasa tersekat.
Aku tidak boleh panik, aku berkata dalam hati.
Aku harus berpikir dengan jernih.
open in browser customize pdfcrowd.com
Tepi wastafel kugenggam begitu erat, sehingga tanganku terasa sakit.
Kulepaskan tanganku, kemudian kugulung kedua lengan piamaku.
Jangan-jangan lenganku juga tertutup bulu hitam?
Tidak.
Aku menarik napas lega.
sepertinya cuma punggung tanganku yang mendadak berbulu.
Aku harus bagaimana? Aku harus bagaimana?
Aku mendengar orangtuaku menaiki tangga, menuju kamar mereka.
Cepat-cepat kututup pintu kamar mandi lalu kukunci.
"Larry-kau masih bangun, ya? Katanya sudah mau tidur tadi," kudengar
ibuku berseru dari koridor.
"Aku cuma sisiran sebentar!" balasku.
Aku selalu bersisir sebelum tidur.
Aku tahu itu tidak ada gunanya. Aku tahu rambutku bakal berantakan lagi
begitu menempel di bantal. Tapi kebiasaanku itu tidak bisa
kuhilangkan.
Aku menatap cermin dan mengamati rambutku. Rambutku yang pirang,
begitu lembut dan berombak. Begitu berbeda dengan bulu-bulu
menjijikkan yang tumbuh di tanganku.
Aku langsung mual. Isi perutku mulai naik.
Dengan susah payah kulawan rasa mualku dan membuka lemari obat.
satu per satu kubaca label yang menempel pada semua botol dan
tube.
Penghilang Bulu. Aku mencari label bertuliskan Penghilang Bulu.
Rasanya ada obat seperti itu-ya, kan?
Tapi bukan di lemari obat kami. Aku memeriksa setiap botol, namun tak
ada Penghilang Bulu.
Kutatap bulu-bulu hitam di punggung tanganku. sepertinya bulu-bulu itu
sudah bertambah panjang.
Ataukah itu cuma perasaanku saja?
sekonyong-konyong ide lain melintas dalam benakku.
serta-merta kuambil alat cukur ayahku. Dan di bagian bawah lemari obat
kutemukan sekaleng krim cukur.
Kucukur saja semuanya, aku berkata dalam hati. Itu yang paling gampang.
Aku sudah jutaan kali menonton ayahku bercukur. Kelihatannya mudah
sekali. Kubuka keran air panas, lalu kubasuh punggung tanganku.
Kemudian kugosokkan sabun ke bulu-bulu yang kasar itu hingga
semuanya tertutup busa.
Tanganku basah dan licin, membuat kaleng krim cukur nyaris terlepas dari
genggamanku. Tapi aku berhasil menekan kaleng sehingga
krim cukur menyemprot ke punggung tanganku.
Langsung saja kuratakan. setelah itu kuraih alat cukur dengan tangan kiri,
lalu kubasahi dengan air panas, seperti yang biasa dilakukan ayahku.
selanjutnya aku mulai bercukur. Ternyata tidak semudah yang
kubayangkan. Apalagi dengan tangan kiri.
Pisau cukur yang tajam langsung memangkas bulu-bulu hitam yang kasar
itu.
Aku memperhatikannya terbawa air dan masuk ke lubang pembuangan.
Kemudian aku kembali membasuh tanganku sampai bersih dari busa.
Airnya hangat dan menenangkan. Kukeringkan tangan dan memeriksanya
dengan saksama.
Licin. Licin dan bersih.
Bulu-bulu hitam yang menjijikkan itu tak tersisa sehelai pun.
Aku merasa jauh lebih enak. Dengan lega kukembalikan alat cukur dan
krim cukur ayahku ke tempat semula di lemari obat. Kemudian aku
keluar dari kamar mandi, melintasi koridor, dan masuk ke kamarku.
Punggung tanganku terus kuusap-usap. Rasanya sejuk dan licin.
Kupadamkan lampu kamar lalu naik ke tempat tidur.
Begitu kepalaku menempel di bantal, aku langsung menguap lebar. Tibatiba saja aku mengantuk sekali.
Apa yang menyebabkan bulu-bulu tadi mendadak bertumbuhan? sejak
pertama melihat bulu-bulu itu, pertanyaan tersebut terus
mengusikku.
Jangan-jangan gara-gara INSTA-TAN? Jangan-jangan gara-gara obat
yang sudah kedaluwarsa itu?
Kalau begitu ada kemungkinan teman-temanku mengalami hal yang sama.
Aku membayangkan seluruh tubuh Manny tertutup bulu, seperti
gorila, dan mau tak mau aku tertawa.
Tapi sebenarnya itu tidak lucu. Bayangan itu justru mengerikan.
sekali lagi kugosok-gosok punggung tanganku. Ternyata masih licin. Bulubulunya belum tumbuh lagi.
Aku kembali menguap, lalu berangsur-angsur terlelap.
Oh, apa ini? Kenapa badanku jadi gatal begini? aku bertanya dalam
keadaan setengah sadar, setengah tertidur. seluruh tubuhku terasa
gatal.
Jangan-jangan bulu-bulu itu mulai tumbuh di seluruh tubuhku?
8
"KAU kurang tidur, ya?" ibuku bertanya ketika aku muncul di dapur untuk
sarapan bersama. "Muka kamu kelihatan pucat."
Ayahku menurunkan korannya untuk mengamatiku. Di hadapannya ada
secangkir kopi yang masih mengepul-ngepul. "Ah, dia tidak pucat
kok," ayahku bergumam sebelum kembali membaca koran.
"Aku tidur seperti biasa," ujarku sambil duduk di kursiku. Secara
sembunyi-sembunyi kuamati tanganku di bawah meja.
Tak ada bulu. Punggung tanganku tetap licin seperti semalam.
Waktu aku dipanggil untuk sarapan tadi, aku langsung melompat turun
dari tempat tidur. Kunyalakan lampu dan kuamati seluruh tubuhku
di depan cermin.
Tak ada bulu hitam.
Aku lega sekali. Lega dan gembira. Rasanya aku ingin bernyanyi-nyanyi.
Rasanya aku ingin memeluk ayah dan ibuku dan menari-nari
mengelilingi meja makan.
Tapi itu terlalu memalukan.
Jadi kumakan saja Frosted Flakes dan kureguk jus jeruk yang telah
disiapkan ibuku.
Ibuku mengambil tempat di samping ayahku dan mulai mengupas telur
rebusnya. setiap pagi dia makan telur rebus. Tapi cuma putihnya
saja. Kuningnya dibuang. Dia bilang dia takut kebanyakan kolesterol.
"Mom, Dad, ada yang ingin kuceritakan. Aku melakukan sesuatu yang
bodoh kemarin. Aku menemukan sebotol krim merek INSTA-TAN di
sebuah tong sampah. Krimnya sudah lama. Tapi aku dan teman-temanku
nekat mengoleskannya. Maksudnya, supaya kulit kami jadi
kecokelatan. Padahal krim itu sebenarnya sudah kedaluwarsa. Dan...
ehm... semalam tiba-tiba tumbuh bulu-bulu hitam di punggung
tanganku."
Itu yang ingin kukatakan. Aku sudah membuka mulut untuk bercerita. Tapi
aku tidak bisa.
Malunya itu lho.
Mereka pasti bakal marah-marah dan bertanya kenapa aku begitu bodoh.
setelah itu mereka akan membawaku ke tempat praktek Dr.
Murkin dan menceritakan semuanya. Lalu giliran dia yang bertanya
kenapa aku begitu bodoh.
Jadi, akhirnya aku pilih diam saja.
"Kamu pendiam sekali pagi ini," ibuku berkomentar sambil menyendok
sesuap putih telur.
"Habis, memang tak ada yang perlu diceritakan," aku bergumam.
Aku ketemu Lily dalam perjalanan ke sekolah. Kerah jaketnya dinaikkan
dan rambutnya yang pirang ditutupi topi rajut berwarna biru-merah.
“Hei, hari ini kan tidak seberapa dingin!” aku berseru sambil berlari kecil
untuk menyusulnya.
“Ibuku bilang suhu udara bakal turun sampai di bawah nol,” sahut Lily. “Dia
yang menyuruhku pakai baju tebal-tebal.”
Matahari pagi seakan-akan melayang di atas atap rumah-rumah, bagaikan
bola merah di langit yang pucat. Embusan angin terasa
menusuk. Permukaan salju di jalan telah mengeras, dan setiap kali kami
melangkah terdengar bunyi kerisik-kerisik.
Aku menarik napas panjang, lalu memutuskan untuk menanyakan
pertanyaan yang menghantuiku sejak semalam. “Lily,” aku berkata
dengan bimbang. “Apakah...ehm... maksudku... apakah semalam tumbuh
bulu-bulu aneh di punggung tanganmu?”
Dia langsung berhenti dan menatapku dengan mata terbelalak. Kemudian
roman mukanya menjadi serius. “Ya,” dia mengakui sambil
Berbisik.
9
“Hah?” Aku langsung menahan napas. Denyut jantungku seakan-akan
berhenti sejenak. “Di tanganmu tumbuh bulu?”
Lily mengangguk serius. Ia merapatkan tubuhnya kepadaku. Matanya
yang biru dan hijau menatapku dari bawah topi rajutnya.
“Di tanganku tumbuh bulu,” dia berbisik dan napasnya tampak
mengembun di udara yang dingin. “Lalu di lenganku, di kakiku dan di
punggungku.”
Aku memekik tertahan.
“Lalu mukaku berubah menjadi muka serigala,” Lily melanjutkan, masih
sambil menatapku dengan tajam. “Dan aku lari ke hutan dan
melolong-lolong ke arah bulan. Seperti ini.” Dia mendongakkan kepala dan
melolong panjang.
“Habis itu kucegat tiga orang di dalam hutan, dan kumakan semuanya!”
Lily memberitahuku. “Sebab aku manusia serigala!”
Dia menggeram dan mengertak-ngertakkan gigi. Kemudian dia tertawa
terbahak-bahak.
Wajahku mendadak terasa panas.
Lily mendorongku dengan keras. Aku kehilangan keseimbangan dan
nyaris jatuh ke belakang.
Tawa Lily bertambah keras. "Kau percaya-ya, kan, Larry?" serunya. "Kau
benar-benar percaya cerita konyol itu!"
"Enak saja!" aku menyangkal. Wajahku terasa panas membara. "Mana
mungkin aku percaya cerita seperti itu!.?"
Tapi sebenarnya aku memang percaya sampai ke bagian di mana dia
bilang dia makan tiga orang. Di situ aku baru sadar bahwa dia
bercanda, bahwa dia mengolok-olokku.
"Hairy Larry!" Lily bersenandung. "Hairy Larry!"
"Berhenti!" aku berseru dengan gusar. "Ini tidak lucu, tahu? Sama sekali
tidak lucu!"
"Tapi kau lucu sekali!" dia menyahut. "Tampangmu yang lucu!"
"Ha-ha!" Aku tertawa getir. Langsung saja aku berbalik dan menyeberang
jalan dengan langkah-langkah panjang.
"Hairy Larry!" Lily berseru sambil mengejarku. "Hairy Larry!"
Aku tergelincir di atas segunduk lapisan es di jalan. Untung saja aku masih
bisa menjaga keseimbangan, tapi ranselku merosot dan jatuh
berdebam.
Lily berhenti di depanku ketika aku membungkuk untuk memungut ransel.
"Memangnya semalam di tubuhmu tumbuh bulu, Larry?" dia
bertanya.
"Apa?" Aku berlagak tidak mendengar pertanyaannya.
"Memangnya di punggung tanganmu tumbuh bulu? Itu sebabnya kau
tanya aku?" ujar Lily sambil ikut membungkuk.
"Yang benar saja," aku bergumam. Ranselku kunaikkan ke pundak i dan
aku kembali berjalan.
"Yang- benar saja," aku berkata sekali lagi.
Lily tertawa. "Jangan-jangan kau manusia serigala. "
Aku berlagak ikut tertawa. "Bukan. Aku vampir," sahutku.
sebenarnya aku ingin sekali berterus terang kepada Lily. Aku ingin sekali
bercerita tentang bulu-bulu yang tumbuh di punggung tanganku.
Tapi aku tahu dia tak pernah bisa menyimpan rahasia. Aku tahu dia pasti
akan menceritakannya ke seluruh sekolah. Dan setelah itu
semua orang yang kukenal akan memanggilku Hairy Larry!
sebenarnya aku merasa tidak enak karena terpaksa bohong kepada Lily.
Bagaimanapun juga, dia sahabat karibku!
Tapi apa lagi yang bisa kulakukan?
sisa perjalanan ke sekolah kami tempuh tanpa banyak bicara. Berulang
kali aku melirik ke arah Lily. Entah kenapa, dia cengar-cengir
terus.
"Kalian sudah siap menyampaikan laporan buku?" Miss shindling
bertanya.
Ruang kelas langsung ramai-ada bunyi kursi digeser-geser, ada bunyi
ransel dibuka, kertas-kertas bergemerisik, anak-anak berdehamdeham.
Siapa yang tidak gugup bila harus berdiri di depan kelas dan
menyampaikan laporan buku di luar kepala lagi? Aku sih gugup sekali!
Aku
paling tidak senang bila semua mata memandang ke arahku.
Dan kalau aku salah mengucapkan kata atau lupa yang ingin kukatakan
selanjutnya, mukaku langsung merah padam. Dan kalau sudah
begitu, semua orang tertawa dan mengolok-olokku.
Semalam aku sempat berlatih di depan cermin. Dan hasilnya cukup baik.
Aku lancar bercerita tentang buku yang telah kubaca, dan hanya
sesekali membuat kesalahan kecil.
Di pihak lain, bicara di kamarku sendiri memang tidak membuatku gugup.
Tapi sekarang lututku gemetar nyaris tak terkendali-padahal aku
belum disuruh maju!
"Howie, bagaimana kalau kau saja yang mulai?" Miss shindling bertanya
sambil memberi isyarat kepada Howie Hurwin.
"Wah, kasihan yang lain dong, kalau yang terbaik maju paling dulu!" Howie
menyahut sambil, nyengir.
Beberapa anak tertawa. Tapi ada juga yang mendengus kesal.
Aku tahu Howie tidak bercanda. Dia benar-benar percaya dia yang terbaik
dalam segala hal. Penuh percaya diri dia maju dan berdiri di
depan papan tulis. Howie berbadan besar, agak gemuk, dengan rambut
tebal berwarna cokelat yang tak pernah disisir, dan muka bulat
yang penuh bintik-bintik di pipi.
Dia selalu menyungging senyum melecehkan. Menyebalkan sekali. seolah
dia hendak berkata, "Aku yang terbaik dan kau bukan apa-apa."
Dia biasa mengenakan celana jeans belel yang lima ukuran terlalu besar
serta T-shirt berlengan panjang lengkap dengan rompi hitam
mengilap. Dia mengangkat buku yang telah dibacanya. Salah satu buku
baseball karangan Matt Christopher.
Kutarik napas panjang. Aku sudah tahu apa yang akan dikatakan Howie:
"Buku ini wajib dibaca oleh semua penggemar baseball."
Dia selalu memakai kalimat itu untuk mengawali laporan bukunya. Betulbetul membosankan!
Tapi Howie selalu dapat nilai A. Aku tak habis pikir kenapa Miss shindling
menganggapnya begitu hebat.
Howie berdeham, lalu tersenyum kepada Miss Shindling. Kemudian dia
berpaling kepada kami dan mengawali laporan bukunya dengan
suara lantang dan tegas. "Buku ini wajib dibaca oleh semua penggemar
baseball," dia berkata.
Nah, apa kubilang?
Aku menguap lebar-lebar. Untung tak ada yang memperhatikan.
Howie terus saja mengoceh. "Buku ini seru sekali, dan alur ceritanya
sangat baik," katanya. "Kalau kalian suka ketegangan, maka kalian
pasti suka buku ini. Terutama mereka yang menggemari olahraga
baseball."
Setelah itu aku tidak mendengarkannya lagi. Aku terlalu sibuk mengingatingat apa saja yang harus kukatakan.
Beberapa menit kemudian, ketika Miss shindling mengumumkan, "Larry,
sekarang giliranmu," aku nyaris tidak mendengarnya.
Aku berdiri sambil menarik napas dalam-dalam. Tenang saja, Larry, aku
berkata dalam hati. Kau sudah menghafalkan semuanya. Kau
tidak perlu gugup.
Sambil berdeham, aku melangkah ke depan kelas. Aku sudah hampir
sampai di depan ketika Howie menjulurkan kakinya.
Senyumnya yang lebar sempat kulihat-tapi kakinya tidak.
"Oh!" aku berseru kaget ketika aku tersandung-dan tersungkur di lantai.
Seketika ruang kelas meledak oleh tawa.
Dengan jantung berdegup-degup aku berusaha bangkit.
Tapi waktu aku melihat tanganku, aku langsung berhenti.
Kedua-duanya tertutup bulu tebal berwarna hitam.
10
"LARRY, kau tidak apa-apa?" aku mendengar Miss Shindling memanggil
dari mejanya.
"Ehm...." Aku terlalu kaget untuk menjawab.
"Larry, kau terluka, ya?"
"Ehm... saya..." Aku tak sanggup bicara. Aku tak sanggup bergerak. Aku
tak sanggup berpikir. Sambil merangkak di lantai, kedua tangan
yang berbulu kutatap dengan ngeri.
Di sekelilingku, anak-anak masih menertawakanku. Aku menoleh dan
melihat Howie berhigh-Five dengan anak yang duduk di sebelahnya.
Ha-ha. Lucu sekali.
Biasanya aku pasti malu sekali. Tapi kali ini aku tidak sempat merasa
malu. Aku terlalu waswas. Bagaimana kalau ada yang sempat
melihat tanganku yang berbulu?
Cepat-cepat aku memandang berkeliling, masih dalam posisi merangkak.
Tak ada yang menunjuk atau berseru dengan ngeri.
Barangkali belum ada yang memperhatikan tanganku.
Buru-buru kuselipkan kedua tanganku ke dalam kantong celana jeans-ku.
Aku baru berani berdiri setelah yakin bahwa kedua tanganku sudah
sepenuhnya tersembunyi.
"Lihat tuh! Muka Larry jadi merah!" seru seorang anak dari barisan paling
belakang. Dan seruan itu ditanggapi dengan tawa yang lebih
keras lagi.
Tentu saja mukaku jadi bertambah merah. Tapi itu bukan masalah
terbesar yang sedang kualami. Aku tidak mungkin berdiri di depan kelas
dengan dua tangan yang tertutup bulu. Daripada begitu, aku mending
mati!
Tanpa berpikir panjang aku bergegas ke pintu ruang kelas di belakang.
Tapi asal tahu saja, berjalan cepat dengan kedua tangan di dalam
kantong celana sama sekali tidak mudah.
"Larry-ada apa?" Miss shindling memanggil dari balik mejanya. "Mau ke
mana kau?"
"Ehm... saya... saya segera kembali," jawabku dengan suara parau.
"Kau yakin baik-baik saja?" guruku bertanya.
"Yeah. saya baik-baik saja," aku bergumam. "saya permisi sebentar."
Aku tahu semua memandang ke arahku. Tapi aku tidak peduli. Aku harus
keluar dari situ. Aku harus mencari akal untuk mengamankan
rahasiaku.
Ketika sampai di pintu, aku mendengar Miss shindling memarahi Howie..
"Larry bisa cedera karena ulahmu. Kau tidak boleh menjegal kaki
orang, Howie. sudah berkali-kali kau saya peringatkan."
"Tapi, Miss shindling-saya tidak sengaja," Howie mencoba berkelit.
Aku langsung menyelinap ke luar. Ke koridor yang panjang dan sepi.
Cepat-cepat aku menoleh ke kiri-kanan untuk memastikan bahwa tak ada
yang melihatku. Kemudian kukeluarkan kedua tanganku dari
kantong celana.
Dalam hati aku masih berharap bahwa tanganku sudah normal lagi. Tapi
harapan itu langsung pupus ketika aku menatap keduanya.
Bulu-bulu yang hitam dan tebal - dengan panjang hampir satu inci! menutupi kedua tanganku.
Bagaimana mungkin bulu-bulu itu tumbuh begitu cepat? aku bertanya
dalam hati.
Punggung tanganku tertutup bulu. Begitu pula telapaknya. Bahkan di selasela jari!
Kugosok-gosokkan tanganku seakan-akan bulu-bulu yang mengerikan itu
bisa hilang dengan cara begitu. Tapi tentu saja tidak berhasil.
"Jangaaan. Oh-jangaaan!" tanpa sadar aku mengerang.
Apa yang bisa kulakukan?
Aku tidak mungkin kembali ke ruang kelas dengan tangan monster seperti
itu. Orang-orang bisa menjerit kalau mereka sampai melihat
tanganku.
Dan aku terpaksa menanggung malu seumur hidup. setiap kali orang
melihatku, mereka akan berkata, "Awas, ada Hairy Larry Boyd.
Masih ingat waktu tangannya tiba-tiba penuh bulu?"
Sebaiknya aku pulang saja, aku berkata dalam hati. Aku harus kabur dari
sini.
Tapi tunggu dulu. Bagaimana aku bisa meninggalkan sekolah di tengah
jam pelajaran? Miss shindling sedang menungguku. Aku harus
menyampaikan laporan buku.
Aku berdiri mematung. Sambil bersandar ke dinding, aku mengamati
kedua tanganku yang mengerikan.
Dan tiba-tiba aku sadar bahwa selain diriku masih ada orang lain di
koridor.
Aku menoleh dan menahan napas ketika melihat Mr. Fosburg, kepala
sekolah kami.
Dia sedang membawa setumpuk buku pelajaran. Tapi dia berhenti
beberapa langkah di hadapanku. Dengan mata terbelalak dia menatap
kedua tanganku yang berbulu.
11
SERTA-MERTA tanganku kupindahkan ke belakang dan kusembunyikan
di balik punggung.
Tapi terlambat. Mr. Fosburg telah melihatnya. Mata birunya menyipit
sambil menatapku.
Aku ,bergidik.
Apa yang akan dikatakannya? Apa yang akan dilakukannya sekarang?
"Kau kedinginan?" dia bertanya.
"Hah?" sahutku. Apa katanya?
Aku bersandar ke belakang, sehingga tanganku terjepit di antara dinding
dan punggungku. Bulu-bulu yang kasar terasa menusuk-nusuk.
"Apakah tungku pemanas perlu disetel lebih besar, Larry?" tanya Mr.
Fosburg. "Di sini terlalu dingin, ya? Itu sebabnya kau memakai
sarung tangan di dalam ruang kelas?"
"sa-sarung tangan?" aku tergagap-gagap. Dia pikir aku pakai sarung
tangan.
"Ya. saya... ehm... saya memang agak kedinginan," ujarku. Aku sudah
mulai lebih tenang. "Karena itu saya ke locker. Untuk mengambil
sarung tangan."
Mr. Fosburg menatapku sambil mengerutkan kening. Kemudian dia
berbalik dan berjalan menjauh sambil membawa tumpukan bukunya.
"Baiklah, saya akan bicara dengan petugas pengelola gedung nanti,"
katanya.
Kutarik napas lega ketika dia membelok di ujung koridor. Uih, hampir saja.
Tapi berkat Mr. Fosburg aku mendapat ide bagus sarung tangan.
Aku bergegas ke locker-ku. Rasanya janggal ketika kunci kombinasinya
kuputar dengan jariku yang berbulu, tapi akhirnya berhasil juga.
Cepat-cepat kukeluarkan sarung tangan dari saku jaketku.
Beberapa detik kemudian aku sudah kembali ke ruang kelas. Lily sedang
berdiri di depan. Dia sedang menyampaikan laporan bukunya,
dan dia menatapku dengan heran ketika aku menyelinap ke balik mejaku.
setelah Lily selesai, Miss shindling memanggilku ke depan. "sudah lebih
enak sekarang, Larry?" dia bertanya.
"Ya," aku menyahut. "Ta-tangan saya kedinginan tadi." Aku bangkit dari
kursiku dan berjalan ke depan. Beberapa anak mulai tertawa dan
menunjuk-nunjuk sarung tanganku. Tapi aku tidak peduli.
Paling tidak rahasiaku tetap aman. Tak ada yang bisa melihat tanganku
yang penuh bulu hitam.
Kutarik napas panjang, lalu kumulai, bercerita. "Buku yang saya baca
ditulis oleh Bruce Coville," ujarku. "Dan buku ini patut dibaca oleh
semua orang yang suka kisah science fiction yang lucu...”
Seusai sekolah aku bergegas ke locker-ku. Aku berjalan sambil
menundukkan kepala, dan berusaha menghindari semua orang.
Sepanjang hari aku terus pakai sarung tangan. Sebenarnya sih panas
juga, dan sama sekali tidak nyaman. Dan makin lama rasanya
makin sempit saja.
Jangan-jangan bulu-bulu di punggung tanganku terus bertambah panjang?
Tapi aku tidak berani melepaskan sarung tanganku untuk
memastikannya.
Aku mengenakan jaket, lalu menyandang ranselku. Aku harus pergi dari
sini supaya bisa berpikir, kataku dalam hati.
Aku sudah hampir sampai di pintu utama ketika mendengar Lily
memanggil-manggil. Aku menoleh dan melihatnya mengejarku. Dia
memakai sweter kuning yang kebesaran dengan celana ketat hijau.
Aku terus mengayunkan langkah. "sampai besok!" seruku padanya. "Aku
sedang terburu-buru."
Tapi dia berlari mengejar dan berhenti di depanku. "Kau tidak ikut latihan
band nanti?" tanyanya.
Aku begitu sibuk memikirkan tanganku yang berbulu sehingga lupa sama
sekali pada latihan band kami.
"Latihannya di rumahku lagi," Lily melanjutkan sambil berjalan mundur.
"A-aku tidak bisa ikut," aku tergagap-gagap. "Aku tidak enak badan."
Itu memang benar.
Dia menatapku dengan tajam. "Ada apa sih, Larry? Dari tadi pagi
tingkahmu aneh sekali."
"Aku cuma tidak enak badan," aku menandaskan. "sori, aku tidak bisa ikut
latihan. Kita tunda sampai besok deh. Oke?"
"Boleh saja," balas Lily. Dia masih menambahkan sesuatu, tapi aku tidak
mendengarnya. Langsung saja kubuka pintu dan bergegas
meninggalkan sekolah.
sepanjang perjalanan pulang aku terus berlari. salju tampak berkilau-kilau
bagaikan perak diterpa sinar matahari yang cerah.
Pemandangannya indah sekali, namun aku tak bisa menikmatinya. Aku
terlalu sibuk memikirkan masalahku.
Bulu. Bulu-bulu hitam yang kasar.
Aku menyerbu masuk ke rumah dan membiarkan ranselku jatuh ke lantai.
Aku hendak menaiki tangga ke kamarku-tapi terhenti ketika
kudengar ibuku memanggil.
Dia ternyata sedang duduk di ruang tamu, di kursi di jendela depan. Dia
sedang menelepon sambil memangku Jasper, kucing kami. Dia
mengatakan sesuatu, lalu menurunkan gagang telepon ketika berpaling ke
arahku.
"Kok sudah pulang, Larry? Tidak ada latihan band?"
"Tidak hari ini," aku berbohong. "Aku banyak PR, jadi aku langsung
pulang." Aku bohong lagi.
Aku tidak mau menceritakan masalah sebenarnya. Aku tidak mau
bercerita bahwa aku telah menggosokkan INSTA-TAN ke seluruh
tubuhku, dan bahwa tanganku kini ditumbuhi bulu-bulu hitam yang
menjijikkan.
Aku tidak mau bercerita. Tapi tiba-tiba semua keluar begitu saja.
semuanya. Aku tidak sanggup menyimpan rahasia ini lebih lama lagi.
"Mom, Mom pasti takkan percaya," aku mulai berkata dengan suara serak.
"Di... di tanganku mulai tumbuh bulu. Bulu-bulu hitam yang
menjijikkan. Ehm, aku dan teman-temanku-kami menemukan botol berisi
obat untuk membuat kulit kecokelatan. sebenarnya obat itu
sudah kedaluwarsa. Tapi kami nekat memakainya. Aku menggosokkannya
ke muka, ke tangan, dan ke tengkukku. Dan sekarang
tanganku mulai berbulu, Mom. Aku baru tahu di sekolah tadi. Kedua
tanganku tertutup bulu hitam yang lebat. Aku malu sekali. Dan takut.
Benar-benar takut."
Napasku terengah-engah ketika aku mengakhiri ceritaku. Dan semula aku
terus menunduk dan menatap lantai. Tapi kini kepalaku
kutegakkan lagi untuk melihat reaksi ibuku.
Apa yang akan dikatakannya? Mungkinkah dia bisa menolongku?
12.
AKU mendengarnya bergumam. Tapi aku tidak mengerti apa yang
dikatakannya.
Lalu kusadari bukan aku yang diajaknya bicara. Dia sudah kembali
menempelkan gagang telepon ke telinga dan asyik mengobrol dengan
lawan bicaranya. Dan sepertinya dia amat berkonsentrasi sehingga tidak
mendengar sepatah kata pun yang kuucapkan!
Aku menghela napas. Kemudian aku bergegas menaiki tangga ke
kamarku. Cepat-cepat kututup pintu lalu kubuka sarung' tangan yang
terasa panas dan tidak nyaman.
Jasper ikut denganku dan kini duduk di ambang jendela. Sebagian besar
waktunya dihabiskan di tempat itu sambil memandang ke
pekarangan depan.
Ketika kulemparkan sarung tangan ke kursi, dia berpaling ke arahku.
Matanya yang kuning terang tampak berbinar-binar.
Aku menghampiri Jasper dan mengangkatnya. Lalu aku duduk di ambang
jendela dan memeluknya. "Jasper, kau satu-satunya teman
sejati yang kumiliki," bisikku sambil membelai-belai punggungnya.
Di luar dugaanku, kucing itu mendesis, lalu melengkungkan punggung dan
melompat ke lantai. Jasper berlari melintasi kamar, lalu
berbalik, dan memelototiku dengan matanya yang kuning.
Baru beberapa detik kemudian aku menyadari apa masalahnya. Aku
mengangkat tangan. "Ini gara-gara tanganku yang berbulu ini, ya, kan,
Jasper?" tanyaku dengan sedih. "Kau takut, ya?"
Jasper memiringkan kepala, seakan-akan berusaha memahamiku. "Ya,
aku sendiri juga takut," ujarku.
Aku berdiri dan bergegas ke kamar mandi. sekali lagi kuambil alat cukur
ayahku dari lemari obat.
Kemudian aku mulai mencukur bulu-bulu yang lebat itu.
Ternyata lebih sulit dari yang kubayangkan. Terutama bulu-bulu yang
tumbuh di sela-sela jari. Bulu-bulu itu benar-benar sukar dijangkau.
Bulu-bulu di tanganku sangat kaku dan keras. Bagaikan bulu pada sikat
rambut. Dua kali tanganku tergores, sekali di telapak dan sekali di
punggung tangan.
Ketika aku membilas krim cukur, aku menoleh ke bawah dan melihat
Jasper menatapku dari pintu kamar mandi. "Jangan beritahu Mom
dan Dad," bisikku.
Dia mengedipkan matanya yang kuning, lalu menguap lebar.
Keesokan pagi aku bangun sebelum kedua orangtuaku terjaga. Biasanya
aku baru bangun kalau Mom sudah berseru-seru memanggilku.
Tapi pagi ini aku langsung melompat turun dari tempat tidur, menyalakan
lampu, dan menghampiri cermin di lemari pakaianku.
Aduh, bagaimana kalau bulu-bulu itu sudah tumbuh lagi?
Kuangkat kedua tangan dan kuamati keduanya dengan saksama. Mataku
masih berat karena baru bangun. Tapi aku bisa melihat dengan
jelas bahwa bulu-bulu itu belum tumbuh lagi.
"Ya!" aku bersorak gembira.
Luka gores di tanganku masih terasa nyeri. Tapi aku tidak peduli. Yang
penting kedua tanganku licin dan bersih.
Aku membolak-balik tanganku sambil memperhatikan keduanya. Aku lega
sekali bahwa tanganku kelihatan normal.
semalam aku sempat dihantui mimpi buruk. Mula-mula aku bermimpi
tentang spageti. Dalam mimpiku itu, aku sedang duduk di dapur
hendak melahap sepiring spageti.
Tapi begitu aku mulai mengambil dengan garpu, spageti itu berubah jadi
rambut yang hitam dan panjang.
Aku mengambil rambut yang hitam dan panjang dengan garpuku. Piringku
penuh rambut yang hitam dan panjang.
Kemudian kuangkat garpu. Kubuka mulut dan garpu yang penuh rambut
itu kudekatkan, semakin dekat, semakin dekat.
Lalu aku terbangun.
Huh! Mimpi itu benar-benar mengerikan.
Perutku serasa diaduk-aduk. Dan aku sulit tidur lagi.
Untung saja sekarang sudah pagi. Aku melanjutkan pemeriksaanku. Aku
membungkuk dan mengamati kakiku. Lalu betis, lutut, dan paha.
Tak ada bulu hitam.
Tubuhku bebas dari bulu-bulu aneh.
Sepertinya cukup aman untuk pergi ke sekolah, pikirku. Tapi untuk
berjaga-jaga, aku tetap akan membawa sarung tangan.
Sehabis sarapan, kupakai jaketku dan kuambil ranselku. Kemudian aku
berangkat ke sekolah.
Cuaca cerah dan hangat. salju yang sudah mulai mencair tampak berkilau-
kilau. Dengan hati-hati aku menyusuri trotoar sambil
menghindari genangan-genangan air.
Perasaanku sudah lebih baik. Jauh lebih baik.
Kemudian aku menoleh ke belakang dan melihat gerombolan anjing itu.
Anjing-anjing yang menyeringai. Dan semua berlari ke arahku.
Op
en in browser customize pdfcrowd.com
13
JANTUNGKU langsung berdegup-degup. Anjing-anjing itu berlari kencang
sekali. semua memandang ke arahku, dan setiap kali melompat,
mereka menyalak dan menggeram dengan keras.
Kakiku mendadak terasa berat sekali. Tapi aku tetap memaksakan diri
untuk berlari.
Kalau sampai tertangkap, aku bakal dikoyak-koyak! aku berkata dalam
hati. Mereka pasti mencium bau Jasper yang melekat pada bajuku!
Pasti itu sebabnya aku selalu dikejar-kejar.
Aku sangat menyayangi kucingku. Tapi kenapa aku mesti dapat kesulitan
gara-gara dia?
Uh, siapa sih pemilik anjing-anjing buas ini? Kenapa mereka dibiarkan
bebas berkeliaran seperti ini?
Pertanyaan demi pertanyaan melintas dalam benakku ketika aku berlari
untuk menyelamatkan diri. Melintasi pekarangan orang. Lalu
menyeberang jalan.
sebuah klakson berbunyi nyaring. Aku mendengar bunyi rem berdecitdecit.
Sebuah mobil menggelincir ke trotoar seberang.
Aku lupa memeriksa situasi lalu lintas sebelum menyeberang.
"sori!" aku berseru sambil tetap berlari.
Tiba-tiba pinggangku serasa ditusuk-tusuk, dan aku terpaksa mengurangi
kecepatan. Aku menoleh dan melihat anjing-anjing itu terus
mendekat. Mereka menyeberang jalan dan berlari melintasi salju.
Semakin dekat. semakin dekat.
"Hei, Larry!" Dua anak muncul di trotoar di depanku.
"Cepat, lari!" teriakku sambil terengah-engah. "Anjing-anjing itu...."
Tapi Lily dan Jared tidak bergerak.
Aku berhenti di samping mereka, lalu memegang pinggangku. Nyerinya
begitu hebat sehingga aku nyaris tidak bisa menarik napas.
Lily berbalik untuk memelototi anjing-anjing itu, seperti yang sudah pernah
dilakukannya. Jared maju untuk menghalau mereka. Bertiga
kami memperhatikan mereka mendekat.
Gerombolan anjing itu segera berhenti. Tak ada lagi yang menyalak
maupun menggeram. Mereka menatap kami dengan ragu. semua
tersengal-sengal. Lidah mereka yang terjulur ke luar hampir menyentuh
salju.
"Ayo pulang!" seru Lily. Dengan keras dia menghentakkan kakinya ke
trotoar.
Anjing hitam besar yang memimpin gerombolan itu merintih pelan lalu
menundukkan kepala.
"Ayo pulang! Ayo pulang!" seru kami bertiga.
Nyeri di pinggangku berangsur-angsur mereda. Aku mulai merasa lebih
enak. Aku menyadari anjing-anjing itu takkan menyerang. Mereka
tidak berani melawan tiga orang sekaligus.
satu per satu mereka berbalik dan menyusul anjing hitam besar tadi.
Tiba-tiba Jared tertawa. "Hei, coba lihat yang itu!" serunya. Dia menunjuk
seekor anjing panjang dengan bulu keriting berwarna hitam.
"Memangnya ada apa dengan dia?" tanyaku.
"Dia mirip sekali dengan Manny!" kata Jared.
Lily ikut tertawa. "Kau benar! Dia memang mirip.”
Kami bertiga terpingkal-pingkal. Bulu anjing itu persis seperti rambut
Manny yang keriting. Dan matanya sama-sama gelap dan sayu.
"Ayo, nanti kita telat," ujar Lily. Dia menendang segumpal salju keras yang
tergeletak di trotoar.
Jared dan aku mengikutinya menuju sekolah.
"Kenapa sih anjing-anjing itu mengejarmu?" tanya Jared.
"Aku rasa mereka mencium bau kucingku," jawabku.
"Anjing-anjing itu berbahaya," Lily berkomentar. Dia berjalan beberapa
langkah di depan kami. "seharusnya mereka tidak dibiarkan bebas
berkeliaran."
"Yeah, soal itu aku setuju sekali," aku menimpali.
Angin yang mendadak berembus kencang nyaris membuat kami terjungkal
di trotoar yang licin. Topi Raiders Jared terbang ke jalan, dan
hampir terlindas mobil yang kebetulan lewat.
Jared berlari ke jalan, memungut topinya. "Aku sudah tak sabar menunggu
musim dingin berakhir," gumamnya.
Kami bertemu Kristina di muka sekolah. Rambutnya yang merah berkibarkibar tertiup angin.
"Nani sore kita jadi latihan band?" dia bertanya sambil mengunyah
sebatang cokelat Snickers.
"sarapan yang bergizi," komentarku.
"Ibuku tadi tidak sempat menyiapkan sarapan," sahutnya sambil terus
mengunyah.
"Yeah, latihannya di rumahku," kata Lily. "Kita harus bekerja keras. Jangan
sampai Howie yang keluar sebagai pemenang kontes."
Kristina berpaling kepadaku. "Ke mana kau kemarin?"
"Aku.. ehm... aku tidak enak badan," ujarku.
Tiba-tiba aku teringat pada krim INSTA-TAN. Barangkali teman-temanku
juga mulai tumbuh bulu gara-gara obat itu? Aku harus mendapat
kepastian. Aku harus menanyakannya. .
Tapi kalau ternyata mereka tidak apa-apa-kalau ternyata cuma aku yang
tumbuh bulu-wah, aku bakal malu berat.
"Ehm... masih ingat krim INSTA-TAN waktu itu?" aku memberanikan diri
untuk bertanya.
"Yeah, mujarab sekali," kata Jared. "Rasanya kulitku malah tambah
pucat."
Kristina tertawa. "Tidak ada hasil sama sekali. Kau benar, Larry. Obat itu
memang sudah sangat kedaluwarsa."
Tapi apakah kalian juga mulai tumbuh bulu-bulu hitam? Itu yang ingin
kuketahui.
Tapi tak satu pun dan mereka menyinggung soal bulu. Mungkinkah
mereka juga seperti aku? Mungkinkah mereka juga terlalu malu untuk
mengakuinya?
Atau memang cuma aku yang mengalami hal itu?
Kutarik napas panjang. Perlukah aku menanyakannya? Perlukah aku
bertanya apakah di antara mereka ada yang mendadak tumbuh bulu
hitam?
Aku membuka mulut untuk bertanya. Tapi aku langsung berubah pikiran
ketika menyadari bahwa topik pembicaraan telah beralih. Mereka
sudah asyik bicara tentang band kami.
"Nanti tolong bawa amplifier kamu ke rumahku, ya?" kata Lily pada
Kristina. "Manny juga mau bawa, tapi ampli-nya cuma bisa dipakai
untuk dua gitar."
"Bagaimana kalau pakai ampli-ku saja?" aku menawarkan. "Aku..."
Embusan angin yang kencang mendorong tudung jaketku ke belakang.
Aku meraih ke belakang untuk mengembalikan tudungnya ke tempat
semula.
Tanganku menyentuh tengkukku-dan aku menahan napas.
Tengkukku tertutup bulu lebat.
14
"ADA apa sih, Larry?" tanya Lily.
"Ehm... ehm..." Aku tidak sanggup berkata apa-apa.
"Ada apa dengan syalmu?" tanya Jared. "Lilitannya terlalu ketat, ya?" Dia
menarik-narik syal wol yang melingkar di leherku.
Ibuku selalu menyuruhku aku memakai syal yang gatal itu karena Nenek
Hildy yang merajutnya. Aku sama sekali lupa bahwa aku pakai
syal.
Waktu tanganku menyentuhnya, aku langsung menyangka.
"Mukamu pucat sekali, Larry," ujar Lily. "Kau baik-baik saja?"
Aku mengangguk. "Yeah, aku tidak apa-apa," gumamku sementara
mukaku jadi merah. "Aku cuma tercekik syal, itu saja." Alasan itu
benar-benar tidak meyakinkan.
Tapi aku harus mengatakan sesuatu. Dan aku tidak mungkin mengaku
bahwa aku menyangka tengkukku mendadak ditumbuhi bulu!
Larry, jangan pikirkan bulu-bulu itu lagi! kutegur diriku sendiri. Kalau begini
caranya, lama-lama kau bisa gila!
Aku menggigil. "Ayo, kita masuk saja," kataku sambil mengencangkan
lilitan syal pada leherku.
Aku bergegas ke kamar kecil untuk menyisir rambut sebelum bel
berdering. Ketika menatap rambutku yang pirang dan berombak, sebuah
pikiran mengerikan tiba-tiba melintas dalam benakku.
Bagaimana kalau rambutku yang asli tiba-tiba rontok? Dan digantikan oleh
bulu-bulu hitam yang kasar itu?
Bagaimana kalau aku terbangun suatu pagi, dan ternyata seluruh tubuhku
sudah tertutup bulu-bulu hitam yang menjijikkan?
Kuamati bayanganku di cermin. seseorang telah melumurkan air sabun
pada kacanya, sehingga bayanganku seakan-akan terselubung
kabut.
"Jangan panik," aku berkata pada diriku.
Lalu kutunjuk bayanganku di cermin. Kutunjuk dengan jari yang licin dan
tak berbulu.
"Jangan pikirkan soal rambut terus, Larry," ujarku dengan tegas. "Jangan
pikirkan soal rambut. semuanya akan beres."
Pengaruh INSTA-TAN rupanya sudah habis, aku menyimpulkan.
Memang sudah beberapa hari berlalu sejak aku dan teman-temanku
mengoleskan obat itu. sejak itu aku paling tidak sudah tiga kali mandi
dengan shower dan dua kali mandi berendam.
Pengaruh obat itu sudah habis, aku berusaha meyakinkan diriku. Betulbetul sudah habis. Jadi tak ada lagi yang perlu dikuatirkan.
sekali lagi ku,lirik rambutku yang sudah mulai panjang. Tapi aku justru
suka. Aku paling senang menyisir bagian sampingnya ke belakang
telinga.
Mungkin akan kubiarkan tumbuh panjang sekali, pikirku. Kumasukkan sisir
ke ransel, lalu segera menuju ruang kelas.
semua berjalan lancar, sampai Miss shindling mengembalikan kertas
ulangan sejarah.
Bukan nilainya yang membuat aku gugup. Aku diberi nilai sembilan puluh
empat, dan itu cukup bagus. Aku tahu Lily pasti akan berkoar
bahwa dia dapat sembilan delapan atau sembilan sembilan. Tapi Lily
memang jago mengarang.
Aku sendiri sudah puas dengan nilai sembilan empat.
Aku senang karena memperoleh nilai setinggi itu. Tapi ketika kubalik-balik
halaman sambil membaca komentar Miss shindling tentang
tulisanku, kutemukan sehelai rambut hitam pada halaman tiga.
Apakah itu rambutku? aku bertanya dalam hati. Apakah itu sehelai bulu
hitam yang tumbuh di punggung tanganku?
Ataukah rambut itu rambut Miss shindling? Dia memang berambut hitam
pendek. Jadi bukan tidak mungkin itu memang rambutnya.
Di pihak lain...
Kutatap rambut itu tanpa berani menyentuhnya.
Aku sadar bahwa tingkahku mulai aneh-aneh lagi. Aku ingat bahwa aku
sudah bersumpah untuk berhenti memikirkan soal rambut.
Tapi aku tak berdaya.
Gara-gara rambut hitam yang melekat pada halaman ketiga kertas
ulanganku, aku langsung mulai senewen lagi. Akhirnya kuangkat kertas
ulanganku, kudekatkan ke wajahku-dan kutiup rambut itu.
setelah itu aku sibuk dengan pikiranku sendiri. segala ucapan Miss
shindling sampai akhir jam pelajaran sama sekali tak kuperhatikan.
Dan ketika bel berbunyi, aku menarik napas dengan lega. Cepat-cepat
kubereskan barang-barangku dan kutinggalkan ruang kelas untuk
mengikuti pelajaran olahraga.
"Hari ini kita main basket!" Mr. Rafferty berseru ketika kami memasuki aula
olahraga yang terang benderang. "Kita main basket! Cepat
ganti baju! Ayo, semangat sedikit!"
sebenarnya aku kurang suka bermain basket. soalnya kita harus berlari
mondar-mandir di lapangan. Dari ujung ke ujung, lalu kembali lagi.
selain itu, lemparanku kurang jitu. Dan aku selalu malu sekali kalau
bolanya dioper kepadaku, tapi lemparanku meleset.
Tapi hari ini aku malah senang. siapa tahu dengan berlari kian kemari aku
bisa melupakan kegelisahanku.
Aku mengikuti anak-anak lain ke ruang ganti. semua membuka locker
masing-masing dan mengeluarkan celana pendek dan baju olahraga.
Di ujung deretan locker, Howie Hurwin terus berseru, "Makan tuh bola!
Makan tuh bola!"
Anak-anak lain melecutnya dengan handuk.
Hah, biar tahu rasa, pikirku. Howie memang menyebalkan sekali.
"Makan tuh bola!" aku mendengar Howie bersenandung. seorang anak
menyuruhnya diam.
"Makan tuh bola! Makan tuh bola!"
Aku duduk di bangku, mulai melepas sepatu ketsku. Kemudian aku berdiri
lagi untuk membuka celana jeans-ku.
Tapi ketika celanaku sampai di lutut, aku mendadak berhenti.
Aku berhenti dan memekik tertahan ketika melihat lututku.
Kedua lututku ditumbuhi bulu-bulu lebat berwarna hitam.
15
"KENAPA kau tidak mau pakai celana pendek waktu pelajaran olahraga
kemarin?" tanya Jared. .
Pertanyaannya membuatku tersentak. Kami sedang berjalan di trotoar
yang becek samil membawa
alat musik masing-masing untuk latihan band di rumah Lily.
"Kau disuruh ganti celana pendek, tapi kau tidak mau," ujar Jared. Kotak
keyboard yang digenggamnya berayun mengikuti gerakan
tangannya.
"Aku... aku cuma kedinginan," sahutku. "Kakiku kedinginan. Itu saja. Aku
tidak mengerti kenapa Mr. Rafferty sampai ngotot begitu."
Jared tertawa. "Peluit Rafferty sampai hampir tertelan waktu kau membuat
lemparan tiga angka dari tengah lapangan!"
Aku ikut tertawa. sebenarnya aku termasuk pemain basket terburuk di
sekolah. Tapi aku begitu bingung karena lututku yang berbulu,
sehingga aku bermain seperti kesetanan. seumur hidup belum pernah aku
bermain sebaik kemarin.
"Kalau begitu, sebaiknya kau selalu pakai Jeans kalau bermain basket,"
Coach Rafferty sempat berkelakar.
Seusai sekolah aku langsung berlari pulang. Aku segera mengunci diri di
kamar mandi atas, dan menghabiskan setengah jam untuk
mencukur bulu-bulu hitam di lututku.
Waktu aku selesai, kedua lututku merah dan perih. Tapi paling tidak
kedua-duanya sudah licin kembali.
Sepanjang sore aku lalu mengurung diri di kamar sambil merenungkan
nasib yang menimpaku. Masalahnya, ada banyak pertanyaan dalam
benakku. Lusinan pertanyaan.
Tapi tak ada satu jawaban pun.
Aku telungkup di tempat tidur, dengan lutut berdenyut-denyut, sementara
aku memeras otak. Kenapa di lututku bisa tumbuh bulu? aku
bertanya dalam hati. Aku tidak mengoleskan INSTA-TAN di lutut. Jadi
bagaimana mungkin bulu-bulu hitam itu bisa tumbuh di situ?
Mungkinkah INSTA-TAN itu telah masuk ke seluruh jaringan tubuhku?
Mungkinkah obat itu terserap melalui pori-pori? Lalu menyebar ke
seluruh tubuhku?
Apakah aku akan berubah menjadi makhluk berbulu? Apakah aku akan
mirip King Kong?
Pertanyaan demi pertanyaan muncul-namun tetap tak terjawab.
Berbagai pertanyaan masih mengusik pikiranku ketika aku melintasi jalan
bersama Jared dan rumah Lily yang berkerangka putih mulai
terlihat di pojok jalan.
Sinar matahari membanjiri kedua pohon gundul yang menaungi jalan
masuk ke pekarangan Lily.
Udara terasa hangat, hampir seperti di musim semi. salju sudah banyak
yang mencair. Di sana-sini terlihat rumput basah menyembul dan
balik permukaan yang putih.
Di pekarangan seberang jalan berdiri orang-orangan salju yang sudah
setengah meleleh. Sepatuku menginjak genangan-genangan air
ketika kami berdua menuju pintu rumah Lily sambil membawa instrumen
masing-masing.
Lily membukakan pintu untuk kami. Ia dan Kristina rupanya sudah mulai
berlatih. Lily memakai sweter wol berwarna merah-biru dan celana
biru muda, sementara Kristina mengenakan Jeans belel dan sweter Notre
Dame berwarna hijau dan emas.
"Mana Manny?" tanya Lily sambil menutup pintu depan setelah Jared dan
aku masuk.
“Aku belum lihat dia hari ini,” ujarku sambil membersihkan sepatuku yang
basah pada keset di lantai. "Memangnya dia belum datang?”
"Dia tidak masuk sekolah tadi," Kristina melaporkan.
"Kita harus lebih serius,” Lily berkata sambil menggigit bibir "Kalian sempat
bicara dengan Howie hari ini? Dia sudah cerita apa yang
dibelikan ayahnya?”
"Synthesizer baru?" sahutku sambil membungkuk untuk membuka kotak
gitar. "Yeah. Dia cerita panjang-lebar. Katanya, alat itu bisa
meniru bunyi satu orkestra."
"Apa untungnya?" tanya Jared. sehelai daun basah menempel di
sepatunya. Dia mengambilnya, tapi tidak tahu ke mana harus
membuangnya. Akhirnya dia memasukkannya ke kantong celana jeansnya.
"Kalau Howie bisa meniru bunyi satu orkestra, sementara kita maju
dengan tiga gitar dan satu keyboard mainan, maka kita benar-benar
akan mengalami kesulitan besar," Lily mewanti-wanti.
"Hei, ini bukan keyboard mainan!" protes Jared.
Aku tertawa. "Masa cuma gara-gara engkol yang harus diputar dulu,
kauanggap ini keyboard mainan sih?"
"Keyboard-ku memang kecil-tapi nadanya lengkap," Jared berkeras. Dia
menaruh keyboardnya di meja, membukanya lalu mencolokkan
kabelnya.
"Sudahlah, jangan bercanda terus. Lebih baik kita mulai berlatih saja," ujar
Kristina sambil menggerak-gerakkan jari pada leher gitarnya
yang berwarna merah cerah. "Kita mulai dengan lagu apa nih?"
"Bagaimana kita bisa berlatih tanpa Manny?" tanyaku. "Maksudku, apa
gunanya?"
"Aku sudah telepon dia tadi," kata Lily. "Tapi sepertinya teleponnya rusak,
soalnya berdering pun tidak."
"Kalau begitu kita jemput ke rumahnya yuk" aku mengusulkan.
"Yeah, ide bagus!" Kristina menimpali.
Kami berempat menuju pintu depan dan mengambil jaket masing-masing.
Tapi Lily berhenti di pintu. "Larry dan aku saja yang ke sana,"
dia berkata kepada Kristina. "Kau dan Jared tunggu di sini saja sambil
berlatih. Cukup berdua saja yang ke sana."
"Oke," ujar Jared. "Lagi pula memang harus ada yang tunggu di sini,
sebab siapa tahu Manny tiba-tiba muncul."
Lily dan aku mengenakan jaket masing-masing dan keluar lewat pintu
depan. Sepatu Doc Marten Lily menginjak genangan air yang cukup
besar ketika kami menyusuri trotoar.
"Aku paling tidak senang kalau salju sudah mulai kelabu dan mencair,"
katanya. "Coba perhatikan. Di mana-mana terdengar suara air
menetes. Dari pohon-pohon, dari atap-atap rumah, dari mana-mana.”
Dia mengulurkan tangan untuk menghalangi jalanku dan memaksaku
berhenti. sambil membisu kami mendengarkan suara air menetes.
"Memekakkan telinga, bukan?" Lily bertanya sambil tersenyum. sinar
matahari terpantul di kedua matanya. Yang satu biru, yang satu
hijau.
“Memekakkan " aku membeo. Kadang-kadang Lily memang agak aneh.
Dia pernah bercerita kalau dia suka menulis puisi. Puisi-puisi
panjang tentang alam. Tapi hasil karyanya belum pernah diperlihatkan
padaku.
Kami menyusuri trotoar yang becek. Sinar matahari terasa hangat di
wajahku. Ritsleting Jaketku kubiarkan terbuka.
Rumah Manny mulai kelihatan setelah kami melewati belokan jalan.
Rumahnya terletak di puncak sebuah bukit yang cocok sekali untuk
main. kereta luncur salju. Dua anak kecil sedang bermain luncur-luncuran,
tapi mereka hanya bisa bergerak pelan, karena sebagian besar
salju telah mencair.
Kami berjalan melewati mereka menuju pintu depan rumah Manny. Lily
menekan bel dan aku mengetuk pintu. "Hei, Manny-buka pintu!"
aku berseru.
Tak ada jawaban.
Tak ada suara sama sekali. Cuma bunyi "tes tes tes” air yang menetes
dari talang.
"Hei, Manny!" aku memanggil. Sekali lagi kami menekan bel dan
mengetuk pintu.
"Mungkin semuanya sedang pergi," ujar Lily Dia berbalik dan menghampiri
jendela depan. Sambil berjinjit, dia berusaha mengintip.
"Kau bisa lihat ke dalam?" tanyaku.
Dia menggelengkan kepala. "Tidak. Mataharinya memantul di kaca. Tapi
sepertinya di dalam gelap."
"Mobil mereka juga tidak ada," aku berkomentar.
Aku mengetuk sekali lagi, kali ini sekeras mungkin. Di luar dugaanku, pintu
depan membuka sedikit.
"Hei-pintunya terbuka!" aku memberitahu Lily.
Dia segera kembali ke teras. "Halo? Ada siapa di ini?" aku memanggil.
Tak ada jawaban.
"Hei-pintunya terbuka!" aku berseru.
Lily mendorong pintu depan hingga terbuka sepenuhnya, dan kami
melangkah masuk. "Manny?" dia memanggil, sambil menempelkan
tangan di sekeliling mulut. "Manny?"
Aku masuk ke ruang duduk dan memekik tertahan.
Aku berusaha mengatakan sesuatu, tapi suaraku seakan-akan tersangkut
di tenggorokkan. Aku membelalakkan mata, seolah-olah takut
salah lihat.
16
LILY meraih lenganku ketika kami memandang sekeliling ruang duduk.
Ruang itu kosong melompong. Tanpa perabot. Tanpa tirai. Tanpa lukisan
maupun poster di dinding. Karpetnya pun telah diangkat dari lantai
kayu yang mengilap.
"K-ke mana mereka?" aku bertanya dengan suara seperti orang tercekik.
Lily melewati koridor dan menuju dapur. Juga kosong. semua telah
diangkut, termasuk lemari es.
"Mereka pindah!" seru Lily. "Ya ampun, mereka pindah!"
"Tapi kenapa Manny tidak memberitahu kita?" tanyaku. Pandanganku
menyapu ruangan yang kosong itu. "Kenapa dia tidak pernah cerita
bahwa keluarganya mau pindah?"
Lily cuma menggelengkan kepala. seluruh rumah hening. Samar-samar
kudengar suara air menetes dari talang di luar.
"Barangkali mendadak mereka harus pindah,” Lily akhirnya berkata.
"Mendadak? Kenapa?" tanyaku.
Kami berdua tak dapat menjawab pertanyaan itu.
Aku suka berlari. Maksudku berlari untuk kesenangan, bukan berlari
karena dikejar segerombolan anjing buas.
Aku senang kalau jantungku berdegup kencang. Aku suka bunyi debamdebum yang terdengar saat sepatu kets-ku menginjak tanah. Dan
aku juga suka kalau otot-ototku bekerja sama dengan baik.
Hampir setiap sabtu aku ikut berlari pagi bersama ayahku. Dia selalu
memilih jalan setapak yang menyusuri danau kecil di Miller Woods.
Tempat itu indah sekali. Udaranya selalu segar, dan suasananya sunyi
senyap
Ayahku tinggi, langsing, dan cukup atletis. Dulu dia juga berambut pirang
seperti aku, tapi sekarang sebagian besar rambutnya berwarna
kelabu, ubun-ubunnya malah sudah botak.
Setiap hari dia lari pagi sebelum berangkat kerja. Dan menurutku dia lari
cukup kencang. Tapi pada hari Sabtu dia lebih santai, supaya
kami bisa lari berdampingan.
Biasanya kami berlari tanpa bicara. Maksudnya, supaya kami bisa lebih
menikmati pemandangan dan udara yang segar.
Tapi pada hari sabtu pagi ini, aku ingin mengobrol. Aku telah memutuskan
untuk bercerita tentang semuanya kepada ayahku. Tentang
botol INSTA-TAN yang kutemukan. Juga tentang bulu-bulu hitam yang
mulai tumbuh di tubuhku.
sementara aku bercerita, pandanganku tetap tertuju lurus ke depan. Aku
melihat dua burung gagak besar melayang dari langit yang biru
lalu bertengger berdampingan di sebuah dahan. Kedua burung itu
berkaok-kaok dengan keras, seakan-akan bicara dengan kami.
Aku dan ayahku terus berlari mengitari danau. Permukaannya tampak
berkilau-kilau. Di sana-sini terlihat kepingan es mengapung di air
yang berwarna biru kehijauan.
Aku mulai dari awal dan menceritakan semuanya. Ayahku memperlambat
langkahnya agar dapat mendengar lebih jelas, tapi kami tetap
berlari.
Aku bercerita bagaimana kutemukan botol INSTA-TAN dan bagaimana
kami mengoleskannya ke tubuh masing-masing, sekadar iseng
saja. Ayahku mengangguk, namun pandangannya tetap lurus ke depan.
"Kelihatannya obat itu tidak manjur," komentarnya dengan napas
agak tersengal-sengal. "Rasanya kulitmu tidak bertambah cokelat, Larry."
"Ya, aku tahu," ujarku. "Obat itu sebenarnya sudah kedaluwarsa. Masa
berlakunya sudah lama lewat."
Aku menarik napas panjang. Bagian berikut adalah bagian yang paling
sulit kuceritakan. "Kulitku memang tidak bertambah cokelat. Tapi
aku mengalami sesuatu yang benar-benar aneh."
Ayahku terus berlari. Kami melompati dahan mati yang tergeletak di tanah.
Aku sempat tergelincir karena menginjak setumpuk daun
basah, tapi masih bisa menjaga keseimbangan.
"Di badanku mulai tumbuh bulu-bulu aneh," aku berkata dengan suara
bergetar. "Mula-mula di punggung tangan kananku. Lalu di kedua
tanganku. Lalu di lututku."
Ayahku berhenti. Dia berpaling dan menatapku dengan cemas. "Bulubulu?"
Aku mengangguk sambil terengah-engah. "Bulu-bulu hitam. Kasar dan
tajam."
Ayahku menelan ludah. Dia membelalakkan mata. Karena kaget? Karena
ngeri? Karena tidak percaya?
Aku tidak bisa memastikannya.
Di luar dugaanku, dia meraih lenganku dan mulai menarikku. "Ayo, Larry.
Kita harus pulang."
"Tapi-" aku mulai protes.
Genggamannya bertambah erat dan aku ditariknya lebih keras lagi. "Ayo,
kita harus pulang!" dia menegaskan ambil menggertakkan gigi.
"sekarang!"
Dia menarik begitu keras, sehingga aku nyaris terjungkal!
"Aduh-ada apa sih?" tanyaku dengan suara melengking tinggi. "Ada apa
sebenarnya?"
Dia tidak menyahut. Dia menarikku menyusuri jalan setapak sampai ke
jalan raya. Matanya menyorot liar. Dan dia meringis seakan-akan
dicekam ketakutan yang amat sangat.
"Ada apa, Dad?" tanyaku. "Aku mau dibawa ke mana? Ke mana?”
17
DR. MURKIN mengangkat alat suntik dan memeriksanya di bawah cahaya
lampu. "Coba berpaling ke arah lain, Larry," dia berkata dengan
suaranya yang pelan. "Saya tahu kau tidak suka melihat ini. Tenang saja.
Ini takkan terasa."
Jarum suntiknya menembus kulitku, dan seketika rasa sakit menjalar ke
seluruh lenganku. Aku memejamkan mata dan menahan napas
sampai jarum itu dicabut lagi.
“sebenarnya memang belum waktunya," dia berkata sambil menggosok
lenganku dengan bola kapas yang telah dibasahi alkohol. "Tapi
mumpung kau di sini, sekalian saja saya suntik. Daripada harus bolakbalik."
Ayahku duduk dengan tegang di kursi lipat yang merapat ke dinding kamar
periksa yang kecil. Kedua lengannya disilangkannya di dada.
"Ba-bagaimana dengan bulu-bulu itu?” aku bertanya sambil tergagapgagap. "Apakah INSTA- TAN itu-"
Dr. Murkin menggelengkan kepala. "saya kira bukan obat itu yang
menyebabkan pertumbuhan bulu. Lotion seperti itu hanya berpengaruh
terhadap pigmen-pigmen di kulit. Dan-"
"Tapi obat itu sudah kedaluwarsa!" aku berkeras. "Siapa tahu isinya sudah
asam atau basi!"
Dia melambaikan tangan seakan-akan hendak berkata, "Tidak mungkin."
Kemudian dia berbalik dan mulai menambahkan catatan dalam file-ku.
"Maaf, Larry," dia berkata sambil menuliskan huruf-huruf berukuran
mungil.
"Penyebabnya bukan obat itu. Percayalah." Dr. Murkin kembali menatapku
dengan saksama. "Kau sudah saya periksa dari ujung kepala
sampai ujung kaki. Kau juga sudah melewati semua tes. Artinya, kau baik-
baik saja."
"Uh! saya lega sekali!" ujar ayahku sambil menghela napas.
"Tapi bulu-bulu itu-" aku masih berkeras.
"Kita tunggu saja bagaimana perkembangan selanjutnya," Dr. Murkin
menyahut sambi1 menatap ayahku.
"Tunggu saja?" aku berseru. "Saya tidak diberi obat untuk menghentikan
pertumbuhan bulu-bulu itu?"
"Mungkin saja kejadian itu takkan terulang lagi," balas Dr. Murkin. Dia
menutup map berisi dataku, lalu memberi isyarat agar aku turun dari
meja periksa.
"Cobalah jangan memikirkan hal itu, Larry," Dr. Murkin berkata sambil
menyerahkan jaketku. "Kau baik-baik saja."
"Terima kasih, Dr. Murkin," ujar ayahku sambil berdiri. Dia
mengembangkan senyum, tapi aku tahu senyumnya terpaksa. Ayahku
tetap kelihatan tegang.
Aku mengikutinya ke pelataran parkir. Kami sama-sama membisu sampai
kami duduk di dalam mobil dan melaju ke rumah. "sudah lebih
enak?" tanya ayahku. Dia memandang lurus ke depan sambil
memicingkan mata.
"Belum," jawabku gundah.
"Apa lagi sekarang?" ayahku bertanya dengan nada jengkel. "Kau sudah
diperiksa Dr. Murkin,dan katanya kau baik-baik saja."
"Tapi bagaimana dengan bulu-bulu hitam itu?" aku berseru dengan gusar.
"Bagaimana? Kenapa dia tidak melakukan apa-apa? Apakah dia
tidak percaya padaku?"
"Ayah yakin dia percaya," ayahku berkata dengan lembut.
"Kalau begitu, kenapa dia tidak berbuat apa-apa untuk menolongku?" aku
meratap.
Ayahku membisu lama sekali. Dia menatap lurus ke depan sambil
menggigit-gigit bibir. Lalu, akhirnya, dia berkata pelan-pelan,
"Kadangkadang
kita memang hanya bisa menunggu."
Sore itu kami berkumpul di rumah Lily untuk latihan band. Permainan kami
cukup baik-tapi tanpa Manny rasanya tetap saja lain.
Kami semua kecewa sekali karena dia pindah tanpa berpamitan. Lily
sempat minta tolong ibunya untuk menelepon beberapa teman yang
akrab dengan orangtua Manny. Dia ingin tahu ke mana Manny dan
orangtuanya pindah.
Tapi orang-orang yang dihubungi ternyata sama kagetnya seperti kami.
Ternyata tak seorang pun tahu bahwa keluarga Manny berencana
pindah ke tempat lain.
Tetapi di pihak lain, lagu-lagu yang kami bawakan terdengar lebih enak
dengan dua gitar daripada tiga. suara Lily kecil sekali saat dia
bernyanyi tidak bertenaga. Dan dia hampir selalu kewalahan menghadapi
tiga gitar.
Tanpa Manny, suara Lily kadang-kadang terdengar jelas.
Aku terus melakukan kesalahan ketika kami berlatih lagu Beatles-I Want to
Hold Your Hand. Berulang kali kumainkan chord yang keliru,
dan iramanya juga tidak pas.
Aku tahu apa penyebabnya. Aku terus memikirkan Dr. Murkin dan
sikapnya yang tidak percaya ketika aku menceritakan soal bulu-bulu
yang bermunculan di tubuhku. Dia bilang penyebabnya bukan INSTATAN. Tapi mungkin saja dia keliru.
Aku begitu kesal-dan begitu... kesepian.
Kami mulai memainkan I Want to Hold Your Hand untuk kedua puluh
kalinya, dan aku memandang berkeliling, mengamati teman-temanku.
Mungkinkah mereka menghadapi masalah yang sama seperti aku?
Mungkinkah di tubuh mereka juga tumbuh bulu-bulu hitam yang
menjijikkan, tapi tidak berani untuk berterus terang?
Pertama kali aku menanyakannya, aku malah ditertawakan dan dijuluki
Hairy Larry oleh Lily. Tapi aku harus bertanya sekali lagi. Aku
harus memperoleh jawaban untuk pertanyaan yang terus mengusik
pikiranku.
Aku menunggu sampai latihan kami selesai. Kristina sedang memasukkan
gitarnya ke dalam kotak. Jared pergi ke dapur untuk mengambil
Coca-Cola dari lemari es. Lily berdiri di samping sofa sambil memegangmegang keping emas pada kalungnya.
"A-aku mau menanyakan sesuatu," ujarku dengan gugup ketika Jared
kembali.
Dia membuka kaleng minumannya, dan langsung tersemprot busa CocaCola. Semua tertawa.
"Masa buka kaleng Coca-Cola saja kau tidak bisa?" Lily berkelakar.
"Barangkali kau perlu buku panduan untuk itu?"
"Ha-ha," balas Jared sambil mengusap wajah dengan lengan bajunya.
"Kau sengaja mengocok semua kaleng supaya kami kena semprot.
Ayo, akui saja."
Kristina tertawa sambil menutup kotak gitarnya. "Lain kali pilih jus kotak
saja, Jared."
Jared menjulurkan lidah.
Aku berdeham keras-keras. "Ada yang ingin kutanyakan pada kalian," aku
mengulangi dengan suara bergetar.
Mereka semua sedang riang gembira, tertawa dan bercanda. sepertinya
mereka normal-normal saja.
Kenapa cuma aku yang cemas dan takut?
"Kalian masih ingat INSTA-TAN yang kutemukan waktu itu?" tanyaku.
"Apakah di antara kalian ada yang tumbuh bulu setelah
mengoleskan obat itu?" Wajahku mendadak terasa panas membara.
"Maksudku, bulu-bulu hitam yang benar-benar jelek?"
Jared mulai tertawa, dan Coca-Cola yang sedang diminumnya menyembur
lewat hidungnya: serta-merta dia terbatuk-batuk. Kristina segera
menepuk-nepuk punggungnya.
"Hairy Larry!" seru Jared setelah batuknya mereda. Dia menunjukku
dengan kaleng Coca-Cola-nya dan mulai bersenandung. "Hairy Larry!
Hairy Larry!"
"Ayo dong!" aku memohon. "Aku serius nih."
Kristina dan Jared malah tertawa semakin keras. Aku berpaling kepada
Lily, yang masih berdiri di samping sofa. Dia tampak prihatin. Dan
yang jelas, dia sama sekali tidak ikut tertawa. Dia justru menundukkan
kepala ketika aku terus menatapnya.
"Larry ternyata manusia serigala!" Seru Jared.
"Moga-moga The Geeks tidak perlu main di saat bulan purnama!" Kristina
menimpali.
"siapa tahu lolongan Larry lebih merdu ketimbang permainan gitarnya!"
ujar Jared. Keduanya tertawa terpingkal-pingkal.
"A-aku cuma bercanda!" aku tergagap-gagap.
Aduh, rasanya lebih baik ditelan bumi daripada harus menanggung malu
begini.
Kini aku sadar, Aku satu-satunya. Aku satu-satunya yang ditumbuhi bulubulu jelek itu.
Karena itulah Jared dan Kristina menganggap hal itu begitu lucu. Karena
mereka tidak mengalaminya. Mereka tidak perlu risau mengenai
bulu-bulu itu.
Tapi Lily tidak ikut mengolok-olokku. Dia berpaling dan mulai memungut
catatan not balok yang berserakan di lantai dan merapikan
ruangan.
selama ini, Lily tak pernah menyia-nyiakan kesempatan untuk mengolokolok dan membuat mukaku jadi merah. Aku mengamatinya
sambil bertanya-tanya apakah dia memiliki rahasia yang sama denganku.
Kuraih gitarku lalu menunggu sampai Jared dan Kristina pulang.
Kemudian aku mengenakan jaket dan topi baseball-ku, lalu mengikuti Lily
ke pintu depan.
Di teras, aku berbalik dan menatapnya dengan tajam. "Lily, aku minta kau
berterus terang," aku mendesak. "Apakah di tangan dan lututmu
tumbuh bulu-bulu hitam?"
Dia tampak bimbang, dan menggigit-gigit bibir. "Aku... aku tidak mau
bicara soal itu," dia menyahut sambil berbisik.
Kemudian dia membanting pintu.
Aku berdiri seperti patung. Roman mukanya yang cemas masih terbayangbayang dalam benakku, dan kalimatnya yang terakhir pun terus
terngiang-ngiang di telingaku.
Mungkinkah dia mengalami hal yang sama seperti aku? Tapi kalau
memang begitu, kenapa dia tidak mau berterus terang padaku? Apakah
dia terlalu malu? Ataukah dia malu merasa kasihan padaku?
Bisa jadi dia baik-baik saja, pikirku. Bisa jadi dia cuma menyangka aku
sudah tidak waras. Pasti dia merasa kasihan padaku karena aku
bertingkah begitu aneh.
Aku jadi semakin bingung. Perlahan-lahan aku berbalik, keluar ke jalan.
Matahari masih bersinar di langit, tapi udara terasa dingin. Angin
kencang menerpa wajahku ketika aku berjalan pulang.
Sambil mencondongkan badan ke depan untuk melawan angin, kuangkat
tanganku untuk menarik topi baseball-ku agar tidak tertiup angin.
Tapi ternyata topiku tidak bergerak sedikit pun.
Topiku tiba-tiba terasa kencang sekali. Terlalu kencang.
Aku melepaskannya dan mengamatinya dengan saksama. Aduh, siapa sih
yang iseng mengencangkan bagian belakangnya?
Ternyata tak ada yang usil.
Sambil merinding aku meraba keningku. Dan saat itulah aku menyadari
kenapa topiku mendadak kekecilan.
Seluruh keningku tertutup bulu-bulu kasar yang tumbuh lebat.
18
LEWAT pintu belakang aku masuk ke dapur. "Mom, coba lihat ini!" aku
berseru. "Coba lihat kepalaku!"
Kusebarkan pandanganku berkeliling. "Mom?"
Dia tidak di dapur.
Aku bergegas melintasi setiap ruangan sambil memanggil-manggil. Aku
telah bertekad memberitahu orangtuaku apa yang sedang terjadi
denganku. Sudah waktunya mereka percaya.
Mereka pasti akan kaget setengah mati kalau melihat bulu-bulu di
keningku. Dan setelah itu mereka akhirnya akan percaya bahwa ini
masalah serius.
"Mom? Dad?"
Tak ada yang menyahut.
Ketika kembali ke dapur, aku menemukan pesan yang menempel di pintu
lemari es: MOM DAN DAD PERGI BELANJA KE BRUNKES
DALE VILLAGE. PULANG MALAM KALAU LAPAR, MAKAN ROTI DULU.
Sambil berteriak kesal, kucampakkan topiku ke lantai. Kemudian kubuka
jaketku dan kubiarkan jatuh begitu saja.
Jantungku berdebar-debar ketika menuju cermin di dekat pintu depan. Aku
kelihatan seperti mutan dalam buku komik!
Kutatap wajahku yang pucat. Tampangku masih seperti biasa. Hanya saja
keningku ditumbuhi bulu lebat berwarna hitam.
Seperti memakai ikat kepala, pikirku gundah. Seperti ikat kepala yang
biasa dipakai para pemain ski. Hanya saja ikat kepala ini terbuat
dari bulu-bulu menjijikkan.
Dengan tangan gemetaran kuraba bulu-bulu lebat itu. Aku hampir terisakisak. Rasanya aku ingin menangis dan berteriak-teriak sekaligus.
Rasanya aku ingin menjambak bulu-bulu dan mencabut semuanya dari
kepalaku.
Aku tidak tahan melihat bayanganku di cermin. Bulu-bulu itu begitu jelek,
begitu menjijikkan. Akhirnya aku memutuskan bahwa aku tidak
bisa menunggu sampai orangtuaku pulang. Bulu-bulu mengerikan itu tidak
bisa kubiarkan tumbuh di wajahku. Serta-merta aku berlari ke
atas untuk bercukur.
Kugosok bulu-bulu itu dengan krim cukur kemudian aku mulai menggesekgesekkan alat cukur ayahku.
"Aduh!" Perihnya minta ampun, tapi aku tidak peduli. Bulu-bulu yang kasar
dan kaku itu harus kubersihkan dari wajahku. Setiap helainya,
tidak boleh ada yang ketinggalan.
Ketika melihat bulu-bulu itu berjatuhan ke tempat cuci tangan, aku
mendadak tahu apa yang, harus kulakukan. Aku harus menemukan
botol INSTA-TAN itu. Aku harus menemukannya dan menunjukkannya
kepada Dr. Murkin. .
"Kalau botolnya sudah kubawa ke sana, maka dia harus percaya padaku,"
aku berkata pada diriku sendiri. Lalu Dr. Murkin bisa melakukan
serangkaian tes terhadapku. Dan dia akan tahu kenapa INSTA-TAN itu
menyebabkan pertumbuhan bulu yang tak terkendali.
Dan kalau dia sudah tahu penyebabnya, Dr. Murkin akan memberikan
obat untukku, kataku dalam hati.
Tapi di mana kami membuang botol itu?
Aku memejamkan mata dan berusaha mengingat-ingatnya. setelah
kutemukan botol itu, kami semua bergegas masuk ke rumah Lily untuk
mengoleskan obat itu. Sesudah itu kami kembali ke luar untuk bermainmain di salju.
Apakah botol itu kami buang di tong sampah di rumah sebelah?
Aku harus menyelidikinya.
Kutinggalkan pesan untuk orangtuaku-kutulis bahwa ada barangku yang
ketinggalan di rumah Lily dan bahwa aku akan segera pulang.
Kemudian kusambar jaketku dan menghambur ke luar.
Udara kini jauh lebih dingin. Matahari tertutup awan, sehingga langit sore
tampak kelabu. Kutarik ritsleting jaketku dan kupasang
tudungnya sampai menutupi kepala. Keningku masih perih akibat pisau
cukur tadi.
Jarak ke rumah Lily cuma tiga blok, tapi rasanya seperti tiga mil! Ketika
aku membelok di ujung jalan, rumahnya mulai kelihatan.
Jangan sampai dia tahu bahwa aku kemari, pikirku. Kalau dia melihatku
membongkar tong sampah, dia pasti ingin tahu kenapa. Dan aku
belum siap untuk menceritakan semuanya.
Dia sendiri juga tidak mau berterus terang, pikirku dengan getir. Dia malah
membanting pintu di depan hidungku. Jadi aku juga tidak mau
membeberkan rahasiaku.
Dalam hati aku bersyukur bahwa suasana di luar begitu gelap. Mogamoga Lily tak melihatku.
Mataku terus tertuju pada rumahnya sementara aku mendekat. Lampu di
ruang makannya menyala. Barangkali keluarganya sedang
makan malam lebih cepat dari biasanya.
Kebetulan, pikirku. Aku akan membongkar tong sampah, mengambil botol
INSTA-TAN, lalu kabur sebelum mereka selesai makan,
sebelum ada yang sempat menengok ke luar jendela.
Tiba-tiba aku berhenti karena menyadari bahwa ada satu masalah kecil.
Tong sampahnya sudah tidak ada di trotoar.
Tong itu pasti sudah dibawa oleh para tukang sampah.
Aku mengembuskan napas dengan kecewa dan nyaris jatuh berlutut di
trotoar. "Bagaimana sekarang?" aku bergumam tanpa sadar.
Bagaimana aku bisa membuktikan kepada Dr. Murkin bahwa bulu-bulu itu
tumbuh gara-gara INSTA-TAN?
Angin dingin menerpaku ketika aku menatap tempat di mana tong sampah
itu semula berdiri.
Daun-daun cokelat yang tertiup angin berputar-putar di sekitar kakiku.
Aku menggigil.
Sambil membalik untuk pergi, aku tiba-tiba teringat sesuatu.
Botol INSTA-TAN. Kami tidak membuangnya ke tong sampah. Kami
melemparkannya ke semak-semak di rumah tetangga Lily.
"Ya!" aku berseru dengan gembira. "Ya!"
Kami sempat berkejar-kejaran melintasi pekarangan tetangga Lily-dan
kemudian kulemparkan botol itu ke tengah semak-semak.
Botol itu pasti masih di situ, aku berkata dalam hati. Pasti!
Aku bergegas melewati rumah Lily. sambil berlari, aku melirik ke arah
jendela. Sepertinya tak ada yang memandang ke luar.
Dengan langkah panjang aku melewati rumah tetangganya yang gelap dan
kosong. Pekerjaan renovasi rupanya belum selesai.
Cepat-cepat aku menyelusup ke semak-semak. Daun-daun mati yang
kuinjak masih basah dan licin. Dahan-dahan pohon yang tak
berdaun bergoyang dan berderak karena tiupan angin kencang yang
berubah-ubah arah.
Di mana botolnya? aku bertanya dalam hati. Di mana?
Rasanya lemparanku tidak seberapa jauh, aku mengingat-ingat. Botolnya
pasti di dekat sini. Tidak jauh dari tempatku berdiri.
Semak-semak itu terselubung bayang-bayang gelap. Aku menendang
setumpuk daun mati. Sepatuku membentur sesuatu yang keras.
Langsung saja aku membungkuk dan menyingkirkan daun-daun itu
dengan kedua tangan. Ternyata cuma dahan kering.
Aku terus menerobos ke dalam semak-semak lalu berhenti.
Botol itu pasti di sekitar sini. Dengan panik aku memandang berkeliling.
Ah, itu dia. Oh, bukan. Cuma batu yang licin. Kutendang batu itu hingga
melayang jauh. Kemudian aku berputar pelan-pelan, sementara
mataku menyapu tanah di sekitarku.
Mana botol itu? Mana?
Tiba-tiba terdengar suara, dan aku langsung menahan napas.
Suara ranting patah.
Aku pasang telinga. Aku mendengar gemerisik daun. Lalu suara kaki
bergesekan pada semak-semak yang kering.
Sekali lagi terdengar bunyi ranting patah.
Sambil menelan ludah, aku menyadari bahwa aku tidak send irian.
"Si-siapa itu?" aku berseru.
19
"SlAPA itu?"
Tak ada jawaban.
Aku berdiri seperti patung dan memasang telinga. Aku mendengar suara
langkah dan bunyi napas tersengal-sengal.
"Hei-siapa itu?" seruku.
Aku menundukkan kepala-dan melihat botol yang kucari. Botolnya
tergeletak miring pada setumpuk daun tepat di hadapanku.
Cepat-cepat aku membungkuk dan mencoba meraih botol itu dengan
kedua tanganku. Tapi aku langsung kembali tegak sambil gemetar
ketakutan ketika sebuah sosok gelap muncul dari bayang-bayang pohon.
Napasnya terengah-engah. Lidahnya yang panjang terjulur dari mulutnya
yang menganga lebar.
Seekor anjing besar berbulu cokelat. Dalam cahaya yang remang-remang
pun tampak jelas betapa kasar dan kusut bulunya. Dadanya
kembang-kempis seiring tarikan napasnya.
Aku mundur selangkah. "Kau sendirian?” aku bertanya dengan nada
ketakutan. "Anjing manis, kau sendirian?"
Anjing itu menundukkan kepala dan merintih perlahan.
Aku memandang berkeliling untuk mencari anjing-anjing lain. Apakah
anjing itu termasuk gerombolan yang sering mengejar-ngejarku
sambil menyalak dan menggeram?
Ternyata tidak ada anjing lain.
"Anjing manis," ujarku sambil memaksakan suaraku untuk tetap tenang.
"Anjing manis."
Dia menatapku. Napasnya masih tersengal-sengal. Ekornya yang cokelat
mengibas satu kali, lalu turun.
Aku membungkuk pelan-pelan. Tanpa melepaskan pandangan dari anjing
itu, kupungut botol obat yang tergeletak di tanah. Botolnya terasa
dingin sekali. Aku segera memeriksanya untuk melihat apakah masih ada
obat yang tersisa di dalamnya.
Tapi keadaannya terlalu gelap.
Seharusnya masih ada sisanya, pikirku. Rasanya aku tidak
menghabiskannya sampai tetes terakhir waktu itu. Mestinya masih cukup
untuk dites oleh Dr. Murkin.
Kuguncang-guncangkan botol itu di dekat telingaku. Moga-moga masih
ada setetes! aku memohon-mohon dalam hati.
Angin mendadak bertiup kencang, menggoyang-goyangkan semak-semak
dan membuat daun-daun di sekitar bergemerisik.
Anjing tadi kembali merintih.
Kugenggam botol INSTA- TAN erat-erat, lalu mulai mundur teratur.
"Dadah, anjing manis."
Dia memiringkan kepala dan menatapku.
Aku mundur selangkah lagi. "Dadah, anjing manis," kuulangi pelan-pelan.
"Pulanglah. Ayo, pulanglah."
Tapi dia tidak beranjak dari tempatnya. Dia malah merintih lagi, lalu mulai
mengibas-ngibaskan ekornya.
Aku kembali mundur selangkah. Botol INSTA-TAN tetap kugenggam eraterat. Kemudian, ketika aku berpaling dari anjing yang terus
menatapku, aku melihat yang lainnya.
Mereka muncul tiba-tiba, tanpa bersuara, dan bayang-bayang gelap. Lima
atau enam anjing besar, masing-masing dengan mata menyorot
nyalang. Lalu lima atau enam ekor lagi.
Mereka semakin dekat, dan aku mulai mendengar geraman yang
menakutkan. Semua menyeringai, seakan-akan hendak memperlihatkan
gigi dan taring mereka yang tajam.
Aku langsung berhenti. Dengan mata terbelalak ngeri kutatap mata
mereka yang menyorot-nyorot. Lalu aku berbalik dengan kagok. Dan
lari untuk menyelamatkan diri. .'
"Aduh!" Aku memekik nyaring ketika kakiku tersandung dahan mati yang
tergeletak di tanah. Botol INSTA-TAN yang kugenggam terlepas
dari tanganku.
Sambil jatuh, tanganku menggapai-gapai untuk meraihnya kembali.
sia-sia.
Dengan mata terbelalak kulihat botol itu membentur batu tajam-dan pecah
berantakan. Pecahan-pecahannya berhamburan ke segala arah.
Cairan berwarna cokelat membasahi batu yang menyembul dari balik
daun-daun.
Aku jatuh berlutut dan menahan badanku dengan tangan. seketika rasa
nyeri menjalar ke seluruh tubuhku. Namun aku tidak
memedulikannya. Aku segera bangkit lagi.
Terburu-buru aku berbalik untuk menghadapi anjing-anjing tadi.
Tapi di luar dugaanku, mereka berlari ke arah lain. Di sela-sela pepohonan
kulihat seekor kelinci lari terbirit-birit. Gerombolan anjing itu
mengejarnya sambil menggonggong dan menggeram.
Jantungku masih berdebar-debar dan lututku pun masih gemetaran ketika
aku menghampiri batu tadi dan menatap pecahan-pecahan botol
yang berserakan di sekitarnya. Kupungut salah satu dan kuamati dengan
saksama.
"Aduh, bagaimana sekarang?" aku bertanya pada diriku sendiri.
Gonggongan gerombolan anjing masih terdengar di kejauhan. "Bagaimana
sekarang?"
Botol itu telah pecah berantakan. Aku kehilangan satu-satunya barang
bukti yang kumiliki. Tak ada lagi yang bisa kuperlihatkan pada Dr. Murkin.
Sambil berteriak kesal, kucampakkan pecahan botol itu ke tengah semaksemak. Lalu aku pulang dengan lesu.
Sehabis makan malam, Mom dan Dad langsung berangkat lagi untuk
mengikuti pertemuan orangtua murid di sekolah. Aku naik ke
kamarku untuk menyelesaikan PR.
Aku sedang butuh teman. Karena itu kupangku Jasper dan kubelai-belai
dia untuk beberapa saat.
Tapi dia sedang tidak berminat untuk bermanja-manja. Dia malah
memelototiku dengan matanya yang kuning. Karena tidak berhasil, dia
lalu mencakar tanganku, melompat turun, dan kabur dari kamarku.
Aku mencoba menelepon Lily, tapi tak ada yang menjawab.
Di luar, angin berderu-deru dan mengguncang-guncangkan jendela
kamarku.
Aku merinding.
Sambil bertopang dagu di meja belajar, aku mulai membuka buku. Tapi
aku tidak bisa berkonsentrasi. Kata-kata pada halaman yang
sedang kubaca tampak kabur, dan semua kelihatan keabu.
Aku berdiri dan meraih gitarku. Kemudian aku membungkuk dan
menyambungkannya ke amplifier.
Aku sering bermain gitar bila sedang gelisah atau hatiku sedang tidak
enak. Biasanya cara itu cukup ampuh menenangkan hatiku kembali.
Kuputar tombol volume hingga angka 10 dan mulai memainkan melodi
blues yang keras sekali.
Tidak ada siapa-siapa di rumah, tak ada yang menyuruhku
memelankannya. Aku ingin bermain sekeras mungkin-sangat keras
sehingga aku bisa melupakan persoalan yang tengah kuhadapi.
Tapi setelah bermain selama tiga atau empat menit, aku mulai sadar ada
yang tidak beres. Berulang kali ada not yang berbunyi tidak
seperti seharusnya. Berulang kali aku salah memainkan chord.
Ada apa ini? aku bertanya dalam hati. Lagu ini sudah jutaan kali
kumainkan. Aku bisa memainkannya sambil tidur.
Sambil mengerutkan kening aku menatap jariku, dan segera tahu apa
masalahnya.
"Ohh!" aku mengerang tertahan. Bulu-bulu menjijikkan itu telah kembali
menutupi kedua tanganku. Semua jariku tertutup bulu hitam yang
tumbuh lebat.
Aku membalikkan tangan. Ternyata telapak tanganku pun tertutup bulu.
Gitarku jatuh ke lantai ketika aku melompat berdiri.
Lenganku mulai gatal.
Dengan tangan gemetar, kugulung lengan bajuku. Ternyata lenganku juga
ditumbuhi bulu! Bulu-bulu yang kasar dan kaku itu menutupi
kedua lengan dan tanganku.
Aku berdiri sambil menelan ludah, menatap lengan dan tanganku seakanakan tak percaya apa yang kulihat. Lututku gemetar nyaris tak
terkendali. seluruh tubuhku mendadak lemas sekali.
Mulutku terasa kering kerontang. Tenggorokanku seperti tercekik.
Aku berusaha menelan ludah.
Jangan-jangan bulu-bulu menjijikkan itu juga tumbuh di lidahku?
Sekonyong-konyong aku terserang rasa mual. Serta-merta aku berlari ke
kamar mandi. sambil menyalakan lampu, aku membungkuk di
atas tempat cuci tangan. Kurapatkan wajahku ke cermin dan kujulurkan
lidahku.
Oh, untung saja.
Lidahku tetap normal.
Tapi mukaku-pipiku dan daguku-semua tertutup bulu-bulu hitam.
Bulu-bulu ini menyebar begitu cepat, pikirku.
Bayangan di cermin memperlihatkan kengerian yang meliputi diriku.
Bulu-bulu ini menyebar begitu cepat ke seluruh tubuhku. Apa yang harus
kulakukan sekarang? Masa tak ada sama sekali yang bisa
Kulakukan?
20
HARI senin aku berangkat sekolah lebih pagi dari biasanya, lalu
menunggu Lily di depan locker-nya.
Aku telah menghabiskan waktu berjam-jam untuk mencukur bersih semua
bulu, dan akhirnya selesai juga.
Pagi ini aku mengenakan sweter dengan lengan yang ekstra panjang, dan
aku juga memakai topi baseball yang kutarik sampai menutupi
kening, siapa tahu bulu-bulu itu tumbuh lagi selama aku berada di sekolah.
"Aduh, mana si Lily?" gumamku tidak sabar.
Dengan gelisah aku mondar-mandir di deretan locker yang berwarna hijau.
Lily dan aku harus menghadapi masalah ini bersama-sama, kataku dalam
hati. Aku teringat roman muka Lily yang ketakutan ketika
kutanyakan padanya apakah tubuhnya juga ditumbuhi bulu-bulu aneh.
Aku tahu hal yang sama juga terjadi pada Lily. Aku yakin sekali.
Dan aku tahu Lily pasti juga merasa malu seperti aku. Dia terlalu malu
untuk mengakuinya, terlalu malu untuk membicarakannya.
Tapi kalau berdua, kami pasti bisa menemukan jalan keluar, pikirku.
Kalau kami berdua menemui Dr. Murkin dan memberitahunya soal INSTATAN dan bulu-bulu yang mendadak tumbuh, dia harus percaya
pada kami.
Tapi di mana Lily?
Lorong sekolah dipenuhi anak-anak yang membanting pintu locker sambil
bercanda dan mengobrol. Kulirik arlojiku. Tinggal tiga menit
sebelum bel berdering.
"Hei, Larry! Bagaimana, beres semuanya?” sebuah suara memanggilku.
Aku berbalik dan melihat Howie Hurwin menatapku sambil cengar-cengir.
Adiknya, Marissa, berdiri di sampingnya. Kepangan rambutnya
terjepit tali ransel, dan dia sedang berusaha melepaskannya.
"Hai, Howie," sahutku sambil menghela napas. Terus terang, aku sama
sekali tidak berminat ketemu dia pagi ini!
"Sudah siap untuk besok?" dia bertanya. Kenapa sih dia harus selalu
nyengir kalau bicara dengan orang lain? Rasanya aku kepingin
menonjoknya.
"Besok?" Aku memandang berkeliling di lorong, mencari-cari Lily.
Howie tertawa. "Ya ampun! Masa kau lupa soal Battle of the Bands?"
"Aduh!" Marissa memekik. Dia akhirnya berhasil melepaskan
kepangannya. "Band kalian masih jadi main?" tanyanya. "Dengar-dengar,
Si Manny pindah ke kota lain."
“Yeah, kami tetap akan tampil," jawabku. "Permainan kami makin bagus
setiap hari."
"Kami juga," balas Howie, senyumnya bertambah lebar lagi. "Ada
kemungkinan kami masuk TV. Kenalan pamanku bekerja di Star Search.
Dia mungkin bisa mengusahakan kami tampil di sana."
"Bagus," aku berkomentar sambil lalu.
Mana si Lily?
"Kalau kami sempat tampil di acara itu, kemungkinan besar kami akan
menang," Marissa menambahkan. Dia masih sibuk dengan
kepangannya yang panjang. "Dan setelah itu kami bakal jadi terkenal."
"Kami diminta main di pesta dansa sekolah bulan depan," ujar Howie.
"Band kalian tidak diminta, kan?"
"Tidak," kataku. "Kami tidak diminta."
senyum Howie melebar dari kuping ke kuping.
"sayang sekali," ujarnya.
Bel berdering. "Aku harus masuk," kataku, sambil bergegas ke ruang kelas
Miss Shindling.
"sampai ketemu di kontes besok," seru Marissa.
"Kami yang tampil pertama," Howie menimpali. "Yang terbaik memang
harus maju paling dulu!"
Kudengar tawa mereka ketika aku memasuki ruang kelas. Aku menuju
tempat dudukku sambil mencari-cari Lily. Mungkinkah dia
menyelinap masuk waktu aku sedang bicara dengan Howie dan Marissa?
Ternyata tidak. Dia tidak kelihatan.
Aku duduk dengan lesu. Bagaimana kalau Lily mendadak sakit? Mudahmudahan saja tidak. Dia tidak boleh jatuh sakit sehari sebelum
Battle of The Bands, ujarku dalam hati. Pokoknya, tidak boleh.
"Larry, tolong bagikan kertas ulangan," Miss Shindling berkata sambil
menyerahkan setumpuk kertas padaku.
"Hah? Ulangan?"
Aku lupa sama sekali.
Lily tidak masuk sekolah hari itu. Aku mencoba menelepon ke rumahnya
pada waktu makan siang. Pesawat teleponnya berdering dan
berdering, tapi tak ada yang mengangkat.
seusai sekolah aku memutuskan ke rumah Lily untuk mengetahui apa
yang terjadi. Tapi ketika keluar dari gedung sekolah, aku ingat
bahwa ibuku minta aku langsung pulang sehabis sekolah. Ada beberapa
tugas yang harus kukerjakan di rumah.
Cuaca cerah, namun udaranya dingin. Awan-awan putih tampak
melayang-layang di langit sore. semua salju akhirnya mencair, tapi
tanahnya masih empuk dan basah.
Aku menunggu beberapa mobil melintas. Kemudian aku menyeberang dan
berjalan menuju ke rumahku.
Aku telah berjalan sekitar satu blok, ketika aku menyadari ada yang
mengikutiku.
seekor anjing menyerempet kakiku. Aku tersentak kaget. Langsung saja
aku berhenti dan mengamatinya.
Anjing itu berbulu cokelat muda kemerahan, di lehernya ada bagian yang
berbulu putih. Anjing itu berukuran sedang, sedikit lebih besar
ketimbang cocker spaniel. Kupingnya panjang dan lemas. Ekornya yang
panjang dan berbulu lebat dikibas-kibaskannya sambil
menatapku.
"Siapa kau?" tanyaku pada anjing itu. "Rasanya aku belum pernah
melihatmu di sini."
Aku memandang berkeliling untuk memastikan bahwa tidak ada anjinganjing lain yang bersembunyi di semak-semak sambil bersiap-siap
mengejarku.
Lalu aku mulai berjalan lagi.
Tapi anjing itu malah menduluiku. Dia berjalan beberapa langkah di
depanku, dan sebentar-sebentar menengok ke belakang untuk
memastikan bahwa aku mengikutinya.
"Kau yang ikut aku-atau aku yang ikut kau?" aku berseru padanya.
Anjing itu mengibaskan ekornya, seakan-akan hendak menjawab.
Dia menyertai sampai ke rumahku.
Ibuku sudah menunggu di teras dapan. Dia memakai sweter hijau dan
celana jeans. "Hari yang indah," katanya sambil menatap langit yang
cerah.
"Hai, Mom," aku menyapanya. "Anjing ini mengikutiku sampai ke sini."
Anjing itu mengendus semak-semak yang tumbuh sebagai pembatas
pekarangan.
"Dia lucu juga," ujar ibuku. "Warna bulunya bagus sekali. Anjing siapa ini?"
Aku angkat bahu. "Entahlah. Aku belum pernah melihatnya."
Anjing itu menghampiri kami dan menatap ibuku.
"Dia jinak sekali," aku berkata sambil melepaskan ranselku yang berat.
"Barangkali dia bisa tinggal bersama kita di sini?"
"Kita tidak bisa piara anjing di rumah,", jawab ibuku tegas. "Dia tidak
mungkin akur dengan Jasper.”
Aku membungkuk dan membelai-belai kepala anjing itu.
"Nah, dia pakai keping nama di kalungnya,” Ibuku berkata sambil
menunjuk. "Coba kau periksa, Larry. siapa tahu nama pemiliknya juga
tercantum."
Anjing itu mengibas-ngibaskan ekornya ketika kutepuk-tepuk kepalanya.
"Anjing manis," ujarku pelan-pelan. .' " .
"Ayo, Larry. Coba periksa keping namanya,” Ibuku berkeras.
"Oke, oke." Kuraih keping bulat berwarna emas yang tergantung pada
kalung anjing itu. Kemudian aku berlutut dan mendekatkan wajahku,
agar bisa melihat lebih jelas.
"Hah?"
Aku langsung mengenalinya.
Keping itu bukan keping nama. Keping itu keping emas milik Lily!
21
AKU kaget setengah mati. Rasanya seperti tersambar petir.
"M-Mom,” aku tergagap-gagap. Tapi suaraku seakan-akan tercekat di
tenggorokkan.
"Larry-ada apa lagi sih?!" ibuku berseru. Dia berdiri di depan garasi,
sedang mencabuti rumput liar yang sudah mati. "Apa yang tertulis
pada keping itu?"
"I-ini bukan keping nama," aku akhirnya berkata.
Ibuku menoleh. "Apa?"
"Ini bukan keping nama," aku mengulangi sambil tetap memegang keping
itu. "ini keping emas milik Lily."
Ibuku tertawa. "Masa sih Lily memberikan keping itu kepada seekor
anjing? Bukankah keping itu pemberian kakeknya?"
"A-aku juga tidak tahu kenapa," ujarku sambil tergagap-gagap. "Aku tidak
mengerti, Mom."
Embusan napas anjing itu mengenai tanganku. Dia menjauh, lalu duduk
dan menggaruk-garuk kupingnya yang panjang dengan kaki
belakangnya.
“Kau yakin itu keping emas, Larry?" tanya ibuku. Dia menghampiriku lalu
berdiri tepat di belakangku.
Aku mengangguk dan kembali meraih keping itu. "Yeah Ini memang
keping emasnya Lily, Mom."
"Ini pasti keping lain," ibuku berkomentar. “Mom yakin ini bukan keping
yang sama.”
Ya, Mom pasti benar, kataku dalam hati.
Kulepas keping itu, lalu mengangkat tangan untuk mengelus-elus kepala
anjing itu.
Tapi tanganku mendadak berhenti ketika aku melihat mata anjing tersebut.
Sebelah matanya berwarna biru, satunya lagi berwarna hijau.
22
"DIA Lily! Dia Lily!" aku memekik sambil melompat berdiri.
Teriakanku mengejutkan anjing itu. Dia berbalik lalu kabur sambil
berkaing-kaing.
"Lily-tunggu!" aku memanggilnya. "Jangan lari! Lily!"
"Larry-mau ke mana kau?" seru ibuku. "Larry!"
selanjutnya aku tidak mendengar lagi. Tanpa berpikir panjang kulompati
ranselku dan berlari ke jalan. Tanpa mengurangi kecepatan untuk
menoleh ke kiri-kanan dulu, aku menyeberang, lalu terus berlari ke arah
rumah Lily.
Anjing itu memang Lily! aku berkata dalam hati. Sebelah matanya hijau,
sebelah lagi biru. Dan dia memakai keping emas Lily!
Aku yakin dia memang Lily!
Aku mendengar ibuku memanggil-manggil, menyuruhku kembali. Tapi aku
tidak menggubrisnya dan terus saja berlari.
Rumah Lily berjarak tiga blok dari rumahku. sepanjang jalan aku terus
berlari dengan sekuat tenaga. Ketika rumahnya mulai kelihatan,
napasku sudah tersengal-sengal dan pinggangku serasa ditusuk-tusuk.
Tapi aku tidak peduli.
Aku harus ketemu Lily. Aku harus memastikan bahwa anjing tadi bukan
Lily.
Tapi ini tidak masuk akal. Ketika aku menyeberang jalan, aku mulai sadar
bahwa semua ini benar-benar tidak masuk akal.
Lily jadi anjing?
Aku memperlambat langkahku sambil memijat-mijat pinggang untuk
mengusir nyeri.
Ya ampun, Larry. Kau sudah mulai gila, ya? aku bertanya pada diriku
sendiri. Mom pasti menyangka aku sudah tidak waras! tambahku
dalam hati.
Kulihat orangtua Lily sedang di depan garasi. Kap bagasi mobil Chevy
mereka terbuka. Mr. Vonn sedang memasukkan koper.
"Halo!" aku menyapanya sambil terengah-engah.
"Hei-halo!"
"Halo, Larry," balas Mrs. Vonn ketika aku menghampiri mobil mereka. Aku
melihat dua koper lain serta sejumlah tas yang menunggu
dimasukkan ke bagasi mobil.
"Mau bepergian?" tanyaku sambil berusaha mengatur napas. Nyeri di
pinggangku belum juga mereda.
Mereka tidak menjawab. Mr. Vonn mengerang ketika mengangkat koper
yang berat.
"Mana Lily?" tanyaku. Kuserahkan salah satu tas padanya. "Dia tadi tidak
masuk sekolah."
"Kami akan pindah," Mrs. Vonn berkata dari belakangku.
“Lily mana?" aku mengulangi pertanyaanku. “Dia masih di dalam?”
Mr. Bon mengerutkan kening, tapi tidak menyahut.
Aku berpaling kepada istrinya. “Bisa bertemu Lily sebentar?” aku bertanya
dengan nada mendesak. “Dia masih di dalam?”
“Kau mungkin salah alamat,” ujar Mrs. Bon.
Aku terbengong-bengong. “Salah alamat? Mrs. Vonn – apa maksud
anda?”
“Di sini tidak ada yang bernama Lily,” katanya.
23
AKU sendiri tidak mengerti apa sebabnya, tapi aku langsung tertawa.
Tawa kaget. Tawa ngeri.
Tapi aku segera terdiam melihat kesedihan yang tergambar pada wajah
Mrs. Vonn. Serta-merta aku merinding.
"Apakah Lily-?" aku mulai berkata.
Mrs Vonn menggenggam pundakku dan meremasnya. Dia membungkuk
sedikit, sehingga wajahnya berdekatan dengan wajahku. “Dengar
yang saya katakan padamu, Larry,” ujarnya sambil menggertakkan gigi.
“Tapi-tapi-,” aku tergagap-gagap.
“Tidak ada yang bernama Lily di sini,” dia mengulangi sambil meremas
pundakku lebih keras. “Lupakan dia.” Matanya berkaca-kaca.
Mr. Vonn menutup kap bagasi. Aku melepaskan diri dari genggaman Mrs.
Vonn. Jantungku berdebar-debar.
“Sebaiknya kau pulang saja,” Mr. Vonn berkata dengan tegas sambil
menghampiri istrinya.
Aku mundur selangkah. Kakiku lemas dan gemetar.
"Tapi, Lily-"'- ujarku.
"Kau pulang saja," Mr. Vonn berkata sekali lagi.
Di samping garasi kulihat anjing berbulu cokelat kemerahan itu. Dia
merintih dengan sedih sambil menundukkan kepalanya.
Aku berpaling, lalu berlari sekencang mungkin.
Sikap Mom dan Dad aneh sekali waktu kami makan malam. Mereka tidak
mau bicara tentang Lily atau tentang anjing yang kulihat di
rumah keluarga Vonn.
Berulang kali kedua orangtuaku saling melirik penuh arti, dan sepertinya
mereka menyangka aku tidak melihatnya.
Mereka pikir aku gila! aku menyadari. Karena itulah mereka tidak mau
diajak bicara. Mereka pikir aku sudah tidak waras. Mereka tidak
mau mengatakan apa-apa sebelum mereka tahu bagaimana mereka harus
menanganiku.
"Aku tidak gila!" seruku tiba-tiba. Sendok dan garpuku berjatuhan ke meja.
Makanan di piringku sama sekali belum kusentuh.
Bagaimana aku bisa makan?
"Aku tidak gila! Aku tidak mengada-ada!"
"Bagaimana kalau lain kali saja kita bicara soal ini?" ibuku memohon
sambil melirik ke arah ayahku.
"Ya, sekarang kita makan dulu dengan tenang," ayahku menambahkan
sambil menatap piringnya.
Sehabis makan malam kutelepon Jared dan Kristina, kuminta mereka
datang ke rumahku supaya aku bisa menyampaikan kabar buruk itu
kepada mereka. Aku tidak mau mereka menyangka aku sudah gila, jadi
aku cuma bercerita bahwa Lily pergi.
"Tapi bagaimana perlombaan besok?” seru Jared.
"Yeah. Bagaimana dengan Battle of the Bands,” Kristina menimpali. "Kok
Lily tega sih, pergi sehari sebelum kontes?" .
Aku angkat bahu. Kami berada di ruang tamu. Kristina dan aku duduk di
sofa. Jared mengambil tempat di kursi yang berhadapan
denganku.
Jasper menggesekkan badannya ke kakiku. Aku membungkuk dan
mengangkatnya ke pangkuanku. Dia menatapku dengan matanya yang
kuning. Lalu dia memejamkan mata.
"Pergi ke mana sih dia?" Kristina bertanya dengan gusar sambil
mengetuk-ngetukkan jari ke sandaran tangan di sofa. "Berlibur? kenapa
dia tidak bilang dari awal bahwa dia tidak bisa ikut kontes.”
"Howie Hurwin bakal bersorak-sorai kegirangan kalau dengar berita ini,"
Jared bergumam dengan prihatin sambil geleng-geleng kepala.
"Aku tidak tahu ke mana Lily pergi,” aku memberitahu mereka. "Aku cuma
melihat orangtuanya memasukkan koper-koper ke dalam mobil.
Dan sekarang mereka pergi. Cuma itu yang kutahu. Aku yakin Lily
sebenarnya tidak mau. pergi. Aku tahu dia sebenarnya ingin bersama
kita. Tapi rasanya dia tidak punya pilihan."
Hampir saja kuceritakan apa yang terjadi. Tapi aku tidak ingin mereka
menertawakanku. Atau merasa kasihan pada diriku sendiri.
Aku bingung sekali. Aku tidak tahu harus berbuat apa.
Aku cuma tahu bahwa aku ingin Lily kembali lagi. Dan Manny juga.
Dan aku ingin bulu-bulu jelek itu berhenti tumbuh di seluruh tubuhku.
Kalau saja botol INSTA-TAN itu tak pernah kutemukan. Ini semua
salahku. Semuanya.
"Tampaknya The Geeks harus mengundurkan diri dari kontes band
besok," ujarku lesu.
"Kelihatannya begitu," Jared membenarkan sambil geleng-geleng kepala.
"Nanti dulu!" seru Kristina. Jared dan aku sama-sama kaget. Kristina
langsung bangkit dan berdiri di antara Jared dan aku. Dia
mengepalkan tangannya. "Nanti dulu!" dia mengulangi.
"Tapi kita tidak punya penyanyi-" protes Jared.
"Aku saja yang nyanyi," Kristina segera menyahut. "Suaraku cukup
bagus."
"Tapi kau belum pernah berlatih sebagai penyanyi," kata Jared. "Kau hafal
liriknya?"
Kristina mengangguk. "setiap kata."
"Tapi, Kristina-" aku mulai berkata.
"Begini," dia memotong dengan ketus. "Kita harus tampil besok. Biarpun
kita cuma bertiga. Masa sih Howie Hurwin kita biarkan menang
begitu saja?"
"Rasanya aku memang ingin membuat Howie berhenti cengar-cengir,"
ujarku perlahan.
"Aku juga," Jared mendukungku. "Tapi bagaimana caranya? Dengan dua
gitar dan satu keyboard? Howie punya band lengkap. Kita bakal
disikat habis."
"Kita harus main dengan sepenuh hati!" Kristina berseru penuh emosi.
"Kita harus tampil sebaik-baiknya. "
"Demi Lily!" aku menimpali. Kata-kata itu meluncur begitu saja dari
mulutku, dan seketika aku menundukkan kepala karena mlu.
Tapi Kristina dan Jared ternyata sependapat.
“Yeah, demi Lily!" mereka bersorak berbarengan. "Kita bisa menang! Kita
harus bisa! Demi Lily!"
Keputusan telah diambil. The Geeks tetap akan tampil besok sore.
Mungkinkah kami menang? Mungkinkah kami mengalahkan Howie and
the shouters?
Rasanya tidak.
Tapi kami akan berusaha dengan sekuat tenaga.
"Ayo, kita latihan sebentar di kamarku," aku mengusulkan.
Jared bergegas menaiki tangga. Tapi Kristina tidak beranjak dari sofa.
Aku berpaling kepadanya. Ternyata dia sedang menatap wajahku dengan
ngeri.
"Larry-!" serunya sambil menunjuk. "Apa itu di keningmu?”
24
AKU menahan napas.
Tanganku langsung bergerak untuk meraba keningku.
Bulu-bulu hitam itu sudah tumbuh lagi, aku segera menyadari. Kini
rahasiaku sudah diketahui oleh Kristina dan Jared. Akhirnya mereka
tahu juga bahwa aku sedang berubah jadi monster berbulu yang
mengerikan.
Kugosok-gosok keningku dengan tangan gemetar.
Licin.
Keningku licin!
"Di sebelah situ," ujar Kristina sambil menunjuk.
Aku bergegas ke cermin di dekat pintu masuk dan mengamati keningku.
Ternyata di dekat pelipis kananku ada bercak berwarna jingga.
"Oh, ini saus spageti," kataku sambil menghela napas. "Rupanya tak
kusadari aku mengusap muka waktu makan malam tadi."
Cepat-cepat kuseka bercak jingga itu. Seluruh tubuhku gemetaran. Aku
sempat ketakutan setengah mati. Gara-gara bercak saus spageti!
“Larry, kenapa kau?" tanya Kristina. Dia berdiri di belakangku dan
menatap bayanganku di cermin.
"Kau kelihatan pucat."
"Aku tidak apa-apa," jawabku sambil berusaha memaksa tubuhku berhenti
bergetar.
"Hei-kau tidak boleh sakit," Jared mewanti-wanti. "Kristina dan aku tidak
mungkin tampil berdua saja besok"
"Tenang saja," aku meyakinkan mereka. "Aku pasti ikut."
Keesokan sore seluruh sekolah memadati auditorium untuk menyaksikan
Battle of the Bands.
Aku berdiri di belakang panggung dan mengintip dari balik tirai. Aku gugup
sekali. Lampu-lampu di auditorium menyala, dan Mr. Fosburg,
kepala sekolah kami, berdiri di panggung sambil mengangkat kedua
tangan menenangkan para hadirin.
Di belakangku, Howie Hurwin dan band-nya sedang menyetem instrumen
masing-masing dan menyetel amplifier untuk memastikan bahwa
semuanya beres. Marissa mengenakan gaun mini berwarna merah terang
dan celana ketat berwarna hitam.
Sadar bahwa aku memperhatikannya, dia mengembangkan senyum
mencemooh.
Seharusnya the Geeks juga memperhatikan penampilan, aku mendadak
sadar ketika menatap Marissa. Hal itu sama sekali tidak terpikir
oleh kami!.
Kristina, Jared, dan aku cuma mengenakan pakaian sekolah biasa, jeans
dan T-shirt.
Aku menoleh dan memperhatikan synthesizer baru milik Howie.
Panjangnya sekitar satu mil, dengan ribuan tombol. Dibandingkan
synthesizer itu, keyboar Jared jadi kelihatan seperti mainan bayi.
Howie memergoki aku sedang mengamati syntheslzer-nya. "Keren, ya?"
dia berseru sambil menampilkan senyumnya yang menyebalkan.
"Hei, Larry-nanti kalau kami sudah menang, kau boleh minta tanda
tanganku!"
Howie tertawa. Begitu juga Marissa dan para anggota the shouters yang
lain.
Aku meninggalkan mereka, dan bergabung dengan Jared dan Kristina
yang berdiri, di pinggir panggung. "Kita tidak bakal bisa menang,"
aku mengeluh sambil menggelengkan kepala.
"Jangan putus asa, dong!" Jared berkata dengan ketus.
"Moga-moga saja semua sekring di keyboard Howie mendadak putus,"
aku bergumam. "Itu satu-satunya harapan kita."
Kristina mengerutkan kening. "Peralatan mereka boleh canggih, tapi
permainan mereka belum tentu."
Ternyata permainan Howie and the shouters tak kalah hebat dibandingkan
peralatan mereka.
Lampu-lampu auditorium meredup. Tirai penutup panggung bergeser ke
samping. Howie dan the Shouters naik ke panggung yang diterangi
lampu merah-biru. Dan langsung saja mereka mulai memainkan lagu rockand-roll lama dari Chuck Berry yaitu Johnny B. Goode.
Permainan mereka bagus sekali. Dan penampilan mereka pun patut diberi
acungan jempol.
Gaun Marissa tampak berkilau-kilau. Mereka juga telah menyiapkan gaya
panggung, sehingga semua anggota band menari dan bergerak
sambil bermain.
Kenapa itu tidak terpikir oleh kami? aku bertanya dalam hati sambil
menyaksikan mereka dari sisi panggung. Kalau kami bermain, kami
hanya berdiri seperti patung!
Anak-anak di auditorium langsung bersorak-sorai. semua berdiri dan mulai
bertepuk tangan sambil bergoyang-goyang.
Mereka tetap berdiri selama empat lagu. Lagu-lagu berikutnya dimainkan
lebih keras dan lebih cepat dari lagu sebelumnya. Auditorium tua
itu bagaikan diguncang gempa. Aku sampai kuatir kalau-kalau lantainya
bakal ambruk!
Akhirnya Howie, Marissa, dan yang lainnya membungkuk. seketika tepuk
tangan meriah meledak, dan dari mana-mana terdengar teriakan,
"Lagi! Lagiii! Lagiii!"
Howie dan the shouters memainkan dua lagu lagi.
sementara mereka bermain, Jared, Kristina, dan aku saling melirik dengan
gugup. semakin lama, rasa percaya diri kami semakin
memudar!
sekali lagi Howie dan Marissa membungkuk. Kemudian mereka berlari
meninggalkan panggung sambil mengacungkan tinju sebagai tanda
kemenangan.
"Giliran kalian!" seru Howie ketika melewati kami. Dia nyengir lebar. "Hei,
Larry-mana anggota band-mu yang lain?"
Hampir saja aku tidak tahan untuk membentaknya. Tapi Jared
mendorongku dengan keras, dan bertiga kami naik ke panggung.
Aku membungkuk dan menyambungkan gitarku ke amplifier. Jared
mengotak-atik keyboard-nya yang mungil untuk menyesuaikan
suaranya.
Keyboard raksasa milik Howie telah didorong ke bagian belakang
panggung. Keyboard itu seakan-akan memelototi kami, sekaligus
mengingatkan kami betapa hebat-dan keras-penampilan the shouters tadi.
Kristina berdiri tegang di depan mikrofon, dengan tangan bersilang di
depan dada. Aku memainkan beberapa chord untuk mengetahui
volume amplifier. Tanganku dingin dan berkeringat. Berulang kali jariku
tergelincir ketika hendak memetik atau menekan senar.
Para penonton asyik mengobrol dan bercanda sambil menunggu.
"Siap?" aku berbisik kepada Jared dan Kristina. "Kita mulai dengan I Want
to Hold Your Hand. Habis itu kita masuk ke lagu Rolling
Stones."
Mereka mengangguk.
Jared membungkuk di atas keyboard-nya. Kristina menghampiri mikrofon
sambil memasukkan kedua tangannya ke dalam kantong celana
jeans-nya.
Kami mulai dengan lagu Beatles.
Mula-mula agak kacau. Kami bernyanyi bersamaan, tapi nadanya agak
kurang pas.
Gitarku terlalu keras, sehingga mengalahkan suara-suara kami.
sebenarnya aku ingin berhenti dulu dan mengecilkan volume, tapi tentu
saja itu tidak mungkin.
Para penonton duduk dengan tenang sambil menyimak penampilan kami.
Tak ada yang bangkit dan mulai menari-nari.
Mereka bertepuk tangan ketika lagu pertama berakhir. Tapi tepuk tangan
itu terkesan basa-basi. Tak ada yang bersorak-sorai. Tak ada
yang bersuit-suit nyaring.
Paling tidak lagu pertama sudah selesai! aku berkata dalam hati, sambil
menyeka tanganku yang berkeringat ke celana jeans-ku.
Aku maju selangkah ketika kami mulai memainkan lagu Rolling Stones.
Dalam nomor ini aku kebagian solo gitar yang panjang sekali. Aku hanya
bisa berdoa agar semua berjalan lancar.
Kuanggukkan kepala kepada Jared dan Kristina.
Kristina meraih mikrofon dengan kedua tangan. Dan Jared mengawali lagu
dengan keyboard.
Aku mulai bersolo. Oh, gawat. Chord-chord di permulaan sudah tidak
beres.
Jantungku mulai berdegup-degup. Mulutku mendadak kering kerontang.
Aku memejamkan mata dan berusaha memusatkan pikiran pada jarijemariku, pada musik yang kumainkan.
sementara aku memetik-metik senar, para penonton mulai bertambah riuh.
Mula-mula ada sorakan-sorakan. Lalu tepuk tangan dari sanasini.
Tapi kemudian tepuk tangannya semakin meriah. Dengan gembira kubuka
mata lagi. Beberapa anak sedang berdiri sambil tertawa dan
berseru-seru.
Kutekuk lutut dan membiarkan jari tangan kiriku menari-nari pada fret,
sementara pick di tangan kananku bergerak secara otomatis
menyapu senar-senar.
Hatiku berbunga-bunga.
sorak-sorai para penonton semakin keras. Kemudian kusadari bahwa
beberapa anak menunjuk-nunjuk ke arahku.
Ada apa ini? aku bertanya dalam hati.
Dan tiba-tiba aku tahu bahwa ada yang tidak beres. sorak-sorai mereka
terlalu keras. Tawa. mereka terlalu keras. Terlalu banyak anak
yang bangkit dan menunJuk-nunJuk diriku.
"Special effect-nya keren!" aku mendengar seruan anak cowok di baris
pertama.
"Yeah. Special effect-nya keren sekali!"
Hah? pikirku. Special effect apa?
Pertanyaanku itu segera terjawab.
Ketika Kristina mulai bernyanyi, aku mengangkat tangan dan menyeka
wajahku.
Aku memekik kaget ketika aku merasakan bulu-bulu yang kasar dan kaku.
Wajahku tertutup ulu. Daguku, pipiku, keningku.
Bulu-bulu hitam Itu telah menyebar ke seluruh wajahku.
Dan seluruh sekolah sedang menatapku. seluruh sekolah telah
mengetahui rahasiaku yang memalukan.
25
"KITA menang! Kita menang!”
Aku mendengar Jared dan Kristina berseru-seru dengan gembira di
belakangku.
Tapi aku menaruh gitarku di lantai panggung, berpaling dari mereka, lalu
langsung kabur.
Anak-anak di auditorium masih bersorak-sorai.
Kami memenangkan kontes karena bulu-bulu yang tumbuh di wajahku.
"Special effet-nya keren!” anak tadi sempat berkomentar. Kami
menang karena "special effect" itu.
Tapi perasaanku tidak seperti seorang juara.
Aku justru merasa hina dan malu.
Bulu-bulu itu telah menutupi wajahku, lalu menyebar ke tengkuk dan
pundakku. Kedua tanganku tertutup bulu-bulu kasar, dan aku bisa
merasakan bulu-bulu yang tumbuh di lenganku. Dan sekarang
punggungku pun mulai gatal-gatal.
"Hei, Larry-Larry!" kudengar Kristina dan Jared memanggil-manggil.
“Pialamu! Kau belum ambil pialamu!”
Tapi aku sudah menghambur ke luar lewat pintu panggung. sorak-sorai
para penonton terngiang-ngiang di telingaku. Tanpa menoleh aku
kabur lewat pintu belakang sekolah. suasana dingin dan kelabu
menyambutku. Awan-awan gelap melayang rendah di atas pepohonan.
Aku berlari. Berlari tunggang-langgang, dengan jantung berdegup
kencang.
Aku berlari pulang. Tubuhku tertutup bulu-bulu hitam yang tumbuh lebat.
Aku berlari dengan panik, sambil menahan malu.
Rumah-rumah dan pohon-pohon yang kulewati tak kuperhatikan lagi.
Ketika sampai di rumah, kulihat ayah dan ibuku berdiri di depan
garasi. Mereka menoleh, dan keduanya tampak kaget sekali.
"Lihat aku!" aku memekik. "Lihat!" suaraku terdengar parau dan ketakutan.
"sekarang Mom dan Dad percaya?"
Mereka menatapku sambil terbengong-bengong. Mata mereka terbelalak
lebar karena kaget dan ngeri.
Kuangkat tanganku agar mereka bisa melihat lenganku. "Lihat wajahku?"
aku meratap. "Lihat lenganku? Tanganku?"
Mereka menahan napas. Ibuku meraih tangan ayahku.
"sekarang Mom dan Dad percaya?" seruku. "Inilah buktinya bahwa INSTATAN membuat bulu-bulu tumbuh tak terkendali."
Aku berdiri sambil menatap mereka. Jantungku berdebar-debar, napasku
tersengal-sengal, mataku berkaca-kaca. Aku berdiri sambil
menunggu, menunggu mereka mengatakan sesuatu.
Akhirnya ibuku memecahkan keheningan. "Larry,
bukan obat itu yang membuatmu begini," dia berkata pelan-pelan sambil
berpegangan pada ayahku. “kami sudah berusaha menutup-nutupi
rahasia ini. Tapi sekarang sudah waktunya untuk berterus terang.”
“Hah? Rahasia apa?”
Mereka saling melirik. Ibuku mulai terisak-isak. Ayahku segera
merangkulnya.
“Bukan obat itu penyebabnya,” ayahku berkata dengan suara bergetar.
“Larry, sudah waktunya kau tahu penyebab sebenarnya. Tubuhmu
ditumbuhi bulu karena kau sesungguhnya bukan manusia. Kau seekor
anjing.”
26
AKU menundukkan kepala dan menjilat air dari mangkuk plastik yang
diletakkan ayah dan ibuku di teras depan. Ternyata sulit sekali untuk
minum dan membasahi seluruh moncongku.
Kemudian aku melompat ke rumput dan menghampiri Lily di semak-semak
pembatas halaman. Beberapa saat kami asyik mengendusendus.
Lalu kami berlari ke pekarangan sebelah untuk melihat apakah ada
sesuatu yang menarik untuk dicium-cium.
Sudah dua minggu berlalu sejak tubuh manusiaku lenyap, dan aku
kembali menjadi anjing. Untung saja, sebelum aku berubah, ayah dan
ibuku-maksudku, Mr. dan Mrs. Boyd-berbaik hati untuk menjelaskan apa
yang terjadi.
Masalahnya begini, mereka ternyata bekerja untuk Dr. Murkin. Bahkan
hampir semua orang di kota ini bekerja untuk Dr. Murkin. Seluruh
kota merupakan semacam laboratorium uji coba.
Beberapa tahun yang lalu, Dr. Murkin menemukan cara untuk mengubah
anjing menjadi anak-anak. Dia menemukan serum yang membuat
anjing kelihatan seperti manusia, juga berpikir dan bertindak seperti
manusia. Karena itulah aku begitu sering disuntik. Setiap dua minggu
aku diberi serum baru.
Tapi setelah beberapa waktu, serumnya tidak bekerja lagi. Dan anak-anak
itu kembali menjadi anjing.
"Dr. Murkin telah memutuskan untuk menghentikan uji coba dengan
menggunakan anjing," ibuku sempat bercerita. "Hasilnya tidak seperti
yang diharapkan. Dan keluarga-keluarga yang bersangkutan menjadi
terlalu menderita pada waktu anak-anak mereka kembali menjadi
anjing."
"Dia takkan pernah lagi melakukan uji coba dengan anjing," ayahku
menjelaskan. "Serumnya kurang efektif untuk anjing."
Aku gembira bahwa suami-istri Boyd menyempatkan diri untuk
menjelaskan semuanya padaku. Aku merasa begitu berterima kasih,
sehingga tangan mereka kujilat-jilat. Kemudian aku bergegas mencari Lily,
untuk memberitahunya bahwa aku juga seekor anjing.
Lily dan aku selalu bersama-sama. Kadang-kadang Manny ikut
bergabung. Begitu banyak anjing yang berkeliaran di kota ini. Aku rasa
semuanya sempat menjadi manusia untuk beberapa waktu.
Aku senang mengetahui Dr. Murkin berhenti menggunakan anjing sebagai
kelinci percobaan. Aku cuma seekor anjing, tapi menurutku
anjing sebaiknya tetap menjadi anjing.
Lily dan aku menemukan tanah basah untuk diendus-endus di kebun
bunga tetangga. Saat ini belum ada bunga yang bisa kami gali. Tapi
bau tanahnya enak sekali.
Tak lama setelah itu aku melihat mobil keluarga Boyd berhenti di depan
garasi. Mereka pergi sepanjang sore. Aku langsung berlari
menghampiri mereka sambil mengibas-ngibaskan ekor.
Di luar dugaanku, Mrs. Boyd sedang menggendong bayi-bayi mungil,
terbungkus selimut berwarna pink.
Mrs. Boyd menggendong bayi itu dengan kedua tangannya ketika berjalan
masuk ke rumah. Dan Mr. Boyd tersenyum lebar waktu
menyusul. istrinya.
"Aduh, kau bayi perempuan yang lucu sekali,” ujar Mrs. Boyd. "Oh, ya.
Lucu sekali. Selamat datang di rumahmu yang baru, Jasper."
Hah? pikirku. Rasanya Jasper nama yang janggal untuk bayi perempuan,
bukan?
Kemudian kutatap bayi itu dan terlihat matanya yang kuning cerah.
– Selesai –
PDF & ePub by FotoSelebriti.Net